KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Thursday, June 14, 2018

IBADAH KENAIKAN YESUS KRISTUS 10 MEI 2018




IBADAH KENAIKAN YESUS KRISTUS 10 MEI 2018

Subtema: “TAAT SAJA, SEBAB IA ADALAH YEHOVA JIREH”.

Shalom saudaraku.
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua oleh karena kemurahan hati Tuhan kita dimungkinkan untuk melangsungkan ibadah yaitu memperingati hari Kenaikan Yesus Kristus 2018 tahun yang lalu.
Tuhan memberi kesempatan pada tahun ini, itu adalah suatu kemurahan bagi kita, supaya dimana nanti Dia berada disitu juga kita berada. Tuhan sedang menyiapkan tempat bagi kita sekaliannya sesudah Dia menyediakannya Dia akan kembali untuk menjemput kita kembali.
Saya juga menyapa anak-anak Tuhan, umat Tuhan, hamba Tuhan yang juga sedang mengikuti pemberitaan firman lewat live streaming atau video internet di dalam ataupun di luar negeri, kiranya Tuhan memberkati kita sekaliannya.

Segera kita memperhatikan firman untuk Ibadah Kenaikan Yesus Kristus ke sorga.
Terlebih dahulu saya dengan segala kerendahan hati memohon supaya kita sekaliannya dengan segala doa dan permohonan kita naikkan kepada Tuhan disertai dengan kerendahan hati, supaya kiranya Tuhan membukakan firman-Nya, supaya nanti tergenapi firman-Nya dalam kehidupan kita sehingga apa yang dialami Yesus Kristus itu juga yang menjadi pengalaman kita.
Sesudah Dia mati pada hari ketiga Dia bangkit kemudian empat puluh hari kemudian Dia naik ke sorga, itu juga kiranya menjadi bagian kehidupan kita pribadi lepas pribadi sehingga pengikutan dan pengiringan kita kepada Tuhan tidak menjadi sia-sia, ibadah yang kita ikuti dalam penggembalaan GPT “Betania” ini mengandung kuasa baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Kita berdoa bersama-sama, kita rindukan kemurahan Tuhan untuk menolong kita lewat pembukaan firman.

Pertama-tama yang harus diketahui bahwa pribadi Yesus Kristus yang seutuhnya ditulis di dalam Injil. Injil -> MATIUS, MARKUS, LUKAS YOHANES. Tetapi yang menuliskan kisah tentang kenaikan Yesus Kristus hanyalah INJIL MARKUS dan INJIL LUKAS.
Terlebih dahulu kita memperhatikan, Injil Markus ...
Markus 16:19
(16:19) Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

Kemudian ...
Lukas 24:50-52
(24:50) Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka.
(24:51) Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.
(24:52) Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.

Tetapi yang menuliskan tentang kisah kenaikan Yesus Kristus hanyalah Injil Markus dan Injil Lukas.
Tadi dua ayat itu sudah kita baca, tidak perlu saya terangkan, tetapi yang pasti inti dari pada ayat yang kita baca pada Injil MARKUS dan Injil LUKAS adalah Yesus naik atau terangkat ke sorga.
Sedangkan INJIL MATIUS dan INJIL YOHANES tidak menuliskan kisah tentang kenaikan Yesus Kristus ke sorga, namun dibalik semua ini tentu Tuhan punya maksud yang baik untuk segera kita ketahui.

Mari kita selidiki ...
Terlebih dahulu kita mengenal Injil.
Adapun Injil itu antara lain;
-     Injil Matius menggambarkan kewibawaan dan keagungan Yesus sebagai RAJA.
Itu dapat dl ihat dari ciri penulisan dari Injil Matius yang diawali dengan silsilah Yesus Kristus sebagai Anak Daud, Anak Abraham, silsilah ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Raja.
-     Injil Markus menggambarkan kebangkitan Yesus sebagai HAMBA.
Sesuai dengan ciri penulisan Injil Markus diawali dengan kisah pelayanan seorang hamba yaitu Yohanes pembaptis.
-     Injil Lukas menggambarkan sengsara Yesus sebagai MANUSIA.
Sesuai dengan ciri penulisan Injil Lukas di dalamnya banyak kisah manusia dengan sengsara yang dialaminya.
-     Injil Yohanes menggambarkan keadilan dan kebenaran Yesus sebagai ANAK ALLAH.
Sesuai dengan ciri penulisan Injil Yohanes diawali dengan menampilkan pribadi Yesus sebagai firman Allah, jadi kita tidak perlu ragu soal itu.

Kemudian EMPAT INJIL ini kita kaitkan dengan EMPAT MAKHLUK di dalam kitab Wahyu untuk lebih mengenal Injil Markus dan Injil Lukas, mengapa mereka menuliskan kisah tentang kenaikan Yesus sedangkan Injil Matius dan Inji Yohanes tidak menceritakan tentang kenaikan Yesus Kristus.
Ini yang perlu kita selidiki malam ini.

Kita lihat dulu itu ...
Wahyu 4:7
(4:7) Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang.

Di sini kita melihat ada empat makhluk;
-     Makhluk yang pertama sama seperti SINGA.
-     Makhluk yang kedua sama seperti ANAK LEMBU.
-     Makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti MUKA MANUSIA.
-     Makhluk yang keempat sama seperti BURUNG NASAR yang sedang terbang.
Kita sudah melihat keempat makhluk dengan keadaannya, sekarang kita kaitkan empat Injil tadi dengan empat makhluk supaya kita mengerti kenapa Injil Markus dan Injil Lukas menuliskan tentang kenaikan Yesus Kristus ke sorga sedangkan Injil Matius dan Injil Yohanes tidak.

Kita kaitkan antara EMPAT INJIL dan EMPAT MAKHLUK;
-     Injil Matius -> makhluk yang pertama sama seperti SINGA.
Menggambarkan bahwa Yesus adalah Raja, sebab Dialah tunas Daud, singa dari suku Yehuda.
Injil Matius menceritakan tentang silsilah Yesus, anak Daud, anak Abraham, berarti Yesus Raja Dialah singa dari suku Yehuda.
-     Injil Markus -> makhluk yang kedua sama seperti ANAK LEMBU.
Menggambarkan kebangkitan Yesus sebagai hamba.
Tugas hamba; membawa korban dan persembahan atau melayani Tuhan, sama seperti lembu fungsinya hanya untuk dipersembahkan dan melayani saja.
-     Injil Lukas -> makhluk yang ketiga sama seperti MUKA MANUSIA.
Menggambarkan sengsara yang dialami Yesus sebagai manusia.
Sebagai manusia Yesus banyak menanggung penderitaan.
-     Injil Yohanes -> makhluk yang keempat sama seperti BURUNG NASAR yang sedang terbang. Menggambarkan keadilan dan kebenaran Yesus sebagai Anak Allah.

Pendeknya;
-     Injil Matius berbicara tentang Yesus sebagai Raja, sekarang Ia duduk di atas takhta-Nya itu sebabnya Ia tidak perlu menceritakan kenaikan Yesus Kristus.
-     Injil Yohanes menceritakan keadilan dan kebenaran Yesus sebagai Anak Allah bagaikan burung nasar yang sedang terbang di udara, Ia adalah anak Allah yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Itu sebabnya Injil Yohanes tidak perlu menceritakan kenaikan Yesus Kristus ke sorga.
Kesimpulannya; Injil Markus dan Injil Lukas menceritakan tentang kenaikan Yesus Kristus itu adalah tanda perhatian khusus kepada seorang hamba yang sedang bekerja untuk Tuhan, melayani Tuhan (Injil Markus). Kemudian perhatian khusus bagi mereka atau umat Tuhan yang sedang mengalami sengsara karena memikul salibnya (Injil Lukas).
Maka sudah jelas sekali kita tidak perlu ragu, sehingga Injil Matius dan Injil Yohanes tidak perlu menceritakan tentang kenaikan Yesus Kristus ke sorga.

Sekarang kita berdoa, kita memperhatikan secara khusus tentang Injil Markus menggambarkan kebangkitan Yesus sebagai hamba, kemudian Injil Lukas menggambarkan sengsara Yesus sebagai manusia.
Ini yang harus diperhatikan, supaya kita juga nanti naik ke sorga dan Dia sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Dimana Ia berada disitupun kita berada, sesuai dengan janji firman-Nya. Maka kita akan selidiki Injil Markus dan Injil Lukas ini, kita sama-sama berdoa.

Tentang: Anak lembu (makhluk yang kedua) -> INJIL MARKUS = kebangkitan Yesus sebagai hamba.
Anak lembu ini menunjukkan keberadaan seorang hamba dan kewajibannya di hadapan Tuhan.
Kita ikuti pelan-pelan supaya kita juga mendapat perhatian khusus, sekarang terkhusus mengenai Injil Markus anak lembu itu adalah keberadaan seorang hamba dan kewajibannya kepada Tuhan.

Imamat 16:11, 14-16
(16:11) Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu.
(16:14) Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali.
(16:15) Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu.
(16:16) Dengan demikian ia mengadakan pendamaian bagi tempat kudus itu karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka, apa pun juga dosa mereka. Demikianlah harus diperbuatnya dengan Kemah Pertemuan yang tetap diam di antara mereka di tengah-tengah segala kenajisan mereka.

Seorang Imam Besar sekali setahun masuk ke Ruangan Maha suci untuk mengadakan pendamaian dosa dengan membawa darah lembu jantan dan domba jantan lalu dari darah itu ia memerciki tujuh kali percikan di atas tutup pendamaian dengan jarinya dibagian muka, dan tujuh percikan di depan tabut perjanjian untuk mengadakan pendamaian dosa bagi tempat kudus karena segala kenajisan orang Israel dan karena segala pelanggaran mereka apapun dosa mereka.

Kita lihat dulu tabut perjanjian





2 Korintus 5:18-19
(5:18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
(5:19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Yesus Kristus Dialah Imam Besar Agung tugas-Nya adalah untuk memperdamaikan dosa manusia kepada Allah.

2 Korintus 5:21
(5:21) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Untuk memperdamaikan dosa manusia kepada Allah maka Yesuslah yang harus menjadi korban, itulah tugas pendamaian yang dipercayakan oleh Tuhan kepada seorang hamba sebagai seorang pelayan Tuhan.
Dia yang benar dijadikan dosa supaya yang berdosa menjadi benar, itulah korban pendamaian.

Ibrani 4:14
(4:14) Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Teguh berpegang pada pengakuan iman kita, jangan kepada pekerjaan, jangan kepada uang, jangan kepada kedudukan dan jabatan, jangan kepada harta, jangan kepada ijazah yang tinggi, tapi teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Ibrani 4:15-16
(4:15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
(4:16) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Yesus adalah Imam Besar Agung, sebagai Imam Besar Ia turut merasakan kelemahan-kelemahan kita.
Sebetulnya Dia sama seperti manusia, Ia telah dicobai hanya tidak berbuat dosa, itulah seorang Imam Besar yang sejati tugasnya memperdamaikan dosa manusia kepada Allah.
Dia merasakan kelemahan-kelemahan orang lain, kemudian Ia telah dicobai hanya tidak berbuat dosa, berbeda dengan orang yang belum mengerti pelayanan ketika sedikit dicobai langsung bersungut-sungut, ngomel, bahkan berselisih dengan sesama.
Tugas seorang imam (seorang pelayan Tuhan) adalah untuk memperdamaikan dosa  manusia,
maka seorang imam harus membawa berita pendamaian, yaitu: turut merasakan kelemahan orang lain, kemudian saat dicobai Ia tidak berbuat dosa, tidak bersungut-sungut, tidak ngomel dan lain sebagainya.

Ibrani 5:1-2
(5:1) Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.
(5:2) Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan,

Seorang Imam Besar yang telah dipilih untuk mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa,  maka ia harus mengerti orang-orang yang jahil, dan orang-orang sesat.
Orang jahil adalah orang yang berbuat seenaknya sendiri, tidak peduli dengan orang lain, yang penting puas hatinya.
Orang sesat, berarti ia mengambil jalannya sendiri, seperti seekor domba tersesat di padang gurun sedangkan sembilan puluh sembilan tinggal di atas gunung penggembalaan. Kenapa yang satu ini sesat? Karena ia mengambil jalannya sendiri, liar tidak tergembala. Tetapi itupun seorang imam besar harus mengerti orang-orang yang sesat.
Jadi salah kaprahlah kalau seorang imam hanya untuk tampil-tampil di depan sidang jemaat, unjuk gigi atau unjuk kebolehan dengan kemampuan, potensi sesuai dengan yang ia miliki.

Ibrani 7:24-25
(7:24) Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain.
(7:25) Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Yesus sebagai Imam Besar Agung imamat-Nya itu tidak dapat beralih kepada orang lain, tidak diwakilkan oleh orang lain. Kita dapat melihat alasannya karena Ia sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah, sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
Kemudian, sebagai Imam Besar yang saleh, tanpa salah, tanpa noda kemudian terpisah dari orang-orang berdosa, dan lebih tinggi dari tingkat-tingkat sorga, itu sebabnya sebagai Pengantara Ia mampu menyelamatkan manusia berdosa dengan sempurna.

Jangan sampai menggabungkan diri dengan orang-orang berdosa, sudah tahu kumpulan peminum pemabuk lalu duduk disitu minum mabuk merokok dan sebagainya, kan itu bodoh.
Barangkali belum melayani Tuhan tapi paling tidak terpisahlah dari dosa, supaya nanti pelan-pelan kita bisa diangkat di tempat yang tinggi menjadi suatu kerajaan bagi Dia dan imam-imam bagi Allah, melayani Dia.
Sama seperti imam-imam Lewi sejak penyembahan berhala anak lembu emas tuangan itu mereka berpihak kepada Tuhan. Ketika itu Musa memerintahkan mengambil pedang mereka lalu membunuh setiap orang baik tetangga, baik sahabat, baik saudaranya.
Malam ini sekalipun kita belum melayani Tuhan sandanglah pedang Roh, firman Allah, bunuh tabiat-tabiat daging jangan turuti tabiat daging saudaramu, tetanggamu, sesamamu, berpihaklah kepada Tuhan.
Barangkali ada yang belum melayani tetapi paling tidak berpihak dulu kepada Tuhan.

Kita kembali membaca ...
2 Korintus 5:18-19
(5:18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.
(5:19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Kepada seorang utusan dipercayakan untuk membawa berita pendamaian.
Dimanapun kita diutus bawalah berita pendamaian, jadilah perantara antara manusia dengan Allah berarti menjadi korban pendamaian bagi Allah, menjadi korban untuk menyelamatkan sesama dimanapun kita berada, bawalah berita pendamaian itu.

Kemudian, kembali kita membaca ...
Ibrani 5:1
(5:1) Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.

Setiap imam besar yang dipilih dari antara manusia ditetapkan bagi manusia dalam hubungan manusia dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa sesama.
Kita juga diutus untuk membawa berita pendamaian, untuk mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa sesama.

Ada tujuh hari raya bangsa Israel, hari raya pendamaian adalah hari raya keenam, sedangkan hari raya ketujuh adalah hari raya pondok daun atau hari raya tabernakel sorgawi, perhentian kekal.
Jadi, untuk masuk kepada hari perhentian kekal, hari raya ketujuh (pondok daun), terlebih dahulu berdamai dengan Allah.

Imamat 16:3-4
(16:3) Beginilah caranya Harun masuk ke dalam tempat kudus itu, yakni dengan membawa seekor lembu jantan muda untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran.
(16:4) Ia harus mengenakan kemeja lenan yang kudus dan ia harus menutupi auratnya dengan celana lenan dan ia harus memakai ikat pinggang lenan dan berlilitkan serban lenan; itulah pakaian kudus yang harus dikenakannya, sesudah ia membasuh tubuhnya dengan air.

Jadi seorang Imam Besar ketika membawa darah lembu jantan dan darah domba jantan sebagai korban bakaran sebagai korban pendamaian maka ia harus mengenakan kemeja lenan yang kudus dengan ikat pinggang lenan serta berikatkan serban lenan, semua serba lenan halus, itu pakaian kudus yang harus kenakannya. Seorang Imam Besar tidak boleh sembarangan masuk ke tempat kudus.

Tentang: LENAN HALUS.
Pakaian imam besar bisa kita temukan dalam Keluaran 28, terdiri dari tiga bagian, yaitu:
Yang pertama; BAJU EFOD.
Keluaran 28:6
(28:6) Baju efod itu harus dibuat mereka dari emas, kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: buatan seorang ahli.
Yang kedua; GAMIS BAJU EFOD.
Keluaran 28:31
(28:31) Haruslah kaubuat gamis baju efod dari kain ungu tua seluruhnya.

Yang ketiga; LENAN HALUS YANG ADA RAGINYA.
Keluaran 28:39
(28:39) Haruslah engkau menenun kemeja dengan ada raginya, dari lenan halus, dan membuat serban dari lenan halus dan haruslah kaubuat ikat pinggang dari tenunan yang berwarna-warna.

Tadi pakaian seorang Imam Besar terdiri dari tiga jenis;
1.   Baju efod -> KEMATIAN Yesus Kristus.
2.   Gamis baju efod -> KEBANGKITAN Yesus Kristus.
3.   Lenan halus -> KEMULIAAN Yesus Kristus.
Jadi setelah Yesus MATI, hari ketiga Ia BANGKIT, empat puluh hari kemudian Yesus NAIK ke sorga, itulah arti lenan halus.

Kita kembali membaca ...
Imamat 16:2, 4
(16:2) Firman TUHAN kepadanya: "Katakanlah kepada Harun, kakakmu, supaya ia jangan sembarang waktu masuk ke dalam tempat kudus di belakang tabir, ke depan tutup pendamaian yang di atas tabut supaya jangan ia mati; karena Aku menampakkan diri dalam awan di atas tutup pendamaian.
(16:4) Ia harus mengenakan kemeja lenan yang kudus dan ia harus menutupi auratnya dengan celana lenan dan ia harus memakai ikat pinggang lenan dan berlilitkan serban lenan; itulah pakaian kudus yang harus dikenakannya, sesudah ia membasuh tubuhnya dengan air.

Seorang Imam Besar tidak boleh sembarangan masuk ke Ruang Maha Kudus, ia harus mengenakan lenan halus.
Memakai kain lenan halus -> Tanda di dalam kemuliaan.
Itulah perhatian Tuhan kepada seorang hamba dengan kewajiban menjadi korban pendamaian juga kelak akan turut dipermuliakan naik ke sorga seperti seorang Imam Besar masuk ke Ruangan Maha Suci hanya dengan mengenakan pakaian putih.

Yesus telah naik ke sorga Ia telah menanggalkan baju efod yaitu pengalaman KEMATIAN, Ia tanggalkan gamis baju efod pengalaman KEBANGKITAN, sekarang Ia NAIK dengan memakai LENAN HALUS di belakang tabir (Ruangan Maha Suci), sekarang Ia berada di sorga duduk di sebelah kanan Allah Bapa, itulah lenan halus.
Tetaplah membawa berita pendamaian supaya kelak dipermuliakan, itulah perhatian Tuhan terkhusus kepada seorang hamba dengan kewajibannya di hadapan Tuhan, kelak dipermuliakan.
Itu sebabnya Injil Matius dan Injil Yohanes tidak menceritakan kenaikan Yesus, tapi khusus Injil Markus menceritakan tentang kenaikan Yesus Kristus, dia juga akan dipermuliakan asal turut masuk dalam pengalaman Yesus.
Yesus mati pada hari ketiga bangkit empat puluh hari kemudian Ia naik (dipermuliakan) seperti seorang imam besar sekali setahun masuk ke dalam Ruangan Maha Suci untuk mengadakan pendamaian dosa dengan mengenakan lenan halus.

Malam ini perhatian khusus kepada seorang hamba supaya kita tetap membawa berita pendamaian kelak kita akan dipermuliakan, Yesus telah naik ke sorga kita juga naik ke sorga.

Tentang: Muka seperti muka manusia (makhluk yang ketiga) = injil LUKAS -> sengsara Yesus  sebagai manusia.
Kita sudah lihat perhatian Tuhan kepada seorang hamba sekarang kita lihat perhatian Tuhan kepada umat-Nya, umat manusia dengan sengsara yang diderita itulah sengsara salib.

Filipi 2:8
(2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Dalam keadaan sebagai MANUSIA, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib, itulah keadaan Yesus sebagai manusia.
Pendeknya, sebagai manusia Yesus banyak menanggung penderitaan.
Maka salib bagi orang Kristen tidak asing sebetulnya, tetapi di hari-hari terakhir ini, salib menjadi sandungan.
Tadi sebagai manusia Dia merendahkan diri kemudian taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib.
Kita lihat pribadi yang taat dalam satu kisah dalam Kejadian 22:1-2.

Kita lihat dulu taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib.
Kejadian 22:1
(22:1) Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."

Tuhan memanggil Abraham, lalu Abraham menjawab “Ya, Tuhan.”
Jadi bukan  “oh ya”, atau “ok” tapi “Ya, Tuhan” kalau berbicara hati-hati, kalau bicara biasakan rendah (di bawah) dan apa adanya,  tidak usah meninggikan diri, sederhana saja.

Kejadian 22:2-3
(22:2) Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
(22:3) Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

Tuhan memerintahkan Abraham supaya mempersembahkan Ishak (anak satu-satunya) sebagai korban bakaran kepada Tuhan.
Lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya ayat 3.

Kejadian 22:4-6
(22:4) Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
(22:5) Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."
(22:6) Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

Hari ketiga mereka telah melihat gunung Moria tempat untuk mempersembahkan korban bakaran.
-     Ishak memikul kayu dibahunya untuk korban bakaran.
-     Sedangkan di tangan Abraham ada api dan pisau.
Kayu yang dipikul oleh Ishak itu menunjuk salib, seperti yang telah dituliskan dalam Filipi 2:8, sebagai manusia Ia telah merendahkan diri-Nya bahkan taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib.
Sementara di tangan Abraham ada dua alat yaitu pisau dan api.
Pisau itu menunjuk pada firman Allah, sedangkan api itu menunjuk Roh Allah yang menyala-nyala.
Di sini kita akan melihat suatu hal yang sangat menarik, soal taat sampai mati.

Kejadian 22:7
(22:7) Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"

Setelah tiba di tujuan, bertanyalah Ishak kepada Abraham; ”Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
Ini suatu pertanyaan tetapi membuat hati saya terharu karena ia tidak tahu bahwa nanti Abraham (ayahnya)  akan mempersembahkan dia sebagai korban bakaran bagi Allah. inilah ketulusan yang terpancar dari Ishak ia taat memikul salib, taat saat menanggung penderitaan, sengsara karena salib, aniaya karena firman, sedikitpun tidak memberontak, dia taat.

Apa bukti ketaatannya kepada bapa?
Kejadian 22:8
(22:8) Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
Lalu jawab Abraham; "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku."
Saudaraku, kita tidak perlu pakai logika, kita tidak perlu menggunakan pikiran manusia daging saat menangung penderitaan yang terpenting adalah taat saja. Soal ini dan itu Tuhan yang akan menyediakan.
Waktu kita taat memikul salib, dan aniaya karena firman itu bukan karena kita bodoh.

Kita lihat dulu ...
Kita belajar memahami Tuhan, mengerti rencana-Nya.
Ibrani 5:7-8
(5:7) Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
(5:8) Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,

Sekalipun Ia adalah anak Allah tetapi Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, tidak bersungut-sungut, tidak ngomel, tidak menggunakan pemikiran logika manusia daging, yang penting taat dengan apa yag diderita.
Belajar untuk menuntut ilmu tidak salah, mengerti ini itu tidak salah, tetapi ada yang lebih penting dari semua perkara di bumi ini, yaitu belajar taat dari apa yang telah diderita.

Kejadian 22:8-10
(22:8) Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
(22:9) Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
(22:10) Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

Ternyata yang akan dipersembahkan sebagai korban bakaran kepada Allah adalah Ishak.
Namun pada saat Abraham hendak menyembelih, Ishak tidak memberontak, tidak ada sedikitpun persungutan dalam mulut, dan tidak menyalahkan Abraham, tidak menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan situasi kondisi yang ada, tetap berdiam.

Hasil dari ketaatan kepada Tuhan:
Kejadian 22:11-14
(22:11) Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."
(22:12) Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."
(22:13) Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
(22:14) Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Yang terpenting adalah taat saja, dibalik ketaatan itu nanti Tuhan menyediakan segala sesuatu.
Bagian kita taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib, bagian Tuhan adalah menyediakan segala sesuatu.
Sebagai seorang suami taat, sebagai seorang isteri taat, sebagai seorang anak taat, sebagai seorang imam taat, sidang jemaat taat nanti Tuhan yang menyediakan segala sesuatu.
Bagian kita ialah: TAAT, sedangkan bagian Tuhan ialah MENYEDIAKAN.
Di atas gunung Tuhan semuanya disediakan sebab Dia adalah Yehova Jireh, tabiatnya sesuai dengan nama-Nya.

Pertanyaannya; ukuran taat sampai dimana?
Filipi 2:8
(2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ukuran taat ialah, TAAT SAMPAI MATI BAHKAN SAMPAI MATI DI ATAS KAYU SALIB = SETIA.
Pelayanan Yesus tidak berhenti hanya sebatas mengadakan mujizat, menyembuhkan yang sakit, bukan sebatas itu tapi pelayanan Yesus di atas muka bumi ini selama tiga tahun setengah adalah Ia taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib. Pendeknya, ukuran ketaatan kita kepada Tuhan adalah sampai mati = setia.

Amsal 20:6
(20:6) Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?

Banyak orang mengklaim dirinya baik hanya karena berbuat baik, tapi orang setia siapakah yang dapat menemukannya?
Sangat sukar sekali seseorang menjadi setia, tapi untuk berbuat baik semua orang bisa walaupun sukar.
Taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib = setia, itu yang Tuhan mau.
Itulah perhatian khusus kepada hamba dan kewajibannya kemudian kepada manusia dengan sengsara yang dialaminya, sudah terjawab.
Kuncinya adalah SETIA, sampai pada akhirnya Ia datang kembali dan menemukan kita tetap SETIA.
Tinggal dari pihak kita mau melakukannya atau justru acuh tak acuh atau bermasa bodoh, sehingga ibadah ini menjadi rutinitas.
Dan malam ini berbahagialah yang membaca, yang mendengar dan yang menuruti karena Dia akan dibela, dipelihara dan diselamatkan sampai Tuhan datang pada kali yang kedua.
Seperti Tuhan menyelamatkan seorang hamba dan kewajibannya, kemudian memperhatikan manusia dengan sengsara karena salib, aniaya karena firman demikian Tuhan terhadap kita. Amin.



TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang