KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, July 2, 2011

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB , 1 JULI 2011


Shaloom...!
Salam sejahtera, dalam nama Tuhan Yesus Kristus
Oleh karena kasih Nya yang besar kita dapat beribadah malam hari ini
Tibalah kita sampai pada Maleakhi pasal 1 ayat yang ke 4

Maleakhi 1: 4
(1:4) Apabila Edom berkata: "Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu," maka beginilah firman TUHAN semesta alam: "Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya."

Edom sadar kalau mereka telah hancur, oleh sebab itu mereka berkata  “Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu”, tetapi Tuhan berfirman "Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya”.

Mazmur 127: 1
(127:1) Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

Kalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang yang berusaha membangunkannya, dan jika bukan Tuhan yang mengawal maka sia-sialah pengawal yang berjaga-jaga.
Artinya: usaha tanpa penyertaan Tuhan maka mendatangkan kesia-siaan
·         Apabila ada seseorang kaya membangun rumah lalu memanggil arsitek walaupun ahli, tetapi kalau tanpa penyertaan Tuhan, maka pembangunan itu tidak berarti di hadapan Tuhan.
·         Sia-sialah orang yang mengawal kota, demikian juga, jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah orang yang berjaga-jaga.
Seperti seseorang yang dijaga ketat dengan banyak bodyguard, tetapi jikalau Tuhan tidak menjaga, sia-sialah itu semua.
Sebab itu, baik dalam ibadah pelayanan dan dalam segala sesuatu, izinkanlah Tuhan yang membangun kehidupan kita, dan jangan melakukan sesuatu tanpa penyertaan Tuhan karena itu akan menjadi kesia-siaan walaupun kita memiliki kepintaran, kepandaian dan harta tetapi tanpa penyertaan Tuhan itu akan menjadi sia-sia.

Edom ingin membangun kembali reruntuhannya, tetapi tidak berdamai terlebih dahulu dengan Allah, sehingga mereka tetap hidup dengan kefasikan di hadapan Allah, itu mendatangkan kesia-siaan.

Roma 1: 18
(1:18) Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
Mereka membangun tetapi tidak berdamai dengan Allah sehingga mereka tetap hidup dalam kefasikan.
Fasik adalah perbuatan-perbuatan jahat dari orang-orang sombong.
Nyata sekali murka Allah dari sorga atas orang-orang yang hidup dalam kefasikan dan kelaliman, karena kalau hidup dalam kefasikan dan kelaliman, maka kebenaran itu akan tertindas/kebenaran tidak nyata dalam kehidupan seseorang.

Roma 1: 21-23, 25
(1:21) Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
(1:22) Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.
(1:23) Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.
(1:25) Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.

Ø  Ini adalah orang fasik, yaitu tidak ada ucapan syukur, hati mereka menjadi gelap, dan pikiran menjadi bodoh, kebodohan mereka adalah penyembahan berhala. Sebab itu tidak perlu lagi menggandrungi seseorang, boleh ada gambar, seperti gambar Tuhan Yesus, gambar keluarga yang ditempelkan di tembok tetapi jangan sujud kepada gambar/poster itu, karena itu adalah perbuatan yang bodoh,demikian juga kalau kita menggandrungi seseorang, semuanya itu adalah penyembahan berhala, dan kalau hidup dalam penyembahan berhala pasti menjadi bodoh.

Amsal 10: 28
(10:28) Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.

Kalau orang benar, harapannya sukacita, tetapi harapan orang fasik semuanya mendatangkan kesia-siaan.
Jangan sampai harapan kita menjadi sia-sia, oleh sebab itu jangan biarkan kefasikan terjadi, tetapi biarlah kita menjadi hidup kudus di hari-hari terakhir ini, yang kudus menjadi kudus, yang jahat biarlah bertambah jahat.

Kefasikan diibaratkan seperti apa
2 Timotius 2: 16-17
(2:16) Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.
(2:17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,

Biarlah kita berhati-hati dalam berucap/berkata-kata dan jangan banyak bicara dimana pun kita berada, karena itu akan menambah kefasikan.
Kefasikan = penyakit kanker yang mudah sekali menjalar
Contoh:
Kalau seorang hamba Tuhan terlalu banyak bicara yang tidak berarti, maka akan menambah kefasikan/penyakit kanker, sehingga penyakit itu menjalar ke semua anggota tubuh yang lain, seluruh sidang jemaat mulai dari yang tertua sampai yang terkecil, baik laki-laki maupun perempuan.

Mari kita kembali melihat Maleakhi 1 ayat 4
Maleakhi 1: 4
(1:4) Apabila Edom berkata: "Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu," maka beginilah firman TUHAN semesta alam: "Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya."

Edom membangun reruntuhan tetapi belum berdamai terlebih dahulu dengan Allah.
Membangun tetapi belum berdamai dengan Allah, artinya:
a.       Mengandalkan kekuatan sendiri
Yeremia 17: 5
(17:5) Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
(17:6) Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Ø  Terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatan sendiri, misalnya mengandalkan kemampuannya, hartanya, kekayaannya, kedudukan dan jabatannya, dan lain-lain.
Mengandalkan kekuatan sendiri/hidup tanpa doa = hati jauh dari Tuhan
Seperti contoh: Ada seorang hamba Tuhan tetapi justru meminta doa kepada tulangnya/pamannya, karena masih terikat dengan adat istiadat. Itu adalah perbuatan yang sangat mengherankan. Bukankah seorang hamba Tuhan adalah pembantu/pelayan Tuhan, tetapi mengapa meminta doa kepada tulang/pamannya? Ini berarti mengandalkan kekuatan manusia/jauh dari Tuhan

Yeremia 17: 6
 (17:6) Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Ø  Hidupnya seperti semak bulus, artinya: kehidupan yang tidak berarti = tinggal di padang belantara/tinggal di padang gurun = kehidupan yang sunyi sepi, tanpa Tuhan dan tanpa sesama manusia = kehidupan yang tidak berarti.
Seperti contoh, tabut perjanjian tidak ada artinya kalau tidak ada 10 hukum Allah yang ditulis dalam 2 loh batu, sama seperti hidup tanpa Tuhan dan Tuhan tanpa manusia, itu tidak ada artinya

Kalau tidak berarti, maka tidak mendatangkan kebaikan = tidak ada perubahan
Adanya perubahan kalau ada Tuhan dan sesama, seperti Adam dan istrinya.

Pengkotbah 1: 1-11
(1:1) Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem.
(1:2) Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.
(1:3) Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?
(1:4) Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada.
(1:5) Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali.
(1:6) Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali.
(1:7) Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu.
(1:8) Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
(1:9) Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.
(1:10) Adakah sesuatu yang dapat dikatakan: "Lihatlah, ini baru!"? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada.
(1:11) Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tidak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya.

Sebab itu kalau kita berjerih payah di bawah matahari tetapi tanpa penyertaan Tuhan, itu adalah sia-sia, percayalah! Semua yang kita perbuat akan mendatangkan kesia-siaan kalau tidak menyertakan Tuhan.

b.      Tidak satu dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus
Markus 12: 23-24
(12:23) Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
(12:24) Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.

Kalau tidak satu di dalam kematian dan kebangkitan Kristus, maka menjadi sesat.
Sesat = terhilang dari Tuhan

Akibat sesat/terhilang dari Tuhan
  1. Tidak mengerti Firman Tuhan
Kalau tidak mengerti Firman Tuhan, kita tidak bisa melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan, tidak dapat menyenangkan hati Tuhan, tidak satu pun perbuatannya benar di hadapan Tuhan, justru hidupnya menjadi jahat.
Kalau mengerti Firman Tuhan maka akan mudah untuk melakuakan Firman itu, sebab itu nikmatilah setiap Firman Tuhan yang disampaikan, lewat 3 macam ibadah utama. Masakan makanan jasmani bisa kita nikmati, tetapi pribadi Yesus lewat Firman Allah yang kita dengar tidak bisa kita nikmati ?
  1. Tidak mengerti kuasa Allah
Kalau tidak mengerti kuasa Allah = tidak hidup di dalam kuasa Allah
Roma 6: 6
(6:6) Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.
(6:7) Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.
6:8) Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
(6:9) Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.

Kuasa Allah itu lewat kematian dan kebangkitan Kristus, yaitu mengalahkan dosa dan mengalahkan maut.
Kalau kita satu dalam kematian dan kebangkitan Kristus, daging tidak lagi berkuasa, dan maut, yaitu musuh yang terakhir, tidak berkuasa lagi.

Kalau membangun tetapi tidak berdamai dengan Allah, maka 2 hal itu terjadi.

Bandingkan dengan Raja Yosia ketika membangun reruntuhan Bait Allah
2 Raja-Raja 22: 2, 4-5
(22:2) Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.
(22:4) "Pergilah kepada imam besar Hilkia; suruhlah ia menyerahkan seluruh uang yang telah dibawa ke dalam rumah TUHAN yang telah dikumpulkan dari pihak rakyat oleh penjaga-penjaga pintu;
(22:5) baiklah itu diberikan mereka ke tangan para pekerja yang diangkat untuk mengawasi rumah TUHAN, supaya diberikan kepada tukang-tukang yang ada di rumah TUHAN untuk memperbaiki kerusakan rumah itu,

Raja Yosia membangun reruntuhan Bait Allah yang sudah rusak, di dalam kebenaran Allah = membangun reruntuhan Bait Allah, terlebih dahulu berdamai dengan Allah.

Ciri-ciri kehidupan yang sudah berdamai dengan Allah:
2 Raja-Raja 22: 10-11
(22:10) Safan, panitera itu, memberitahukan juga kepada raja: "Imam Hilkia telah memberikan kitab kepadaku," lalu Safan membacakannya di depan raja.
(22:11) Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya.

Cirinya adalah seperti Raja Yosia saat mendengar taurat Allah, dia mengoyakkan pakaiannya. Artinya: menyadari diri bersalah di hadapan Tuhan.
Biarlah saat Firman Tuhan dibacakan kemudian kita dengar penjelasan demi penjelasan, hati kita terkoyak/segera menyadari diri, dan jangan mengeraskan hati = rendah hati.

2 Raja-Raja 22: 19
(22:19) oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan TUHAN pada waktu engkau mendengar hukuman yang Kufirmankan terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, bahwa mereka akan mendahsyatkan dan menjadi kutuk, dan oleh karena engkau mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapan-Ku, Aku pun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN,
(22:20) sebab itu, sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu, dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat ini." Lalu mereka menyampaikan jawab itu kepada raja.

Menyesal = merendahkan diri di hadapan Tuhan
Kalau kita segera menyadari diri/merendahkan diri di hadapan Tuhan, sampai kita dikebumikan/mata tertutup dengan damai, kita tidak akan melihat malapetaka/Tuhan menjauhkan dari malapetaka.

Jalan keluar:
Berdamai terlebih dahulu kepada Allah
Biarlah selama kita belum menutup mata, belum tutup usia, kita melihat semua damai sejahtera tidak melihat kesusahan-kesusahan, penderitaan-penderitaan, yang disebut malapetaka.

1 Yohanes 2: 2-6
(2:2) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
(2:3) Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
(2:4) Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.
(2:5) Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.
(2:6) Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Berdamai terlebih dahulu dengan Allah lewat kematian dan kebangkitan Kristus, dan prakteknya adalah: mengenal pribadi Allah secara pribadi, bukan dengan katanya tetapi karena kita melakukan Firman Tuhan.

Roma 6: 7-10
(6:7) Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.
(6:8) Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
(6:9) Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.
(6:10) Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.
(6:11) Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

Biarlah kita hidup bagi Allah di dalam Kristus Yesus, yaitu di dalam kematian dan kebangkitan Kristus Yesus.
Dia sudah memperdamaikan kita lewat pengorbanan Nya sampai mati di kayu salib ,dan kebenaran Firman Tuhan yang sudah dibukakan rahasia Nya.
Di dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, baik dalam ibadah pelayanan maupun hidup sehari-hari, biarlah kita terlebih dahulu berdamai dengan Allah, selalu dalam penyertaan Nya, jangan mengandalkan kekuatan manusia, tetapi biarlah kita mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu, supaya tidak mendatangkan kesia-siaan, karena membangun reruntuhan tanpa berdamai terlebih dahulu, maka Tuhan akan merobohkannya kembali.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI