KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Friday, December 2, 2016

IBADAH RAYA MINGGU, 20 NOVEMBER 2016


 IBADAH RAYA MINGGU, 20 NOVEMBER 2016
WAHYU PASAL ENAM”
(Seri 4 )


Subtema : URIM DAN TUMIM (KEPUTUSAN UNTUK MENJATUHKAN HUKUMAN TERHADAP DOSA).

Shalom...!
Selamat malam, salam sejahtera, salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus, oleh karena kasih-Nya kita dapat melangsungkan Ibadah Raya Minggu disertai den
gan kesaksian.

Puji Tuhan, kesaksian dari ibu Girsang tadi telah kita dengar bersama-sama, mengakui bahwa Tuhan baik, setelah menerima firman Pengajaran Mempelai dan menyatakan diri untuk digembalakan oleh firman Pengajaran Mempelai bersama-sama dengan kita dalam satu kandang penggembalaan ini dan akhirnya mengenal siapa Tuhan yang sebenarnya dan menyadari diri, siapa diri ini yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Tindakan selanjutnya, apa yang harus dilakukan? Dan semua itu terjawab oleh kuasa firman Pengajaran Mempelai dalam terang-Nya Tabernakel. Sehingga intinya saya melihat, ibu Girsang menemukan jati diri.
Orang yang tidak menemukan jati diri mudah bimbang, tidak percaya diri dan tidak tahu apa yang harus dia kerjakan -> seseorang telah kehilangan jati diri, tidak percaya diri, tidak yakin dengan segala sesuatu apapun yang dikerjakannya. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh di dalam Tuhan, Tuhan yakinkan hidup kita, dan apa yang Tuhan nyatakan kita kerjakan tanpa keraguan, itulah orang yang percaya diri, menemukan jati diri semua tentu karena kemurahan Tuhan.

Segera kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu dari kitab Wahyu 6.
Wahyu 6: 1-2
(6:1) Maka aku melihat Anak Domba itu membuka yang pertama dari ketujuh meterai itu, dan aku mendengar yang pertama dari keempat makhluk itu berkata dengan suara bagaikan bunyi guruh: "Mari!"
(6:2 ) Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.

Pada saat Anak Domba itu membuka meterai yang pertama, Rasul Yohanes melihat ada seekor Kuda putih.
Saudaraku, di dalam Alkitab ada dua pengertian tentang kuda, yaitu:
1.     Kuda yang berarti Roh Kudus.
2.     Kuda yang berarti daging.

Terlebih dahulu kita melihat kuda yang berarti daging.
Yesaya 31:1
(31:1) Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.

Kalimat: “Yang mengandalkan kuda-kuda,” berarti mengandalkan kemampuan manusia daging, dan orang seperti ini hanya percaya kepada kekayaan (itulah kereta-keretanya) dan juga mencari  kepandaian (pasukan kuda yang begitu besar jumlahnya), tetapi tidak mau mencari Tuhan, hatinya jauh dari Tuhan, tidak memandang kepada Tuhan.

Yesaya 30:15-16
(30:15) Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Tetapi kamu enggan,
(30:16)  kamu berkata: "Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat," maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: "Kami mau mengendarai kuda tangkas," maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

Ayat firman Tuhan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
Yang pertama : “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan” ... ayat 5a.
Berarti, keselamatan itu di mulai dari pertobatan dan selanjutnya tinggal diam di dalam kemah. Seperti pada malam hari ini, kita semua berada di dalam kemah Tuhan, itu karena  kemurahan Tuhan.
Di dalam kemah atau ruangan suci teRdapat tiga macam alat, yaitu:
1.     Meja roti sajian -> kebenaran dari Allah Anak.
2.     Pelita emas -> pengurapan dari Allah Roh Kudus.
3.     Mezbah dupa -> kasih dari Allah Bapa.

Yang kedua: “Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”
Berarti, kekuatan itu sumbernya adalah dalam tinggal tenang dan percaya.
Dalam tinggal tenang -> doa penyembahan, berlututlah di  bawah kaki Tuhan. Jadi lutut inilah kekuatan kita, dan gunakanlah lutut ini sebagai kekuatan/gunakanlah doa penyembahan sebagai kekuatan.
“...Tetapi kamu enggan.”  Artinya; mereka menolak firman Allah.

Firman Allah ditolak dan berkata:
-         Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat," tetapi sesungguhnya Tuhan berkata; “Kamu akan lari dan lenyap” itulah orang yang mengandalkan kemampuan manusia daging, cepat untuk binasa.
-         "Kami mau mengendarai kuda tangkas, tetapi sesungguhnya Tuhan berkata; “Para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.”
Rumusnya daging adalah: di atas daging masih ada lagi daging yang lebih mampu. Jadi kalau kita merasa mampu, masih ada lagi yang lebih mampu, dan apabila ada orang yang merasa kaya, masih ada lagi yang lebih kaya dari dia. Artinya, kekuatan/kemampuan yang berasal dari daging terbatas adanya. Kalau kita mengandalkan kekuatan daging, itu semuanya terbatas.

Mazmur 33:17
(33:17) Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan.

Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan. Sekalipun besar ketangkasan kuda, tetapi tidak dapat memberi keluputan/ tidak dapat menolong seseorang. Pendeknya, daging tidak dapat diandalkan, atau tidak dapat bergantung kepada daging.
Jika daging dipakai untuk mengalahkan musuh, itu adalah harapan sia-sia belaka, karena tidak mampu untuk memberi kemenangan .

Yeremia 5:7-8
(5:7)  Bagaimana, kalau begitu, dapatkah Aku mengampuni engkau? Anak-anakmu telah meninggalkan Aku, dan bersumpah demi yang bukan allah. Setelah Aku mengenyangkan mereka, mereka berzinah dan bertemu ke rumah persundalan.
(5:8) Mereka adalah kuda-kuda jantan yang gemuk dan gasang, masing-masing meringkik menginginkan isteri sesamanya.

“Kuda-kuda jantan yang gemuk dan gasang, masing-masing meringkik menginginkan isteri sesamanya,” sampai pada akhirnya nikah dirusak, dipermain-mainkan oleh kuda, yaitu; hawa nafsu daging.
Kejatuhannya sampai begitu rupa, kalau membiarkan daging bersuara.
Hati-hati saudaraku, sama seperti dalam kitab Wahyu pasal 17, seekor binatang ditunggangi oleh perempuan kekejian,  itulah roh najis.
Jangan sampai terjadi bagi kita, seorang perempuan atau seorang isteri jangan menginginkan suami orang lain dan sebaliknya suami jangan  menginginkan isteri orang lain. Sebab itu jangan membiarkan hidup menurut hawa nafsu daging (jangan dibiarkan daging bersuara), supaya jangan seperti kuda yang meringkik.

Tadi kita sudah mendengar kesaksian ibu Girsang, dengan mempermainkan nikah dan rusaklah semuanya. Ini tidak boleh kita anggap enteng.

Kuda meringkik, sama seperti bangsa Israel.
Keluaran 32:23-24
(32:23)  Mereka berkata kepadaku: Buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir -- kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.
(32:24)  Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini."

Bangsa Israel tidak percaya kepada Musa sebagai pemimpin, berarti tidak percaya kepada Tuhan dan penggembalaan, lebih percaya kepada berhala, yaitu; anak lembu emas tuangan.

Keluaran 32:25
(32:25) Ketika Musa melihat, bahwa bangsa itu seperti kuda terlepas dari kandang -- sebab Harun telah melepaskannya, sampai menjadi buah cemooh bagi lawan mereka –

Sampai akhirnya, Musa melihat, bahwa bangsa itu seperti kuda terlepas dari kandang = kuda liar yang suka meringkik.
Kuda liar tidak mau digembalakan, tidak mau dipimpin dan tidak tertarik digembalakan oleh Tuhan.
Hati-hati bagi kita, jangan suka meringkik. Sudah melayani Tuhan tapi masih mau meringkik, itu adalah sesuatu yang menakutkan sekali. Kalau seseorang tidak mengenal Tuhan dan tidak mengenal kegiatan rohani, dia meringkik dimana-mana, itu adalah hal yang lumrah.

Keluaran 32:26
(32:26)  maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: "Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!" Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi.

Oleh karena peristiwa itu Musa menghimbau bangsa Israel supaya berpihak kepada Tuhan. Tetapi ternyata, hanya satu dari dua belas suku Israel yang berpihak kepada Tuhan, itulah bani Lewi.
Saya sarankan, mari kita semua berpihak kepada kandang penggembalaan/berpihak kepada Tuhan, jangan berpihak kepada daging dengan keinginannya, jangan suka meringkik.
Kalau kita berdiri di pintu gerbang, kita akan menyuarakan nama Tuhan/menjadi kesaksian, menjadi pendamaian. Tetapi kalau kita berdiri di tempat yang salah kita akan dipengaruhi oleh situasi dimana kita berdiri dan berada.
Kalau ada kerinduan untuk melayani berpihaklah kepada Tuhan, jangan berpihak kepada suara daging, sekalipun itu saudara kita. Berpihak kepada Tuhan, berarti meleapskan diri dari penyembahan berhala.

Keluaran 32:2
(32:2 ) Berkatalah ia kepada mereka: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya."

Selanjutnya, bani Lewi mengikatkan pedangnya pada pinggangnya (menyandang pedang) lalu membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya, artinya; membunuh tabiat daging dari saudaranya sekandung dan tetangganya, dimana pun ia berada.
Adakalanya kita ini kompromi terhadap tabiat daging karna dia adalah saudara (darah daging) kita, kompromi dengan tabiat dagingnya karena dia teman/sahabat kita, itu salah.

Sekarang kita melihat Kuda putih yang berarti Roh Kudus.
Wahyu 6:2
(6:2) Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.

Pada saat meterai yang pertama dibuka, Rasul Yohanes melihat: “Ada seekor kuda putih” yang berarti, Roh Kudus, dan aktivitasnya.

Kidung agung 1:9
(1:9) -- Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku.

Mempelai Laki-laki memuji mempelai perempuan, karena berada di dalam suatu kegiatan rohani yaitu; melayani Tuhan, sebagai aktivitas dari Roh Kudus. Bukan berarti Firaun yang rohani, tetapi kegiatan rohani itu diumpamakan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun.

Zakharia 14:19
(14:19) Itulah hukuman dosa Mesir dan hukuman dosa segala bangsa yang tidak datang untuk merayakan hari raya Pondok Daun.

Tidak merayakan hari raya Pondok Daun = tidak mengerjakan pekerjaan Tuhan, tidak ada dalam kegiatan Roh Kudus .

Zakharia 14:20
(14:20) Pada waktu itu akan tertulis pada kerencingan-kerencingan kuda: "Kudus bagi TUHAN!" dan kuali-kuali di rumah TUHAN akan seperti bokor-bokor penyiraman di depan mezbah.

Merayakan hari raya Pondok Daun -> hari perhentian kekal bagi Tuhan.
Dan di dalam hari perhentian banyak kegiatan-kegiatan/pekerjaan-pekerjaan yang harus kita kerjakan di hadapan Tuhan. Berada pada hari perhentian, berarti terlepas dari kegiatan daging.
Pada waktu itu akan tertulis pada kerencingan-kerencingan kuda: "Kudus bagi TUHAN!." -> hal yang rohani.
Itulah sekilas mengenai kuda putih, semoga kita dapat mengerti.

Sekarang kita melihat si penunggang kuda putih...
Wahyu 19:11
(19:11) Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar", Ia menghakimi dan berperang dengan adil.

Kalimat: “...dan Ia yang menungganginya...” Ia di sini menunjuk kepada Tuhan.
Kesimpulannya yang menunggangi kuda putih itu adalah pribadi Tuhan sendiri.

Sekarang kita akan memperhatikan, yang menunggangi kuda putih...
Wahyu 6:2
(6:2) Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota. Lalu ia maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.

“Dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah..”  berarti senjata perang yang dipergunakan adalah panah. Panah berarti lengkap dengan busur dan anak-anak panahnya.

Habakuk 3:8-13
(3:8) Terhadap sungai-sungaikah, ya TUHAN, terhadap sungai-sungaikah murka-Mu bangkit? Atau terhadap lautkah amarah-Mu sehingga Engkau mengendarai kuda dan kereta kemenangan-Mu?
(3:9 ) Busur-Mu telah Kaubuka, telah Kauisi dengan anak panah. Sela Engkau membelah bumi menjadi sungai-sungai;
(3:10)melihat Engkau, gunung-gunung gemetar, air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya dan mengangkat tangannya.
(3:11) Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju, karena kilauan tombak-Mu yang berkilat.
(3:12) Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa.
(3:13) Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan.

Tuhan tidak memerangi sungai dan laut, tetapi dosa bangsa-bangsa dan kefasikan orang fasik, sebab itu Ia mengendarai kuda dan kereta kemenangan. Puji Tuhan.
Biarlah kiranya kita semua berada dalam kegiatan Roh Kudus, berarti dipimpin oleh Roh Kudus dan ditunggangi dan dipakai oleh Tuhan menjadi kuda dan kereta kemenangan-Nya.
Bertolak belakang dengan kuda berarti daging tadi, hanya mengandalkan kemampuan daging, sampai nanti meringkik, merusak nikah  berarti ditunggangi oleh kenajisan.

Pada ayat 9; “Busur-Mu telah Kaubuka, telah Kauisi dengan anak panah. Sela.”
Busur -> firman Allah, perjanjian lama dan perjanjian baru (dari kitab Kejadian sampai Wahyu), seluruhnya 66 kitab.

Pada ayat 11; “Karena cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju.” 
Anak-anak panah -> ayat-ayat firman Allah yang diterangkan, sehingga hidup kita bercahaya seperti ayat-ayat firman Allah.

Jadi, dalam kegiatan rohani, kita bagaikan berada dalam peperangan, setiap hari kita harus berjuang terhadap dosa dan yang menimbulkan dosa, sehingga hidup rohani kita selalu dalam kemenangan. Menjadi kuda dan kereta kemenangan. Diikutsertakan dengan kata  kereta, karena kitalah harta kesayangan-Nya, berarti jantung hatinya Tuhan...Ulangan 5:18.
Kereta -> kekayaan (harta).

Keluaran 28:28-30
(28:28) Kemudian haruslah tutup dada itu dengan gelangnya diikatkan kepada gelang baju efod dengan memakai tali ungu tua, sehingga tetap di atas sabuk baju efod, dan tutup dada itu tidak dapat bergeser dari baju efod.
(28:29 ) Demikianlah di atas jantungnya harus dibawa Harun nama para anak Israel pada tutup dada pernyataan keputusan itu, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus, supaya menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan TUHAN.
(28:30 ) Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN.

Perjuangan kita di tengah ibadah dan pelayanan (dalam kegiatan Roh Kudus) seperti dalam peperangan, berjuang sepenuhnya untuk memperoleh kemenangan. Kita dalam kumpulan Tuhan, berarti menjadi jantung hati Tuhan Yesus, persis seperti tutup dada pada baju efod.
Pada tutup dada itu ada 12 permata dan di situ terukir nama 12 suku Israel, lalu seorang imam besar masuk ke Ruangan Maha Suci, untuk mendapatkan pernyataan dan keputusan dari Tuhan. Pada tutup dada itulah terdapat Urim dan Tumim.
Jadi, Urim dan Tumim, itulah pernyataan keputusan Tuhan terhadap bangsa Israel.
-         Urim -> pernyataan/jawaban Tuhan yang jelas dan terang kepada bangsa Israel, baik lewat firman dan mimpi.
-         Tumim -> keputusan untuk menjatuhkan hukuman terhadap dosa, dan akan dinyatakan kepada 12 suku Israel dan juga kita.
Firman Allah menjawab, menyatakan segala sesuatu dengan jelas dan terang sebagai pernyataan Tuhan. Dan kalau ada kesalahan maka Tuhan menjatuhkan hukuman, itulah keputusan Tuhan menghakimi dosa, sebab kita adalah jantung hati Tuhan.

Biarlah dalam persekutuan kita terhadap Tuhan/hari perhentian, kita boleh merasakan pelayanan dari seorang Imam besar. Berarti ada pernyataan yang jelas dari firman Tuhan yang kita dengar, ada keputusan untuk menjatuhkan hukuman terhadap dosa, sebab Tuhan tidak biarkan dosa itu ada.
Barangkali pernyataan Tuhan jelas dan menusuk hati dan sakit bagi daging, terimalah, karena itu Urim dan Tumim, keputusan untuk menjatuhkan hukuman terhadap dosa...Mazmur 1:1-2.                                                

Lebih jauh kita melihat Urim dan Tumim...
Ibrani 4:12
(4:12)  Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Ayat ini jelas menunjukkan tentang keberadaan dari Urim dan Tumim Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab...Ibrani 4:13.

Terimalah Urim dan Tumim, sebab segala sesuatu kita harus pertanggungjawabkan, perbuatan sekecil apapun kita harus pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Jauh lebih baik kita menerima pernyataan dari Urim dan Tumim, dari pada kelak kita dihukum bersama-sama dengan dunia.
Jangan bersungut-sungut, Tuhan mau memakai  kita untuk menghukum dosa bangsa-bangsa, termasuk segala kefasikan-kefasikan orang-orang fasik. Kitalah kuda dan kereta kemenangan-Nya, kalau memang kita ada di dalam kegiatan Roh Kudus jangan sampai seperti kuda yang berarti daging, tabiatnya dibiarkan sampai tidak menghargai nikah, dimana-mana meringkik.
Saya kira firman yang sangat singkat ini memberi pengertian bagaikan cahaya anak-anak panah begitu laju untuk menerangi hati kita masing-masing, ayat demi ayat diterangkan  untuk menerangi hati. Busur itu ada di tangan Tuhan itulah firman Tuhan dari kitab Kejadian-Wahyu (66 kitab).
Penghukuman terhadap dosa pada jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum dapat membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita, itulah pernyataan dan keputusan untuk menjatuhkan hukuman terhadap dosa, tidak ada yang tersembunyi.

Mazmur 1:1-2
(1:1) Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
(1:2 ) tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Kesukaannya, ialah Taurat TUHAN (busur Tuhan), dan yang merenungkannya siang dan malam.
Persis seperti lembu sapi; siang hari makan rumput, malam hari dikunyah kembali, sampai memperoleh sari-sarinya berarti, firman Allah sampai mendarah daging.

Dan pada saat dosa itu dihukum, kita melihat pengalaman dari Mazmur Daud; 
1.     Tidak berjalan menurut nasihat orang fasik.
2.     Tidak berdiri di jalan orang berdosa.
3.     Tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.
Inilah busur dan anak panah dari si penunggang kuda putih, berarti penghukuman terhadap dosa sedang berlangsung. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang


No comments:

Post a Comment