KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Friday, March 17, 2017

IBADAH RAYA MINGGU, 12 MARET 2017

IBADAH RAYA MINGGU, 12 MARET 2017

WAHYU PASAL ENAM
(Seri 14)

Tema: DICANGKULI DAN DIPUPUKI.

Shalom saudaraku.
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua. Oleh karena kemurahan hati Tuhan kita dapat melangsungkan Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian.

Saudaraku, saya harus menyaksikan apa yang saya lihat ketika kehidupan mulai diubahkan dari sehari ke sehari,  mulai terlihat banyak perkara, betapa hati mulai melembut, dihancurkan, digemburkan. Yang kedua pekerjaan yang dikerjakan menjadi lebih baik di hadapan Tuhan, lebih benar di hadapan Tuhan dan semuanya itu menjadi berkat bagi setiap orang yang ada di sekitar kita, itu yang saya perhatikan. Berarti tergantung penyerahan diri kita masing-masing kepada Tuhan.   
Pemakaian Tuhan itu sejauh penyerahan diri, bukan sejauh kepintaran, kemampuan seseorang.  Amin saudaraku?

Puji Tuhan, segera kita memperhatikan Firman penggembalaan untuk ibadah raya minggu, dari Kitab Wahyu pasal  6, langsung saja dibaca ayat yang ke 6.
Wahyu 6:6
(6:6) Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."

Perhatikan kalimat; “Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."
Saudaraku, di tengah-tengah sulitnya untuk mendapatkan makanan kebutuhan pokok kehidupan manusia sehari-hari, ada dua hal yang tidak boleh di rusak yaitu;
1.     Minyak.
2.     Anggur.
Pada minggu yang lalu, kita telah diberkati tentang anggur yang tidak boleh di rusak dan dua minggu yang lalu kita juga sudah memperhatikan tentang minyak, itu juga tidak boleh di rusak

Saudaraku, kita bukanlah minyak dan anggur, yang menjadi minyak dan anggur adalah bangsa Israel.
Jadi, bangsa kafir harus memperhatikan apa yang menjadi pernyataan Tuhan, sesuai dengan apa yang ditulis oleh rasul Yohanes dalam Wahyu 6:6 yaitu; “Janganlah rusakkan minyak dan anggur.”

Sekarang kita akan melihat tentang; ANGGUR (bagian kedua).
Anggur berbicara tentang darah yang menghasilkan kesukaan yaitu;
CARA YANG PERTAMA: Anggur yang merupakan hasil dari ladang...Matius 20:1-6/Matius 21:33-46.
Ladang anggur, berarti menghasilkan air anggur/buah anggur.
CARA YANG KEDUA: Anggur yang merupakan hasil dari keubahan.

Sekarang kita akan melihat cara yang kedua: Anggur yang merupakan hasil dari keubahan.
Pada hari kedatangan Tuhan, anggur akan dipersembahkan kepada Tuhan, sedangkan bangsa kafir digambarkan seperti pohon ara.

Lukas 13:6-8
(13:6) Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.
(13:7) Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!
(13:8) Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,

Disini kita perhatikan; pohon ara tumbuh di tengah-tengah kebun anggur.
Kebun anggur atau ladang anggur adalah gambaran dari bangsa Israel. Sedangkan bangsa kafir digambarkan seperti pohon ara yang tumbuh di tengah kebun anggur itu.
Bangsa kafir adalah bangsa yang tidak bersunat, berarti ditandai dengan banyak kelemahan-kelemahan. Bangsa kafir disebut juga orang fasik yang tidak mengenal hukum Allah sehingga ditandai dengan kejahatan dan kenajisan, persis seperti 2 Petrus 2:22, anjing kembali ke muntahnya dan babi yang mandi kembali ke kubangan.

Kita lihat terlebih dahulu..
Kejadian 3:7
(3:7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Perhatikan kalimat ini; “Lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.”
Bangsa kafir terlibat di dalam dosa Adam dan Hawa, suka melanggar hukum Allah.

Roma 5:12-14
(5:12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
(5:13) Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
(5:14) Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.

Dosa tidak akan diperhitungkan bila tidak ada hukum Taurat.
Dosa yang menjalar disebut juga dengan dosa turunan atau kutuk nenek moyang.

Markus 11:13, 20-21
(11:13) Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.
(11:20) Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya.
(11:21) Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."

Kesimpulannya; pohon ara yang tidak berbuah adalah pohon ara yang terkutuk.
Jadi, dosa yang menjalar tadi disebut dengan dosa turunan atau kutuk nenek moyang.
Pohon ara yang tidak berbuah sama seperti pohon ara yang terkutuk, berada di kebun anggur.
Pemilik kebun anggur itu mencari buah dari pohon ara tetapi ia tidak menemukannya, bahkan sudah tiga tahun lamanya dia menantikan buah dari pohon ara itu, namun juga tidak berbuah.
Maka konsekuensinya pohon ara yang tidak berbuah itu akan di tebang, sebab kehidupan yang tidak berbuah itu adalah kehidupan yang tidak berarti, hidup dengan percuma.
Sungguh-sungguh beribadah, tidak hanya beribadah, sungguh-sungguh melayani Tuhan, hasilkanlah buah sesuai dengan pertobatan, sebab kapak sudah tersedia untuk menebang pohon yang tidak berbuah. Kiranya dapat dipahami dengan baik.

Itulah bangsa kafir, terlibat di dalam dosa Adam dan Hawa, sebab tadi daun pohon ara digunakan sebagai cawat untuk menutupi kekurangan dari pada Adam dan Hawa.

Ciri-ciri pohon ara yang terkutuk.
Markus 11:20-21
(11:20) Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya.
(11:21) Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."

"Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering."
Berarti, ciri dari pohon ara yang terkutuk ialah kering-kering.

Yeremia 17:5-6
(17:5) Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
(17:6) Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri dan yang hatinya jauh dari Tuhan adalah kehidupan yang terkutuk, sehingga menjadi kering-kering (kering rohani).

Gambaran dari kerohanian yang kering-kering, ada tiga yaitu;
1.   “Ia akan seperti semak bulus di padang belantara” à kepada kehidupan yang tidak berarti/tidak berguna.
Saya pernah mengenal dan melihat orang yang tidak berarti/berguna baik bagi sesama teramat lebih bagi Tuhan. Banyak orang yang tidak ke gereja (tidak beribadah), tetapi masih berarti/berguna bagi sesamanya, keluarganya, istrinya, suaminya, anaknya, orang tuanya dan orang yang di sekitarnya, Tuhan masih memberi kesempatan dan kemurahan.
Tetapi orang yang saya kenal ini adalah saudara jauh dari bunda (mama saya) opung Isai, sejak ia masuk kerja di sebuah perusahaan dengan gaji yang tinggi, semua gaji itu dia gunakan untuk pesta pora dan mabuk-mabukan, hanya untuk memuaskan hawa nafsunya, dia tidak perduli agama, ibadah dan pelayanan. Dalam hati saya orang seperti ini kalau tidak segera bertobat lama-lama akan mati binasa.

Sebelum dia mati, Tuhan sudah terlebih dahulu memberitahukan kepada saya, bukan lewat mimpi tetapi langsung kepada saya bicara. Singkat saja Tuhan berkata; “Saya akan bunuh dia si Poltak.”
Setelah Tuhan selesai bicara, saya kaget, kemudian saya bangun dari tidur, saya bangunkan istri saya, kalau tidak salah kejadian itu tahun 2011. Awalnya, saya di bawa dalam suasana gelap (bukan dalam kegelapan) menggambarkan kehidupan dia yang tidak berarti, setelah saya melihat suasana gelap gulita itu di situlah Allah berkata; “Saya akan bunuh dia si Poltak.”

2.   “Ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik” à kehidupan yang tidak mengalami pemulihan.
3.   a. “Ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun.”
         Tanah angus padang gurun berarti; gersang dan tandus tidak menghasilkan apa-apa
b. “Di negeri padang asin yang tidak berpenduduk” berarti; hidup menyendiri di tengah keramaian, itulah orang
     yang  tidak memiliki kasih.
     Kalau seseorang tidak memiliki kasih itu sama artinya; menyendiri di tengah keramaian.
Inilah gambaran dari kerohanian yang kering-kering

Praktek kerohanian menjadi Kering-kering:
Yeremia 17:4
(17:4) Engkau terpaksa lepas tangan dari milik pusakamu yang telah Kuberikan kepadamu, dan Aku akan membuat engkau menjadi budak musuhmu di negeri yang tidak kaukenal, sebab dalam murka-Ku api telah mencetus yang akan menyala untuk selama-lamanya."

Engkau terpaksa lepas tangan dari milik pusakamu yang telah Kuberikan kepadamu” artinya; melepaskan diri dari ibadah dan pelayanan sebagai milik pusaka.
Saudaraku, dengan kedua tangan Tuhan yang kuat,  Tuhan membawa bangsa Israel mendekat kepada Dia, Tuhan membawa bangsa Israel berada di tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang telah diwariskan oleh Tuhan kepada nenek moyang bangsa Israel.
Tujuannya; supaya bangsa Israel dapat beribadah dan berbakti kepada Tuhan.

Demikian juga halnya Tuhan telah mewariskan ibadah dan pelayanan ini kepada kita semua sebagai milik pusaka yang harus kita pertahankan, tidak boleh dilepaskan apapun alasannya, amin saudaraku?

Batas tanah kanaan itu telah dipatok untuk Sembilan setengah suku, yaitu: suku Simeon, Yuda, Dan, Naftali, Asyer, Isakar, Zebulon, Yusuf, Benyamin, Manasye (setengah suku) semuanya. Batas-batasnya itu dipatok dari Timur, Barat, Utara, Selatan. Mereka semua mendapat bagian dan itulah yang menjadi milik pusaka  dari pada bangsa Israel.
Tujuannya; supaya mereka dapat beribadah dan melayani kepada Tuhan.
Kemudian untuk suku Lewi, yang menjadi milik pusaka mereka adalah Tuhan sendiri dan yang menjadi bagian mereka adalah persembahan sepersepuluh dari tiap-tiap suku Israel.

Sejenak kita perhatikan...
Yosua 14:1-5
(14:1) Inilah semuanya yang diterima oleh orang Israel sebagai milik pusaka di tanah Kanaan, yang telah dibagikan kepada orang Israel oleh imam Eleazar, dan Yosua bin Nun dan para kepala kaum keluarga dari suku-suku mereka,
(14:2) dengan mengundi milik pusaka itu, seperti yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa mengenai suku-suku yang sembilan setengah itu.
(14:3) Sebab kepada suku-suku yang dua setengah lagi telah diberikan Musa milik pusaka di seberang sungai Yordan, tetapi kepada orang Lewi tidak diberikannya milik pusaka di tengah-tengah mereka.
(14:4) Sebab bani Yusuf merupakan dua suku, Manasye dan Efraim. Maka kepada orang Lewi tidak diberikan bagiannya di negeri itu, selain dari kota-kota untuk didiami, dengan tanah penggembalaannya untuk ternak dan hewan mereka.
(14:5) Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat oleh orang Israel dan dibagi-bagi merekalah negeri itu.

Tanah Kanaan dibagi-bagi untuk sembilan setengah suku, sedangkan yang dua setengah suku, yaitu: suku Ruben dan Gad dan Manasye yang setengah suku berada di seberang sungai Yordan.
Semuanya dibagi-bagi sesuai dengan suku-suku Israel dengan batas-batasnya yang telah dipatok. Tidak boleh melepaskan milik pusaka mereka.

Saudaraku, kalau milik pusaka itu dilepaskan atau lepas tangan dari milik pusaka, konsekuensinya adalah; menjadi budak musuh.
Ada 2 musuh abadi, yaitu:
1.     Daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Daging ini adalah musuh dalam selimut karena dia tinggal bersama-sama dengan kita.
2.     Iblis atau Setan itulah, roh jahat dan roh najis.

Maka saya sebagai hamba Tuhan pun sangat takut sekali lepas tangan dari milik pusaka.  Milik pusaka saya adalah Tuhan, tidak ada lagi yang lain, dan bagian saya adalah segala persembahan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan, termasuk persembahan persepuluhan, itu miliknya imam suku Lewi, yang telah di khususkan kepada Tuhan. Tetapi, apabila kita lepas tangan dari milik pusaka, konsekuensinya; menjadi budak musuh dan terus berkutat di situ, sehingga digambarkan seperti babi yang mandi kembali kekubangan dan anjing kembali ke muntahnya, terus-menerus mengulangi kesalahan yang sama itulah noda kekafiran, itulah pohon ara yang tidak berbuah.

Bangsa kafir bukan minyak dan anggur, yang menjadi minyak dan anggur adalah bangsa Israel, sehingga pada hari kedatangan Tuhan akan dipersembahkan kepada Tuhan. Bagaimana dengan nasib bangsa kafir nanti kalau terus berkutat dengan dosa yang sama; dosa kenajisan dari noda kekafiran? Bagaimana nasib bangsa kafir, bagaimana nasib pohon ara yang tidak berbuah? Ini harus menjadi perhatian kita semua, amin saudaraku?
Ayo, Tuhan sudah berikan bagian kita, milik pusaka dan batasnya sudah dipatok, jangan lepas tangan ya, jangan tinggalkan ibadah dan pelayanan, apapun alasannya. Siapapun kita, kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi jangan bermain-main dengan nyawa. Kalau kita masih bertahan berada di ladang anggur, itu adalah kemurahan.

Lukas 13:7
(13:7) Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!

Pemilik ladang anggur tidak mendapatkan buah dari pohon ara, bahkan sudah tiga tahun ia menanti-nanti.
Resikonya; pohon ara akan segera ditebang karena pohon ara yang tidak berbuah itu hidup dengan percuma.
Tidak berbuah, hidup tanpa arti;  tidak ada artinya, percuma hidup seperti itu.

Dulu kita ini jauh dari Tuhan, disebutlah bangsa yang tinggal dalam kegelapan, itulah bangsa kafir, jauh dari Tuhan, tetapi Dia telah memanggil kita, ditebus dengan darah yang mahal sekarang berada dalam terang-Nya yang ajaib, ini kemurahan. Tetapi persoalannya, pohon ara ada di tengah-tengah ladang anggur namun tidak ada buahnya, bahkan sudah tiga tahun pemilik ladang anggur itu menantikannya, resikonya; pohon ara akan di tebang karena kehidupan yang tidak berbuah tidak ada arti, pendeknya binasa.

Jalan keluarnya.
Lukas 13:8
(13:8) Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,

Pohon ara yang tidak berbuah masih diberi kesempatan untuk tumbuh atau berada di ladang/di kebun anggur.
Saudaraku, saat ini kita mendapat kesempatan untuk berada di kebun anggur Tuhan, ini adalah kemurahan.

Praktek menghargai kemurahan atau kesempatan yang Tuhan berikan, ada dua:
1.   Pekerja itu akan mencangkul tanah sekelilingnya.
2.   Memberi pupuk kepadanya atau di pupuki.

Tentang mencangkul.
Di cangkul berarti; tanah disekelilingnya digarap dan dikerjakan menunjuk kepada  kuasa firman Allah.

Yesaya 5:1,2
(5:1) Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.
(5:2) Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.

Di cangkul berarti; digarap dikerjakan oleh kuasa firman, sehingga segala batu-batu disingkirkan.
Tanah menunjuk kepada hati manusia.

Batu-batu yang dibuang menunjuk kepada dua hal, yaitu:
1.     Kekerasan hati.
Kekerasan hati  setara dengan dosa penyembahan berhala. Sehingga kalau kita perhatikan dalam Injil Matius 13, ketika benih itu di taburkan di tanah yang berbatu-batu, dia tumbuh sebentar saja, apabila ada penindasan, dia akan murtad, karena dia tumbuh tetapi tidak berakar, karena tanahnya tipis, resikonya; tidak tahan terhadap ujian  sengsara salib / aniaya karena firman.
Jadi, kekerasan hati itu setara dengan dosa penyembahan berhala, sebab oleh karena kekerasan hati firman Tuhan tidak mendapat tempat.
2.     Hukum Taurat.
Hukum Taurat berarti; “mata ganti mata, gigi ganti gigi” arti rohaninya; kejahatan dibalas dengan kejahatan, sehingga orang yang berbuat salah tidak luput dari penghukuman, itulah hukum Taurat.
Kemudian, orang yang berada di bawah hukum Taurat menjalankan ibadahnya juga secara Taurat. Ibadah Taurat berarti; ibadah lahiriah, misalnya; mulut memuliakan Tuhan tetapi hatinya jauh dari Tuhan = mempersembahkan tubuh jasmani kepada Tuhan, tetapi manusia batin tidak dipersembahkan kepada Tuhan.

Dan hal inilah yang akan disingkirkan, apabila hati digarap, dikerjakan oleh firman Allah. Siapa yang rindu digarap, dikerjakan oleh firman?
Saya selalu rindu supaya batu-batu itu disingkirkan, yang pertama kekerasan hati tidak terlihat, yang kedua lepas dari hukum Taurat.

Kemudian, setelah pekerja itu mencangkul di sekelilingnya yang kedua dipupuki.
Berarti; diberi tambahan supaya menyuburkan tanah itu.
Itulah gambaran dari pada kuasa Roh Kudus, senantiasa menolong kehidupan kita, menyertai, memimpin, bahkan  mengajar kita dalam segala sesuatu. Ajaran Roh Kudus tidak salah, semuanya benar supaya tanah itu semakin subur.

Kita lihat kehidupan yang digarap oleh firman Allah.
Matius 15:21-26
(15:21) Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
(15:22) Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
(15:23) Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
(15:24) Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
(15:25) Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
(15:26) Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."

Perempuan Kanaan sebagai bangsa kafir digambarkan seperti anjing, yang tidak berhak/tidak patut mendapat atau tidak layak untuk mendapat roti.
Roti -> firman Allah.

Matius 15:27-28
(15:27) Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
(15:28) Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

"Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Jawaban dari perempuan Kanaan ini menunjukkan bahwa ia menghargai firman Allah, berarti memberi diri untuk digarap dan dikerjakan oleh firman Allah yang berkuasa melepaskan kita dari batu-batu; kekerasan hati dan dari hukum Taurat.

Bangsa Israel adalah domba, merekalah anggur, bangsa kafir disebut juga dengan anjing itulah pohon ara, tetapi kalau kita mau menghargai kuasa firman yang senantiasa menggarap, mengerjakan, (mencangkul tanah) hati kita, tidak tertutup kemungkinan, buah pohon ara berubah menjadi buah pohon anggur, anjing bisa berubah menjadi domba, bukan hanya wujudnya tetapi sampai kepada sel-sel darahnya, tabiatnya. Amin saudaraku?

Kalau hanya wujud yang berubah, bisa saja seperti nabi palsu; yang disebut dengan serigala berbulu domba...Matius 7:15.
Firman Allah sanggup mengubah sampai kepada sel-sel darahnya (tabiatnya).

Roma 11:25-26
(11:25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.
(11:26) Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.

Sampai pada akhirnya bangsa kafir menjadi Israel rohani, itu janji firman Tuhan sesuai dengan yang dituliskan oleh rasul Paulus kepada sidang jemaat di Roma. Roma (Italy), adalah juga bangsa kafir.

Roma 11:29-30
(11:29) Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.
(11:30) Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka,

Tuhan tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya terhadap bangsa kafir.
Kasih karunia = kemurahan = yang tidak layak menjadi layak.
Sampai saat ini bangsa Israel masih keras hati, ini adalah kesempatan emas dicampur dengan berlian, dicampur dengan permata, jangan dibuang kesempatan ini selagi mereka masih keraskan hati.
Sampai akhirnya kita mendapatkan kemurahan yaitu menjadi Israel rohani. Hari ini bangsa Israel masih mengeraskan hati, mereka masih menanti-nantikan Juruselamat itu.
Kekerasan hati mereka ini kesempatan bagi kita sampai nanti genap jumlah bangsa kafir menjadi Israel rohani

Bagaimana dengan respon kita dari apa yang telah Tuhan nyatakan kepada kita malam ini? Mau berubah, menghargai kemurahan Tuhan yaitu di cangkuli dan dipupuki, bukan hanya wujud yang berubah tetapi sampai kepada sel-sel darah, tabiatnya?
“Janganlah rusakkan minyak dan anggur.” Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang





No comments:

Post a Comment