KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, August 13, 2013

IBADAH RAYA MINGGU, 11 AGUSTUS 2013

IBADAH RAYA MINGGU, 11 AGUSTUS 2013

TEMA:   JEMAAT SMIRNA (dari Wahyu 2: 8-11)
            (Seri 03)

Subtema: MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN BAIK SAMPAI MENCAPAI GARIS AKHIR

Shalom!
Selamat malam, salam sejahtera, salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Oleh karena kasih-Nya kita boleh berada di dalam rumah Tuhan untuk beribadah melayani Tuhan, sekaligus untuk mempersembahkan korban.

Segera kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu dari Wahyu 2: 8-11, mengenai sidang jemaat di Smirna, namun terlebih dahulu kita membaca ayat 8.
Wahyu 2: 8
(2:8) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali:

Yesus tampil sebagai firman Allah dari Yang Awal dan Yang akhir, yang telah mati dan hidup kembali = Yesus tampil sebagai firman dalam bentuk kekekalan.
Penampilan Yesus terhadap sidang jemaat di Smirna ini merupakan pengulangan dalam penampilan Yesus sebagai firman Allah dari Yang Awal dan Yang akhir, yang telah mati dan hidup kembali, sebab penampilan yang pertama ditujukan kepada Rasul Yohanes di pulau Patmos, dalam Wahyu 1: 17-18.

Untuk itu, segera kita memperhatikan ayat 9 ...
Wahyu 2: 9
(2:9) Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu -- namun engkau kaya -- dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.

Sidang jemaat di Smirna mengalami kesusahan yang besar karena mereka harus menghadapi ujian / cobaan yang datangnya dari orang-orang Yahudi, yang adalah gambar / wujud dari iblis setan, namun di sini Tuhan berkata: “AKU TAHU KESUSAHANMU
Berarti, Tuhan mengerti keadaan kita sekaliannya, baik dalam keadaan susah, dalam pergumulan yang berat, semuanya Tuhan tahu dan Tuhan peduli.
Saudaraku, kalau Tuhan mengetahui, mengerti, peduli terhadap kesusahan kita ini merupakan penghiburan bagi kita, berarti Tuhan tidak berdiam diri pada saat kita dalam kesusahan, sebab Tuhan melihat keadaan kita semua.

Itu sebabnya dalam ...
1 Korintus 10: 13
(10:13) Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, artinya pencobaan itu tidak melebihi kekuatan kita sekaliannya.
Tuhan mengijinkan pencobaan itu terjadi, tetapi pencobaan itu tidak melebihi kekuatan kita sekalian.
Kemudian, saat kita mengalami pencobaan, Tuhan itu setia, sama halnya dengan apa yang Tuhan katakan kepada sidang jemaat di Smirna: “Aku tahu kesusahanmu”, artinya Tuhan setia ketika sidang jemaat di Smirna menghadapi ujian / cobaan.

Bentuk kesetiaan Tuhan ketika saya dan saudara mengalami kesusahan:
-      Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita.
-      Waktu dicobai, Ia akan memberikan jalan ke luar.
Berarti, kalau ujian / cobaan menimpa seseorang itu terjadi atas seijin Tuhan dengan maksud yang baik, yaitu; apakah kita tahan uji seperti emas, atau kayu, apabila diuji oleh nyala api maka akan terbakar dan berubah menjadi abu.
Manusia emas adalah gambaran dari manusia rohani yang tahan terhadap ujian / cobaan, artinya; tidak akan berubah, justru semakin diuji oleh nyala api, emas akan semakin murni dan semakin teruji di hadapan Tuhan.
Sebaliknya, manusia kayu adalah gambaran dari manusia daging, tidak tahan terhadap ujian / cobaan oleh nyala api sebagai ujian, sebab ia akan terbakar dan berubah menjadi abu, pada saat menghadapi ujian / cobaan, manusia daging tidak kuat, ia mundur dan ujung-ujungnya putus asa dan kecewa terhadap situasi yang ada.

Kita kembali memperhatikan sidang jemaat di Smirna pada ayat 10 ...
Wahyu 2: 10
(2:10) Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Saat sidang jemaat di Smirna dicobai, Allah berfirman: “JANGAN TAKUT”, berarti; Tuhan menopang (mem-back up) sidang jemaat di Smirna.

Saudaraku, kalau saja seseorang yang kuat berkata kepada sesamanya yang lemah: “jangan takut”, maka orang yang lemah ini akan memiliki keberanian untuk bertindak, lebih lagi kalau Tuhan yang berkata: “jangan takut” kepada kita semua, maka lebih berani lagi untuk bertindak di hadapan Tuhan.
Jadi, jangan takut akan apa yang akan kita hadapi baik masa sekarang, baik masa yang akan datang, sebab Tuhan yang akan menopang kita.
Kita patut bersyukur, selain Dia mengerti kesusahan, Dia juga menopang (mem-back up) kita saat menghadapi cobaan yang berat.

Perkataan “Jangan takut” kepada sidang jemaat di Smirna, juga disampaikan kepada Rasul Yohanes.
Wahyu 1: 17-18
(1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
(1:18) dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

Yesus berkata kepada Rasul Yohanes: “Jangan takut!”, karena Rasul Yohanes mengalami ketakutan seperti yang dialami sidang jemaat di Smirna.
Sekalipun kita tidak melihat secara khusus bahwa rasa takut yang dialami Rasul Yohanes sama dengan rasa takut yang dialami oleh sidang jemaat di Smirna, tetapi dengan penampilan Yesus sebagai firman dari yang awal dan yang akhir, yang telah mati dan hidup kembali, dapat membuktikan bahwa rasa takut yang dialami Rasul Yohanes sama dengan rasa takut yang dialami oleh sidang jemaat di Smirna.

Mari kita lihat; RASA TAKUT YANG DIALAMI OLEH RASUL YOHANES.
Wahyu 1: 17
(1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,

Ketika Rasul Yohanes melihat Dia, sama seperti orang yang mati.

Mari kita lihat; KEADAAN SEPERTI ORANG YANG MATI.
Matius 26: 37-38
(26:37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
(26:38) lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."

Detik-detik terakhir di mana Yesus hendak disalibkan, pengalaman seperti mau mati rasanya itu terjadi terhadap Yesus Kristus.
Keadaan seperti mau mati rasanya yang dialami Yesus adalah;
-      Hati Yesus sangat sedih.
Kalau seseorang mengalami kesedihan barangkali ia bisa terhibur dengan satu perkara / sesuatu hal, tetapi kalau hati yang bersedih, itu sangat sukar untuk dihibur oleh sesuatu perkara lahiriah.
Dan di sini kita melihat, hati Yesus sangat sedih.
-      Ia mengalami rasa gentar.
Berarti, seluruh anggota tubuh gemetar = tidak berdaya.

Matius 26: 39
(26:39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."

Yesus harus meminum cawan Allah, artinya Yesus harus menanggung penderitaan di atas kayu salib, inilah yang menyebabkan Yesus merasakan seperti mau mati rasanya, sedih dan gentar.
Itu sebabnya ketika hati Yesus sangat sedih dan merasa gentar, ada perkataan yang keluar dari mulut Yesus, yaitu: “ ... jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku ... ”, itu menunjukkan bahwa Yesus betul-betul sedih dan gentar, seperti mau mati rasanya.
Tetapi permohonan Yesus tidak hanya berhenti sampai di situ, Ia kembali berkata: “ ... tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.
Permohonan boleh dinaikkan, tetapi biarlah kita tetap mengembalikan kepada Allah Bapa; jangan seperti yang kita kehendaki, melainkan kehendak Allah yang jadi.

Mari kita kembali memperhatikan; KETIKA RASUL YOHANES MENGALAMI KETAKUTAN ITU.
Wahyu 1: 17
(1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,

Yesus berkata: “Jangan takut!”, kemudian Ia mengulurkan tangan kanan-Nya atas Rasul Yohanes, berarti; ditopang oleh tangan kanan Tuhan yang kuat.

Mari kita lihat; TANGAN KANAN TUHAN YANG KUAT.
Mazmur 89: 14
(89:14) Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu.

Tangan kanan Tuhan itu KUAT dan PERKASA, sehingga mampu menopang orang yang mengalami rasa takut.

Yesaya 41: 10
(41:10) janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Lebih terperinci kita perhatikan, bahwa; tangan kanan Tuhan memberi kemenangan, oleh sebab itu;
-      jangan takut, sebab Tuhan menyertai
-      Jangan bimbang, sebab Tuhan Allah bersama dengan kita.

Penyertaan Tuhan dengan tangan yang kuat kekal sampai selama-lamanya, sebab Dia adalah Allah yang kekal, Dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali, tidak ada Allah yang seperti Dia.
Penyertaan manusia / sesama hanya bersifat sementara, tetapi penyertaan Tuhan dengan tangan yang kuat bersifat kekal sampai selama-lamanya.

Bahkan lebih dari pada itu, kita memperhatikan ...
Mazmur 16: 10-11
(16:10) sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
(16:11) Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Di tangan kanan Tuhan yang kuat ADA NIKMAT SENANTIASA.
Adapun nikmat yang dimaksud di sini adalah;
-      Yang pertama: TUHAN MEMBERITAHUKAN JALAN KEHIDUPAN.
Yohanes 14: 6
(14:6) Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Yesus Kristus adalah jalan dan kebenaran dan hidup, artinya; tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Yesus Kristus.

Yohanes 14: 5
(14:5) Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"

Sesungguhnya, kita sama seperti Tomas, tidak tahu jalan menuju rumah Bapa di sorga, sesuai dengan pengakuan Tomas: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?

-      Yang kedua: DI HADAPAN TUHAN ADA SUKACITA BERLIMPAH-LIMPAH.
·    Sukacita berlimpah-limpah adalah sukacita mempelai, karena sukacita mempelai itu penuh, sesuai dengan pernyataan Yohanes Pembaptis = sukacita yang sifatnya tidak sementara.
·     Kemudian, sukacita berlimpah-limpah adalah sukacita yang dapat dirasakan oleh orang lain, sebab sukacita itu limpah, meluap, hingga orang lain dapat merasakannya.

SATU PERMINTAAN DARI TUHAN kepada sidang jemaat di Smirna ...
Wahyu 2: 10
(2:10) Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Permintaan Tuhan kepada sidang jemaat di Smirna hanya satu, yaitu HENDAKLAH SETIA SAMPAI MATI.
Memang setelah diperiksa dengan penampilan Yesus sebagai firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali, tidak ada kesalahan yang cukup fatal yang dilakukan oleh sidang jemaat di Smirna, namun mereka sedikit mengalami rasa takut karena ujian / cobaan yang datangnya dari jemaah iblis setan.
Oleh sebab itu, Tuhan berkata: “Jangan takut” selanjutnya Tuhan meminta HENDAKLAH SETIA SAMPAI MATI.

Barangkali kerohanian kita bagaikan bangunan yang sudah hancur berkeping-keping, tetapi kalau kita setia sampai mati, maka Tuhan akan genapi firman-Nya sampai pemulihan itu terjadi.
Kalau hari ini kita hancur namun kita tidak setia beribadah melayani Tuhan, kemudian tidak setia berpegang pada pengajaran mempelai, dan kita tidak setia dalam satu kandang satu gembala, maka pemulihan itu tidak akan terwujud, sebab pemulihan itu terjadi kalau kita setia sampai mati, sebab sebagai hamba, Dia setia menyatakan hukum itu sampai terlaksana / tergenapi, dan Ia tidak memperdengarkan suara-Nya di jalan-jalan, artinya; sebagai hamba, Ia tidak bersungut-sungut.
Tetapi kalau kita segera putus asa dan kecewa, maka pemulihan itu tidak akan terjadi, oleh sebab itu Tuhan menghimbau dengan kasih; hendaklah kita setia sampai mati.

Barangkali hari ini kita takut akan masa depan, takut akan pergumulan berat yang kita hadapi, tetapi Tuhan meminta; setialah sampai mati. Barangkali hari ini kita lalai karena kurang dengar-dengaran terhadap suara firman Tuhan, tetapi kalau kita setia, maka firman Allah itu terjadi sampai mujizat itu nyata.

Jangan tinggalkan pengajaran, setialah dengan pengajaran mempelai, jadilah manusia emas, sebab Tuhan memakai manusia emas dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir.
Sekalipun Yesus harus menghadapi ujian dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, Ia tidak sedikitpun membuka mulut-Nya, Ia tidak membela diri, demikianlah pribadi yang dipakai dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir.
Berbeda dengan Yohanes Pembaptis, yang mewakili kegerakan Roh Kudus hujan awal, bahkan dia adalah satu-satunya hamba Tuhan yang membaptis Yesus, tetapi kenyataannya dia tidak dipakai dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir, sebab ketika Yohanes Pembaptis masuk dalam penjara, pribadinya mulai goyah / berubah, sebagai gambaran dari manusia kayu.

Saudaraku, hendaklah setia sampai mati, berdirilah kuat / teguh, jangan goyah!
Jangan sampai terlebih dahulu jatuh dan hancur, lalu datang kepada Tuhan dan berjanji untuk setia kepada Tuhan, supaya jangan terjadi penyesalan, tetapi biarlah dari sejak sekarang; saya dan saudara setia sampai mati.
Sekali lagi saya katakan; HENDAKLAH SETIA SAMPAI MATI.

Filipi 2: 8
(2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Yesus taat sampai mati, bahkan sampai mati di atas kayu salib = setia sampai mati.
Yesus turun ke bumi untuk menyaksikan kebenaran, dan kebenaran itu tidak berhenti hanya sampai Yesus mengadakan mujizat-mujizat, yaitu seperti yang sakit disembuhkan, dan memberi makan 5000 orang dengan 5 ketul roti dan 2 ikan, namun Yesus lahir dan datang ke dunia ini, sebagai Raja, untuk menyaksikan kebenaran itu,  sampai mati, bahkan sampai mati di atas kayu salib = setia sampai mati, sampai hukum itu tergenapi.

Syarat untuk setia sampai mati.
Filipi 2: 5-7
(2:5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
(2:6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
(2:7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Ada hal yang harus kita perhatikan ketika kita hendak setia sampai mati, seperti Yesus, yaitu MENARUH PIKIRAN dan PERASAAN YANG TERDAPAT JUGA DALAM KRISTUS YESUS, yaitu; yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, sehingga kalau kita lihat aplikasi untuk setia sampai mati, dimulai dari;
-      IA MENGOSONGKAN DIRINYA SENDIRI.
Kosong = tidak ada isinya, artinya; tidak merasa diri mampu, tidak menganggap diri bisa, tidak merasa diri sanggup.
-      MENGAMBIL RUPA SEORANG HAMBA.
Berarti, setia melayani Tuhan.
Kita tidak perlu bingung dengan hal-hal dunia, sebab tugas kita hanyalah mengambil rupa sebagai seorang hamba, berarti setia melayani Tuhan. Kalau kita setia melayani Tuhan itu artinya kita mengambil rupa sebagai seorang hamba dan seorang hamba patut untuk mendapat upah dari tuannya.
-      MERENDAHKAN DIRI SERENDAH-RENDAHNYA satu dengan yang lain, itulah yang harus kita perhatikan supaya kita setia sampai mati.

Bandingkan dengan RASUL PAULUS di tengah-tengah pelayanannya di hadapan Tuhan:
2 Timotius 4: 6-7
(4:6) Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
(4:7) Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Rasul Paulus setia sampai mati di tengah-tengah pelayanannya kepada Tuhan, sesuai dengan perkataannya: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir
Hendaklah kita setia sampai akhir, akhirilah pertandingan dengan baik sampai mencapai garis akhir.

Kemudian, satu hal yang perlu kita perhatikan ketika Rasul Paulus mengakhiri pertandingan dengan baik yaitu Rasul Paulus MEMELIHARA IMAN di tengah-tengah pelayanannya kepada Tuhan.
Jadi, iman itu harus dipelihara, jangan sampai iman digoyahkan oleh sesuatu yang tidak suci, jangan sampai iman itu digoyahkan karena ambisi / keinginan daging.
Iman itu adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat, sebab kebenaran iman itu percaya walupun tidak melihat.
Oleh sebab itu, biarlah kita memelihara iman, seperti Rasul Paulus tetap memelihara iman di tengah-tengah pelayanannya, peliharalah iman, jangan digoyahkan oleh sesuatu perkara dan oleh sesuatu yang tidak suci.

Biarlah segala sesuatunya berjalan sesuai kehendak Tuhan, sebab itu jauh lebih baik, sehingga mendapat pemeliharaan dari Tuhan. Saudara bisa saja berhasil dengan kekuatan saudara, tetapi tanggung sendiri resikonya.
Saudara pilih mana; berhasil di dalam Tuhan atau berhasil dengan kekuatan sendiri?
Masakan saudara lebih percaya kepada logika dari pada kepada Tuhan? Saudaraku, firman Tuhan itu teruji, sebab janji Tuhan itu teruji lebih dari emas tua, oleh sebab itu hendaklah setia, tetapi satu yang tidak boleh dilupakan, yaitu pelihara iman dengan baik.
“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20: 6)

2 Timotius 4: 8
(4:8) Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Akhirnya, Rasul Paulus menerima MAHKOTA KEBENARAN yang dikaruniakan kepadanya oleh Tuhan, sebagai Hakim yang adil.
Adil, artinya; tidak membedakan satu dengan yang lain, berarti mahkota kebenaran tidak hanya dikaruniakan kepada Rasul Paulus saja tetapi juga kepada saya dan saudara, sebab Dia adalah Hakim yang adil, oleh sebab itu, hendaklah setia sampai mati.

Ada persamaan Yesus dengan Rasul Paulus;
-    Rasul Paulus juga setia sampai mati, dia mengakhiri pertandingan dengan baik sampai mencapai garis akhir, dan juga tidak melupakan satu hal, yaitu memelihara iman.
-    Yesus taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib, bahkan Dia tinggalkan segala sesuatunya, dan akhirnya Yesus ditinggikan, selain itu, Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, (Filipi 2: 8-9).

Dan kalau kita kembali memperhatikan ...
Wahyu 2: 10
(2:10) Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Mahkota kebenaran yang diberikan kepada Rasul Paulus juga dijanjikan kepada sidang jemaat di Smirna, juga kepada saya dan saudara, oleh sebab itu hendaklah kita setia sampai mati.
Saudaraku, menyerah saja, sebab Tuhan tidak membodoh-bodohi kita, Tuhan tahu kesusahan kita.
Kemudian, dalam kesusahan Tuhan berkata: “jangan takut”, Tuhan menopang kita dan itu merupakan penghiburan bagi kita. Terpujilah Tuhan kekal sampai selama-lamanya. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment