KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Monday, April 22, 2013

IBADAH RAYA MINGGU, 21 APRIL 2013


Tema:  JEMAAT EFESUS (dari Wahyu 2: 1-7)
            (Seri 06)

Subtema: PELITA DI BAWAH TEMPAT TIDUR BERARTI KAKI DIAN TERAMBIL (DOSA MELEBIHI / DOSA KESOMBONGAN, ITULAH LUCIFER YANG TERLIHAT DI DUNIA)

Shalom!
Selamat malam, salam sejahtera, salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Oleh karena kasih-Nya, kita boleh berada di dalam rumah Tuhan, beribadah melayani Tuhan, mempersembahkan korban bakaran, korban sembelihan dan korban sajian kepada Tuhan.

Kita kembali memperhatikan sidang jemaat di Efesus, dari kitab Wahyu 2: 1-7.
Biarlah Tuhan kembali meneguhkan kita lewat sidang jemaat di Efesus ini, sebagaimana kita telah diteguhkan lewat beberapa seri sebelumnya.

Terlebih dahulu kita memperhatikan ayat 1 ...
Wahyu 2: 1
(2:1) "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.

Yesus tampil sebagai firman Allah yang tajam untuk memeriksa, mengoreksi dan menyucikan dosa / keberadaan sidang jemaat di Efesus.

Wahyu 2: 2-3
(2:2) Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
(2:3) Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.

Setelah dikoreksi lewat firman Allah yang tajam, maka tampaklah keadaan sidang jemaat di Efesus, yaitu memiliki KELEBIHAN-KELEBIHAN di hadapan Tuhan, antara lain;
1.    penuh dengan JERIH PAYAH di tengah-tengah ibadah pelayanan,
2.    penuh dengan KETEKUNAN / bertekun di hadapan Tuhan,
3.    tetap SABAR di tengah-tengah ibadah pelayanan,
4.    MENDERITA OLEH KARENA NAMA TUHAN = aniaya karena firman = sengsara salib,
5.    TIDAK MENGENAL LELAH.

Kelebihan-kelebihan ini tentu membuat kita angkat jempol kepada sidang jemaat di Efesus karena mereka memiliki kelebihan yang luar biasa.

Namun, bila kita perhatikan ayat 4 ...
Wahyu 2: 4
(2:4) Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

Namun, Yesus Kristus mencela sidang jemaat di Efesus karena mereka telah MENINGGALKAN KASIH YANG SEMULA.

Demikian halnya bila saya dan saudara meninggalkan kasih yang semula, kita akan dicela oleh Tuhan, sebab meninggalkan kasih yang semula bukanlah perkara sepele / bukan perkara kecil.

Sekarang, mari kita perhatikan ayat 5 ...
Wahyu 2: 5
(2:5) Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Meninggalkan kasih yang semula adalah KEJATUHAN YANG AMAT SANGAT DALAM.
Jadi, sekali lagi saya katakan; meninggalkan kasih yang semula, itu bukanlah perkara kecil / bukan perkara sepele.

Saya beri contoh;
-   Kalau salah satu dari pasangan suami isteri menghianati kasih dari pada pasangannya, itu cukup menyakitkan sekali.
-  Demikian juga terhadap sesama, kalau kita mengabaikan sesama, tidak peduli terhadap sesama, menyepelekan sesama, padahal orang itu sangat membutuhkan pengertian dan perhatian kita, tetapi ia tidak mendapatkannya (karena kita kehilangan kasih yang semula), itu cukup menyakitkan.
Itu sebabnya, Yesus berkata kepada sidang jemaat di Efesus: “... betapa dalamnya engkau telah jatuh ...”

Oleh sebab itu ...
Wahyu 2: 5
(2:5) Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Tetapi di sini kita perhatikan; Yesus menghimbau dengan kasih, supaya sidang jemaat di Efesus KEMBALI PADA KASIH YANG SEMULA, dimulai dengan tanda BERTOBAT.
Bertobat, artinya; berhenti berbuat dosa dan jangan mengulangi lagi, kembalilah kepada Allah, kepada kasih yang semula, seperti dua tangan dan dua kaki yang terpaku tidak dapat berbuat apa-apa.
Berarti, pertobatan itu dibutuhkan pengorbanan / ada tanda darah, sama seperti dua tangan dan dua kaki yang terpaku, dari sana darah mengalir.
Demikian juga dengan kebenaran, meterainya adalah darah Yesus / pengorbanan, bukan dari perkataan-perkataan yang keluar dari mulut manusia.

Namun, apabila sidang jemaat di Efesus tidak kembali pada kasih yang semula, tidak mau bertobat, maka KONSEKUENSINYA: TUHAN AKAN MENGAMBIL KAKI DIAN DARI TEMPATNYA / DARI SIDANG JEMAAT DI EFESUS.
Sesungguhnya, dari sejak semula Tuhan merindukan supaya tujuh sidang jemaat di Asia kecil (termasuk salah satunya adalah sidang jemaat di Efesus) menjadi pelita, menjadi terang. Tetapi jikalau sidang jemaat di Efesus tidak mau kembali pada kasih yang semula, tidak mau bertobat, maka Tuhan akan mengambil kaki dian dari tempatnya.
Kalau kaki dian diambil dari sidang jemaat di Efesus, maka yang terjadi adalah SIDANG JEMAAT DI EFESUS BERADA DALAM SUASANA GELAP.
Kita mengetahui, kalau seseorang berada dalam suasana gelap / buta, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia akan tabrak sana, tabrak sini, dan orang buta tidak bisa diharapkan.

SUASANA GELAP DAPAT KITA GAMBARKAN DALAM BEBERAPA HAL.
YANG KETIGA.

Lukas 8: 16
(8:16) "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.

Suasana gelap digambarkan seperti PELITA YANG MENYALA DITEMPATKAN DI BAWAH TEMPAT TIDUR.

Lukas 8: 16-17
(8:16) "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.
(8:17) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.

Kalau pelita  dinyalakan di atas kaki dian, seisi rumah diterangi, sehingga;
-      tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan,
-      dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.

Berarti sebaliknya, kalau pelita berada di bawah tempat tidur, maka yang terjadi adalah;
-      ada sesuatu yang disembunyikan yang tidak dinyatakan.
-      ada sesuatu rahasia yang tidak diketahui.

Bayangkan, kalau di dalam rumah tangga terjadi hal yang demikian, kondisi yang seperti ini adalah kondisi nikah rumah tangga yang sangat misterius dan ini sangat berbahaya.
Tempat tidur -> nikah rumah tangga, yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak.
Jika dalam nikah rumah tangga saling menyembunyikan sesuatu / ada rahasia yang belum dinyatakan, bukankah ini adalah hal yang misterius? Dan ini berbahaya sekali.

Ada dua hal penyebabnya.
PENYEBAB PERTAMA.
Matius 10: 24-26
(10:24) Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.
(10:25) Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.
(10:26) Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.

-      Seorang murid tidak mungkin melebihi gurunya,
-      atau seorang hamba melebihi tuannya.
Kalau murid  melebihi  gurunya dan hamba melebihi tuannya, itu adalah DOSA KESOMBONGAN.
Dosa kesombongan = dosa lebih / melebihi.

Mari kita lihat mengenai; DOSA MELEBIHI.
Yesaya 14: 12-14
(14:12) "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!
(14:13) Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara.
(14:14) Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!

Bintang Timur, putera Fajar, atau yang disebut Lucifer, yaitu iblis setan, mendirikan takhtanya untuk mengatasi bintang-bintang Allah, kemudian hendak mengatasi ketinggian awan-awan dan menyamai Yang Mahatinggi.
Ini adalah dosa melebihi / dosa kesombongan dari pada Bintang Timur Putera Fajar, atau yang disebut Lucifer, iblis setan.

Jangan merasa diri sama atau ingin melebihi para pemimpin, demikian halnya sidang jemaat terhadap gembala sidang, sebab itu adalah dosa kesombongan.
Belum waktunya kita menjadi tuan, nanti, pada masa 1000 tahun damai, kita semua menjadi tuan / raja.
Mari, kembali periksa kedudukan kita masing-masing di hadapan Tuhan, tempatkan / posisikan diri sesuai dengan tatanan yang sudah Tuhan tentukan.

Matius 12: 22-25
(12:22) Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat.
(12:23) Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud."
(12:24) Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan."
(12:25) Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.

Di sini kita melihat; orang Farisi dan ahli Taurat ingin melebihi pribadi Yesus Kristus, dan berkata: “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.
Jadi, dosa kesombongan / dosa ingin melebihi (seperti murid yang ingin melebihi gurunya dan hamba yang ingin melebihi tuannya) adalah orang yang TIDAK MAU MENERIMA PRIBADI YESUS dengan KUASA KELEPASAN-NYA.

Bayangkan, kalau sidang jemaat tidak mau mendengar suara gembala dan tidak mau menerima pelayanan dari seorang gembala, itu sama seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak mau menerima pribadi Yesus dengan kuasa kelepasan-Nya.
Perlu diketahui; orang yang keras hati, asalnya dari setan.

Lebih jauh kita melihat ...
Lukas 11: 14-18
(11:14) Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak.
(11:15) Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan."
(11:16) Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.
(11:17) Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.
(11:18) Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.

Kembali saya sampaikan, bahwa; orang Farisi dan ahli Taurat tidak menerima pribadi Yesus Kristus dan tidak mau menerima kuasa kelepasan-Nya, ini disebut dosa ingin melebihi = dosa kesombongan.
Sehingga kalau kita perhatikan di sini, mereka meminta suatu tanda dari sorga kepada Yesus, namun hanya untuk mencobai Yesus, seperti iblis setan (ular) yang selalu mencobai manusia.

Jadi, AHLI TAURAT dan ORANG FARISI adalah LUCIFER YANG TERLIHAT DI DUNIA INI, itulah gambar atau wujud dari pada Lucifer, bayangkan saja;
-      ahli Taurat mengerti firman Tuhan tetapi tidak menjadi pelaku,
-      juga orang Farisi beribadah kepada Tuhan tetapi penuh dengan kemunafikan.

Akibat dosa kesombongan.
Yesaya 14: 17
(14:17) yang telah membuat dunia seperti padang gurun, dan menghancurkan kota-kotanya, yang tidak melepaskan orang-orangnya yang terkurung pulang ke rumah?

Akibatnya;
1.    MEMBUAT DUNIA SEPERTI PADANG GURUN.
= gersang = kering-kering, tidak menghasilkan apa-apa -> gereja Tuhan tanpa persekutuan.
Sama seperti ranting, ia akan menjadi kering kalau tidak melekat pada pokoknya, ia tidak akan menghasilkan buah. Keadaan yang semacam ini sudah dekat dengan kutuk pembakaran.

2.    MENGHANCURKAN KOTA-KOTANYA.
Berarti, tidak ada lagi keramaian di dalamnya, artinya; tidak ada lagi ibadah pelayanan kepada Tuhan.
Kota -> ibadah pelayanan, sebagai keramaian di hadapan Tuhan.

SEDIKIT KESAKSIAN;
Suatu kali saya melayani di Semarang, atas undangan seorang hamba Tuhan, di mana hamba Tuhan ini menggembalakan dua gereja / dua tempat / dua kandang penggembalaan.
Pada saat melayani di salah satu gereja / salah satu tempat penggembalaan, ada sepasang suami isteri datang terlambat, kemudian duduk paling depan persis menghadap mimbar. Dari awal sampai akhir pemberitaan firman Tuhan, dia tidak bergeming sama sekali, bahkan dia menunjukkan wajahnya yang tidak bersahabat, pendeknya; ia menolak firman pengajaran (tidak menghargai pengajaran mempelai).
Betul-betul, setan dengan dosa kesombongan menghancurkan kota-kotanya, berada dalam kota tetapi tidak mengalami keramaian kota.
Ternyata, setelah saya selidiki, bahwa di awal perintisan gereja tersebut, ibadah itu dimulai di rumah orang tersebut, tetapi mungkin dia tidak puas dengan gembala setempat, sehingga dampaknya; kota-kotanya dihancurkan (berada dalam rumah Allah tetapi tidak mengalami keramaian kota), inilah akibat dosa kesombongan.

3.    TIDAK MELEPASKAN ORANG-ORANGNYA TERKURUNG PULANG KE RUMAH.
= tetap terikat dengan dosa, baik itu terikat dengan dosa kenajisan, terikat dengan dosa dusta, terikat dengan dosa mencuri, terikat dengan dosa kejahatan lainnya.

Ada dua hal penyebabnya.
PENYEBAB KEDUA.
Lukas 12: 1-2
(12:1) Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.
(12:2) Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.

Penyebab yang kedua adalah RAGI ORANG FARISI, yaitu KEMUNAFIKAN.
Jadi, ragi orang Farisi (yaitu kemunafikan) itulah yang menyebabkan;
-      ada sesuatu yang tertutup yang tidak akan dibuka,
-      dan ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.

Munafik, artinya; di dalam dan di luar tidak sama, di luar terlihat baik namun di dalamnya penuh dengan kejahatan, penuh dengan kotoran.
Bagaimana dengan ibadah kita malam hari ini, apakah tampilan luar sama dengan tampilan dalam? Kalau tidak, berarti seseorang sedang menjalankan ibadahnya secara lahiriah.

Matius 15: 6-9
(15:6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.
(15:7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:
(15:8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
(15:9) Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Orang-orang munafik menjalankan ibadah secara lahiriah; mulut / bibir memuliakan Allah, tetapi hatinya jauh dari Tuhan, sebab hatinya telah dikotori, penuh dengan kejahatan, sehingga mereka beribadah sesuai dengan ajaran yang mereka ajarkan / perintah manusia.

Kalau kita perhatikan orang Yahudi; hanya demi adat istiadat, mereka mengabaikan firman Tuhan, yaitu tidak menghormati orang tua (bapa atau ibunya).
Karena mereka hanya mengutamakan adat istiadat / hal-hal yang lahiriah, mereka mengabaikan firman Tuhan, sehingga mulut / bibir mereka memuliakan Allah, tetapi hatinya jauh dari Tuhan = melangsungkan ibadah secara lahiriah, persis seperti pelita yang menyala namun ditempatkan di bawah / kolong tempat tidur.

Lebih jauh kita melihat; ORANG FARISI DENGAN RAGINYA, DI MANA MEREKA MENJALANKAN IBADAH SECARA LAHIRIAH.
Matius 23: 16-18
(23:16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
(23:17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?
(23:18) Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.

Mereka berkata:
-      Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
Bait Suci Allah dimulai dari Ruangan Suci sampai tempat kudus, ini semua telah dilapisi dengan emas murni, termasuk juga papan-papan jenang dan tiga alat di dalamnya.
-      “Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.”

Artinya; ahli Taurat dan orang-orang Farisi MELAYANI namun TERIKAT DENGAN HAL-HAL LAHIRIAH.

Sesungguhnya, yang lebih penting adalah;
-      BAIT SUCI, sebab mampu menguduskan emas yang ada di Bait Suci.
Kalau kita perhatikan dalam POLA TABERNAKEL, Bait Suci terkena pada RUANGAN SUCI, di mana di dalamnya terdapat 3 alat;
·        MEJA ROTI SAJIAN, di mana di atasnya terdapat 2 susun roti, masing-masing terdiri dari 6 ketul roti -> hidup benar sesuai firman Tuhan = dikuduskan oleh firman Tuhan.
·        PELITA EMAS, arti rohaninya; dipenuhkan Roh Kudus = dikuduskan oleh urapan Roh Kudus.
·        MEZBAH DUPA -> doa penyembahan = dikuduskan oleh doa penyembahan = kasih Allah.
Dengan 3 arti rohani ini, maka segala sesuatu yang ada di dalamnya dikuduskan oleh;
·        dikuduskan oleh FIRMAN,
·        dikuduskan oleh urapan ROH KUDUS,
·        dan dikuduskan oleh KASIH ALLAH.
-      MEZBAH, yang menguduskan persembahan yang ada di atasnya.
Kiranya saya dan saudara mampu mempersembahkan 3 hal, yaitu;
·         mempersembahkan KORBAN BAKARAN, artinya; TINGGAL DALAM KASIH ALLAH,
·         mempersembahkan KORBAN SAJIAN, artinya;  HIDUP BENAR SESUAI FIRMAN TUHAN,
·         mempersembahkan KORBAN SEMBELIHAN (jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk), artinya; KEHIDUPAN YANG DIURAPI ROH KUDUS.

Jadi, pelayanan dari orang Farisi adalah PELAYANAN YANG KELIRU.
Kalau melayani namun terikat dengan perkara lahiriah, itu adalah sesuatu yang salah / salah alamat.

Maka dengan demikian, ahli Taurat dan orang Farisi disebut PEMIMPIN-PEMIMPIN BUTA = melayani tetapi tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Jangan-jangan, arah dari pelayanan itu pun tidak jelas / tidak sampai pada tujuan, sebab kalau buta, arah pelayanannya tidak jelas.
Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah orang yang paling sempurna, tetapi kita patut bersyukur karena digembalakan oleh firman pengajaran, yang sesuai dengan pola Tabernakel, sebagai miniatur Kerajaan Sorga (Ibrani 8: 5).

Jalan keluarnya.
Lukas 8: 16
(8:16) "Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.

Jalan keluarnya; MENYALAKAN PELITA LALU MELETAKKAN DI ATAS KAKI DIAN, sehingga dengan demikian, menerangi seisi rumah.
Nikah rumah tangga terdiri dari suami, isteri, dan anak, semua diterangi.

Mari kita lihat; NIKAH RUMAH TANGGA YANG DITERANGI.
Kolose 3: 18-20
(3:18) Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
(3:19) Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
(3:20) Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.

-      ISTERI TUNDUK KEPADA SUAMI.
Ini adalah isteri yang telah diterangi.
-      SUAMI YANG MENGASIHI ISTERI, adalah suami yang tidak berlaku kasar kepada isteri.
Ini adalah suami yang telah diterangi oleh pelita.
-      ANAK-ANAK YANG TAAT KEPADA KEDUA ORANG TUA.
Ini adalah anak-anak yang telah diterangi, sehingga hidupnya menjadi lebih indah.
Kalau anak-anak tidak hormat kepada orang tua, maka hidupnya tidak akan indah.
Inilah nikah rumah tangga, di mana pelita menyala lalu diletakkan di atas kaki dian; hati, pikiran, segala sesuatunya diterangi.

Mari kita lihat keterangan:
ISTERI TUNDUK KEPADA SUAMI.
Efesus 25: 22-24
(5:22) Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
(5:23) karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
(5:24) Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.


Ketundukan seorang isteri kepada suami, persis seperti ketundukannya kepada Kristus, sebab Kristus adalah kepala dari tiap-tiap gereja, sedangkan gereja Tuhan adalah tubuhnya.

Ketundukan isteri kepada suaminya tidak bersyarat, karena ketundukan seorang isteri kepada suaminya itu, persis seperti ketundukannya kepada Kristus.

Saya banyak mendengar cerita dari ibu-ibu (isteri-isteri), yang berkata: “Masakan saya harus tunduk kepada suami yang pemarah?”, “Masakan saya harus tunduk kepada suami yang pemabuk?”, ini adalah pemahaman yang salah dari seorang isteri. Jadi, pernyataannya itu tidaklah benar.
Yang benar adalah ketundukan isteri kepada suami itu, persis seperti ketundukannya kepada Kristus, dan ketundukan itu tanpa menggunakan syarat karena Kristus yang menyelamatkan tubuh.

Ini adalah tatanan Kerajaan Sorga yang tidak bisa diubah, sebab berbahaya sekali jika tatanan yang sudah Tuhan tentukan diubah, seperti yang terjadi pada diri Hawa, karena lebih menggunakan perasaan, Hawa merusak tatanan yang sudah Tuhan tentukan.
Juga secara rohani, gereja Tuhan adalah isteri atau tubuh Kristus. Berarti, kita harus menunjukkan ketundukan kita sepenuhnya kepada Kristus, sebagai kepala.

Lebih jauh kita perhatikan; KETUNDUKAN KEPADA KRISTUS.
1 Petrus 3: 1-2
(3:1) Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya,
(3:2) jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.

Ketundukan seorang isteri, mampu menolong isteri-isteri yang belum mengenal firman Tuhan, bukan dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku, cara berpikir, sudut pandang, gerak-gerik.
Kemudian, perlu untuk diketahui, ketundukan seorang isteri menunjukkan bahwa dia MURNI dan SALEH di hadapan Tuhan.
-      MURNI itu sama seperti perawan suci, tidak mencemarkan diri dengan perempuan-perempuan.
Artinya; TIDAK HIDUP MENURUTI HAWA NAFSU dan KEINGINAN DAGING = daging tidak terbuka terhadap dosa.
-      SALEH, sama seperti Ayub.
Tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh, yang TAKUT AKAN ALLAH dan MENJAUHI KEJAHATAN. Ayub tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun iblis telah membujuk Allah melawan Ayub untuk mencelakakannya tanpa alasan (Ayub 2: 3).
Saleh = jujur (Ayub 1: 1).

1 Petrus 3: 3-4
(3:3) Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,
(3:4) tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

Isteri yang tunduk kepada suaminya dalam segala sesuatu, memiliki perhiasan, yaitu manusia batiniah yang tersembunyi.
Jadi, perhiasan seorang isteri / perempuan yang bersuami, bukanlah perhiasan yang lahiriah, bukan dari rambut yang dikepang-kepang, bukan dari emas, bukan dari pakaian yang mewah, tetapi perhiasan seorang perempuan adalah MANUSIA BATINIAH YANG TERSEMBUNYI, sumbernya / asalnya dari ROH YANG LEMAH LEMBUT dan TENTERAM.

Oleh sebab itu, seorang isteri tidak boleh kasar, karena kalau kasar, berarti ia tidak memiliki perhiasan itu, yaitu manusia batiniah yang tersembunyi, yang sumbernya dari roh yang lemah lembut dan tenteram.

1 Petrus 3: 5-6
(3:5) Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,
(3:6) sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman.

Perempuan / isteri yang tunduk kepada suami adalah isteri yang menaruh pengharapannya kepada Kristus, tidak lagi menaruh pengharapan kepada yang lain-lain, hanya kepada Kristus.
Demikianlah perempuan-perempuan kudus dahulu menaruh pengharapannya kepada Allah, kepada Kristus, tidak kepada yang lain.

Ayo, buktikan, bahwa kita / gereja Tuhan hanya menaruh pengharapan kepada Kristus sebagai kepala, tidak kepada yang lain, yaitu harta, kekayaan atau kepada kekuatannya sendiri.

Mari kita lihat keterangan:
SUAMI YANG MENGASIHI ISTERI.
Efesus 5: 25-27
(5:25) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
(5:26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
(5:27) supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Suami yang mengasihi isterinya, sama seperti Kristus mengasihi tubuh-Nya, Ia telah menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib, ini -> pengorbanan.
Kemudian, lewat pengorbanan, yaitu; lewat KEMATIAN dan KEBANGKITAN YESUS KRISTUS, Ia menguduskan jemaat-Nya tanpa cacat atau cela atau kerut atau yang serupa itu.

Kuasa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus -> baptisan air / permandian air, sidang jemaat disucikan, dimandikan oleh air firman Tuhan, sehingga sidang jemaat menjadi cemerlang di hadapan-Nya tanpa cacat atau cela atau kerut atau yang serupa itu.
Jadi, pengorbanan Yesus Kristus memandikan kita dengan firman, sehingga sidang jemaat kudus, tak bercela.

Kita patut bersyukur untuk malam hari ini, kita dimandikan oleh air firman Tuhan yang limpah, itulah pengorbanan Yesus, lewat kematian dan kebangkitan-Nya.
Jadi, tidak cukup dengan dua tiga ayat, kemudian dilanjutkan dengan cerita-cerita isapan jempol, dongeng nenek-nenek tua (dilanjutkan dengan hal-hal lahiriah), itu bukanlah pengorbanan Yesus, sebab pengorbanan Yesus adalah kematian dan kebangkitan-Nya, yang menyucikan sidang jemaat.

Sekali lagi saya katakan; AIR YANG LIMPAH ITU ADALAH KORBAN KRISTUS LEWAT KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA.
Semakin kita limpah air firman Tuhan, semakin kita merasakan korban-Nya.

Efesus 5: 28-29
(5:28) Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
(5:29) Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

Demikian halnya suami mengasihi isteri seperti mengasihi dirinya sendiri, dan suami tidak pernah membenci dirinya.
Suami yang mengasihi isteri, berarti;
-      SUAMI MENGASUH ISTERI.
Mengasuh itu persis seperti seorang ibu yang memelihara anaknya, digendong, dijaga, diberi makan = mengasuh.
Kehidupan kita juga diasuh oleh Tuhan, dilindungi, dijaga dengan baik.
Kalau anak-anak tidak diasuh, itu berbahaya, bisa kecemplung ke got atau bak air, bisa pegang arus listrik, bisa bermain-main api, dan lain sebagainya yang membahayakan dirinya sendiri.
Betapa baiknya Tuhan mengasuh kita sampai hari ini, tetapi terkadang kita tidak tahu diri di hadapan-Nya.
Saya yakin bahwa Tuhan mengasuh saya, tentu juga itu berlaku bagi kita semua di tempat ini.

-      SUAMI MERAWAT ISTERINYA.
Kalau dirawat, berarti; tidak dibiarkan ada luka-luka, tidak dibiarkan sakit.
Di hari-hari terakhir ini, banyak dokter dan perawat di dunia ini yang membiarkan pasiennya, tetapi Tuhan terus merawat kita, sampai betul-betul kita merasakan ketenangan batin, sampai luka-luka batin disembuhkan oleh Tuhan, sampai akar pahit itu dilepaskan, supaya terjadi pemulihan secara rohani dalam kehidupan kita semua.

Tuhan mengetahui keadaan kita, Tuhan rawat, Tuhan tahu kebutuhan kita, Tuhan gendong kita sampai masa tua, rambut putih, Dia tidak pernah meninggalkan kita.
Kalaupun ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya, tetapi Tuhan tetap dan terus merawat kita sampai selama-lamanya.

Mari kita lihat keterangan:
ANAK-ANAK TAAT KEPADA ORANG TUA.
Kolose 3: 20
(3:20) Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.

Seorang anak yang taat kepada orang tua, maka seorang anak akan mengalami keindahan.

Mari kita lihat keindahan itu.
Mazmur 133: 1
(133:1) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Keindahan itu diawali dengan KEADAAN YANG BAIK, kemudian akan tercipta kerukunan, baik antara sesama, adik dan kakak, maupun anak kepada orang tua, akan tercipta kerukunan.

Mazmur 133: 2-3
(133:2) Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
(133:3) Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Di sanalah Tuhan perintahkan berkat kehidupan sampai selama-lamanya.
Jadi, berkat kehidupan itu dapat kita lihat dari hukum kelima, yaitu: Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (Keluaran 20: 12).

Malam hari ini, Tuhan sudah memberikan jalan keluarnya, dan biarlah itu kita praktekkan dalam segala sesuatunya.

Hasilnya.
Lukas 8: 17-18
(8:17) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.
(8:18) Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."

Perhatikanlah cara kamu mendengar, berarti; cara mendengar itu perlu diperhatikan, supaya apa yang sudah kita terima dan peroleh malam hari ini, menjadi milik kita semua, dan juga permanen dalam kehidupan kita.
Cara mendengar yang baik saat firman Tuhan disampaikan adalah;
1.    rendah hati,
2.    lemah lembut, supaya menjadi tanah hati yang baik / tidak keras hati / bukan tanah yang berbatu-batu,
3.    dan rela dibentuk oleh firman Tuhan.

Kembali kita perhatikan ayat 18 ...
Lukas 8: 18
(8:18) Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."

Sebab siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil.
Sekarang kita mempunyai, yaitu memperhatikan cara mendengar firman Tuhan.
Barangsiapa mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi barangsiapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, bahkan apa yang ada padanya juga akan diambil.

Itu sebabnya, Maria tidak pernah dilupakan / akan senantiasa diingat sepanjang masa di mana saja kisah itu diceritakan, karena dia mempunyai bagian yang tidak akan diambil dari padanya, sebab dia memilih bagian yang terbaik, yaitu DUDUK DIAM DEKAT KAKI TUHAN (MERENDAHKAN DIRI) UNTUK MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN.

Matius 13: 9, 11-12
(13:9) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
(13:11) Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
(13:12) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Kita memiliki firman pengajaran yang rahasianya dibukakan, kalau kita mempunyai, maka apa yang ada padanya (yaitu firman pengajaran yang rahasianya dibukakan) akan semakin ditambahkan dan semakin berkelimpahan.
Kalau kepada yang lain (yaitu kepada siapa yang tidak mempunyai), hanya sebatas cerita-cerita lucu, sebatas mujizat-mujizat, tanda-tanda heran dan tanda-tanda dahsyat, dan mereka tidak mempunyai cara mendengar dan memperhatikan firman Tuhan, tetapi kepada siapa yang mempunyai firman pengajaran yang rahasianya dibukakan, akan semakin ditambahkan dan Tuhan semakin bukakan rahasia firman-Nya, dan suara sangkakala itu kian lama, kian keras, supaya semakin jelas diperdengarkan, sebab kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi.

Lebih jauh kita perhatikan ...
Matius 25: 28-29
(25:28) Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
(25:29) Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

-      Hamba yang pertama dipercaya lima talenta, kemudian memperoleh laba lima talenta.
-      Hamba yang kedua dipercaya dua talenta, kemudian memperoleh laba dua talenta.
Namun hamba yang ketiga, yang dipercaya satu talenta oleh tuannya, dia menyembunyikan talentanya di dalam tanah, tidak memperoleh laba sesuai dengan talenta yang dipercayakan oleh tuannya.
Oleh sebab itu, tuannya memerintahkan: “ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.”

Sesungguhnya, pada kisah awal tidak menceritakan mengenai hamba yang lain, yaitu hamba yang dipercaya sepuluh talenta, tetapi justru satu talenta dari hamba yang ketiga ini diberikan kepada hamba yang memiliki sepuluh talenta, supaya apa? SUPAYA YANG MEMPUNYAI SEMAKIN BERKELIMPAHAN.
Jika kita menggunakan logika; satu talenta itu lebih baik diberikan kepada hamba yang kedua saja, supaya talenta yang dia miliki bertambah banyak, tetapi kenyataannya tidak, sebab setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan.

Satu talenta itu diberikan kepada yang dipercayakan sepuluh talenta.
Sepuluh -> sepuluh hukum Allah, firman pengajaran yang rahasianya dibukakan, inilah hasilnya; kepada siapa yang mempunyai, akan semakin ditambahkan.
Percayalah; asal sungguh-sungguh bertekun dalam Tuhan, maka akan semakin berkelimpahan, baik jasmani maupun yang rohani.
Sebagai suami, sebagai isteri, sebagai anak, berserahlah kepada Tuhan sepenuhnya, sebab hati kita sudah diterangi oleh pelita yang diletakkan di atas kaki dian, bukan di bawah tempat tidur. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment