KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Tuesday, July 15, 2014

IBADAH RAYA MINGGU, 13 JULI 2014

IBADAH RAYA MINGGU, 13 JULI 2014

Tema:  JEMAAT DI FILADELFIA (dari Wahyu 3: 7-13)
            (Seri 10)

Subtema: TUHAN MEMBUKA PINTU KARENA MENYANGKAL DIRI

Shalom!
Selamat malam, salam sejahtera, salam di dalam kasih sayang dan kasih setia Tuhan yang abadi.
Oleh karena kemurahan Tuhan, kita boleh berada di dalam rumah Tuhan, beribadah melayani Tuhan, sekaligus mempersembahkan korban kepada Tuhan di tempat yang Tuhan pilih, itulah gunung Sion, sebab dari sana keluar pengajaran, firman Tuhan dari Yerusalem, sebagai makanan rohani di rumah perbendaharaan.

Kita kembali memperhatikan sidang jemaat di Filadelfia dari kitab Wahyu 3: 7-13.
Namun kita hanya membaca ayat 8 saja.
Wahyu 3: 8
(3:8) Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

Di sini Tuhan menyatakan bahwa Ia telah membuka pintu bagi sidang jemaat di Filadelfia, sedangkan pada ayat 7 dikatakan: “apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka”, Tuhan yang menentukan segala sesuatunya.

Dalam hal ini Tuhan membuka pintu Kerajaan Sorga bagi sidang jemaat di Filadelfia, sebab Tuhan memegang kunci Daud. Daud adalah seorang raja yang berkuasa, dia setia kepada Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa, dia berpegang teguh pada perjanjian Tuhan.

Kelebihan dari sidang jemaat di Filadelfia:
YANG PERTAMA: MENURUTI FIRMAN TUHAN.
Berarti, hidup oleh karena firman, bukan karena roti makanan. Kita makan untuk hidup, tetapi kita hidup bukan karena roti makanan, melainkan dari setiap ucapan yang keluar dari mulut Allah.
Pada minggu yang lalu telah saya sampaikan, bahwa Yesus Kristus adalah firman Allah, dan Dia hidup oleh karena firman, sehingga sanggup menghadapi musuh utama, yaitu Iblis/Setan, dengan segala cobaan yang ditujukan kepada pribadi Yesus Kristus.
-      Cobaan pertama: Setan menawarkan supaya batu menjadi roti, tetapi Yesus berkata: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah
-      Cobaan kedua: Setan membawa Yesus ke bubungan Bait Allah, selanjutnya setan memerintahkan Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya, dengan satu alasan malaikat akan menatang, tetapi Yesus kembali berkata: Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!
Kalau kita dibawa sampai kepada puncak kesucian di tengah-tengah ibadah dalam kandang penggembalaan ini, jangan bermain-main dalam kesucian. Orang yang mempermain-mainkan kesucian Allah adalah orang yang selalu mencobai Tuhan. Jangan pernah mencobai Tuhan, sebab jika jatuh dalam dosa, malaikat tidak akan sanggup menatang, menopang, dengan kata lain malaikat tidak dapat mengangkat apabila seseorang jatuh dalam dosa.
-      Cobaan ketiga: Setan menunjukkan seluruh kerajaan dunia dan kemegahannya kepada Yesus, selanjutnya iblis menjanjikan itu semua menjadi milik Yesus, apabila Yesus menyembah dia (Setan).
Tetapi dengan tegas Yesus berkata: “... ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!
Kalau kita lebih mengutamakan segala Kerajaan dunia, kemewahan dan kemegahan yang ada di dunia, itu merupakan penyembahan berhala.
Biarlah kita betul-betul menyembah Allah yang hidup, Allah Abraham, Ishak, Yakub, yang memberi iman, harap dan kasih.

Kembali saya katakan; menuruti firman, berarti hidup oleh firman, bukan dari roti makanan.
Ketika Yesus dicobai Iblis, Ia selalu berkata: “Ada tertulis”, sehingga Yesus mengalami kemenangan demi kemenangan.
Ada tertulisà firman Allah yang ditulis dalam kitab suci, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dari kitab Kejadian sampai dengan kitab Wahyu.

Selanjutnya, pribadi yang hidup menuruti firman Tuhan ialah Samuel, ia tidak membiarkan satu pun firman itu gugur, berarti ia melakukan setiap firman yang dia terima (1 Samuel 3: 19-21). Kiranya firman Tuhan yang kita terima dalam setiap ibadah, jangan terlewatkan begitu saja.

Kemudian, dalam 1 Samuel 3: 3 dikatakan, bahwa: belum juga lampu Bait Allah padam, Samuel sudah tidur.
Tidur di sini, artinya; masuk dalam pengalaman kematian untuk selanjutnya mengubur hidup yang lama. Orang yang masuk dalam pengalaman kematian persis seperti orang yang sedang tidur nyenyak, tidak dapat dipengarui oleh suasana apapun.
Pada saat itulah Tuhan mendapatkan kesempatan untuk mengadakan operasi besar-besaran kepada Adam (Kejadian 2: 21-23). Kalau belum mengalami kematian/daging masih bersuara, ketika dioperasi, ia akan teriak/bersuara, bahkan yang lebih parah lagi mengadakan perlawanan/menolak firman Tuhan.
Melalui operasi besar-besaran ini, Allah mengambil salah satu dari tulang rusuk Adam, lalu membangun seorang perempuan baginya, artinya; terwujudlah pembangunan tubuh Kristus yang sempurna, yaitu menjadi mempelai perempuan Tuhan, bersanding dengan Kristus, sebagai Mempelai Laki-Laki Sorga.

Akhirnya, seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba mengetahui  bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi (ayat 20).
Saudaraku, kalau kita betul-betul hidup oleh firman, Tuhan memakai kita, dan orang akan melihat dari timur sampai ke barat, Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.
Pada minggu yang lalu telah saya sampaikan, dan biarlah itu kita perhatikan dengan baik.

Kelebihan dari sidang jemaat di Filadelfia:
YANG KEDUA: TIDAK MENYANGKAL NAMA TUHAN.
Terlebih dahulu kita melihat PRIBADI SIMON PETRUS, ketika ia menyangkal Yesus Kristus.

Matius 26: 30-31
(26:30) Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.
(26:31) Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.

Yesus harus minum cawan Allah, menanggung penderitaan di atas kayu salib, supaya kehendak Allah terlaksana oleh-Nya. Itu dinyatakan kepada 12 murid, termasuk kepada Simon Petrus.

Matius 26: 32-35
(26:32) Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea."
(26:33) Petrus menjawab-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak."
(26:34) Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
(26:35) Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lain pun berkata demikian juga.

Setelah Yesus menyampaikan apa yang tertulis/apa yang akan terjadi dialami Yesus, yaitu: Ia akan mati terbunuh di atas kayu salib, dengan spontan Simon Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus Kristus:
1.    "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak."
2.    "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau."

Sekarang, mari kita lihat pembuktiannya.
Matius 26: 69-75
(26:69) Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu."
(26:70) Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: "Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud."
(26:71) Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu."
(26:72) Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu."
(26:73) Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu."
(26:74) Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam.
(26:75) Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Petrus menyangkal Yesus 3 kali;
-      Penyangkalan Petrus yang pertama, dia berkata:Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud
Artinya; menjadikan diri bodoh. Mengerti tetapi pura-pura tidak mengerti, itulah orang yang menyangkal salib Kristus.
Lihat saja orang-orang yang menyangkal salib Kristus/ tidak mau memikul salib Kristus, tidak mau berjuang dan berkorban di tengah-tengah ibadah pelayanan dalam satu kandang penggembalaan.
Sebetulnya ada juga anak-anak Tuhan yang pura-pura tidak mengerti tentang pekerjaan Tuhan; dia memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mau mendengar, sehingga ia tidak mau berjuang dan berkorban, pekerjaan Tuhan dibiarkan begitu saja. Sesungguhnya, orang yang semacam ini jauh dari kasih karunia.

-      Penyangkalan Petrus yang kedua, dia berkata:Aku tidak kenal orang itu
Berarti, Simon Petrus meniadakan pribadi Yesus di dalam pribadinya.
Kalau kita mengenal pribadi Yesus Kristus, pasti kita akui pribadi Yesus Kristus di dalam diri kita, mulai dari perkataan, sikap, tingkah laku, cara berpikir, sudut pandang, gerak-gerik sekecil apapun. Dengan demikian, ada persamaan jika berkata: “hidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus dalam aku”

Ketika Simon Petrus berkata “Akut tidak kenal orang itu”, diawali dengan bersumpah.
Firman Tuhan mengatakan dalam Matius 5, kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak, tidak perlu bersumpah.

Matius 5: 33-36
(5:33) Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
(5:34) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
(5:35) maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
(5:36) janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.

Jangan bersumpah palsu di hadapan Tuhan, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan, artinya; akui apa yang benar di hadapan Tuhan.
Oleh sebab itu, ada hal yang harus kita perhatikan;
1.    Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah.
Kalau ada takhta berarti ada Kerajaan, kalau ada Kerajaan berarti harus ada takhta. Jadi, jangan bersumpah demi takhta Allah dan demi kerajaan Allah, sebab Kerajaan Allah adalah hadirat Allah, tempat yang maha suci, di sana ada penyembahan dari 4 makhluk dan 24 tua-tua.
Kerajaan Sorga bukan soal makan, minum dan perkara-perkara lahiriah lainnya, melainkan soal KEBENARAN, DAMAI SEJAHTERA dan SUKACITA oleh Roh Kudus (Roma 14: 17-18).
Sebaiknya, supaya segala sesuatu menjadi kondusif, biarlah kita melayani dengan sistem Kerajaan Sorga, supaya dikenan Allah dan dihormati oleh manusia.

2.    Janganlah sekali-kali bersumpah demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya
Ketika firman Tuhan dituliskan dalam hati, dua kaki Tuhan sedang berjejak di dalam hati saya dan saudara, oleh sebab itu, tidak boleh bersumpah demi bumi.

Mazmur 89: 15
(89:15) Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu, kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu.

Artinya; jikalau hukum Allah/firman Tuhan ditulis di dalam hati, maka otomatis hati adalah tumpuan kaki Tuhan.
Berarti, jangan sekali-kali bersumpah demi bumi = jangan mendustai hati nurani.

3.    Janganlah sekali-kali bersumpah demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar
Yerusalem adalah kota Raja Besar, itulah tempat kita beribadah dan melayani Tuhan di tengah-tengah ibadah itu sendiri.
Seorang pendusta akan menghalalkan segala cara, akan mengorbankan segalanya, termasuk ibadah dan pelayanan.
Sedikit kesaksian; ketika seorang teman hamba Tuhan ditangkap polisi karena melanggar rambu-rambu lalu lintas, kemudian dia langsung menyebutkan dirinya sebagai seorang hamba Tuhan (seorang pelayan Tuhan di dalam kota raja besar), dengan tujuan supaya polisi segera membebaskan dia. Akhirnya memang dibebaskan dengan pembicaraan yang alot.
Kemudian saya bertanya kepadanya: “Mengapa harus meyebut diri sebagai hamba Tuhan?”, lalu dia menjawab saya, katanya: “Supaya kita dibebaskan.
Saya katakan; kalau salah, akuilah kesalahan, jangan korbankan kota raja besar, jangan korbankan ibadah dan pelayanan!

4.    Janganlah sekali-kali bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
Sesungguhnya Kristus adalah Kepala dari tiap-tiap gereja, Dialah yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan tubuh-Nya.
Siapa yang bisa mengetahui pikiran Allah, pikiran Kristus, sehingga kita dapat mengubah apa yang ditentukan Tuhan, mengatur apa yang direncanakan oleh Tuhan. Dalam kitab Roma 11: 33-34, penggalan ayat yang mengatakan: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
Tuhan yang menentukan segala sesuatunya, baik hidup maupun mati.

Yang benar adalah ...
Matius 5: 37
(5:37) Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Jika ya, hendaklah katakan: ya, jika tidak, hendaklah katakan: tidak, lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Sekali lagi saya katakan; ya di atas ya, tidak di atas tidak, lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Itulah yang terjadi terhadap Simon Petrus ketika ia menyangkal Yesus untuk kedua kalinya.

Ironis sekali, sebab Simon Petrus yang semula adalah seorang penjala ikan kemudian terpanggil dan menjadi penjala manusia (jiwa), berarti “Tuhan telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah” (Wahyu 1: 6), menunjukkan suatu kedudukan yang tinggi, yang patut dihormati dan dijunjung tinggi, namun Simon Petrus berkata: “Aku tidak kenal orang itu
Seringkali kita tidak mau mengakui apa yang telah kita terima, tidak mau menerima nasihat firman, sehingga tidak mau mengenal pribadi Tuhan.
Kalau ya katakan saja: ya, kalau tidak katakan: tidak, tidak perlu gelisah.

-      Penyangkalan Petrus yang ketiga, dia berkata: Aku tidak kenal orang itu
Ini adalah pengulangan kata dari penyangkalan yang kedua.
Namun pada penyangkalan yang ketiga ini, diawali dengan kata: mengutuk dan bersumpah.
Dalam pemberitaan firman tadi malam di Cilegon; raja Daud mengasingkan diri ke Mahanaim oleh karena Yosafat anaknya telah mengadakan suatu kudeta, berusaha mengambil alih takhta kerajaan dengan paksa. Lalu, pada saat di Mahanaim, Simei mengutuki Daud, namun tidak lama kemudian, Simei mengakui kekurangannya, kesalahannya kepada Daud, tepatnya ketika ia menyongsong Daud di sungai Yordan (2 Samuel 19: 19-23). Dan pada saat itu, Daud mengampuni Simei.
Tetapi di penghujung hidup Daud, dia memberi nasihat kepada Salomo untuk membunuh Simei.
Saudaraku, upah dosa adalah maut. Maut adalah kutuk dari dosa, dan kalau kita mengetahui dosa itu datang dari atas (dosa turunan/warisan), kita sebagai anak-anak Tuhan, jangan mengulanginya, berarti; kalau itu dosa nenek moyang, jangan diteruskan.
Oleh sebab itu, biarlah orang tua berhati-hati, jangan salah bertindak; jika salah dalam perkataan, sikap, tingkah laku, gerak-gerik maka dosa itu akan turun kepada anak, sebab anak adalah buah hati.
Kembali saya katakan; tidak perlu bersumpah demi apapun, baik demi langit, bumi, Yerusalem, kepala.

Ternyata, pengakuan Simon Petrus tidak terbukti, justru imannya tergoncang, dan ia tidak rela mati bersama dengan Yesus Kristus (Matius 26: 33, 35).
Kesimpulannya; penyangkalan itu terjadi berawal dari iman yang tergoncang.
Apa iman yang terguncang? Mudah sekali diombang-ambingkan, mudah sekali dipengaruhi, sampai akhirnya terwujudlah penyangkalan itu.
Sebetulnya, hal yang sama pernah dialami oleh Simon Petrus, ketiika ia berjalan di atas air untuk menghampiri Yesus, namun setelah ia merasakan tiupan angin, mulailah ia takut, dan akhirnya tenggelam (Matius 14: 28-29)

Matius 26: 31
(26:31) Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.

Iman yang terguncang sama seperti kawanan domba yang tercerai-berai, tidak berada dalam kandang penggembalaan, dengan kata lain tidak tergembala dengan baik dalam satu kandang satu gembala = mengecilkan ibadah dan pelayanan.

Orang yang mengecilkan ibadah dan pelayanan, mudah sekali diketahui dengan cara;
Amos 8: 5
(8:5) dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu,

Mengecilkan efa, membesarkan syikal.
-      Efa adalah takaran gandum.
Sama seperti ketika bangsa Israel memungut manna; segomer tiap-tiap orang.
Adapun segomer itu sepersepuluh efa.
-      Syikal adalah ukuran uang/mamon.
Jadi, manusia duniawi lebih mengutamakan perkara lahiriah/materi, mamon, dari pada firman Allah.
Perhatikanlah orang yang tidak menghargai ibadah dan pelayanan, ia akan lebih mengutamakan perkara lahiriah, sesuai dengan pernyataan yang ada di dalam ayat ini, yaitu: “menjual gandum, menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal”.
Menjual gandum, artinya; melepaskan kebenaran firman Tuhan.

Kita sudah melihat tentang PENYANGKALAN, sekarang kita melihat kembali, bahwa dengan jelas Tuhan mengatakan dalam kitab Wahyu 3: 8, bahwa sidang jemaat di Filadelfia tidak menyangkal nama Tuhan.

SEKARANG KITA BANDINGKAN DENGAN SIDANG JEMAAT DI FILADELFIA.
Matius 16: 24
(16:24) Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Pengikut Kristus yang sejati; “menyangkal dirinya” dan “memikul salibnya”.
Menyangkal diri = tidak mengakui keberadaan diri sendiri, tidak bermegah atas diri sendiri, sehingga tidak merasa lebih baik, lebih benar, lebih bisa.
Memikul salibnya = memikul tanggung jawab yang Tuhan percayakan di atas pundak seseorang sebagai kebenaran yang sejati.

Selanjutnya, mari kita lihat; PIKUL SALIB.
Matius 11: 28-29
(11:28) Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
(11:29) Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Memikul salib, berarti; menunjukkan bahwa kita adalah orang yang lemah lembut dan rendah hati.
Untuk memikul salib, harus datang kepada Tuhan dan selalu belajar dan mau untuk diajar.
Seringkali orang yang tidak mau memikul salib, tidak mau diajar, bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga lewat sikap.
Orang yang mau diajar, selalu belajar untuk lemah lembut dan rendah hati, itulah pengikut Kristus yang sejati.

Matius 16: 25
(16:25) Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Hanya karena menyangkal diri dan memikul salib, rela mati, rela berkorban untuk Tuhan.
Kalau harus kehilangan nama besar, kehilangan harga diri, kehilangan apapun yang kita miliki di dunia ini, nanti kita akan memperolehnya di dalam Kerajaan Sorga, sebab untuk apa kita peroleh sesisi dunia, tetapi akhirnya kehilangan nyawa/hidup, tidak memperoleh hidup yang kekal.

Menyangkal diri, memikul salib, berarti; mengakui Anak Manusia di depan semua orang; kecil besar, tua muda, laki-laki perempuan, kaya miskin, tanpa ragu dan tanpa ada rasa malu.

Matius 10: 32-33
(10:32) Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.
(10:33) Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Setiap orang yang mengakui Yesus Kristus di depan manusia, maka Ia juga mengakui mereka di depan Allah Bapa di sorga.
Sebaliknya, kalau menyangkal Yesus, maka Yesus juga menyangkal dia di hadapan Allah Bapa.
Menyangkal diri dan memikul salib di depan semua orang, itu adalah tanggung jawab yang harus kita pikul di atas pundak masing-masing di depan semua orang.
Oleh sebab itu, jangan mengikuti arus dan pengaruh dunia, jangan menginginkan kebebasan yang ada di dunia, sebab kebebasan dunia adalah jerat bagi anak-anak Tuhan.

Seringkali kita ingin melepaskan diri dari ikatan pelayanan, dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, dengan menginginkan kebebasan dunia, padahal cepat atau lambat kebebasan dunia ini adalah jerat.
Seperti isteri Lot; awalnya mereka hidup di dalam Tuhan, tetapi karena tetap berada di lingkungan/situasi kefasikan dunia, siapapun dia cepat atau lambat akan terpengaruhi, tidak ada orang yang kebal di dunia ini.
Semakin hari isteri Lot semakin dikuasai kefasikan Sodom dan Gomora, sehingga ketika mereka berusaha dilepaskan dari kefasikan itu, semakin jauh mereka melangkah untuk meninggalkan Sodom dan Gomora, semakin terasa ikatan itu, susah untuk dilepaskan, akhirnya isteri Lot menoleh ke belakang.
Oleh sebab itu, jangan melepaskan diri dari ikatan ibadah dan pelayanan, jangan menginginkan kebebasan dunia.

Matius 10: 16-17
(10:16) "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
(10:17) Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.

Orang yang menyangkal diri dan memikul salibnya adalah orang-orang yang diutus.
Sedangkan suasana dalam pengutusan: seperti domba di tengah-tengah serigala.

Yohanes 10: 12
(10:12) sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

Pekerjaan dari serigala adalah menerkam dan mencerai-beraikan kawanan domba.
Dalam suasana seperti ini, apa yang bisa dilakukan oleh domba, bagaimana seekor domba dapat melepaskan diri dari serigala yang begitu buas?
Daging adalah binatang buas, ia adalah musuh dalam selimut yang sekali waktu siap menerkam.
Bagaimana kita dapat menghadapi binatang buas semacam ini dengan keadaan tidak berdaya, persis seperti sidang jemaat di Filadelfia, di mana kekuatan mereka tidak seberapa.

Wahyu 3: 8
(3:8) Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

Kekuatan jemaat di Filadelfia tidak seberapa, artinya; lemah tak berdaya.
Dalam keadaan lemah tak berdaya, bagaimana mungkin dapat menghadapi serigala yang buas?

Jalan keluar untuk menghadapi serigala/binatang buas.
Matius 10: 16
(10:16) "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Ada 2 cara untuk menghadapi keganasan serigala;
1.    Cerdik seperti ular
Tidak dikatakan cerdik seperti orang yang pintar atau seorang ilmuan, melainkan cerdik seperti ular.

Kejadian 3: 1
(3:1) Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"

Sudah sejak dari semula, bahwa ular adalah binatang yang paling cerdik dari seluruh binatang yang ada.
Kemudian, kalau kita perhatikan dengan teliti di sini, kecerdikan itu dilanjutkan dengan berbicara, di mana ular itu berkata kepada perempuan itu.

Mikha 7: 16-17
(7:16) Biarlah bangsa-bangsa melihatnya dan merasa malu atas segala keperkasaan mereka; biarlah mereka menutup mulutnya dengan tangan, dan telinganya menjadi tuli.
(7:17) Biarlah mereka menjilat debu seperti ular, seperti binatang menjalar di bumi; biarlah mereka keluar dengan gemetar dari kubunya, dan datang kepada TUHAN, Allah kami, dengan gentar, dengan takut kepada-Mu!
Ular yang menjilat debu, digambarkan bahwa ular ini tidak menggunakan dua tangan dan dua kaki.
Jadi, untuk menghadapi serigala yang buas, tidak perlu dengan kekuatan, cukup dengan perkataan saja.
Kalau menggunakan dua tangan dan dua kaki untuk menghadapi binatang buas, kita tidak akan mampu, sebab kekuatan kita tidak seberapa, sama seperti sidang jemaat di Filadelfia.

Tidak menggunakan dua tangan dan dua kaki = tidak mengandalkan kekuatan sendiri.
Orang yang tidak mengandalkan kekuatannya/tidak menggunakan dua tangan dan dua kaki, melakukan dua hal;
-      Tutup mulut, artinya; daging tidak bersuara = tidak hidup menurut hawa nafsu dan keinginan daging.
-      Tutup telinga, berarti; tidak mendengarkan segala sesuatu yang sifatnya merangsang dosa di dalam daging.
Itu adalah gambaran dari orang yang cerdik seperti ular.

Yesaya 65: 25
(65:25) Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus," firman TUHAN.

Di sini kita melihat, bahwa; “serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput.”
Kalau kita tergembala dengan baik, menikmati rumput penggembalaan, maka di situ ada kebersamaan, seperti serigala dan anak domba bersama-sama makan rumput.

Selanjutnya, dikatakan di sini, bahwa: “ular akan hidup dari debu” = menjilat debu.
Ular tidak hidup dari perkataan yang keluar dari mulut Allah, dia hidup dari debu.

Lebih jauh kita melihat ...
Yesaya 11: 6-9
(11:6) Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
(11:7) Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
(11:8) Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
(11:9) Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.

Serigala akan tinggal bersama domba, artinya; ada kebersamaan kalau kita bersama-sama menikmati rumput/firman penggembalaan.
Kemudian, pada ayat 8, anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Kemudian, tidak ada yang berbuat jahat, tidak ada yang berlaku busuk di seluruh gunung Tuhan, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan yang digambarkan seperti air laut menutupi dasarnya, termasuk segala kekurangan-kekurangan.

2.    Tulus seperti merpati
Seringkali kita menjumpai burung merpati; burung merpati dapat didekati, tetapi tidak mudah untuk ditangkap.

Imamat 1: 14-15
(1:14) Jikalau persembahannya kepada TUHAN merupakan korban bakaran dari burung, haruslah ia mempersembahkan korbannya itu dari burung tekukur atau dari anak burung merpati.
(1:15) Imam harus membawanya ke mezbah, lalu memulas kepalanya dan membakarnya di atas mezbah. Darahnya harus ditekan ke luar pada dinding mezbah.
Kalau korban bakaran itu berupa burung merpati, maka burung merpati dibawa ke mezbah lalu memulas kepalanya, artinya; orang yang tulus hatinya tidak menggunakan pikiran dan perasaan manusia daging di tengah-tengah ibadah dan pelayanannya kepada Tuhan, sebagaimana raja Daud.
Korban yang demikian menyenangkan hati Tuhan.

Selanjutnya burung merpati tersebut dibakar di atas mezbah, namun terlebih dahulu darahnya harus ditekan keluar pada dinding mezbah.
Artinya; orang yang tulus hatinya rela menerima tindasan, tekanan, rela berkorban = tanda darah.
Tanda pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah darah-Nya tercurah bagi manusia yang berdosa.

Kita dipercaya suatu tanggung jawab, dijadikan suatu kerajaan di atas bumi ini, semua tanggung jawab yang dipercayakan oleh Tuhan harus dipertanggungjawabkan sampai tetes darah penghabisan, bahkan sekalipun harus ditekan dan ditindas, itulah tanda orang yang tulus hatinya melayani Tuhan.
Tetapi kalau masih menggunakan akal, pikiran/perasaan manusia daging dalam ibadah pelayanan, itu bukanlah orang tulus.
Biarlah kehendak Allah terlaksana, dengan mengikuti perasaan dan pikiran yang terdapat dalam Kristus Yesus.

Filipi 2: 5-8
(2:5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
(2:6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
(2:7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
(2:8) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Hendaklah dalam hidup bersama, baik dalam nikah rumah tangga, baik dalam kandang penggembalaan, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, antara lain;
-      Tidak mempertahankan haknya sebagai milik yang harus dipertahankan
Yesus Kristus, Anak tunggal Bapa, telah meninggalkan sorga dan segala sesuatu yang ada di dalam Kerajaan Sorga.
Dia diutus ke dalam dunia ini, seperti domba di tengah-tengah serigala, dimulai dari bukit zaitun, sebagai Gembala yang baik, dia bertanggung jawab atas kawanan domba, kemudian Dia harus ditangkap dan disalibkan, Dia tidak mempertahankan hak sebagai milik yang harus dipertahankan.
-      Mengosongkan diri-Nya
Berarti, merasa diri tidak bisa, merasa diri tidak mampu, merasa diri tidak hebat, merasa diri tidak kuat.
-      Mengambil rupa seorang hamba
Selama kita berada di atas muka bumi ini, kita semua adalah hamba Tuhan. Jadi, jangan pernah mengambil rupa sebagai seorang tuan, nanti kelak dalam kerajaan 1000 tahun damai, kita semua menjadi raja-raja dan imam-imam bagi Allah.
Seringkali saya sampaikan; yang pertama-tama tunduk kepada seorang nabi adalah seorang imam, bukan jemaat awam. Lihat saja sejauh mana pemakaian Tuhan kepada seorang imam, berarti sejauh itulah ketundukannya.
Biarlah kita mengambil rupa sebagai seorang hamba supaya diakui Tuhan. Kita melayani bukan dengan gagah hebat, melainkan oleh karena Roh Tuhan, dengan karunia-karunia yang memperkuat kita.
-      Menjadi sama dengan manusia
Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya.
Merendahkan diri, berarti membawa diri rendah, selalu berada di bawah, baik perkataan, sikap, tingkah laku, cara berpikir, sudut pandang, gerak-gerik selalu berada di bawah.
Jangan ketika kita mendapat kesempatan untuk bersaksi maupun mengerjakan pekerjaan Tuhan, kita menjadi tidak mau dengar-dengaran, tidak mau diajar.
Seringkali kita membalik tatanan Kerajaan Sorga, membalik posisi tubuh dengan kepala.

Oleh sebab itu dalam 1 Petrus 5: 6 dikatakan, “rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat.
Ketika kita membawa diri rendah di bawah tangan Tuhan yang kuat, kita merasa aman dan nyaman, sebaliknya kalau kita mencoba-coba untuk meninggikan diri, maka di situ akan terjadi gejolak yang hebat.
Biarlah kita semua membawa diri rendah di bawah tangan Tuhan yang kuat, sebab sampai kapanpun kita tidak akan sanggup meninggikan diri di hadapan Tuhan.
Dengan segala kerendahan hati adalah langkah awal untuk taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib, itulah pribadi Yesus. Taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib à kesetiaan Yesus di hadapan Allah Bapa.
Jadilah pribadi yang taat, setia, dengar-dengaran, tunduk kepada Kepala, supaya Tuhan memakai kita semua.

Saya bersyukur, Tuhan telah menyatakan segenap isi hati-Nya; Allah menyatakan kasih-Nya kepada dunia, Ia  mengorbankan Anak-Nya yang tunggal, anak satu-satunya, untuk mendatangkan kebaikan kepada saya dan saudara.
Tidak ada orang yang dapat menyucikan dirinya sendiri dengan harta, uang, kepintaran, kekuatan, melainkan hanya oleh karena kasih Tuhan.
Barangkali kekuatan kita tidak seberapa, seperti sidang jemaat di Filadelfia, namun mereka menuruti firman dan menyangkal dirinya.
Kemudian, kalau kita hanya menuruti firman, mungkin saja terlihat tunduk, tetapi apakah di dalamnya ada penyangkalan diri?
Banyak hal yang kita lakukan untuk menuruti firman, dengan cara memberi persembahan-persembahan, dengan beribadah dan melayani Tuhan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah pelayanan, tetapi apakah di dalamnya ada penyangkalan diri?

Sebagai orang yang merasa diri lemah, tak berdaya, sebaiknya menuruti firman disertai dengan penyangkalan diri.
Sidang jemaat di Filadelfia, 1 dari 7 sidang jemaat di Asia kecil yang tidak terlalu mencolok kekurangannya di hadapan Tuhan.
Biarlah kita memperhatikan hal ini; mau menyangkal diri dan memikul salibnya di tengah-tengah pengikutan, di tengah-tengah ibadah pelayanan kepada Tuhan, sama seperti domba-domba di tengah-tengah serigala, lemah tak berdaya namun Tuhan memberi jalan keluar, yaitu; cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Roma 11: 33-34
(11:33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
(11:34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

Betapa dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah, tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya, tak terselami jalan-jalan-Nya, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
Oleh sebab itu, biarlah kiranya kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus, supaya kita memiliki hikmat dan pengetahauan yang berasal dari Allah, selanjutnya tidak salah dalam mengambil keputusan di hadapan Tuhan.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment