KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, May 8, 2018

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 20 APRIL 2018



IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 20 APRIL 2018

KITAB RUT
(Seri:10 )

Subtema: ADIL, TIDAK MEMANDANG MUKA.”

Shalom saudaraku.
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita sekaliannya, salam di dalam kasih-Nya Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh karena kemurahan hati Tuhan kita dimungkinkan untuk melangsungkan Ibadah Pedalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.

Segera kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab dari kitab Rut.
Namun saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, hamba Tuhan, pelayan Tuhan dalam dan luar negeri yang juga mengikuti pemberitaann firman lewat live streaming, video internet dimanapun anda berada, kiranya Tuhan memberkati kita sekaliannya.

Rut 1:7-9
(1:7) Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda,
(1:8) berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;
(1:9) kiranya atas karunia TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras

Saudaraku, di sini kita melihat, ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda, berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu; "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; kiranya atas karunia Tuhan kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya.”
Pendeknya dari pembacaan ini; Naomi adalah gambaran dari seorang hamba Tuhan dengan sikap yang adil, dia tidak membeda-bedakan antara Orpa dengan Rut.

Yakobus 2:1
(2:1) Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.

“Janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” Kalimat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman.
Beriman berarti hidup karena iman bukan karena yang lain-lain, jangan memandang harta dan jangan memandang muka di tengah ibadah dan pelayanan.

Roma 1:16-17
(1:16) Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
(1:17) Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Di dalam Injil nyata kebenaran Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, artinya; orang benar hidup karena iman berarti tidak mengandalkan manusia dan kekuatannya dan tidak bergantung kepada harta dan kekayaan.

Roma 3:21-22
(3:21) Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,
(3:22) yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

Kebenaran karena iman dinyatakan kepada semua orang yang percaya, sebab tidak ada perbedaan di dalam Tuhan.
Allah menyatakan kebenaran iman kepada semua orang percaya, jadi bukan hanya kepada bangsa Israel (orang Yahudi) tetapi juga kepada bangsa kafir, sebab tidak ada perbedaan di dalam Tuhan dan tidak boleh membeda-bedakan berarti tidak boleh memandang muka di tengah ibadah dan pelayanan ini.

Roma 3:23
(3:23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

Semua orang telah berdosa dan oleh karena dosa itu manusia telah kehilangan kemuliaan Allah.

Roma 3:24
(3:24) dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Perhatikan, semua orang telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
Pendeknya; kebenaran karena iman adalah kasih karunia, berarti kalau seseorang menyadari bahwa hidupnya karena kasih karunia (kemurahan Tuhan) maka iman yang ia miliki tidak boleh dilaksanakan (tidak boleh diamalkan) dengan memandang muka.

Roma 3:25-26
(3:25) Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
(3:26) Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Allah mengampuni orang-orang yang berdosa serta membenarkannya dalam darah Kristus Yesus = Allah menyatakan kebenaran iman kepada semua orang yang percaya baik itu orang Yahudi maupun bangsa Israel.
Hal ini dibuatnya untuk menunjukkan keadilan Allah pada masa sekarang.
Dulu Allah menyatakan kebenaran menurut hukum Taurat, tetapi yang mendapatkan keselamatan hanyalah bangsa Israel saja, tetapi sekarang Allah mengampuni orang berdosa serta membebaskannya di dalam nama Yesus Kristus. Berarti, Allah menyatakan kebenaran iman kepada semua orang baik orang Yahudi maupun bangsa kafir, hal ini dibuatnya untuk menunjukkan keadailan-Nya pada masa sekarang.
Jadi Allah itu adil, tidak membeda-bedakan Israel dengan kafir.

Roma 3:27-28
(3:27) Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!
(3:28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.

Sekali lagi saya katakan; manusia dibenarkan karena iman bukan karena ia melakukan hukum Taurat, bukan karena ia mengandalkan manusia dan kekuatannya, oleh sebab itu janganlah iman itu dilaksanakan (diamalkan) dengan memandang muka.
Memandang muka di tengah-tengah ibadah dan pelayanan = hidup di bawah hukum Taurat, berarti menjalankan ibadahnya secara Taurat.
Dahulu manusia dibenarkan karena hukum Taurat berarti yang dibenarkan dan diselamatkan hanyalah bangsa Israel, itu tidak adil, tidak fear.
Tetapi sekarang Tuhan menyatakan kebenaran karena iman, dibenarkan oleh karena darah Yesus.
Kenapa Tuhan melakukan itu? Maksudnya ialah, untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa sekarang.

Sekarang kita bandingkan dengan ibadah menurut hukum Taurat.
Ibadah taurat berarti ibadah yang dijalankan secara taurat atau ibadah secara lahiriah.
Yakobus 2:2-3
(2:2) Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
(2:3) dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",

Pendeknya; ibadah taurat itu terikat dengan perkara lahiriah yaitu harta dan kekayaan.
Menghormati orang kaya yaitu yang memakai cincin dan pakaian indah tetapi yang miskin tidak, itu ibadah Taurat, terikat dengan perkara lahiriah termasuk harta dan kekayaan.

Matius 23:16-18
(23:16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
(23:17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?
(23:18) Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi melayani tetapi terikat dengan perkara lahiriah yaitu emas yang ada di bait suci dan persembahan yang ada di atas mezbah.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi berkata; “Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.”
Kemudian; “Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.”
Berarti ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi melayani Tuhan tapi terikat dengan perkara lahiriah = ibadah Taurat.
Kalau seandainya mereka tidak menjalankan ibadah Taurat, ahli Taurat dan orang Farisi tidak mungkin terikat dengan perkara lairiah, mereka akan memperhatikan apa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus yaitu” Dia yang kaya rela menjadi miskin supaya manusia yang miskin menjadi kaya. Pendeknya, memperhatikan salib Kristus.
Sedangkan ibadah Taurat terikat dengan perkara lahiriah, tidak memperhatikan salib (Dia yang kaya rela menjadi miskin).
Kesimpulannya: melayani namun masih terikat dengan perkara lahiriah mengabaikan dua perkara penting, yaitu:
1.   Mengabaikan KESUCIAAN ALLAH.
2.   Mengabaikan KASIH ALLAH.
Kalau dua hal penting ini diabaikan pasti hidupnya tidak adil sekalipun ia beribadah dan melayani Tuhan.

Tentang: MENGABAIKAN KESUCIAN ALLAH.
YANG PERTAMA.
Imamat 19:1-3
(19:1) TUHAN berfirman kepada Musa:
(19:2) "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.
(19:3) Setiap orang di antara kamu haruslah menyegani ibunya dan ayahnya dan memelihara hari-hari sabat-Ku; Akulah TUHAN, Allahmu.

Bagian dari kesucian Allah:
a.   Menyegani ibunya dan ayahnya = menyegani gembala yang mengasuh dan mendidik.
Saya ini gembala, bapak rohani dari sidang jemaat, isteri saya adalah ibu gembala (ibu rohani) dari sidang jemaat.
Tugas seorang ibu; mengasuh anak.
Tugas seorang ayah; mendidik anak.
Jadi ibu dan ayah itu gambaran dari gembala sidang, tugasnya mengasuh dan mendidik, itu bagian dari kesucian Allah, jangan dilupakan dan jangan diabaikan begitu saja.
b.   Memelihara hari-hari Sabat.
Hari Sabat adalah hari ketujuh, hari perhentian dari segala kesibukan di atas muka bumi ini.
Tuhan menyatakan sepuluh hukum di dalam kitab Keluaran 20 dan di dalam kitab Ulangan 5.
Hari ketujuh (hari perhentian), kalau menurut Keluaran 20 supaya kita dapat mengikui contoh teladan dari Allah.
Kalau menurut kitab Ulangan 5, supaya kita terlepas dari perbudakan dosa seperti bangsa Israel pernah diperbudak di Mesir.
Inilah bagian dari kesucian Allah, memelihara hari Sabat.
Kesimpulannya; mengabaikan kesucian Allah berarti tidak menyegani seorang gembala yang mengasuh dan mendidik serta tidak menghargai ibadah dan pelayanan yang dipercayakan Tuhan. Itu kesimpulan mengabaikan kesucian Allah.

YANG KEDUA.
Imamat 11:44-47
(11:44) Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi.
(11:45) Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.
(11:46) Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi,
(11:47) yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan."

Inilah bagian dari kesucian Allah adalah jangan menajiskan diri dengan setiap binatang, berarti, memperhatikan hukum mengenai binatang yang berkaki empat.

Imamat 11:2-3
(11:2) "Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi:
(11:3) setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan.

Binatang berkaki empat yang tidak haram boleh dimakan, yaitu berkuku belah dua dan yang memamah biak.

Imamat 11:4-7
(11:4) Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
(11:5) Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
(11:6) Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.
(11:7) Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.

Binatang yang berkaki empat tapi haram:
a.   Unta, pelanduk, kelinci, memamah biak tetapi tidak berkuku belah.
b.   Babi hutan, berkuku belah tetapi tidak memamah biak.
Jadi babi hutan ini kebalikan dari unta, pelanduk, dan kelinci
Inilah binatang yang najis dan yang haram dari binatang berkaki empat, itu tidak boleh dijamah supaya tidak menjadi najis, sebab Tuhan kudus adanya.
Memamah biak artinya; merenungkan firman siang dan malam, seperti lembu sapi siang hari makan rumput, malam hari dikunya kembali, artinya; sampai firman itu mendarah daging.
Kuku belah dua artinya; menghargai karunia nabi dan karunia rasul.
-     Nabi = mewakili perjanjian lama.
-     Rasul = mewakili perjanjian baru..
Kesimpulannya; kalau hanya mengerti firman tetapi tidak melayani Tuhan = haram atau najis.
Sebaliknya, melayani Tuhan tetapi firman Tuhan diabaikan = haram dan najis di hadapan Tuhan.

Sebab mereka menjalankan ibadah Taurat, terikat dengan perkara lahiriah, sehingga kesucian itu diabaikan.
Bagian yang pertama tadi tidak menyegani gembalanya dan tidak menghargai ibadah pelayanan (hari sabat).
Kemudian bagian yang kedua, jangan menjamah, jangan memakan binatang berkaki empat yang haram, yaitu: memamah biak namun tidak berkuku belah dua atau sebaliknya berkuku belah dua namun tidak memamah biak.
Yang Tuhan mau supaya memperhatikan kekudusan Allah sebab Tuhan kudus adanya, berarti binatang yang berkaki empat yang boleh dimakan adalah: memamah biak dan berkuku belah dua.
Kalau hanya mengerti Firman Tuhan seperti ahli-ahli Taurat tapi tidak melayani Tuhan (tidak praktek) =  haram. Atau sebaliknya melayani namun firman diabaikan itu haram.
Inilah orang-orang yang mengabaikan kesucian Allah.

1 Petrus 1:15-16
(1:15) tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,
(1:16) sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Jadi kita dipanggil supaya kita hidup kudus dalam seluruh hidup sama seperti Allah kudus adanya, itu yang Tuhan mau.
Tuhan memanggil kita supaya hidup dalam kekudusan, tidak mengabaikan kekudusan seperti yang tertulis di dalam Imamat tadi.
Melayani tetapi terikat dengan perkara lahiriah, terikat dengan harta kekayaan, usaha dan kesibukan-kesibukan, pasti mengabaikan kesucian Allah.
Dua perkara tadi sudah saya sampaikan di atas dan sangat mengerikan kalau kesucian diabaikan.

1 Petrus 1:17
(1:17) Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.



Pendeknya; kudus dalam seluruh hidup adalah takut akan Tuhan.
Biarlah kiranya kita takut akan Tuhan membenci segala kejahatan, selama kita menumpang di dunia ini, sebab hidup di dunia ini tidak untuk selamanya.
Suatu saat nanti kita akan meninggalkan kemah, tubuh kita ini, dan akan beralih kepada kemah yang abadi (Tabernakel sorgawi), oleh sebab itu, selama menumpang di bumi, takutlah akan Tuhan berarti bencilah segala kejahatan, hiduplah dalam kekudusan Allah, karena kita hidup di bumi hanya sementara, kecuali apabila kita hidup selamanya di bumi, tidak apa-apa mengabaikan kesucian Allah.
Tetapi Tuhan itu adil, oleh sebab itu takutlah kepada Tuhan, bencilah kejahatan selama kita menumpang di bumi.

Tentang: MENGABAIKAN KASIH ALLAH.
Yohanes 3: 16-17
(3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
(3:17) Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, dengan bukti; Allah telah mengaruniakan (mengorbankan)  dan mempersembahkan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Allah tidak binasa.

Yohanes 3: 18-19
(3:18) Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
(3:19) Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Orang yang mengabaikan kasih Allah lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Yohanes 3: 20
(3:20) Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;

Orang jahat benci kepada terang dan tidak akan pernah datang kepada terang, tujuannya adalah supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak, tidak terlihat.
Kalau seseorang tidak jujur, pasti kegelapan yang memimpin hidupnya, sebaliknya, orang jujur dipimpin oleh ketulusan hatinya, serta terbuka, sebab ia datang kepada terang.

1 Yohanes 1: 8-10
(1:8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.
(1:9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1:10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

Praktek menyukai kegelapan ialah: tidak mau mengakui dosa.
Akibatnya:
-     Membuat Allah menjadi pendusta = menipu diri sendiri.
-     Firman-Nya tidak ada di dalam kita = kebenaran tidak ada di dalam kita.

Jadi orang-orang yang mengabaikan kasih Allah yang besar itu lebih suka kegelapan, benci kepada terang, karena perbuatannya jahat. Dia lebih suka kegelapan, supaya perbuatan jahatnya itu tidak terlihat, tidak nampak, inilah orang yang mengabaikan kasih Allah yang besar, dengan praktek tidak mau mengakui dosa.
Akibatnya; membuat Dia menjadi pendusta (Allah pendusta) = menipu diri sendiri, karena itu hal yang mustahil (Allah tidak pendusta). Kemudian, firman-Nya tidak ada di dalam kita atau kebenaran tidak tinggal di dalam kita.

Berbicara tentang Kerajaan Sorga, di dalamnya ada kebenaran, kalau kita mencarinya pasti semuanya ditambahkan. Kerajaan Sorga itu bukan soal makan, minum, pakaian, bukan soal perkara lahiriah, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita.
Oleh sebab itu jangan biarkan apa yang baik yang kita miliki difitnah oleh orang lain.

1 Yohanes 1: 5
(1:5) Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.

Tetapi Ia telah datang ke dunia sebab Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.

1 Yohanes 1: 6
(1:6) Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.

Ada dalam persekutuan dengan Dia, ada dalam kegiatan Roh, ada di tengah ibadah dan pelayanan, tetapi lebih menyukai kegelapan, sama dengan berdusta dan ia tidak hidup dalam kebenaran.

Yang sudah menyatakan diri ada di dalam persekutuan dengan Tuhan atau ada dalam kegiatan Roh, belajarlah untuk taat, setia, dengar-dengaran. Jangan mengabaikan kasih Allah yang besar. Jangan menyukai kegelapan, jangan benci terang.
Inilah yang terjadi apabila berada di bawah hukum Taurat, menjalankan ibadahnya secara Taurat, sehingga mengabaikan kesucian Allah dan mengabaikan kasih Allah yang besar.

Matius 23: 1-3
(23:1) Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
(23:2) "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
(23:3) Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa, artinya ahli Taurat dan orang Farisi melayani menurut hukum Taurat, mereka itu mengajar tetapi tidak melakukannya.

Matius 23: 4
(23:4) Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Ibadah dan pelayanan menurut hukum Taurat; mengajarkan salib tetapi mereka sendiri tidak mau memikul salib.
Tadi pada ayat 3; mereka mengajarkan tetapi tidak melakukan, itulah ibadah Taurat (ibadah lahiriah).
Kalau seorang gembala sidang atau hamba Tuhan hanya bisa kotbah, tetapi tidak melakukan, itu ibadah Taurat. Demikian juga sidang jemaat atau imam-imam beribadah dan melayani tetapi tidak melakukan Firman Tuhan   juga sama dengan ibadah Taurat (rutinitas) saja, tidak ada artinya.

Matius 23: 5-7
(23:5) Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
(23:6) mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
(23:7) mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Kalau beribadah dan melayani menurut hukum Taurat, maka semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang. Mereka beribadah, mereka melayani, tujuannya hanya untuk supaya dilihat orang.
Jadi mereka beribadah dan melayani bukan untuk memuliakan Tuhan tetapi untuk memuliakan diri sendiri, supaya terlihat hebat, supaya terlihat benar, supaya terlihat suci, itulah ibadah Taurat. Yang terlihat adalah hal-hal yang lahiriah saja untuk memuliakan diri sendiri, bukan untuk memuliakan Tuhan.

Sebagai contoh;
YANG PERTAMA: mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang
Berarti tidak sesuai dengan ukurannya Tuhan. Kalau Tabernakel, panjang sisi utara dan sisi selatan adalah 100 hasta, lebar sisi Timur dan Barat 50 hasta, itu ukuran yang Tuhan berikan kepada Musa.
Jadi Musa membangun Tabernakel harus tepat dan benar, harus sesuai dengan ukuran Tuhan.
Kalau ukuran menurut 100 hasta; domba-domba tergembala dengan baik.
Kalau ukuran menurut 50 hasta, maka kehidupan sidang jemaat Tuhan betul-betul hidup dalam urapan Roh Kudus. Itu ukuran yang benar.
Kalau ukurannya benar, maka semua peralatan-peralatan yang ada dalam Tabernakel, itu akan tersusun dengan rapi dan benar.

Efesus 2: 20-21
(2:20) yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
(2:21) Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
Antara bata dengan bata rapi tersusun menjadi bangunan Allah yang kudus di dalam Tuhan.
Perkataannya rapi tersusun, sikap dan perbuatannya rapi tersusun, segala sesuatunya rapi tersusun, ibadah dan pelayanan yang dikerjakan rapi tersusun, tidak asal-asalan, mengapa? Karena Bait Allah (Tabernakel) dibangun menurut ukuran Tuhan.

Efesus 2: 22
(2:22) Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Musa membangun Tabernakel sesuai dengan perintah Tuhan supaya Allah berhadirat di dalamnya. Di luar Tabernakel, Allah tidak memerintah lagi.
Kiranya Tuhan menjadi Raja dan berkuasa, berdaulat atas hidup kita sekaliannya sebagai Tabernakel rohani, rumah Tuhan.

Sebagai contoh:
YANG KEDUA: suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat, berarti sama dengan mengambil rupa seorang tuan, karena mengambil tempat yang tinggi = menyombongkan diri.

Sebagai contoh;
YANG KETIGA: mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi
Kalau suka menerima penghormatan di pasar, berarti tidak suka menghormati Tuhan, maka orang seperti ini tidak akan pernah memuliakan Tuhan.
Kemudian, suka dipanggil Rabi, berarti tidak mau belajar kepada Tuhan, sebagai guru Agung.
Kalau suka menerima penghormatan berarti posisinya selalu berada di tempat yang tinggi, tidak akan mau mengambil tempat di bawah, merendahkan diri.
Kalau suka dipanggil Rabi, tidak suka diajar oleh salib, sebaliknya suka mengajar. Sebetulnya guru hanya satu, Dialah Yesus Tuhan, Dialah Rabi.
Oleh sebab itu dalam Suratan Yakobus dengan jelas dikatakan; jangan ada di antara kamu yang disebut menjadi guru, karena masih banyak kesalahan kita, kita butuh untuk diajar.

Sekarang kita perhatikan ...
Matius 15: 7-9
(15:7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:
(15:8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
(15:9) Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Ibadah Taurat adalah ibadah yang dijalankan menurut perintah manusia, yaitu mulut memuliakan Tuhan, tetapi hatinya jauh dari Tuhan = mempersembahkan tubuh jasmani tetapi manusia batiniah tidak mempersembahkan kepada Tuhan.
Tuhan berkata: “Percuma mereka beribadah kepada-Ku” Jadi ibadah yang Taurat adalah ibadah yang sia-sia, ibadah yang tidak mengandung arti.

Dari tahun ke tahun, yang sudah tergembala harus terjadi keubahan, terjadi pembaharuan, mulai dari pembaharuan akal budi (memiliki akal yang sehat) = memiliki hikmat, kegunaannya: dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Kemudian terjadi pembaharuan manusia batiniah. Kalau pembaharuan manusia batiniah terjadi, maka manusia lahiriahnya semakin merosot. Sebaliknya kalau manusia lahiriahnya yang menonjol, manusia batiniahnya merosot. Berarti kalau tidak terjadi pembaharuan manusia batiniah = lahiriahnya menonjol.

Ada di antara kita beribadah dari tahun ke tahun tetapi manusia batiniah justru semakin merosot hanya karena perkara lahiriah. Ini tidak benar, ini ibadah Taurat, hidupnya tidak adil. Hanya memperhatikan perkara lahiriah; harta dan kekayaan, pekerjaan dan kesibukan di bumi ini.
Padahal di bumi ini kita hanya hidup sementara, hanya sebagai penumpang dan kita akan meninggalkan kemah (tubuh) ini untuk berada dalam kemah yang abadi, Tabernakel sorgawi.
Biarlah kiranya kita senantiasa menghirup darah banyak-banyak, seperti anak burung rajawali.

Burung rajawali senantiasa membaharui kuatnya, mengapa? Karena dia memiliki pandangan yang tajam, memandang jauh ke depan, tidak hanya memandang ke bawah, itu pikiran yang pendek. Dan burung rajawali membuat sarangnya di tempat yang tinggi, bukit batu yang tinggi. Bukit batu itulah korban Kristus, berarti  senantiasa meninggikan korban Kristus di dalam segala perkara. Inilah ibadah dan pelayanan menurut kasih karunia.
Awalnya kebenaran itu dinyatakan menurut hokum Taurat, namun yang diselamatkan hanya bangsa Israel, tetapi pada akhirnya Tuhan menyatakan kebenaran iman oleh darah salib, maksudnya untuk menunjukkan keadilan-Nya.
Pada akhirnya setelah Naomi disadarkan, dia berlaku adil kepada kedua menantunya; Orpa dan Rut.

Kita kembali memperhatikan ...
Rut 1: 8-9
(1:8) berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;
(1:9) kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras

Jadi praktek keadilan itu sudah ditunjukkan, dibuktikan oleh Naomi. Sebab dalam doa dia berharap, supaya kedua menantunya itu mendapatkan kebaikan dan kasih dari Tuhan. Kemudian masing-masing nanti mendapat tempat perlindungan di rumah suaminya.

Doakan, supaya saya juga menjadi hamba Tuhan, gembala sidang yang adil di hadapan Tuhan, tidak membeda-bedakan antara sidang jemaat si A dan si B, tidak memandang muka, tidak hanya melihat harta tetapi juga harus memperhatikan orang miskin.
Yesus, Dia rela menjadi miskin, supaya kita menjadi kaya. Naomi dalam doanya dia berharap kepada Tuhan, supaya kedua menantunya mendapat kebaikan dan kasih, masing-masing mendapat perlindungan di tempat suaminya nanti.

Kalau hanya berbicara soal mujizat dan berkat, itu belum adil. Praktek jikalau seorang hamba Tuhan memiliki sikap yang adil: mendambakan kebaikan dan kasih Allah, mendambakan supaya kedua menantunya mendapat perlindungan masing-masing di rumah suaminya.
Itu sebabnya saya katakan, sasaran akhir dari ibadah dan pelayanan kita di atas muka bumi  ini adalah pesta nikah Anak Domba.

Saya tandaskan sekali lagi; kalau hamba Tuhan hanya berbicara tentang berkat-berkat, hanya berbicara mujizat, hanya berbicara perkara lahiriah, perkara di bawah, Ia belum adil.
Keadilan itu membawa sidang jemaat masuk dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna, menjadi pengantin perempuan Mempelai Anak Domba, berada dalam pesta nikah Anak Domba. Di situlah nanti kita mendapatkan kebahagiaan dan kasih dari Mempelai Laki-Laki Sorga, sang Suami yang abadi.
Beda dengan Elimelekh, Mahlon dan Kilyon, suami tetapi tidak berlaku adil, pikirannya hanya tertuju pada perkara lahiriah, dia rela tinggalkan Betlehem, dia rela tinggalkan rumah roti.
Yesus adalah roti hidup, roti yang turun dari sorga. Untuk mewujudkan Dia adalah roti hidup, Dia mempersembahkan segenap hidup-Nya di atas kayu salib, menjadi korban dan persembahan, sehingga tubuh-Nya adalah benar-benar makanan, darah-Nya adalah benar-benar minuman.

Lalu diciumnyalah mereka, Naomi mencium kedua menantunya, suatu kebahagiaan dikala kasih bertemu dengan kasih, di situlah kebahagiaan itu terjadi; Kulit pipi bertemu kulit pipi, itu adalah kasih yang kita rasakan, di situ nanti kita mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Jadi nampaklah keadilan itu.
Kalaupun ada mujizat, tidak salah, memang itu harus terjadi, tetapi belum menjadi tolak ukur. Kalau ada berkat-berkat melimpah mengikuti kita, memang itu harus terjadi, tetapi belum menjadi ukuran bahwa hamba Tuhan itu adil di tengah ibadah pelayanan.
Praktek keadilan itu membawa sidang jemaat masuk dalam pembangunan tubuh Kristus yang sempurna, sampai mengalami kebahagiaan. Ketika kasih bertemu dengan kasih Allah (pipi bertemu pipi) yang abadi itu, di situlah terjadi kebahagiaan yang kekal.
Jangan ditipu dengan kasih eros dan fileo, di situ ada penindasan dan tekanan. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang



No comments:

Post a Comment