KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Monday, July 2, 2012

IBADAH RAYA MINGGU, 01 JULI 2012


IBADAH RAYA MINGGU, 01 JULI 2012

Tema:  BELAS KASIHAN YESUS TERHADAP ORANG BANYAK
(seri 5)

Shalom!
Selamat malam, salam sejahtera, salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Oleh karena kemurahan-Nya, kita dimungkinkan untuk berbadah melayani Tuhan malam hari ini.
Biarlah belas kasihan Tuhan nyata bagi kita semua, lewat firman Tuhan yang akan kita dengar.

Kembali kita memeriksa Matius 9: 35-38, namun kita fokus memperhatikan ayat 37-38.
Matius 9: 37
(9:37) Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.

Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.
Jikalau tuaian lebih banyak, pekerja lebih sedikit, berarti; keadaan tidak seimbang. Kalau hal ini terjadi, hasil pekerjaan tidak akan maksimal.

2 Tawarikh 29: 32
(29:32) Jumlah korban bakaran yang dibawa jemaah ialah: lembu tujuh puluh ekordomba jantan seratus ekor dan domba muda dua ratus ekor. Semuanya sebagai korban bakaran bagi TUHAN.

Sebagai korban bakaran kepada Tuhan, terdiri dari;
-      Lembu 70 ekor
-      Domba jantan 100 ekor
-      Domba muda 200 ekor

2 Tawarikh 29: 33
(29:33) Persembahan-persembahan kudus terdiri dari: lembu sapi enam ratus ekor dan kambing domba tiga ribu ekor.

Sebagai persembahan-persembahan kudus kepada Tuhan, terdiri dari;
-      Lembu sapi 600 ekor
-      Kambing domba 3000 ekor

Jumlah binatang yang dipersembahkan kepada Tuhan keseluruhannya adalah; 3970 ekor, ini merupakan jumlah yang tidak sedikit, melainkan jumlah yang banyak, oleh sebab itu, pekerja-pekerja harus banyak.

2 Tawarikh 29: 34
(29:34) Tetapi jumlah imam terlalu sedikit, sehingga mereka tidak sanggup menguliti semua korban bakaran. Oleh sebab itu saudara-saudara mereka, orang-orang Lewi, membantu mereka sampai pekerjaan itu selesai dan sampai para imam menguduskan dirinya. Sebab orang-orang Lewi itu lebih bersungguh-sungguh menguduskan dirinya dari pada para imam.

Tetapi kalau kita perhatikan disini, jumlah imam yang melayani Tuhan terlalu sedikit, sehingga mereka tidak sanggup menguliti semua korban bakaran.

Jumlah sedikit memberi arti;
-      Tidak sungguh-sungguh menguduskan diri di hadapan Tuhan.
-      Tidak sungguh-sungguh untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.
-      Tidak sungguh-sungguh / tidak sepenuh hati melayani Tuhan.

Imamat 1: 6
(1:6) Kemudian haruslah ia menguliti korban bakaran itu dan memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.

Memang saudaraku, korban bakaran itu harus dikuliti, dan selanjutnya bagian-bagian dari daging itu dipotong-potong untuk dipersembahkan di atas Mezbah Korban Bakaran.

Kejadian 3: 21
(3:21) Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.

Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia / Adam, dan untuk isterinya itu.
Tujuan membuat pakaian dari kulit binatang; untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa, setelah mereka melanggar hukum Allah.

Berarti, kalau jumlah imam-imam / pekerja-pekerja terlalu sedikit, maka apa yang menjadi kerinduan Tuhan tidak akan tercapai, yaitu supaya dosa ketelanjangan tertutupi.

Kita perhatikan jalan keluarnya.
Matius 9: 38
(9:38) Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Jalan keluarnya; mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya dikirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
Tuhan adalah tuan yang empunya tuaian. Kita harus meminta kepada Tuhan yang empunya tuaian itu, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
Tetapi saya mau sampaikan, meminta pekerja-pekerja kepada Tuan yang empunya tuaian, tidak semudah apa yang kita pikirkan, tidak seperti ketika kita meminta sesuatu kepada orang lain.

Oleh sebab, itu mari kita bandingkan dengan injil Lukas 10.
Lukas 10: 1-3
(10:1) Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
(10:2) Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
(10:3) Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.

70 murid yang diutus oleh Tuhan, itu adalah gambaran dari pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
Meminta pekerja-pekerja untuk tuaian kepada tuan yang empunya tuaian itu, berarti; memberi diri diutus, seperti 70 murid-murid yang lain.

Roma 10: 14-15
(10:14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
(10:15) Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

Kalau seseorang dapat berseru kepada Tuhan, itu karena dimulai dari percaya kepada Tuhan.
Seseorang percaya kepada Tuhan, karena dia mendengarkan berita tentang Tuhan, selanjutnya karena ada yang memberitakannya. Yang memberitakannya adalah mereka yang diutus.
Itu sebabnya, di sini dituliskan “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!
Berarti, mereka yang diutus membawa kabar baik, kedatangannya sangat dinantikan.

Kembali kita memperhatikan Lukas 10.
Sikap seseorang yang diutus.(bagian pertama)

Lukas 10: 4
(10:4) Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.


Sikap dari seorang pekerja untuk tuaian itu, di tengah-tengah pengutusan, ada 4 hal;
1.    Janganlah membawa pundi-pundi
Pundi-pundi adalah kantong / dompet kecil, tempatnya uang.
Berarti, seorang yang diutus tidak menaruh harap kepada uang = bukan hamba uang.

Ibrani 13: 5
(13:5) Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."


Hamba Tuhan, bukanlah hamba uang.
Kalau hamba Tuhan; mencukupkan diri dalam segala sesuatu / dalam segala apa yang ada, sebab Allah menjadi jaminannya, sekali-kali Tuhan tidak akan membiarkan dan tidak meninggalkan kita dalam kekurangan. Tetapi kita perlu menunjukkan sikap yang benar di hadapan Tuhan.

Sekarang kita bandingkan dengan; seorang pelayan yang menjadi hamba uang.
Mikha 3: 9-11
(3:9) Baiklah dengarkan ini, hai para kepala kaum Yakub, dan para pemimpin kaum Israel! Hai kamu yang muak terhadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus,
(3:10) hai kamu yang mendirikan Sion dengan darah dan Yerusalem dengan kelaliman!
(3:11) Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: "Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!"

Ini adalah contoh hamba uang, bukan hamba Tuhan, seperti;
-       Para kepala dari orang Israel memutuskan hukum karena suap.
Ulangan 16: 19
(16:19) Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.



Suap membuat mata orang bijaksana menjadi buta, sehingga;
- keadilan diputarbalikkan, dan perkataan orang-orang benar diputarbalikkan
- memandang bulu dalam ibadah pelayanan

-      Para imam memberi pengajaran karena dibayar
Kalau memberi pengajaran karena dibayar, maka ia adalah seorang imam / pelayan yang tidak beres = melayani dengan motivasi / kepentingan-kepentingan.

-      Para nabinya menenung karena uang.
Para nabi menenung / bernubuat, karena uang, ini adalah contoh hamba uang, bukan hamba Tuhan.

Sementara kalau kita perhatikan disini, mereka bersandar kepada Tuhan, sehingga mereka dijauhkan dari malapetaka, tetapi mereka tetap berharap kepada uang; mau dibayar dan mau disuap.

Akibatnya.
(3:12) Sebab itu oleh karena kamu maka Sion akan dibajak seperti ladang, dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing, dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan.

-      Sion akan dibajak seperti ladang
Mengapa Sion harus dibajak, bukankah dari Sion keluar pengajaran yang berkuasa untuk membajak. Ini menggambarkan kehidupan yang keras hati. Sebab tanah memang harus dibajak supaya menjadi tanah yang subur.
Jikalau seseorang menerima pengajaran tetapi masih keras hati, mulai dari sikap, perkataan, perbuatan, sampai kepada gerak gerik, ini tidak masuk akal.

-      Yerusalem akan menjadi timbunan puing
= menjadi reruntuhan = tidak berdiri teguh di dalam kebenaran.

Kalau kita perhatikan pada zaman raja Yosia, pada waktu itu Bait Suci diperbaiki kembali. Pada saat Bait Suci diperbaiki, ditemukanlah taurat Musa dari antara puing-puing (2 Raja-Raja 22: 1-11).
Kalau Bait Suci menjadi timbunan puing; kebenaran akan tertutupi oleh kekurangan-kekurangan.
Puing-puing / reruntuhan -> kekurangan.

Ini sangat disayangkan sekali, padahal dari Yerusalem, keluar firman Tuhan. Tetapi kenyataannya ini tidak terjadi (Yesaya 2: 3).

-    Gunung Bait Suci / rumah Tuhan / tempat beribadah melayani, akan menjadi bukit yang berhutan.
Berhutan berarti;
1)    Menjadi tempatnya segala jenis binatang buas.
Hati-hati dengan binatang buas, yang sekali waktu, dia siap menerkam, mengoyak-ngoyakkan = tercerai-berai dari kawanan domba.
Siapa yang mampu menolong seseorang dari binatang buas, jika bait Suci menjadi bukit yang berhutan?
Sekalipun seseorang pergi kepada ahli filsafat, ahli perbintangan, atau ahli apapun, seseorang tidak dapat melepaskan dirinya dari binatang buas.
Binatang buas -> daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

2)    Ditumbuhi dengan semak belukar, onak duri dan ilalang.
Ini -> kehidupan yang kering-kering, tidak menghasilkan apa-apa.
Orang yang demikian, sekalipun beribadah, tidak akan menghasilkan buah, justru kehidupannya senantiasa menusuk, menyakiti perasaan orang lain, mungkin bukan dengan tamparan atau pukulan, tetapi dengan gerak gerik dapat menusuk perasaan orang lain.

Ini adalah akibat pekerja-pekerja tuaian di tengah-tengah pengutusan menjadi hamba uang, bukan hamba Tuhan.

Yang benar adalah apa yang dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9: 15-18
(9:15) Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
(9:16) Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
(9:17) Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
(9:18) Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

Upah dari pekerja-pekerja tuaian di tengah-tengah pengutusan adalah; jikalau dipercaya untuk melayani Tuhan, itu adalah upah yang besar.
Jadi, pelayanan itu merupakan kepercayaan dari Tuhan.

Oleh sebab itu, di tengah-tengah pelayanan tidak boleh memegahkan diri, tidak boleh menonjolkan diri, sebab pelayanan yang demikian adalah pelayanan yang tidak berkenan.

Sikap dari seorang pekerja untuk tuaian itu, di tengah-tengah pengutusan, ada 4 hal;
2.    Janganlah membawa bekal
Bekal adalah persediaan di perjalanan, berupa makanan.


Saya teringat dengan bangsa Israel, selama 40 tahun di padang gurun, mereka tidak membawa perbekalan. Pakaian mereka tidak usang dan kasut mereka tidak rusak. Ini adalah bukti pemeliharaan bagi pekerja-pekerja Tuhan di tengah-tengah pengutusan.

Mazmur 78: 23-25
(78:23) Maka Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit,
(78:24) menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit;
(78:25) setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-limpah.

Ia mengirimkan perbekalan berlimpah-limpah.
Di tengah-tengah perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun, Tuhan mengirimkan perbekalan berlimpah-limpah. Bukan hanya perbekalan selama satu minggu, satu bulan, satu tahun, bukan! Tetapi perbekalan yang berlimpah-limpah selama 40 tahun perjalanan di padang gurun.

Adapun perbekalan yang berlimpah-limpah itu adalah;
-      Menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan

Keluaran 16: 35-36
(16:35) Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.
(16:36) Adapun segomer ialah sepersepuluh efa.

Bangsa Israel makan manna selama 40 tahun, tiap-tiap orang dari bangsa itu mengumpulkan segomer manna setiap hari.
Adapun segomer ialah sepersepuluh efa.
Sepersepuluh = satu dari sepuluh.
Kalau kita kaitkan dengan 10 hukum taurat, bahwa inti dari 10 hukum taurat adalah satu, yaitu kasih.
Berarti, satu dari sepuluh adalah kasih.

Kesimpulannya; manna yang turun dari sorga, itulah makanan dalam bentuk kasih
Manna -> firman Tuhan, dalam bentuk kasih.
Kegunaan firman Tuhan dalam bentuk kasih; untuk memelihara tubuh.

-       Gandum dari langit
Gandum -> kebenaran firman Tuhan.

Yohanes 1: 14
(1:14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.


Gandum dari langit itulah firman Tuhan dalam bentuk kasih karunia dan kebenaran yang sejati.
Kegunaannya; untuk memelihara jiwa.
Kasih karunia adalah, menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung (1 Petrus 2: 19-20).

Jiwa saya dan saudara juga harus terpelihara lewat firman kasih karunia, walaupun jiwa lelah, jiwa hancur, hati patah dan remuk karena harus memikul salib, namun jiwa tidak akan menderita.
Kalau seseorang menerima sedikit persoalan lalu bersungut-sungut / ngomel / tidak pikul salib, berarti; jiwa tidak terpelihara, sampai akhirnya stress.
Banyak saya lihat jiwa-jiwa yang stres di akhir zaman ini, sebagai bukti kehidupan yang tidak dipelihara oleh firman penggembalaan.

-       Setiap orang telah makan roti malaikat
Roti malaikat, artinya; firman penggembalaan.
Roti -> firman Tuhan.
Malaikat -> gembala sidang (Wahyu 1: 20)
Berarti, menikmati roti malaikat = menikmati firman penggembalaan.
Kegunaan firman penggembalaan; untuk memelihara roh manusia.
Roh manusia adalah motor penggerak dari tubuh. Kalau roh terpelihara, maka tubuh dan jiwa pasti baik.

Oleh sebab itu, saya dan saudara membutuhkan firman penggembalaan = tergembala dalam satu kandang, satu gembala, di dalam kandang penggembalaan, tidak liar.
Jika kehidupan seseorang liar, itu karena kehidupannya tidak tergembala. Perhatikanlah orang yang tidak tergembala, rohnya pasti tidak penurut.

Syarat menikmati perbekalan yang berlimpah-limpah.
Mazmur 78: 23
(78:23) Maka Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit,

Terlebih dahulu awan / embun turun, itu -> urapan Roh-El Kudus.
Artinya; terlebih dahulu tanah hati kita ini dilembutkan, digemburkan oleh urapan Roh-El Kudus. Dengan demikian, kita bisa menikmati perbekalan yang melimpah-limpah yang turun dari sorga.

Sikap dari seorang pekerja untuk tuaian itu, di tengah-tengah pengutusan, ada 4 hal;
3.    Janganlah membawa kasut.
Kasut = alas kaki, berupa sepatu / sandal.
Kasut, arti rohaninya adalah; perjalanan hidup yang lama dari seseorang.
Berarti, seorang pekerja untuk tuaian di tengah-tengah pengutusan, tidak boleh mencampur adukkan sifat tabiat yang lama dengan ibadah pelayanan = saat menghadap takhta Allah yang kudus, tidak boleh bercampur aduk dengan sifat tabiat yang lama.

Keluaran 3: 1-5
(3:1) Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.
(3:2) Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.
(3:3) Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"
(3:4) Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."
(3:5) Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

Ibadah pelayanan adalah tempat yang kudus.
Bagi seorang pekerja yang berada di tengah-tengah pengutusan, tidak boleh bercampur aduk dengan kehidupan yang lama, sebab yang kita hadapi adalah tempat yang kudus, takhta yang kudus dan mulia, seperti Musa menanggalkan kasut dari kakinya, sebab tempat dimana ia berdiri adalah tanah yang kudus, sesuai dengan pernyataan Allah.

Tujuan melayani dengan menanggalkan kasut.
Keluaran 3: 6-7
(3:6) Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
(3:7) Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.

Kalau kita menanggalkan kasut tujuannya; supaya membebaskan mereka yang berada dalam perbudakan dosa.
Setiap orang yang berada dalam perbudakan dosa, yang terjadi adalah penderitaan dan kesengsaraan. Semakin banyak dosa, maka semakin banyak kesengsaraan.

Saudaraku, dunia ini penuh dengan pengerah untuk mengerah manusia, untuk membuat manusia sengsara dan menderita. Ini tidak boleh kita biarkan. Jangan tutup mata, jangan pertahankan ego.
Yang menjadi pengerah adalah keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup, serta kesibukan-kesibukan pekerjaan.


Oleh sebab itu, pekerja-pekerja yang diutus harus menanggalkan kasut, untuk membebaskan mereka dari pengerah, dari perbudakan dosa.

Syarat supaya kita menjadi pekerja yang handal.
Keluaran 3: 1
(3:1) Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

Syaratnya; tergembala dengan baik, berada dalam kandang penggembalaan.
Kalau di dunia ini, saya dan saudara tergembala dengan sunguh-sungguh dalam satu kandang satu gembala, suatu saat nanti Tuhan akan seberangkan kita dari padang gurun / dunia ini, sampai ke gunung Tuhan, gunung Horeb, sehingga kita bertemu dengan Allah dan mendapat petunjuk-petunjuk untuk mendirikan kemah, sama seperti Musa, selama 40 hari 40 malam di gunung Sinai.

Asal saja kita tergembala dengan baik, maka Tuhan akan memberikan petunjuk-petunjuk supaya kita hidup sesuai dengan pola Kerajaan Sorga.

Sikap dari seorang pekerja untuk tuaian itu, di tengah-tengah pengutusan, ada 4 hal;
4.    Janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan.
Seorang pekerka-pekerja untuk tuaian, di tengah-tengah pengutusan di dalam perjalanan, tidak boleh memberi salam kepada siapapun. Artinya; memfokuskan / mengkhususkan diri untuk melayani Tuhan, sampai tiba di tujuan, yaitu Yerusalem yang baru.
Kalau tidak memfokuskan / mengkhususkan diri untuk melayani Tuhan, maka tidak di dalam pengurapan saat melayani, sehingga ibadah pelayanan tidak membawa saya dan saudara sampai pada tujuan.

Imamat 21: 12
(21:12) Janganlah ia keluar dari tempat kudus, supaya jangan dilanggarnya kekudusan tempat kudus Allahnya, karena minyak urapan Allahnya, yang menandakan bahwa ia telah dikhususkan, ada di atas kepalanya; Akulah TUHAN.

Kehidupan yang dikhususkan oleh Tuhan, jangan keluar dari tempat kudus / jangan beri salam kepada siapapun, sebab minyak urapan ada di atas kepala. Itu menandakan bahwa kita dikhususkan oleh Tuhan.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman;
Gembala Sidang: Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment