KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Friday, June 15, 2018

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 11 MEI 2018



IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 11 MEI 2018

KITAB RUT

(Seri: 13)

Subtema: PENGALAMAN PAHIT TOLAK UKUR YANG SALAH.

Shalom saudaraku...
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua. Oleh karena kemurahan hati Tuhan kita diperkenankan untuk melangsungkan Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan Suci. Saya juga tidak lupa menyapa umat Tuhan, anak-anak Tuhan, hamba-hamba Tuhan di dalam maupun di luar negeri yang juga mengikuti pemberitaan firman lewat live streaming atau video internet, kiranya Tuhan memberkati kita sekaliannya. Segera kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab dari kitab Rut.

Rut 1:8-12
(1:8) berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;
(1:9) kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras
(1:10) dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu."
(1:11) Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti?
(1:12) Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki,

Naomi berkata: Pulanglah kepada kedua menantunya yaitu Orpa dan Rut sebanyak tiga kali, yaitu;
1. Rut 1:8
2. Rut 1:11
3. Rut 1:12
Perkataan pulanglah menunjukkan bahwa Naomi berusaha menghentikan keinginan kedua menantunya untuk mengikuti dia. Pendeknya, Naomi adalah gambaran dari seorang gembala yang tidak mau direpotkan.

Yohanes 10:1-2
(10:1) "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;
(10:2) tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

Seorang hamba Tuhan yang sudah menerima jabatan gembala atau menjadi gembala dari sekawanan domba,  terlebih dahulu ia harus melalui pintu. Maka, menjadi gembala tapi melepaskan diri dari tanggung  jawab itu tidak benar seperti Naomi tadi. Maka untuk menjadi seorang gembala tetapi tidak mau direpotkan, tidak mau dilibatkan dalam segala perkara, melepaskan diri dari tanggung jawab, itu tidak benar, itu bukan gembala yang melalui pintu.

Yohanes 10:9
(10:9) Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

Yesus adalah pintu untuk masuk ke dalam kandang penggembalaan. Maka barangsiapa melalui pintu itu:
- Ia akan selamat.
- Ia akan masuk dan keluar.
- Ia akan menemukan padang rumput.
Padang rumput menunjuk kepada firman penggembalaan. Jadi untuk mengenal pintu mari kita perhatikan pengajaran     Tabernakel.

Lebih jauh kita melihat tentang pintu sesuai dengan pengajaran Tabernakel. Pintu di dalam Tabernakel terdiri dari:
Yang pertama: PINTU GERBANG.
Arti rohaninya menerima atau percaya bahwa Yesus adalah kepala yang menyelamatkan tubuh. Setelah melalui pintu gerbang, maka akan menjumpai dua alat di pelataran, yaitu:
1.   Mezbah Korban Bakaran.
     Arti rohaninya ialah salib, dimana Kristus yang menjadi korbannya. Berarti bersekutu dengan penderitaan-Nya =             meninggikan korban Kristus.
2.   Bejana Pembasuhan Tembaga.
      Ini berbicara soal;
      (a) Babtisan Air adalah tanda kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
      (b) Pembaharuan.
      (c) Penyucian oleh mandi air dan firman.

Yang kedua: PINTU KEMAH
Arti rohaninya kepenuhan atau babtisan Roh kudus. Setelah melewati pintu kemah selanjutnya berada di Ruangan Suci. Ruangan Suci itu menunjuk kepada kandang penggembalaan. Kemudian, di dalam ruangan suci terdapat tiga macam alat yaitu:
1.   Meja Roti Sajian.
Menunjuk pada ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan Perjamuan Suci = domba-domba diberi makan.
2.   Pelita Emas.
Menunjuk pada ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai kesaksian = domba-domba diberi minum.
3.   Mezbah Dupa.
Menunjuk pada ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan = domba-domba diberi nafas hidup.

Yang ketiga: TIRAI/TABIR BAIT SUCI.
Arti rohaninya perobekan atau penyaliban terhadap daging sepenuhnya. Selanjutnya, berada di dalam Ruangan Maha Suci. Ruangan Maha Suci berbicara tentang kesempurnaan gereja Tuhan.

Kesimpulannya, apabila seorang gembala melalui PINTU GERBANG, ia akan menunjukkan pengalaman kematian dan pengalaman kebangkitan Yesus Kristus, yang diawali dengan persekutuan di dalam penderitan Yesus Kristus. Itulah Mezbah Korban Bakaran.
Sebaliknya, kalau seorang gembala tidak terlebih dahulu melalui pintu gerbang, tidak akan bisa menunjukkan pengalaman kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
Kemudian, apabila seorang gembala melalui PINTU KEMAH, maka dia akan menunjukkan tiga hal yaitu:
- Bersekutu dengan firman Allah (Meja Roti Sajian).
- Bersekutu dengan Roh Allah (Pelita Emas).
- Bersekutu dengan kasih Allah (Mezbah Dupa).
Maka, seorang gembala harus terlebih dahulu melalui pintu kemah supaya dia menunjukkan tiga perkara itu kepada kawanan domba.

Kemudian apabila seorang gembala telah melaui TIRAI yaitu: mangalami perobekan terhadap daging sepenuh, maka ia akan menunjukkan suatu persekuan yang indah dengan Tuhan. Seperti tubuh dengan kepala. Disebut juga dengan hubungan intim yang menghasilkan nyanyian baru yaitu bahasa lidah, kata-kata yang tak terkatakan, yang tak boleh diucapkan oleh siapapun. Itulah Tabut Perjanjian yang ada di dalam Ruangan Maha Suci.
Tabut Perjanjian berbicara soal hubungan nikah, (hubungan intim) seperti tubuh dengan kepala menyatu. Ada suatu persekutuan yang indah dengan Tuhan. Maka seorang hamba Tuhan atau seorang gembala kalau dia tidak melalui tirai (tidak mengalami perobekan terhadap daging), dia tidak akan bisa menunjukkan hubungan nikah. Sebab itu seorang hamba Tuhan yang sudah menerima jabatan gembala, terlebih dahulu mengalami perobekan daging sepenuh. Pada saat itulah dia bisa menunjukkan hubungan niikah atau persekutuan yang indah dengan Tuhan, seperti tubuh dan kepala menyatu, bagaikan Tabut Perjanjian yang ada di dalam Ruangan Maha Suci.

Kemudian kita kembali simak perkataan Naomi kepada kedua menantunya
Rut 1:12-13
(1:12) Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki,
(1:13) masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?"

Ucapan Naomi berikutnya kepada kedua menantunya; Bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami?

Saudaraku kita perhatikan kalimat; Manahan diri dan tidak bersuami.
1 Korintus 7:6-7
(1:6) Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.
(1:7) Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.

Rasul paulus berkata; “Alangkah baiknya semua orang seperti aku menahan diri dan tidak kawin.” Sementara tadi Naomi mempersalahkan kedua manantunya Orpa dan Rut menahan diri dan tidak bersuami. Jadi perkataan Rasul Paulus bertolak belakang dengan perkataan Naomi kepada kedua menantunya.

1 Korintus 7:8
(7:8) Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.

Rasul Paulus justru menganjurkan kepada orang-orang yang belum kawin dan kepada janda-janda supaya mereka menahan diri dan tidak kawin. Dengan kata lain mengkhususkan diri untuk Tuhan. Anjuran Rasul Paulus menahan diri dan tidak kawin bertolak belakang dengan anjuran Naomi kepada kedua menantunya. Sebetulnya ketika Orpa dan Rut ikut Naomi pulang kepada bangsanya itu adalah keputusan yang bagus sekali.

Rut 1:10
(1:10) dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu."

Orpa dan Rut berkata kepada Naomi; “Kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu.” Perkataan ini menunjukkan bahwa mereka siap dan rela menahan diri dan tidak kawin, untuk mengkhususkan diri kepada Tuhan. Tetapi bagi Naomi itu salah (bertentangan). Anjuran Rasul Paulus, kepada janda-janda, untuk tidak kawin, tujuannya supaya dia fokus melayani Tuhan (mengkhususkan diri untuk Tuhan).

1 Petrus 2:9
(2:9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Bangsa Israel di mata Tuhan:
a. Bangsa yang terpilih = imamat rajani.
b. Bangsa yang kudus = milik kepunyaan Allah sendiri.
Tugas bangsa yang terpilih dan bangsa yang kudus; supaya memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia. Saudaraku, karya Allah atau perbuatan Allah yang terbesar adalah salib di Golgota. Inilah yang harus diberitakan oleh bangsa yang terpilih yaitu imamat rajani, bangsa yang kudus yaitu milik kepunyaan  Allah sendiri. Kristus Yesus yang telah disalibkan, itulah yang harus diberitakan.

Jadi ketika Orpa dan Rut berniat untuk tidak kawin, tujuannya untuk mengkhususkan diri bagi Tuhan sebagai bangsa yang terpilih berarti imamat rajani, bangsa yang kudus berarti milik kepunyaan Allah, seperti anjuran Rasul Paulus kepada yang belum kawin, kepada janda-janda supaya menahan diri untuk tidak kawin, supaya dia bisa memfokuskan diri kepada Tuhan. Orpa dan Rut seorang janda. Seharusnya ketika mereka menahan diri (tidak kawin), Naomi harus memberi motivasi supaya mereka mengkhususkan diri kepada Tuhan. Bukan berarti harus menyuruh mereka pulang.
Tadi karya Allah yang terbesar adalah salib di Golgota inilah yang harus diberitakan. Bukan soal perkara lahiriah bukan soal berkat dan lain sebagainya. Bukan kerajaan dunia dan kemegahannya tapi salib di Golgota ini yang harus diberitakan, sebab salib yang menyelamatkan. Yesus adalah Imam Besar Agung, Dia adalah seorang pengantara yang ditetapkan untuk memperdamaikan dosa dunia kepada Allah. Jadi tidak ada orang yang dapat diselamatkan kalau tidak melalui salib. Maka saliblah yang harus diberitakan, tidak yang lain-lain.

Kemudian, kita lihat dulu
1 Petrus 2:6
(2:6) Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."

Saudaraku, batu penjuru yang mahal itu menunjuk kepada pribadi Yesus Kristus yang disalibkan. Inilah yang harus diberitakan. Dan barangsiapa yang percaya kepadanya (meninggikan korban Kristus), dia tidak akan dipermalukan. Tuhan tidak akan mempermalukan anak-anak Tuhan sebab jaminannya adalah korban Kristus. Asal saja kita meninggikan salib Kristus kita tidak akan dipermalukan.

1 Petrus 2:7
(2:7) Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan."

Saudaraku, Yesus yang disalibkan itu telah menjadi :
a. Batu penjuru.
b. Batu sentuhan.
c. Batu sandungan.

Keterangan; BATU PENJURU
Batu penjuru ->  kepada dasar bangunan.

Matius 7:24-25
(7:24) "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
(7:25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

Saudaraku, ketika rumah dibangun di atas batu penjuru, rumah itu kuat terhadap tiga jenis ujian, yaitu; turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu.
Tentang: TURUNLAH HUJAN, itu menunjuk kepada ujian yang datang dari atas.

Kita lihat ujian yang datang dari atas
Efesus 6:12
(6:12) karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, bukan melawan sesama, tetapi melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap itulah roh-roh jahat di udara dengan segala tipu muslihatnya.
Jadi kalau ada anak-anak Tuhan berusaha atau berjuang untuk melawan sesamanya itu adalah perjuangan yang keliru. Ketika Yesus dicaci maki, tidak membalas dengan caci maki, tetapi menyerahkan segala perkara kepada Dia yang layak menghakimi. Pendeknya, Yesus disalibkan.
Penyaliban itu dimulai dari taman getsemani. Pada saat hamba-hamba imam besar itu hendak menangkap Yesus, Petrus mengambil pedang lalu memutuskan telinga dari salah seorang hamba dari Imam Besar itu. Tetapi Yesus mengambil telinga yang diputus lalu disambungkan kembali. Bahkan Yesus berkata; Kalau seseorang mengandalkan pedang maka ia akan binasa dengan pedang.” Sebab itu Yesus berkata kepada Petrus; Sarungkan pedangmu.”
Bahkan sampai berada di hadapan tiga pengadilan. Pengadilan yang pertama di hadapan Imam Besar Kayafas, kemudian pengadilan yang kedua Pilatus, pengadilan yang ketiga Herodes, kemudian kembali kepada Pilatus. Disitu Dia diolok-olok, Dia dihina, Dia diejek, Dia dipermalukan, Dia diludahi, juga ada saksi-saksi dusta, menuduh Dia dengan yang tidak-tidak. Tetapi Yesus tetap berdiam diri, mulut tidak terbuka, Dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, Dia tidak terperangkap dengan tipu muslihat dari Iblis Setan. Kalau seandainya Yesus terperangkap dengan tipu muslihat dari roh-roh jahat di udara, maka rencana Allah yang besar gagal, rencana penyelamatan gagal. Tetapi puji Tuhan rencana Allah berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan sejak semula. Kehendak Allah terlaksana oleh Anak tunggal Bapa. Rencana penyelamatan terlaksana, hukum Taurat tergenapi.

Tentang: DATANGLAH BANJIR.
Itu menunjuk kepada dosa kenajisan. Saat ini dosa kenajisan sedang melanda dunia, seperti zamannya Nuh, mereka makan dan minum, kawin dan mengawinkan.
Dosa makan minum itu dosa karena daging, sedangkan dosa kawin dan mengawinkan itu dosa kenajisan. Kalau tidak sungguh-sungguh di dalam Tuhan, maka daging ini adalah ladang yang subur bagi roh najis, ditunggangi oleh roh najis, dan itulah yang terjadi pada jaman Nuh, melanda semua orang. Akhirnya, semua yang bernafas binasa.
Saat ini juga dunia sedang dilanda air bah, dunia sedang dilanda dosa kenajisan. Bukan saja di kota tetapi juga di desa sampai ke pelosok-pelosok penjuru tanah air. Bukan saja melanda orang kaya, orang yang punya kedudukan tinggi, tetapi juga orang yang tidak berpendidikan dan orang miskin. Bukan saja orang yang memiliki wajah yang cakep, tetapi juga melanda wajah yang pas-pasan. Jadi roh najis itu tidak memandang bulu, tidak memandang muka, semuanya dilanda.
Tetapi kalau bangunan rohani itu didirikan di atas batu penjuru dia kuat. Dia terlepas dari banjir, itulah dosa kenajisan. Ayo pandang saja salib-Nya supaya kita kuat.

Tentang: ANGIN MELANDA, ini menunjuk kepada angin-angin pengajaran palsu.

Kita baca dalam;
Efesus 4:14-15
(4:14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambikngkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,
(4:15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Jadi kalau bangunan rohani atau rumah Tuhan didirikan diatas batu penjuru, dia kuat tidak mudah diombang-ambingkan oleh angin-angin pengajaran palsu. Ajaran palsu, itulah firman yang ditambahkan dan dikurangkan.
Ditambahkan artinya; menyampaikan satu dua ayat lalu ditambahkan dengan cerita-cerita isapan jempol, dongeng nenek–nenek tua, takhayul-takhayul, dan sebagainya.
Dikurangkan artinya pengajaran salib diganti dengan dua hal;
1.  Teologi kemakmuran, artinya orang kristen tidak boleh miskin harus kaya, kemudian
2.  Tanda-tanda heran ataupun muzizat-muzizat dan lain sebagainya.
Tetapi kalau bangunan rohani itu didirikan di atas batu penjuru dia kuat, tidak mudah diombang-ambingkan oleh        angin-angin pengajaran palsu. 

Mazmur 118:22-23
(118:22) Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.
(118:23) Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Jadi kalau bangunan rohani itu didirikan di atas batu penjuru, kita akan kuat terhadap tiga jenis ujian tadi. Dan itu adalah suatu perbuatan ajaib di mata kita. Jadi kalau kita kuat bukan karena kita kuat tetapi oleh karena kasih karunia, oleh karena kemurahan Tuhan sebagai perbuatan yang ajaib di mata manusia.

Keterangan; BATU SENTUHAN.
Batu sentuhan = hasil menyentuh atau singgungan.

Lukas 20:17-18
(20:17) Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: "Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?
(20:18) Barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur, dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk."

Barangsiapa:
- Jatuh ke atas batu itu ia akan hancur.
- Ditimpa batu itu ia akan remuk.
Pendeknya, sentuhan dari batu penjuru adalah hancur dan remuk. Beda dengan orang yang keras hati atau bertahan di dalam kekerasan hatinya, jiwanya tidak akan pernah hancur dan hatinya tidak akan pernah remuk.
Jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk redam, itulah sentuhan dari batu penjuru. Malam ini ketika kita dengar berita salib yang disampaikan itu menjadi batu sentuhan. Menyentuh seluruh sendi-sendi kehidupan kita supaya hati yang keras dihancurkan, bahkan sampai remuk redam. Itu yang Tuhan mau. Maka pengajaran salib ini harus disampaikan, jangan menyampaikan berita yang lain.

Maka, kalau kita amati apa yang disampaikan Naomi tadi kepada kedua menantunya (Orpa dan Rut), itu tidak benar. Justru Rasul Paulus menganjurkan kepada yang belum kawin, bahkan kepada janda-janda supaya menahan diri untuk tidak kawin, mengkhususkan dirinya untuk Tuhan saja tidak yang lain, sehingga dia mengerti tentang batu penjuru, dia mengerti tentang batu sentuhan.
Maka, ketika kita mengikuti Tuhan dengan berita salib yang disampaikan bersyukur dengan ucapan syukur yang dalam, jangan ditolak. Malam ini, mari berikan diri untuk mengalami sentuhan dari salib yang diberitakan.
Barangsiapa jatuh ke atas batu penjuru, dia hancur dan barangsiapa ditimpa oleh batu penjuru, dia remuk redam.

Mazmur 51:19
(51:19) Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Saudaraku, tadi hasil dari sentuhan adalah hancur dan remuk, itulah korban sembelihan kepada Tuhan. Tuhan tidak menyukai korban bakaran, Tuhan tidak menyukai korban sembelihan, yang Tuhan mau kita boleh merasakan hasil dari batu sentuhan. Hancur dan remuk itulah korban sembelihan yang berkenan kepada Tuhan. Korban sembelihan yang benar adalah kita boleh mengalami hasil dari batu sentuhan, yaitu hancur dan remuk. Maka, banyak pelayan-pelayan Tuhan di gereja-gereja, ketika kurang dihargai dia bersungut-sungut, karena dia tidak mengerti korban sembelihan yang sesungguhnya. Kesimpulannya: yang Tuhan mau hasil dari batu sentuhan, bukan pengorbanan. Kalau berita salib ini menjadi batu sentuhan, bersyukur saja kalaupun jiwa hancur dan hati remuk redam.

Coba kita lihat kebalikan dari batu sentuhan ini;
Yeremia 44:10
(44:10) Mereka tidak remuk hati sampai kepada hari ini, mereka tidak takut dan tidak mengikuti Taurat-Ku dan ketetapan-Ku yang telah Kuberikan kepadamu dan kepada nenek moyangmu.

Jadi seperti apapun mereka membawa korban dan persembahan, sekalipun mereka lelah-lelah berjuang menurut aturan-aturan hukum Taurat, kalau hati tidak hancur, tidak berkenan kepada Tuhan. Tuhan tidak mau persembahan dalam bentuk jasmani atau lahiriah, tetapi Tuhan mau lihat, jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk itu yang Tuhan pandang. Bukan pengorbanan yang banyak. Kita bersyukur, Tuhan dengan segala kesabaran menuntun kita terus ke jalan kebenaran. Dengan segala kesabaran dan pengajaran dinyatakan kepada kita sampai hari ini. Kita merasa kita sudah banyak berkorban, kemudian ketika kita ditegur kita salahkan teguran salib, itu salah, yang benar bukan perjuangan dan pengorbanan yang banyak, tetapi hasil dari batu sentuhan. Maka setiap kali kita beribadah harus merasakan pengajaran salib sebagai batu sentuhan.

Keterangan; BATU SANDUNGAN.
1 Korintus 1:22-23
(1:22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,
(1:23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

Rasul Paulus memiliki pendirian yang kuat, dia tetap memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah, dia tetap memberitakan salib Kristus. Pendiriannya tidak berubah, pandangan terhadap salib tidak berubah sekalipun dia ketahui kondisi rohani orang-orang Yahudi, kondisi rohani orang-orang Yunani atau bangsa kafir. Dia tetap memberitakan salib Kristus, dia tetap memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah. Dia tidak mengabarkan dan tidak memberitakan yang lain-lain. Dia tetap memiliki pendirian yang teguh. Sebetulnya, berita salib untuk orang-orang Yahudi itu suatu batu sandungan.
Mengapa? Karena orang-orang Yahudi hanya menghendaki tanda-tanda heran, mujizat-mujizat, bukan salib  yang diberitakan. Sementara pemberitaan salib bagi orang-orang Yunani itu adalah suatu kebodohan, sebab orang-orang Yunani menghendaki hikmat bukan salib. Sehingga, orang-orang dunia apabila melihat anak-anak Tuhan dengan sungguh-sungguh di dalam penyerahan mengikuti Tuhan, dengan sangkal diri dan pikul salib mereka akan mengatakan buang-buang waktu alias bodoh. Tetapi sampai sejauh ini kita berjuang di tengah ibadah dan pelayanan, sangkal diri dan pikul salib itu bukan merupakan suatu kebodohan.

1 Korintus 1:24
(1:24) tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

Tetapi bagi mereka yang dipanggil baik Yahudi maupun kafir, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Salib Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Jadi kekuatan itu datang dari salib. Siapapun tidak akan memiliki kekuatan kalau tidak mau memikul salib. Dan hikmat juga datang dari salib, asal saja sungguh-sungguh memikul salib. Dia dapat membedakan mana yang baik, dan mana yang jahat. Asal dia sungguh sungguh pikul salib. Dia tahu keadaan, situasi, kondisi yang ada sekalipun mata tidak melihat. Jadi jangan heran melihat orang yang berhikmat.

Matius 16:21-22
(16:21) Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
(16:22) Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."

Ketika Yesus memberitahukan penderitaan-Nya. Petrus menarik Dia dan berkata; “Tuhan kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu tidak sekali-kali menimpa Engkau.” Pendeknya, Petrus menolak ajaran salib. Bayangkan Petrus adalah murid Yesus yang pertama dan yang tertua, tapi justru dia yang menolak ajaran salib. Jangan sampai kita yang sudah terdahulu akhirnya menjadi terkemudian karena menolak salib.

Matius 16:23
(16:23) Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Petrus menjadi batu sandungan di tengah-tengah ibadah dan pelayanan, sebab ia menolak pengajaran salib.
Dia tidak memikirkan apa yang tidak dipikirkan oleh Allah, karena dia tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Allah. Sebetulnya, sasaran akhir dari ibadah dan pelayanan di atas muka bumi ini adalah pembangunan tubuh Kristus yang sempurna, menjadi mempelai wanita Tuhan. Karena dasarnya adalah salib yang diberitakan. Kalau dasar bangunan itu adalah batu penjuru, maka batu di atas batu atau bangunan itu akan berdiri dengan bagus. Itulah yang disebut pembangunan tubuh Kristus yang sempurna (mempelai wanita Tuhan).
Petrus tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, Petrus tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Allah.

1 Petrus 2:7
(2:7) Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.”

Salib Kristus, telah menjadi batu PENJURU, juga telah menjadi batu SENTUHAN dan suatu batu SANDUNGAN, tergantung dari sudut mana kita memandang salib Kristus yang disampaikan. Demikianlah tentang: Batu penjuru, batu sentuhan dan batu sandungan, dengan penjelasan yang singkat.

Kemudian kita kembali memperhatikan
Rut 1:10
(1:10) dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu."

Kedua menantunya berkata kepada Naomi; ”Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu”.
Bangsa Israel disebut dengan bangsa yang terpilih berarti imamat rajani, kemudian bangsa yang kudus berarti umat kepunyaan Allah sendiri. Itulah orang-orang yang melayani Tuhan, yang memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan. Tetapi syarat untuk melayani Tuhan menjadi bangsa yang terpilih dan bangsa yang kudus, harus ikut, seperti keinginan Orpa dan Rut.

Matius 16:24-25
(16:24) Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
(16:25) Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Syarat mengikuti Tuhan atau syarat melayani Tuhan dan mengikuti Dia:
1. Menyangkal dirinya.
2. Memikul salibnya.
3. Mengikuti Yesus.

keterangan;
Tentang: MENYANGKAL DIRINYA berarti tidak bermegah.
Tidak mengakui kelebihan-kelebihan yang ada pada diri sendiri. Tidak sombong walaupun memiliki kelebihan-kelebihan atau    potensi dan tidak bermegah terhadap apa yang sudah ia perbuat.

Tentang: MEMIKUL SALIBNYA berarti memikul tanggung jawab di atas pundak.
Hati-hati yang sudah melayani sesuai dengan karunia-karunia Roh Kudus dan jabatan-jabatan yang Tuhan percayakan, jangan lepaskan apa yang dipercayakan Tuhan, itu suatu kerugian bagimu. Kesempatan tidak datang berkali-kali, hanya satu kali. Jangan bermain-main, karena syarat ikut Tuhan sangkal diri, yang kedua pikul salibnya.

Tentang: MENGIKUT YESUS.
Dalam injil Yohanes 12, Yesus berkata kepada murid-murid: “Dimana Aku berada disitupun kamu berada. Sekarang Yesus berada duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Berarti yang kita pikirkan sekarang ini adalah kerajaan sorga. Sebab dimana Dia  berada disitu kita berada. Itu arti mengikut Aku. Kalau melayani tetapi pikirannya macam-macam, pikirannya tidak fokus untuk kerajaan Sorga (sibuk dengan yang lain-lain), tidak memenuhi syarat untuk mengikut atau melayani Tuhan. Tidak salah dengan kegiatan yang sedang dikerjakan seperti menuntut ilmu, kuliah , tidak salah juga bekerja, tetapi pengertian mengikut Aku, dimana Yesus berada di situ kita berada. Berarti yang kita pikirkan adalah sorga, itu yang nomor satu. Tidak salah menuntut ilmu, tidak salah bekerja, tidak salah berbisnis dengan kesibukan yang lain tapi bukan itu yang nomor satu. Sebab dengan jelas disini dikatakan siapa yang memelihara  nyawanya ia akan kehilangan nyawanya. Jadi, rela kehilangan nyawa karena sangkal diri dan pikul salib, berarti dia sedang memelihara nyawanya (memperoleh hidup yang kekal). Ketika Orpa dan Rut berkata: “Kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu”, itu betul, sebab itu syarat untuk menjadi bangsa yang terpilih yaitu imamat rajani, dan bangsa yang kudus yaitu milik kesayangan Allah, syarat untuk melayani Tuhan. Tapi kita melihat tadi Naomi menyuruh pulang, dia tidak mau direpotkan dengan janda-janda. Padahal ibadah yang murni itu mengunjungi janda-janda dan yatim piatu. Dia tidak mau direpotkan oleh janda-janda.
Ada hamba-hamba Tuhan di pengajaran sangat memperhatikan janda-janda, baik janda jasmani maupun janda rohani. Janda jasmani tidak memiliki suami, janda rohani tubuh tanpa kepala, belum menempatkan Kristus sebagai kepala. Ini harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Memperhatikan janda jasmani dan janda rohani itu ibadah yang murni. Karena apa yang bisa kita terima dari seorang janda, tidak ada. Maka kita memperhatikan seorang janda, itu ibadah yang murni.
Tetapi Naomi tidak, dia tidak mau direpotkan oleh janda-janda. Ini suatu kekeliruan, namun malam ini kita diluruskan oleh Tuhan.

Pertanyaannya; Mengapa Naomi mempersalahkan pengikutan kedua menantunya?
Rut 1:13
(1:13) masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?"

Disini kita melihat Naomi menggunakan pengalaman pahit yang dialaminya menjadi tolak ukur.
Kerugiannya bila kepahitan menjadi tolak ukur dalam mengikuti Tuhan, yaitu;
1.   Naomi melemahkan kedua menantunya itu.
Karena Naomi menjadikan pengalaman pahit sebagai tolak ukur maka akhirnya Naomi menyuruh kedua menantunya untuk pulang, bahkan mempersalahkan kedua menantunya karena menahan diri untuk tidak kawin. Kalau seorang gembala karena kepahitan lalu menyuruh orang pulang tidak beribadah, itu salah. Maka resiko untuk menjadi seorang gembala memang harus melewati pintu. Saya tahu banyak kesalahan, tapi tidak semudah itu kesalahan itu ditunjuk. Sebab itu seorang gembala harus siap hancur hati. Kalau dosa seseorang ditunjuk lalu segera mengakuinya, gembala enak. Diantara kita masih banyak yang sukar untuk ditunjuk-tunjuk (tidak rela dikoreksi).
2.   Mempersalahkan rencana Tuhan.
Sesuai dengan perkataan Naomi; …,sebab tangan Tuhan teracung kepada aku”. Perkataan ini menunjukkan bahwa Naomi mempersalahkan rencana Tuhan. Itulah kalau pengalaman pahit menjadi tolak ukur di tengah ibadah dan pelayanan. Apalagi kepahitan itu sudah berakar salib yang salah, Tuhan yang salah, si pemberita firman yang salah, pekerjaan yang banyak salah, tidak ada waktu untuk istirahat salah, semua dipersalahkan. Itu kerugiannya.

Dampak negatif ucapan Naomi;
Rut 1:14
(1:14) Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.

Lalu Orpa mencium mertuanya (Naomi) itu minta diri”. Sangat disayangkan mereka sudah berkemas, sudah berjalan untuk pulang ke Yehuda, Betlehem-Efrata, tapi karena kata-kata yang sifatnya melemahkan ini, akhirnya Orpa undur diri di tengah jalan. Sangat disayangkan.
Saudaraku, saya tidak pernah menyuruh orang pulang ke rumahnya masing-masing, hanya kalau saya lihat tidak benar saya tegasin. Kalau memang sudah tidak mau digembalakan, ya sudah  terserah. Tapi kalau untuk suruh pulang, tidak.
Saudaraku, ini adalah kemurahan kalau kita memperoleh suatu pengertian yang baik dari Tuhan. Kita banyak belajar, saya juga banyak belajar, kita semua belajar. Jangan sampai ada lagi diantara kita sibuk memikirkan apa yang dipikiran oleh manusia. Tuhan yang benar, firman salib yang benar, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan, dan suatu batu sandungan. Tergantung dari sudut mana kita memandang. Jangan undur di tengah jalan, sampai finish di kota Yerusalem yang baru. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang