KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Monday, September 26, 2011

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 24 SEPTEMBER 2011


IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 24 SEPTEMBER 2011

Tema:  STUDY YUSUF
(Seri 12)

Shalom, salam dalam nama Tuhan Yesus Kristus, karena kasih Nya besar kita dapat kembali beribadah pada sore hari ini.

Kita sudah melihat dari beberapa sesi sebelumnya, firman nubuatan yang disampaikan para nabi, tidak terlepas dari dua karunia yang lain, yaitu;
-      karunia penglihatan, berarti melihat keberadaan Allah.
-      karunia mimpi, berarti mendengar suara Allah.

Saat ini, kita melihat keberadaan Allah = melihat Tabernakel, dimulai dari Timur, yaitu pintu gerbang, sampai ke barat, yaitu Ruangan Maha Suci.
Kita sudah berada di ruangan suci yaitu tempat pengudusan, dimana di dalamnya terdapat 3 macam alat, yaitu MEJA ROTI SAJIAN, PELITA EMAS dan MEZBAH DUPA.
3 macam alat ini -> ketekunan dalam 3 macam ibadah utama.
3 macam ibadah utama ini, yang merupakan arti 3 macam alat dalam ruangan suci, adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di dalam Kerajaan Sorga.

Jadi, ibadah di bumi ini, adalah gambaran dari ibadah pelayanan di kemah yang sejati, itulah tabernakel yang sejati, itulah Kerajaan Sorga.
Sebab itu, lewat firman pengajaran, dengan menggunakan pola terang Tabernakel, tidak ada keragu-raguan karena kita berada di jalur / di tempat yang benar.

Kita sudah melihat ruangan suci dan 3 macam alat di dalamnya itu -> ketekunan dalam 3 macam ibadah utama
3 macam ibadah utama adalah gambaran / bayangan dari kemah yang sejati (ibadah di sorga, Ibrani 8: 5)

Sekarang kita lihat ibadah dalam Kerajaan Sorga
Wahyu 4: 1
(4:1) Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.

Setelah pintu sorga terbuka, Tuhan memperlihatkan segala sesuatu yang ada di dalam Kerajaan Sorga kepada Rasul Yohanes di pulau Patmos.
Pintu terbuka di sorga -> PINTU KEMAH
Kita sudah melihat arti dari pintu kemah, yaitu dibaptis / dipenuhi oleh Roh El Kudus.

Biarlah kita dipenuhi oleh Roh Kudus, sebab itu adalah syarat utama untuk berada di ruangan suci.

Sebelum berada di titik nol / di tempat yang paling terendah, jangan harap berada di pintu kemah, dibaptis dipenuhi oleh Roh Kudus.
Kalau kita dipenuhi Roh Kudus, maka pintu sorga terbuka untuk kita, dengan demikian tingkap-tingkap langit terbuka untuk kita, dan Tuhan mencurahkan berkatnya sesuai dengan keinginan Tuhan untuk kepentingan-kepentingan dalan ibadah pelayanan.

Oleh sebab itu, saat beribadah melayani Tuhan, harus tetap dalam kerendahan hati supaya kita dipenuhi Roh Kudus, dengan demikian tingkap-tingkap sorga akan terbuka bagi kepentingan ibadah pelayanan.

Yang dilihat Rasul Yohanes setelah pintu sorga terbuka:
1.   Wahyu 4: 4
(4:4) Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka.

Di sekeliling takhta Anak Domba, ada 24 takhta, di takhta-takhta itu, duduk 24 tua-tua, memakai pakaian putih dengan mahkota emas di atas kepala.

24 takhta, duduk 24 tua-tua adalah gambaran dari MEJA PERTUNJUKKAN, 12 KETUL ROTI
DI ATASNYA 
24 tua-tua yang duduk di takhta-takhta -> 12 rasul hujan awal dan 12 rasul hujan akhir.
Meja pertunjukkan, 12 ketul roti di atasnya adalah bayangan dari gereja Tuhan dengan 12 rasul.

Kita kaitkan dengan Matius 19
Matius 19: 28
(19:28) Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.

Jelas sekali, bahwa 24 takhta, di takhta-takhta itu, duduk 24 tua-tua adalah gambaran dari meja pertunjukkan dengan 12 ketul roti di atasnya, sedangkan 24 tua-tua -> 12 rasul hujan awal dan 12 rasul hujan akhir.

Kita sudah melihat gereja hujan awal dengan 12 rasulnya, yaitu ke 12 murid Yesus.
Demikian juga gereja hujan akhir dengan 12 rasulnya tampil untuk menghakimi 12 suku Israel.
Yesus berkata pada penciptaan kembali, itulah Yerusalem baru, upah kita dalam mengikut Tuhan adalah duduk di atas 12 takhta untuk menghakimi 12 suku Israel.

24 tua-tua yang duduk di takhta adalah gambaran meja pertunjukkan dengan 12 ketul roti di atasnya, itu adalah ketekunan IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, yang disertai dengan perjamuan suci.
Berarti, anak-anak Tuhan yang didewasakan lewat ketekunan ibadah Pendalaman Alkitab, akan memuncak sampai menjadi tua-tua.

Wahyu 4: 5a
(4:5) Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.

Dari takhta keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu adalah gambaran dari persekutuan yang indah lewat perjamuan suci.

Apa yang dilihat Rasul Yohanes di pulau Patmos, yaitu melihat 24 tua-tua yang duduk di sekeliling takhta anak Domba, itu juga yang dilihat oleh Musa di gunung Sinai.

Bandingkan dengan Musa di gunung Sinai.
Mari kita lihat Keluaran 19: 7
(19:7) Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya.

Musa turun dari gunung Sinai dan membawa firman yang diperintahkan oleh Tuhan untuk disampaikan kepada para tua-tua, ini adalah gambaran dari Ibadah Pendalaman Akitab.
Itu sebabnya kalau kita tekun dalam ibadah Pendalaman Akitab, disitulah kita menjadi dewasa rohani, sampai menjadi tua-tua.
Tekun dalam ibadah Pendalaman Alkitab = dewasa rohani, memuncak  sampai tua-tua

Untuk menjadi tua-tua tidak dilihat dari usia yang tua, kekayaan, jabatan, tetapi dari kedewasaan rohani, yang didewasakan oleh Firman Tuhan.

Keluaran 19: 10-11, 16, 20
(19:10) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya.
(19:11) Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai.
(19:16) Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan.
(19:20) Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas.

Tuhan menyatakan diri Nya lewat guruh yang menderu dan kilat yang memancar.
Saat bunyi guruh menderu dan kilat memancar, itulah persekutuan yang indah dengan Tuhan lewat perjamuan suci.

Jadi, ibadah Pendalaman Alkitab, harus disertai dengan perjamuan suci, itulah kilat yang memancar dan guruh yang menderu.

2.   Wahyu 4: 5
(4:5) Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.

Yang dilihat Rasul Yohanes yang kedua adalah 7 obor yang menyala-nyala.
7 obor yang menyala-nyala adalah bayangan dari KAKI DIAN EMAS, dengan 7 pelita di atasnya.
Ini adalah ketekunan dalam IBADAH RAYA / UMUM HARI MINGGU.

7 obor, itulah ketujuh roh Allah

Yesaya 11: 1-2
(11:1) Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.
(11:2) Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertianroh nasihat dan keperkasaanroh pengenalan dan takut akan TUHAN;

Inilah 7 obor, yaitu ketujuh Roh Allah, antara lain:
1.    Roh Tuhan ada padanya          5. Roh keperkasaan
2.    Roh hikmat                            6. Roh pengenalan
3.    Roh pengertian                      7. Roh takut akan Tuhan
4.    Roh nasihat

Berarti, kehidupan yang diurapi oleh Roh Kudus, menjadi terang di tengah dunia ini.

Yohanes 8: 12
(8:12) Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."

Yesus adalah terang dunia.
Apabila berada di dalam terang dunia, berarti berada di dalam Yesus.
Kalau kita menjadi terang dunia, kita tidak lagi berada / tinggal dalam kegelapan dosa = tidak menyembunyikan dosa sekecil apapun di dalam hati.

Yohanes 9: 5-7
(9:5) Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia."
(9:6) Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi
(9:7) dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Yesus memelekan mata orang buta, itu artinya bahwa Yesus adalah terang dunia.
Buta artinya tinggal di dalam kegelapan dosa.
Selama dalam kebutaan, berarti selama itu tinggal dalam kegelapan, tetapi setelah mata orang buta dimelekkan = tinggal dalam terang / tidak tinggal dalam dosa = tidak menyembunyikan dosa sekecil apapun.

Ciri-ciri tinggal dalam terang
Yohanes 9: 7
(9:7) dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Cirinya adalah membasuh diri dengan air
Artinya: memberi diri disucikan oleh air firman Tuhan
Berarti jika tinggal di dalam terang, cirinya adalah selalu memberi diri untuk disucikan oleh air firman Tuhan.
Dengan demikian kita yang berjalan dalam gelap, ketika melihat setiap sandungan-sandungan yang menyebabkan dosa, kita bisa melewatinya, sehingga kita tidak tersandung karena dosa.

Mazmur 119: 105
(119:105) Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Mata itu adalah pelita, juga Firman Tuhan / sabda Allah itu adalah pelita.
Kalau firman terus menerus menyucikan kita, dia akan menerangi jalan-jalan kehidupan kita.
Karena tidak mungkin, orang berjalan dalam kegelapan, tanpa mendengar firman Tuhan, lalu dapat melewati sandungan-sandungan, itu adalahmustahil, itu tidak mungkin.

Dengan adanya, firman / sabda Allah yang menjadi pelita dalam kehidupan kita di tengah-tengah dunia yang sedang bergelora / gelap karena dosa, kita akan terlepas dari banyaknya sandungan-sandungan, baik dari teman, keluarga, iblis setan, keinginan daging itu sendiri.

Mengapa orang bisa tersandung? Karena berjalan tanpa pelita.
Tetapi yang lebih mengherankan lagi, banyak orang berjalan dalam kegelapan / berjalan tanpa pelita, sehingga selalu tersandung dan jatuh dalam berbagai-bagai dosa, dan ironisnya sudah jatuh tetapi tidak mau mendengarkan firman Tuhan.

Oleh sebab itu biarlah kita semakin sungguh-sungguh di hari-hari terakhir ini, dimana setan dengan jerat dan tipu muslihatnya semakin luar biasa, sehingga kita bisa tersandung dan jatuh.
Hanya lewat firman Tuhan dalam setiap ibadah, kita mendapat pengertian dari Tuhan.
Berilah dirimu disucikan terus menerus, dan jangan memberi diri untuk dikotori dengan hal-hal di luar sana / oleh dunia.

Yohanes 1: 1, 4-5
(1:1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
(1:4) Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
(1:5) Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Hidup itu terang. Kalau hidup tidak dalam terang, berarti engkau tidak hidup.
Kalau Tuhan datang untuk yang kedua kalinya, dan kaum muda remaja sedang berada dalam kegelapan, maka habislah engkau!

3.   Di dalam Wahyu 4, Rasul Yohanes tidak melihat alat yang ketiga, yaitu MEZBAH DUPA.

Mari kita lihat dalam Wahyu 8: 3-4
Wahyu 8: 3-4
(8:3) Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.
(8:4) Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.

Gumpalan asap dari kemenyan, naik bersama-sama dengan doa orang-orang kudus, itulah doa penyembahan

Lebih terperinci
Wahyu 5: 8
(5:8) Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing
memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

Tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba, ini menunjukkan gumpalan asap kemenyan dan doa orang-orang kudus, itulah doa penyembahan.
Jadi saat doa penyembahan harus tersungkur di bawah kaki Tuhan.
Doa penyembahan artinya adalah persekutuan dengan Tuhan oleh karena penderitaan Nya di atas kayu salib, sampai tenggelam di dalam kasih Nya.

Ciri-cirinya
a.     Merendahkan diri di kaki Tuhan
b.    Menyerahkan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan

Dalam pola Tabernakel, menurut Wahyu yang diterima oleh bapak Pdt. Van Gessel, kemenyan artinya putih, inilah persembahan yang terbaik untuk Tuhan.
Berarti kemenyan warna putih adalah persembahan yang terbaik untuk Tuhan.

Dikaitkan dengan apa yang Tuhan tunjukkan kepada Musa
Keluaran 30: 7-9
(30:7) Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya.
(30:8) Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-temurun.

Jelas sekali dikatakan, di atas mezbah dibakarlah ukupan sebagai ketetapan turun temurun di hadapan Tuhan. Berarti doa penyembahan harus tetap berlangsung sampai Tuhan datang, karena doa penyembahan akan melepaskan kita dari kelemahan-kelemahan.

Keluaran 30: 9
(30:9) Di atas mezbah itu janganlah kamu persembahkan ukupan yang lain ataupun korban bakaran ataupun korban sajian, juga korban curahan janganlah kamu curahkan di atasnya.

Di atas mezbah jangan mempersembahkan ukupan yang lain.
Artinya: dalam doa penyembahan jangan ada;
a.     Keinginan daging
Jangan sampai dalam doa, daging bersuara
Contoh; kalau berdoa jangan diatur, jangan dibuat-buat supaya kelihatan berwibawa, karena itu adalah suara daging. Tetapi biarlah apa yang keluar dari hati, itu yang disampaikan, jangan mengatur doa dan jangan dibuat-buat.
b.    Jangan ada hal yang tak benar, yaitu tipu muslihat / dusta.
c.     Jangan ada kehormatan / kebanggaan diri
d.    Jangan menjadi kebiasaan / tradisi
Menyembah tetapi hanya menjadi kebiasaan, itu jangan kita perbuat.
e.    Jangan ada api setan, yaitu roh najis.

Itulah doa penyembahan kepada Tuhan, bagaikan gumpalan asap kemenyan.


3 MACAM IBADAH DI SORGA DAN DI BUMI
NO.
3 ALAT DALAM RUANGAN SUCI
IBADAH DI SORGA
IBADAH DI BUMI
1.
Meja Pertunjukkan, 12 roti di atasnya
24 takhta, duduk 24 tua-tua, di hadapan takhta Anak Domba
Tekun dalam Ibadah Pendalaman Alkitab, disertai perjamuan suci
2.
Kaki Dian Emas, di atasnya 7 pelita
7 obor, itulah ketujuh Roh Allah
Tekun dalam Ibadah Raya / Umum Hari Minggu, dan kesaksian
3.
Mezbah Dupa
Gumpalan asap kemenyan, bersama-sama doa orang-orang kudus
Tekun dalam Ibadah Doa Penyembahan
à
MUSA DI GUNUNG SINAI
RASUL YOHANES DI PULAU PATMOS
3 MACAM IBADAH GEREJA HUJAN AWAL DAN GEREJA HUJAN AKHIR

Jadi, apa yang dilihat Rasul Yohanes tentang kemah sejati / Kerajaan Sorga, itu juga yang dilihat oleh Musa di gunung Sinai, sebab ibadah yang ada di bumi adalah gambaran / bayangan dari ibadah dalam Kerajaan Sorga.
Sebab itu, kalau kita tekun dalam 3 macam ibadah utama, bukan berarti Tuhan membodoh-bodohi kita, bukan karena kemauan gembala, tetapi itulah keadaan sorga saat pintu sorga terbuka yang dilihat oleh Rasul Yohanes di pulau Patmos.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita firman;
Gembala Sidang: Pdt Daniel U. Sitohang