KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Friday, July 22, 2011

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB , 22 JULI 2011


“Silahkan mengikuti kitab Maleakhi, dari pasal 1 sampai pasal 4, sampai selesai, ayat demi ayat”

Shalom..!
Salam sejahtera dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, oleh karena kasih Nya yang besar, kita dapat beribadah pada malam hari ini
Kembali kita perhatikan Maleakhi 1: 7

Maleakhi 1: 7
(1:7) Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?" Dengan cara menyangka: "Meja TUHAN boleh dihinakan!"

Tegoran Tuhan datang kepada imam-imam yang melayani Tuhan di tabernakel, rumah Tuhan, sebab imam-imam menghinakan nama Tuhan , yaitu dengan membawa roti cemar di atas mezbah Tuhan .
Membawa roti cemar = menghina meja Tuhan
Roti -> kebenaran Firman
Cemar = jahat/kejahatan = ragi
Kesimpulannya:
Roti cemar artinya membawa kebenaran tetapi disertai dengan ragi kejahatan
Ini adalah perbuatan yang hina sekali / menghinakan meja Tuhan

Matius 12: 1-8
(12:1) Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.
(12:2) Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."
(12:3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
(12:4) bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?
(12:5) Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?
(12:6) Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.
(12:7) Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
(12:8) Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Ini adalah kisah yang menarik
Secara khusus, orang-orang Farisi berpegang pada hari Sabat karena mereka hidup di bawah hukum taurat
Mereka berpegang pada hari Sabat karena mereka hidup di bawah hukum taurat, ini berarti mereka melakukan salah satu dari hukum taurat, yaitu berpegang pada hari Sabat, dan ini adalah kebenaran. Kalau berpegang kepada hari sabat tetapi hanya berpegang pada hari nya saja = ibadah lahiriah, sedangkan ibadah lahiriah ada kerugiannya.

Kerugian kalau hanya berpegang pada harinya saja:
Matius 12: 7
(12:7) Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.

Kerugiannya adalah terlepas dari belas kasih = tidak hidup di bawah hukum kasih karunia

Ciri-ciri orang yang tidak hidup pada hukum kasih karunia:
Menghukum orang yang tidak bersalah, apalagi orang yang bersalah
beribadah itu bagus, dan itu adalah kebenaran. Tetapi kalau berpegang pada harinya saja itu adalah ibadah lahiriah.
Inilah kebenaran yang disertai dengan kejahatan

Mari kita lihat hukuman/kejahatan karena berpegang pada hari Sabat karena hidup di bawah hukum taurat
Matius 12: 1-2
(12:1) Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.
(12:2) Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."

Kalau lebih berpegang pada Sabat/ibadah lahiriah, membiarkan orang lapar.
Membiarkan orang lapar, itu adalah kejahatan.

Matius 15: 32
(15:32) Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan."

Kalau ada belas kasih, maka terlepas dari hukuman.
Kalau membiarkan orang lapar, yang terjadi adalah pingsan di jalan.
Kalau pingsan dalam perjalanan pulang, maka tidak akan sampai ke rumah Bapa di sorga
Pingsan = tidak hidup, tidak mati = tidak sadarkan diri = tidak menyadari diri sebagai orang yang berdosa di hadapan Tuhan/sudah melakukan kesalahan, kebodohan, dosa, tetapi tidak sadar.

Mari kita lihat kehidupan yang tidak menyadari diri sebagai orang yang berdosa
1.      Maleakhi 1: 6-7
(1:6) Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"
(1:7) Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?" Dengan cara menyangka: "Meja TUHAN boleh dihinakan!"

Sama seperti imam-imam yang melayani di rumah Tuhan, mereka sudah menghina nama Tuhan sebab mereka tidak hormat, tidak taat, dan membawa roti cemar , tetapi tidak menyadari diri kalau mereka adalah seorang yang bersalah di hadapan Tuhan, dan bertanya "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?, Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?".
Ini berarti imam-imam sedang berada dalam keadaan pingsan/tidak sadar.

2.      Yohanes 8: 30
(8:30) Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya.
(8:31) Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
(8:32) dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
(8:33) Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?"

Jawaban orang Yahudi kepada Yesus membuktikan bahwa orang Yahudi merasa diri benar sekalipun diperhamba oleh dosa.
Sesungguhnya ketika firman disampaikan harus dengar-dengaran, seperti seorang murid, tetapi kalau merasa diri benar, maka tidak akan dengar-dengaran, seperti orang Yahudi.

Jalan keluar supaya dengar-dengaran terhadap firman Tuhan
Matius 12: 3-5
(12:3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
(12:4) bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?
(12:5) Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?

Jalan keluarnya adalah makan roti sajian
Biarlah kita makan roti sajian, itu tidak bersalah, seperti Daud dan pengikutnya yang memakan roti sajian.

1 Samuel 21: 5-6
(21:5) Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: "Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya."
(21:6) Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru.

Roti sajian disebut juga roti kudus.
Berarti, supaya hidup di dalam pengudusan, harus menikmati roti sajian, dan biarlah kita selalu menikmati roti sajian setiap saat, setiap waktu, sepanjang hidup supaya hidup kudus di hadapan Tuhan.

Mari kita lihat lebih rinci mengenai roti sajian dalam Keluaran pasal 12
Keluaran 12: 17-20
 (12:17) Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya.
(12:18) Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu petang.
(12:19) Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli.
(12:20) Sesuatu apa pun yang beragi tidak boleh kamu makan; kamu makanlah roti yang tidak beragi di segala tempat kediamanmu."

Makan roti kudus / makan roti sajian, itu berarti makan roti yang tidak beragi.
Makan roti tak beragi membuktikan bahwa kita sudah dibebaskan dari perbudakan dosa, seperti bangsa Israel yang menikmati roti tak beragi, oleh sebab itu, biarlah kita selalu merayakan hari raya roti tak beragi di hadapan Tuhan, sebab setiap merayakan hari raya roti tak beragi, selama itu ragi tidak boleh ada di dalam rumah, yaitu tanpa dosa kejahatan .

Ciri-ciri roti tak beragi
Ulangan 16: 1, 3-4
(16:1) "Ingatlah akan bulan Abib dan rayakanlah Paskah bagi TUHAN, Allahmu, sebab dalam bulan Abib itulah TUHAN, Allahmu, membawa engkau keluar dari Mesir pada waktu malam.
(16:3) Janganlah engkau makan sesuatu yang beragi besertanya; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi besertanya, yakni roti penderitaan, sebab dengan buru-buru engkau keluar dari tanah Mesir. Maksudnya supaya seumur hidupmu engkau teringat akan hari engkau keluar dari tanah Mesir.
(16:4) Janganlah terdapat padamu ragi di seluruh daerahmu, tujuh hari lamanya; dan dari daging hewan yang kausembelih pada waktu petang pada hari pertama, janganlah ada yang bermalam sampai pagi.

Pada bulan pertama/bulan Abib, bangsa Israel di bawa keluar dari tanah Mesir, pada saat itu, bangsa Israel harus makan roti yang tak beragi selama 7 hari.
Roti yang tak beragi disebut juga roti penderitaan, berarti, menikmati roti yang tidak beragi, rela menderita untuk Tuhan.
Yesus adalah roti yang tidak beragi, Dia rela menderita di atas kayu salib.

Matius 27: 12-22
 (27:12) Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun.
(27:13) Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?"
(27:14) Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran.
(27:15) Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.
(27:16) Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.
(27:17) Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"
(27:18) Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.
(27:19) Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam."
(27:20) Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.
(27:22) Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!"

Roti tak beragi disebut juga roti penderitaan, sama seperti Yesus, hidup benar tanpa dosa kejahatan tetapi harus disalibkan, menaggung penderitaan di atas kayu salib.
Semakin kita banyak makan roti tak beragi, semakin banyak kita dituntut untuk hidup dalam kebenaran = aniaya karena firman

Matius 27: 23-26
(27:23) Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!"
(27:24) Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"
(27:25) Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
(27:26) Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Mereka tidak menemukan kejahtan tetapi harus disalibkan, itulah roti tanpa ragi/roti penderitaan
Kalau hidup dalam kekudusan, berarti satu dalam penderitaan Yesus Kristus, itulah roti tanpa ragi/roti penderitaan

Syarat makan roti tanpa ragi/roti sajian
Imamat 2: 11, 13
(2:11) Suatu korban sajian yang kamu persembahkan kepada TUHAN janganlah diolah beragi, karena dari ragi atau dari madu tidak boleh kamu membakar sesuatu pun sebagai korban api-apian bagi TUHAN.
(2:13) Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.

Mempersembahkan roti sajian di hadapan Tuhan, harus disertai dengan membubuhi garam di atasnya, disebut juga garam perjanjian Allah

Markus 9: 50
(9:50) Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Garam memberi rasa yang asin, berarti, kalau menjadi garam, memberi rasa kepada sesama / mengasihi sesama / berdamai dengan sesama.
Tidak mengasihi sesama berarti tidak menjadi garam, tidak memberi rasa = hambar / tawar
Ketika menikmati roti tak beragi, roti tak beragi itu harus dibubuhi dengan garam, itulah garam perjanjian Allah, yaitu berdamai dengan sesama, terlebih dengan Tuhan.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI