KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, December 29, 2016

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 07 DESEMBER 2016

IBADAH DOA PENYEMBAHAN, 07 DESEMBER 2016

Tema: ORANG-ORANG MALAM.
(SERI:103)

Shalom!
Selamat malam, salam sejahtera, salam dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh karena kemurahan-Nya, kita dapat kembali beribadah pada malam hari ini dalam Ibadah Doa Penyembahan.

Segera kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Doa Penyembahan dari kitab Kolose.
Kolose 1: 21
(1:21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,

Kita terlebih dahulu memperhatikan kalimat: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah
ini menunjuk kepada:
-       Bangsa kafir = orang yang tidak bersunat.
-       Orang fasik dengan segala perbuatan fasik mereka.

Yang dahulu hidup jauh dari Allah memusuhi Allah dalam hati dan pikiran mereka, itu terlihat dari perbuatan-perbuatan jahat mereka.
Pendeknya; setiap orang yang berbuat jahat menunjukkan bahwa dia masih hidup jauh dari Allah sekalipun ia berada di tengah-tengah ibadah dan pelayanan.

Lebih jauh kita melihat tentang YANG DAHULU HIDUP JAUH DARI ALLAH.
Efesus 2: 1
(2:1) Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Yang dahulu hidup jauh dari Allah banyak melakukan pelanggaran dan banyak melakukan dosa, sedangkan upah dosa adalah maut.
Kita bersyukur, dahulu kita jauh dari Tuhan dan banyak melakukan pelanggaran dan banyak melakukan dosa kejahatan dan kenajisan, disengaja maupun tidak disengaja.
Dan sekarang kita dalam perhimpunan ini, ada di tengah-tengah ibadah pelayanan dalam kandang penggembalaan GPT Betania, semua karena kemurahan Tuhan, berarti ada dalam terangnya yang ajaib.

Efesus 2: 2-3
(2:2) Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
(2:3) Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

Penyebab-penyebab terjadinya dosa:
1.     Mengikuti jalan dunia ini.
Dunia ini mempunyai arus yang sangat kuat sekali untuk menghanyutkan dan menenggelamkan sampai pada akhirnya rohani mengalami kematian.
2.     Mentaati penguasa kerajaan angkasa.
Siapakah mereka yang mentaati penguasa kerajaan angkasa? Yaitu orang-orang yang dikuasai oleh roh pendurhakaan.
Mendurhaka = memberontak atau berani melawan Allah.
Tandanya; berani memberontak kepada gembala.
3.     Hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging.
Perlu untuk diketahui;
-       Hidup menurut hawa nafsu daging, memikirkan hal-hal yang dari daging, berarti tidak memikirkan hal-hal yang dari Roh, itulah perkara rohani, yaitu ibadah dan pelayanan, serta kegiatan-kegiatan yang ada di dalamnya.
-       Hidup menurut keinginan daging menunjukkan seseorang masih berada di bawah hukum Taurat.
Hukum Taurat; mata ganti mata, gigi ganti gigi, arti rohaninya; kejahatan dibalas dengan kejahatan = orang yang berbuat salah tidak luput dari penghukuman, berarti mereka yang berada di bawah hukum Taurat; binasa, berujung pada kematian. Kemudian, mereka yang berada di bawah hukum Taurat tidak mengenal belas kasih, jauh dari kasih karunia Tuhan. Orang yang seperti ini sudah dekat dengan kebinasaan.

Efesus 2: 11-12
(2:11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu -- sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --
(2:12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

Yang dahulu hidup jauh dari Allah, berarti tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia, berarti; binasa, berujung pada kematian yang kekal.

Keterangan: TANPA PENGHARAPAN.
Tanpa pengharapan = putus asa -> orang-orang yang tidak mempunyai pendirian yang kuat, berlaku timpang di hadapan Tuhan.
Biasanya orang yang seperti ini suka bersungut-sungut, suka mengomel, menggerutu, dan sebagainya, bahkan suka mempersalahkan Tuhan, sesama, bahkan mempersalahkan ibadah dan pelayanan.

Tanpa pengharapan dikaitkan dengan PRIBADI AYUB.
Pada akhirnya, Ayub putus asa atau hidup tanpa pengharapan.
Penyebabnya adalah sahabat-sahabat Ayub tidak berkata benar tentang Tuhan (Ayub 42: 7-8), kemudian sahabat-sahabat Ayub merasa memiliki hikmat dan mengerti keadilan (Ayub 32: 9), sehingga dengan alasan itu, mereka leluasa berkata-kata kepada Ayub, bahkan mengecam Ayub (Ayub 32: 12).
Akibat perkataan dari tiga sahabat Ayub ini, maka Ayub menjadi putus asa atau hidup tanpa pengharapan, dan ia mengatakan itu sebanyak tujuh kali.
Kalau dikaitkan dengan pelita emas, maka;
-       pengakuan yang pertama, kedua, dan ketiga, itu berarti ada pada tiga cabang pada sisi yang satu,
-       kemudian pengakuan yang keempat terkena pada kandilnya, batangnya, yang ada di tengah-tengah itu, itu adalah pribadi Yesus adalah pokoknya, kita adalah carang-carangnya.
-       Pengakuan yang kelima, keenam, ketujuh, itu terkena pada tiga cabang pada sisi yang lainnya.

Kesimpulannya; pengakuan Ayub sebanyak tujuh kali berkata tanpa pengharapan, bila dikaitkan dengan pelita emas, berarti; dia hidup dalam kegelapan.

Ayub 3: 4, 10-11
(3:4) Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya.
(3:10) karena tidak ditutupnya pintu kandungan ibuku, dan tidak disembunyikannya kesusahan dari mataku.
(3:11) Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?

Ayub lebih merindukan kegelapan daripada terang, sebab ia tidak membutuhkan cahaya terang, tidak membutuhkan perhatian daripada Tuhan, berarti menginginkan kematian daripada hidup dengan menanggung penderitaan, menanggung sengsara salib, teraniaya karena firman. Dia tidak menginginkan itu.

Kita lihat lebih jauh tentang ORANG YANG HIDUP DALAM KEGELAPAN.
1 Tesalonika 5: 5-7
(5:5) karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.
(5:6) Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.
(5:7) Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam.

Pekerjaan dari orang malam atau hidup dalam kegelapan adalah TIDUR dan MABUK.

Keterangan; TIDUR.
Amsal 24: 3-34
(24:30) Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi.
(24:31) Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.
(24:32) Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.
(24:33) "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,"

Tidur adalah pekerjaan dari seorang pemalas.
Pemalas berarti tidak memperhatikan ladangnya, sehingga ladang itu mengalami dua perkara:
1.     Ditumbuhi onak -> orang yang suka menusuk atau menyakiti orang lain, persis seperti imam-imam kepala, tua-tua sampai
Onak adalah pohon atau kayu yang berduri.
2.     Tanahnya tertutup dengan jeruju.
Jeruju adalah tumbuhan semak yang berduri.

Ditumbuhi onak dan juruju -> pribadi yang hanya menyakiti saja, seperti imam-imam kepala, tua-tua orang Yahudi dan ahli Taurat, menyalibkan Yesus Kristus.
Menyalibkan berarti menyakiti pibadi Yesus dari ujung kepala sampai ujung kaki Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib.
Orang-orang yang suka tidur menunjukkan bahwa ia seorang pemalas, tidak memperhatikan ladang hatinya, hanya bisa menyakiti/menusuk perasaan orang lain = tidak menghargai korban Kristus = tidak menghargai kasih dan kemurahan Tuhan,

Kita ini ada sebagaimana ada, itu karena kasih karunia, itu karena kemurahan Tuhan. Kita boleh berada dalam kandang penggembalaan ini untuk tekun dalam tiga macam ibadah pokok, lalu diberi kesempatan untuk melayani Tuhan lewat tiga macam ibadah pokok, itu adalah kemurahan Tuhan. Tetapi orang yang suka menyakiti hati Tuhan, tidak akan pernah menghargai kemurahan Tuhan.

Kemudian selain ladangnya ditumbuhi onak dan jeruju, “Temboknya sudah roboh.” Perkara yang sama, hal yang sama dalam Yesaya 5: 5.
Yesaya 5:5
(5:5) Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;

Aku akan menebang pagar durinya, dan melanda temboknya,” menunjukkan tembokya sudah rubuh.
Ladang anggur itu tidak lagi dijaga sebab temmboknya sudah rubuh, sehingga kebun itu diinjak-injak, artinya;
a.     Tidak berharga dan tidak bernilai di mata Tuhan -> orang yang tidak bermartabat, tidak ada nilainya, tidak berharga di mata Tuhan.
b.     Hatinya dikuasai oleh binatang buas.
Kalau temboknya sudah rubuh, binatang buas bebas keluar masuk, itulah daging dan tabiat-tabiatnya.

Amsal 24: 34
(24:34) maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Sampai akhirnya menjadi miskin dan berkekurangan -> orang kikir, pelit, tidak mengerti pekerjaan Tuhan.
Kalau dia kaya, pasti kaya dalam kebajikan, kaya dalam kemurahan, mengerti pekerjaan Tuhan, mengerti soal korban. Kalau orang miskin dan kekurangan, tidak mampu berkorban, tidak mengerti pekerjaan Tuhan, hanya karena tidur saja.
Tidak mungkin orang yang suka tidur, orang yang malas menjadi kaya. Kalau seseorang kaya, mempunyai uang, harta, tetapi tidak mengerti pekerjaan Tuhan, disebut miskin rohani, merasa selalu kekurangan.
Inilah keadaan orang-orang yang suka tidur.

Keterangan: MABUK.
2 Petrus 2: 13
(2:13) dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu.
Mabuk di sini berarti mabuk dalam hawa nafsu berarti; berfoya-foya pada siang hari, dia menghabiskan hartanya pada siang hari = tidak menghargai karunia-karunia Roh Kudus dan jabatan-jabatan yang Tuhan percayakan sebagai harta yang indah.
Orang siang = anak-anak terang. Malam, berarti hidup dalam kegelapan.
Orang-orang siang (anak-anak terang) -> orang-orang yang melayani Tuhan sesuai dengan karunia-karunia Roh Kudus dan jabatan-jabatan yang dipercayakan oleh Tuhan tetapi karena pekerjaan mereka hanya mabuk oleh hawa nafsu = berfoya-foya pada siang hari, berarti tidak menghargai pelayanan dan karunia-karunia Roh Kudus dan jabatan-jabatan yang Tuhan percayakan.
Itu namanya berfoya-foya/memboroskan hartanya, perhiasan rohani adalah harta yang indah dari orang-orang terang yang seharusnya dipergunakan untuk melayani Tuhan, tetapi justru berfoya-foya pada waktu siang hari. Itu terjadi karena mabuk hawa nafsu, dia boroskan hartanya pada siang hari.
Sebagai anak-anak terang, anak-anak siang, layani Tuhan. Jangan lewatkan siang hari begitu saja karena hawa nafsumu. Pada waktu siang seharusnya dipergunakan semaksimal mungkin untuk melayani Tuhan.

Ciri-ciri hidup dalam kegelapan/orang malam.
Amsal 24: 30
(24:30) Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi.

Cirinya; tidak berakal budi, berarti tidak bijaksana, tidak memiliki hikmat dan pengertian dari Tuhan, tidak memiliki roh hikmat dan wahyu dari Tuhan.
Sementara kegunaan dari roh hikmat adalah untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.
Hikmat itu datang dari firman Allah yang kita dengar. Lewat kebenaran firman Allah ini kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, sehingga dengan demikian kita memiliki hikmat, menjadi bijaksana, sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, tentu untuk menyenangkan hati Tuhan, tetapi orang malam ciri-cirinya tidak berakal budi, tidak memiliki hikmat, dan tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, apalagi dalam kegelapan, tidak dapat memilah-milah mana yang baik, mana yang jahat.

Ayub 31: 1-40 adalah ayat terakhir tentang percakapan antara Ayub dengan tiga sahabat-sahabat Ayub.
Sekali lagi Ayub mengaku tidak bersalah, itulah inti dari Ayub 31: 1-40.
Kalau mengaku tidak bersalah, berarti merasa diri benar.
Orang yang merasa diri benar, pada hakekatnya adalah orang yang tidak berakal budi. Hanya orang yang tidak berakal budi mengaku bahwa dirinya tidak bersalah (merasa diri benar).
Kalau dirinya tidak bersalah, berarti yang salah adalah Tuhan, yang salah adalah salib, yang salah adalah ibadah dan pelayanan, yang salah adalah pengorbanan ini dan itu.

Pada Ayub 31:1-40, sebanyak 23 kali Ayub merasa diri benar, berarti tidak merasa diri bersalah, menunjukkan Ayub tidak berakal budi, tidak memiliki hikmat, tidak lagi bijaksana.
Orang yang bijaksana pasti mengakui bahwa Tuhan yang benar, sebaliknya kita yang salah.
Kalau Ayub merasa diri benar, berarti ada yang salah, yaitu salib Tuhan. Ibadah, pelayanan, pengorbaan, itu yang salah. Tetapi kalau seseorang mempersalahkan Tuhan, salib Tuhan, ibadah, pelayanan, pengorbanan, menunjukkan bahwa dia tidak berakal budi = manusia antik.
Sampai begitu rupa kejatuhan Ayub.

Salahkah kita memikul salib? Salahkah kita melayani? Salahkah kita berkorban? Tentu tidak.
Tetapi kalau kita merasa tidak bersalah, berarti kita merasa diri benar, dengan kata lain, kita mempersalahkan salib, pelayanan, pengorbanan, mempersalahkan Tuhan dan sesama.

Ayub 40: 3
(40:3) Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?

Tuhan mengetahui kondisi rohani Ayub yang merasa diri benar, tidak bersalah, Tuhan yang salah dan tidak benar.
Tuhan tahu, siapapun di antara kita, apabila merasa diri tidak bersalah, apabila merasa diri benar, walaupun itu hanya tersirat dalam hati dan pikiran.

Membenarkan diri berarti mempersalahkan Tuhan, tujuannya; untuk meniadakan pengadilan Tuhan.
Artinya; meniadakan salib Kristus.
Perlu untuk diketehui; kebenaran dan keadilan bersumber/berasal dari salib. Kebenaran dan keadilan tidak datang dari orang fasik.
Biasanya kalau orang membenarkan diri, tidak merasa salah, Tuhan yang salah, tujuannya hanyalah untuk mengelakkan diri dari salib.

Pengadilan yang datang dari Tuhan adalah kebenaran dan keadilan. Pengadilan itu untuk memberi kebenaran dan keadilan.
Tetapi kalau seseorang merasa diri benar, tidak bersalah, tujuannya hanya satu, tidak lain, tidak bukan, untuk meniadakan Salib, menghindarkan diri dari salib, melepaskan diri dari tanggung jawab yang dipercayakan oleh Tuhan. Itu saja, tidak lebih, tidak kurang.
Jadi, kalau orang biasa menolak salib, menghindari salib, sudah tahu tetapi pura-pura tidak tahu, sebetulnya itu adalah orang yang merasa diri benar, orang yang tidak merasa salah, sebab yang dia lakukan tujuannya hanya untuk menghindari Salib saja. Pelajaran ini untuk tidak dilupakan.

Yesaya 9: 6
(9:6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

Dasar dari Kerajaan Sorga atau dasar kita untuk beribadah melayani kepada Tuhan adalah keadilan dan kebenaran -> Salib.
Keadilan dan kebenaran datangnya hanya dari Salib, tidak datang dari yang lain-lain. Di luar salib tidak ada lagi keadilan, tidak ada lagi kebenaran. Jangan sampai kita berharap keadilan dan kebenaran dari manusia, dari orang lain. Terkadang, suami isteri saja tidak bisa mengharapkan keadilan dan kebenaran dari pasangannya.
Jadi, keadilan dan kebenaran sumbernya dari Salib, dan itu adalah dasar kita untuk melayani Tuhan. Salib adalah dasar kita untuk beribadah kepada Tuhan. Salib adalah dasar kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Jadi jangan ada motiv-motiv lain untuk melayani Tuhan, itu bukan dasar dari Kerajaan Sorga.
Batu penjuru adalah dasar yang kokoh, itulah korban Kristus, itulah Salib, dasar kita untuk melayani Tuhan.

Sekarang kita akan melihat kembali ...
Ayub 40: 3
(40:3) Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?
Kembali saya tandaskan, Ayub merasa diri benar, tidak bersalah, sebaliknya dia mempersalahkan Tuhan, tujuannya untuk meniadakan pengadilan Tuhan, meniadakan Salib.
Kalau salib ditidakan, di situ tidak terlihat keadilan dan kebenaran.
Kondisi ini telah menguasai kehidupan atau pribadi Ayub, tetapi Tuhan tetap tahu sekalipun itu hanya tersirat dalam hati dan pikiran, Tuhan tetap tahu, tidak ada yang tersembunyi, maka kita datang beribadah harus dengan tulus, hati yang murni, tidak boleh ada kepentingan lain, tidak boleh ada tujuan lain, tidak boleh ada motiv lain.
Kerajaan Sorga menjadi kokoh karena dasarnya adalah salib, yaitu keadilan dan kebenaran, dan dasar ini tidak boleh dirubah dengan dasar yang lain. Seperti pembangunan menara Babel; batu bata mereka jadikan batu, ini adalah kesalahan.
Dasar kita melayani adalah salib, korban Kristus, dari situ akan terlihat keadilan dan kebenaran, tidak boleh diganggu gugat, maka dilukiskan dengan dua hal;
Lukisan yang pertama adalah tentang KUDA NIL (Ayub 40: 10-19).
Sekilas kita ambil penggalan ayatnya ...
Ayub 40: 10-11
(40:10) "Perhatikanlah kuda Nil, yang telah Kubuat seperti juga engkau. Ia makan rumput seperti lembu.
(40:11) Perhatikanlah tenaga di pinggangnya, kekuatan pada urat-urat perutnya!

Tenaga terletak di pinggangnya dan kekuatan pada urat-urat perutnya, itulah sekilas tentang kuda nil.
Pinggang dan urat-urat, itu berbicara tentang pelayanan dan orang-orang yang melayani atau hamba-hamba Tuhan.

Ayub 40: 18
(40:18) Sesungguhnya, biarpun sungai sangat kuat arusnya, ia tidak gentar; ia tetap tenang, biarpun sungai Yordan meluap melanda mulutnya.

Dasar dari Kerajaan Sorga tidak boleh diganggu gugat oleh apapun.
Lukisannya seperti kuda nil; memiliki tenaga dan kekuatan yang luar biasa, sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh arus sungai yang begitu hebat. Tidak boleh berubah-ubah. Dasar yang sudah Tuhan tentukan tidak boleh berubah-ubah.
Ingat firman malam ini, tidak untuk dirubah. Dasar kita melayani adalah salib, tidak boleh ada dasar yang lain.
Lukisan pertama adalah kuda nil; kuat dan memiliki tenaga yang luar biasa, sehingga arus sungai yang besar tidak dapat mempengaruhi. Jangan coba-coba pengaruhi Tuhan dengan pengertian sendiri.

Lukisan yang kedua adalah tentang BUAYA (Ayub 40: 20-28).
Ayub 40: 20-28
(40:20) "Dapatkah engkau menarik buaya dengan kail, atau mengimpit lidahnya dengan tali?
(40:21) Dapatkah engkau mengenakan tali rotan pada hidungnya, mencocok rahangnya dengan kaitan?
(40:22) Mungkinkah ia mengajukan banyak permohonan belas kasihan kepadamu, atau berbicara dengan lemah lembut kepadamu?
(40:23) Mungkinkah ia mengikat perjanjian dengan engkau, sehingga engkau mengambil dia menjadi hamba untuk selama-lamanya?
(40:24) Dapatkah engkau bermain-main dengan dia seperti dengan burung, dan mengikat dia untuk anak-anakmu perempuan?
(40:25) Mungkinkah kawan-kawan nelayan memperdagangkan dia, atau membagi-bagikan dia di antara pedagang-pedagang?
(40:26) Dapatkah engkau menusuki kulitnya dengan serampang, dan kepalanya dengan tempuling?
(40:27) Letakkan tanganmu ke atasnya! Ingatlah pertarungannya! -- Engkau takkan melakukannya lagi!
(40:28) Sesungguhnya, harapanmu hampa! Baru saja melihat dia, orang sudah terbanting.

Dasar kita melayani Tuhan tetap salib Kristus, tidak boleh diubah-ubah oleh dasar yang lain.
Ini dilukiskan tentang buaya yang memiliki kekuatan, kemudian tidak bisa diajak kompromi.
Jadi jangan coba-coba mengubah dasar kita melayani Tuhan dengan cara mengajak kompromi, Tuhan tidak akan mau. Tetap dasar kita melayani adalah Salib, tidak bisa dirubah, tidak bisa kompromi dengan Tuhan, itu dilukiskan tentang buaya.
Dan buaya tidak akan memohon belas kasih. Sekali untuk bertempur, hidup atau mati, dia harus tetap bertempur, dan dia tidak akan memohon belas kasih. Kalah atau mati, tetap bertempur.
Mulai malam ini ambil suatu komitmen di hadapan Tuhan dan berkata; “Malam ini saya mau melayani Tuhan dengan segala ketulusan dan kemurnian hatiku, ya Tuhan. Dasar saya melayani Engkau hanyalah korban-Mu, dan mulai detik ini, saya mau selalu memandang korban-Mu supaya aku kuat” jangan ubah itu. Amin.
TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment