KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, August 16, 2014

IBADAH KAUM MUDA REMAJA, 16 AGUSTUS 2014


Tema:  STUDY YUSUF (Kejadian 37: 1-36, Kejadian 39)
(seri 80)                                         

Subtema: MEMIKUL TABUT PERJANJIAN

Shalom!
Selamat selamat malam, salam sejahtera, salam dalam kasih sayang, kasih setia Tuhan yang abadi.
Oleh karena kemurahan hati Tuhan, kita diperkenankan, dimungkinkan berada di dalam rumah Tuhan, beribadah melayani Tuhan, sekaligus mempersembahkan segala korban kepada Tuhan.

Kita kembali memperhatikan PRIBADI YUSUF pada kitab Kejadian 39.
Kejadian 39: 5
(39:5) Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHANmemberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.

Tuhan memberkati rumah Potifar karena kehadiran Yusuf, sehingga berkat Tuhan ada atas segala milik Potifar, baik yang di rumah maupun yang di ladang.

Kehadiran Yusuf sangat menentukan keadaan dari pada Potifar dan rumahnya dan segala sesuatu yang ada padanya, menunjukkan bahwa Yusuf berada dalam dua hal;
YANG PERTAMA: Yusuf melakukan firman Tuhan dengan setia.
Dalam Ulangan 28: 1-2 dikatakan di sana, apabila seseorang mendengar firman Tuhan dan melakukannya dengan setia, maka ia akan diangkat atas segala bangsa di bumi ini dan berkat-berkat Tuhan menjadi bagiannya.

Kehadiran Yusuf sangat menentukan keadaan dari pada Potifar dan rumahnya dan segala sesuatu yang ada padanya, menunjukkan bahwa Yusuf berada dalam dua hal;
YANG KEDUA:
2 Samuel 6: 2
(6:2) Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim.

Tabut Allah adalah takhta Allah/hadirat Allah.

2 Samuel 6: 10-11
(6:10) Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.
(6:11) Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.

Tuhan memberkati rumah Obed-Edom serta seisi rumah Obed-Edom karena keberadaan/kehadiran dari tabut perjanjian di dalam rumah Obed-Edom.
Selama 3 bulan tabut Allah ada di dalam rumah Obed-Edom, selama itu pula Tuhan memberkati Obed-Edom serta seisi rumah Obed-Edom.

Jadi, kehadiran seorang imam sangat menentukan tempat itu, sebab kehadiran seorang imam = membawa hadirat Allah, sedangkan dimana hadirat Allah, di situ ada berkat.
Hal ini perlu untuk diperhatikan dan dipikirkan kembali, supaya kehadiran kita menjadi berkat dimanapun kita berada, baik dalam perkataan, tingkah laku, cara berpikir, sudut pandang, gerak-gerik, harus menjadi berkat.

Sekarang kita berbicara tentang Tabut Allah.
Tabut Allah terdiri dari dua bagian;
1.    Tabut/petiàgereja Tuhan (kehidupan muda remaja).
Adapun tabut tersebut telah disalut dengan emas bagian luar dan bagian dalam, artinya; tabiat daging telah ditutupi oleh tabiat Ilahi, lahir dan batin, bagian luar dan bagian dalam.
Kalau disalut hanya pada bagian luarnya saja; bagian luar bisa terlihat baik dan menarik, tetapi bagian dalamnya tidak = munafik; di luar terlihat baik, di dalamnya tidak.

Tabut perjanjian itu dibuat dari kayu penaga.
Adapun kayu penaga itu;
-       Warnanya hitam, gambaran dari dosa kejahatan.
-       Berduri à kehidupan yang suka menusuk, menyakiti hati orang lain.
-       Keras, menggambarkan kekerasan hati manusia.
Tetapi di sini kita melihat, tabut perjanjian itu telah disalut bagian luar dan dalamnya = tidak ada lagi kemunafikan.

2.    Tutup pendamaian (terbuat dari emas murni) dengan 2 kerub di atasnya à Allah Trinitas, itulah Tuhan Yesus Kristus.
Tutup pendamaian menggambarkan pribadi dari Allah Anak, yaitu Yesus.
Tabiat-Nya: hidup benar sesuai dengan firman Tuhan.
Kuasa firman Tuhan, antara lain;
-       Yohanes 8: 31-32
(8:31) Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku
(8:32) dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
Kebenaran/firman Tuhan memberi kemerdekaan kepada seseorang, berarti; terbebas dari perhambaan/perbudakan dosa.

Yohanes 8: 33-35
(8:33) Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?"
(8:34) Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.
(8:35) Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.

Setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa, berarti; belum dimerdekakan oleh kebenaran/firman Tuhan.
Sebagaimana orang-orang Yahudi mengaku bahwa mereka adalah keturunan Abraham, tetapi mereka berupaya menolak, menyangkal kebenaran yang disaksikan oleh Yesus Kristus.
Jadi, untuk menentukan bahwa pribadi seseorang adalah pribadi yang telah dimerdekakan atau masih berada di bawah perbudakan, bukan dari faktor keturunan, melainkan sejauh mana ia mau menerima kebenaran firman Tuhan yang memberi kuasa kemerdekaan.
Dan orang yang mau menerima kebenaran adalah orang yang dimerdekakan, itulah pribadi seorang murid.
Murid = menerima ajaran dengan patuh = dengar-dengaran.

-       Yohanes 17: 17
(17:17) Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Firman Tuhan adalah kebenaran yang menguduskan manusia.

Lebih jauh kita melihat ...
Efesus 5: 26-27
(5:26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
(5:27) supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Dikuduskan/disucikan sesudah dimandikan dengan air dan firman.
Berarti, supaya betul-betul kudus, bersih, cemerlang dihadapan Tuhan, dibutuhkan air yang banyak, sama seperti orang yang mandi sampai bersih, dibutuhkan air yang banyak.
Kalau orang mandi sebanyak dua tiga gayung saja, seseorang tidak akan bersih, suci, di hadapan Tuhan.

Kalaupun dalam setiap ibadah kita menerima air firman yang banyak, tujuannya supaya kita dikuduskan, supaya kita ditempatkan di hadapan-Nya menjadi cemerlang, tanpa cacat cela, atau kerut, atau yang serupa itu.

Kemudian, tutup mendamaian itu terbuat dari emas murni, menggambarkan pribadi Yesus Kristus di dalam kemurnian dan kebenaran.

1 Korintus 5: 6
(5:6) Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan?

Sedikit ragi saja mengkhamiri seluruh adonan.
Dalam kandang penggembalaan ini terdiri dari banyak anggota. Kalau salah satu dari anggota itu berbuat salah, maka anggota yang lain dalam kandang penggembalaan akan terkhamiri.

1 Korintus 5: 7-8
(5:7) Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.
(5:8) Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.

Kemurnian dan kebenaran, itulah roti yang tidak beragi; tanpa keburukan dan kejahatan.
Itu sebabnya, sebagai seorang gembala, saya tidak berani untuk menambahkan dan mengurangkan firman Tuhan, supaya setiap kali kita berpesta dalam setiap ibadah-ibadah yang Tuhan percayakan, kiranya kita menikmati roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran, tanpa keburukan dan kejahatan, itulah pribadi Yesus Kristus; tidak sedikitpun ada ragi di dalam diri-Nya, tidak sedikitpun ada keburukan dan kejahatan di dalam diri-Nya.
Sehingga kalau kita perhatikan, ketika Yesus diadili dihadapan imam besar Kayafas, Herodes, dan Pilatus, tidak ada satupun kejahatan yang terlihat dalam diri Yesus Kristus, dan tidak ada satu orang pun yang dapat menyatakan kesalahan Yesus, sampai akhirnya Pilatus sendiri harus mencuci tangan, tanda tidak bersalah, ketika ia memutuskan untuk menyalibkan Yesus, pribadi yang murni dan benar.

Kalau ada kekurangan, jangan cuci tangan, jangan sampai terjadi lempar batu sembunyi tangan, kalau salah, akui saja kesalahan, supaya kita semua menjadi adonan yang baru, sampai pada akhirnya hidup dalam kemurnian dan kebenaran, tidak perlu malu untuk mengakui segala kekurangan, sebab Anak Domba paskah telah tersembelih, darah-Nya tercurah atas kita, di dalam Yesus ada pengampunan.

Kemudian; 2 kerub di atas tutup pendamaian.
-       Kerub yang pertama à Allah Bapa = Tuhan, tabiat-Nya adalah kasih.
1 Petrus 4: 8
(4:8) Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

Jadi, yang terutama dalam hidup orang Kristen adalah mengasihi dengan sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
Kalau kita melihat kekurangan orang lain dan selalu menyoroti kekurangan itu, menunjukkan bahwa ia tidak memiliki kasih, dan kerugian yang terjadi adalah; menyakitkan hati.

1 Korintus 13: 1-3
(13:1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
(13:2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
(13:3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Ada 3 hal yang harus kita perhatikan di sini, jika tidak mempunyai kasih:
1.    Sekalipun seseorang dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia, yaitu dari tiap-tiap suku, kaum dan bangsa di atas muka bumi ini, namun itu tidak ada artinya jika tanpa kasih.
Sekalipun berkata-kata dengan bahasa malaikat, yaitu bahasa sorga atau menggunakan bahasa yang rohani, tetapi kalau tidak memiliki kasih, semua itu tidak ada artinya.
Sehingga digambarkan seperti; gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing itu hanya mengeluarkan satu suara, sehingga ia tidak bisa mengikuti tinggi rendahnya suatu nada,dan tidak mempunyai irama = tong kosong nyaring bunyinya.
Kalau seseorang bernyanyi tetapi tidak bisa menentukan suatu tinggi rendahnya nada, maka nyanyian itu tidak akan ada artinya, sekalipun syair dari lagu itu baik.
Kemudian, kalau pengiring musik tidak dapat mengiringi lagu/tidak dapat mengikuti irama, maka lagu itu tidak ada artinya, semuanya kacau/berantakan.
2.    Sekalipun mempunyai karunia untuk bernubuat, kemudian, mengetahui segala rahasia, memiliki seluruh pengetahuan, dan memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika seseorang tidak memiliki kasih, sama sekali ia tidak berguna.
Rasul Paulus menentukan dirinya sendiri; sekalipun ia dipakai dengan luar biasa di tengah-tengah pelayanannya kepada Tuhan, Rasul Paulus berkata: “jikalau aku tidak memiliki kasih, aku tidak sempurna.”
Dan perkataan rasul Paulus ini terbukti; ia tidak mau terpisah dari kasih Kristus,sekalipun dengan penindasan, penganiayaan, kesesakan, pedang, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, ia siap menerima resiko, bahkan ia ada didalam bahaya maut sepanjang hari, menjadi domba sembelihan di tengah-tengah pelayanannya kepada Tuhan.
Jadi, kasihlah yang membuat seseorang berguna di hadapan Tuhan, bukan karunia-karunia, bukan karena tanda-tanda heran yang dapat dikerjakan oleh seorang hamba Tuhan.
Hal ini bertujuan supaya kita tidak keliru dalam melayani Tuhan.Banyak orang mengikuti Tuhan dengan motivasi yang salah karena pengertiannya yang salah.
3.    Rasul Paulus berkata; sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sangat berfaedah, sangat berarti bagi Rasul Paulus.
Pengorbanannya di tengah-tengah ibadah pelayanannya tidak berfaedah jika tanpa kasih Tuhan.

Sehingga selanjutnya Rasul Paulus menunjukkan 14 praktek kasih.
1 Korintus 13: 4-7
(13:4) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
(13:5) Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
(13:6) Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
(13:7) Ia menutupi segala sesuatu,percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu,sabar menanggung segala sesuatu.

Inilah 14 praktek kasih.
1.    Kasih itu SABAR.
2.    Kasih itu MURAH HATI.
3.    Kasih itu TIDAK CEMBURU.
4.    Kasih itu TIDAK MEMEGAHKAN DIRI.
5.    Kasih itu TIDAK SOMBONG.
6.    Kasih itu TIDAK MELAKUKAN YANG TIDAK SOPAN.
7.    Kasih itu TIDAK MENCARI KEUNTUNGAN.
8.    Kasih itu TIDAK PEMARAH.
9.    Kasih itu TIDAK MENYIMPAN KESALAHAN ORANG LAIN.
10.  Kasih itu TIDAK BERSUKACITA KARENA KETIDAKADILAN, tetapi karena kebenaran.
11.  Kasih itu MENUTUPI SEGALA SESUATU.
12.  Kasih itu PERCAYA SEGALA SESUATU.
13.  Kasih itu MENGHARAPKAN SEGALA SESUATU.
14.  Kasih itu sabar MENANGGUNG SEGALA SESUATU.

Dan praktek itu telah ditunjukkan oleh Allah Bapa dalam ...
Yohanes 3: 16
(3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Kasih Allah kepada manusia adalah mengorbankan Anak-Nya yang tunggal, Anak satu-satunya, menyerahkan segala sesuatu yang menjadi milik-Nya.
Berarti praktek kasih adalah PENGORBANAN.

Kejadian 3: 21
(3:21) Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.
Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan Adam dan isterinya.
Allah membuat pakaian dari kulit binatang, namun terlebih dahulu binatang itu disembelih, inilah gambaran dari kasih Allah.
Binatang yang disembelih à pada korban Kristus.

Bandingkan dengan ayat 7 ...
Kejadian 3: 7
(3:7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka berupaya untuk menutupi ketelanjangan mereka dengan menyemat daun pohon ara, tetapi cepat atau lambat daun pohon ara akan kering, dan hancur; kembali terlihat ketelanjangan mereka.
Namun oleh karena kasih Allah, Allah memberikan pakaian dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan.
Binatang yang dikuliti à pribadi Yesus Kristus yang dikorbankan di atas kayu salib.

-       Kerub yang keduaà Allah Roh Kudus = Kristus.
Yohanes 14: 16, 26
(14:16) Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
(14:26) tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Yohanes 16: 8
(16:8) Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

Tabiat Roh Kudus/Roh Kebenaran:
1. Penolong, berarti; menjadi penolong bagi orang yang membutuhkan pertolongan dari Tuhan.
2.    Menyertai manusia selama-lamanya.
3.    Penghibur, berarti; menghibur manusia manakala dalam kesusahan.
4.    Mengajarkan segala sesuatu kepada manusia.
5.    Mengingatkan kembali firman Tuhan yang pernah dengar dan terima.
6.    Menginsafkan manusia akan dosa.

Dampak positif bila hidup dalam Roh Kudus;
1.    Imamat 21: 12
(21:12) Janganlah ia keluar dari tempat kudus, supaya jangan dilanggarnya kekudusan tempat kudus Allahnya, karena minyak urapan Allahnya, yang menandakan bahwa ia telah dikhususkan, ada di atas kepalanya; Akulah TUHAN.

Minyak urapan di atas kepala menandakan kehidupan yang dikhususkan kepada Allah.
Syarat untuk mempertahankan minyak urapan tetap di atas kepala: jangan keluar dari tempat kudus.
Kalau dikaitkan dengan pola Tabernakel terkena pada ruangan suci, dimana di dalamnya terdapat 3 malam alat à ketekunan dalam 3 macam ibadah utama.
-Meja roti sajianà ketekunan dalam Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.
 Menghasilkan: iman.
-Pelita emasà ketekunan dalam Ibadah Raya Minggu disertai dengan kesaksian.
 Menghasilkan: PENGHARAPAN.
-Mezbah dupaà ketekunan dalam Ibadah Doa Penyembahan.
 Menghasilkan: kasih.

Tujuan tekun dalam 3 macam ibadah utama: supaya tidak melanggar kekudusan tempat kudus Allahnya = hidup di dalam kekudusan.

2.    2 Korintus 1: 21-22
(1:21) Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi,
(1:22) memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Roh Kudus yang dimeteraikan di dalam hati manusia menandakan bahwa ia adalah milik Allah, dan itu merupakan jaminan yang memberi keselamatan kepada setiap orang.

3.    Mazmur 45: 8
(45:8) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu.
Minyak urapan di atas kepala adalah sebagai tanda kesukaan bagi Allah melebihi orang lain.
Kemudian, kalau kita perhatikan di sini; kehidupan yang diurapi adalah pribadi yang mencintai keadilan dan membenci kefasikan.

Sekilas kita telah melihat dua bagian dari tabut perjanjian, inilah tanggung jawab yang harus dipikul di atas pundak kita masing-masing, jangan dilepaskan.

Bandingkan ketika tabut tidak dipikul diatas pundak...
2 Samuel 6: 3
(6:3) Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu.

Di sini kita melihat, bahwa; tabut Allah itu dinaikkan ke dalam kereta yang baru, berarti; TABUT ALLAH itu TIDAK DIPIKUL.
Sesungguhnya, yang benar adalah tabut Allah harus dipikul di atas pundak.
Setiap imam atau pelayan-pelayan yang menerima tanggung jawab sesuai dengan kepercayaan Tuhan, harus dipikul di atas pundak.

Tabut Allah itu dinaikkan ke dalam kereta yang baru, berarti melayani Tuhan dengan cara-cara yang lain, dengan cara-cara yang baru, namun tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, sebab tabut perjanjian harus dipikul di atas pundak.
Banyak gereja tidak lagi memikul tabut di atas pundak, mereka melayani Tuhan dengan cara-cara yang baru, supaya terlihat lebih modern dan menarik, tetapi apa artinya semua itu, kalau tabut itu tidak dipikul di atas pundak?
Melayani dengan cara-cara yang baru, modern, keren dan terlihat menarik, tetapi tidak dipikul di atas pundak, itu semua tidak ada artinya dihadapan Tuhan.

Dan saya sendiri, berupaya dengan sekuat tenaga untuk tetap memikul tabut, kepercayaan yang Tuhan berikan di atas pundak, sekalipun terlihat kolot dan kuno, itu tidaklah mengapa, yang penting adalah sesuai dengan kehendak Tuhan.
Memang, kalau kita mengikut Tuhan sesuai dengan kehendak Tuhan, itu terlihat kuno, namun tidak mengapa asalkan hati Tuhan senang, sebab untuk apa kita mengadopsi cara-cara yang lain, tetapi hati Tuhan tidak senang.

Mari kita lihat hamba yang menyenangkan hati tuannya.
Matius 25: 20-22
(25:20) Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
(25:21) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
(25:22) Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

Hamba yang pertama dipercaya oleh tuannya 5 talenta, kemudian ia mengusahakannya lalu memperoleh laba 5 talenta.
Demikian juga hamba yang kedua, dipercaya oleh tuannya 2 talenta, kemudian ia mengusahakannya dan memperoleh laba 2 talenta.

Matius 25: 23
(25:23) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Hamba yang pertama dan hamba yang kedua disebut hamba yang baik dan setia, karena rela memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil.
Perlu diketahui; kalau seorang hamba/pelayan setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, maka Tuhan akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar lagi.
Jadi sekali lagi saya katakan; kalau memikul tanggung jawab di atas pundak, disebut HAMBA YANG BAIK dan SETIA.

Sekarang kita melihat hamba yang ketiga.
Matius 25: 24-26
(25:24) Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
(25:25) Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
(25:26) Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

Hamba yang ketiga dipercaya hanya satu talenta namun ia menyembunyikan talenta itu di dalam tanah.
Artinya;
-       Mengubur masa depan.
-       Binasa sebelum masa penghakiman.
Menyembunyikan talenta di dalam tanah = tidak memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, sehingga tuan itu menyebut hamba yang ketiga sebagai hamba yang jahat dan malas. Berarti malas = jahat.

Akibat tidak memikul tabut perjanjian.
2 Samuel 6: 4
(6:4) Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu.

Karena tidak memikul tabut perjanjian di atas pundak, di sini kita melihat 2 sikap dari 2 pribadi, yaitu;
-       Uza berjalan di samping tabut perjanjian.
= menjadi pendamping. Artinya; tidak mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.
Kalau kita perhatikan dalam sebuah pernikahan; pendamping dari mempelai laki-laki ada di sampingnya, pendamping dari mempelai perempuan juga ada di sampingnya.
Tetapi yang menjadi aktor utama bukanlah pendamping, melainkan kedua mempelai, sedangkan pendamping hanyalah pendamping, bukan aktor utama, bukan pelaku, tidak mengambil bagian dalam kasih Allah, di mana Allah telah mengorbankan Anak-Nya yang tunggal = tidak mengambi bagian dalam penderitaan Kristus.
Lihat saja, kalau seseorang hanya mendampingi pelayanan, tidak mengambil bagian di dalamnya, ia paling suka menghindari salib/tidak terbeban dengan pelayanan.

Matius 16: 24-25
(16:24) Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
(16:25) Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Syarat untuk menjadi pengikut/pelayan Kristus; menyangkal dirinya dan memikul salibnya = rela kehilangan nyawa.
1.    Menyangkal diri, berarti; menyangkal segala sesuatu yang terkandung di dalam dirinya sendiri.
2.    Memikul salibnya, artinya; memikul tanggung jawab sesuai dengan kepercayaan Tuhan.
Itulah syarat mutlak menjadi pengikut Yesus Kristus, termasuk menjadi seorang pelayan Tuhan.
Jadi, kalau melayani Tuhan, layanilah dengan sungguh-sungguh, jangan hanya sebatas pendamping.
Kita semua harus mengambil bagian di dalam penderitaan Kristus, yang tidak boleh dilepaskan, apapun yang Tuhan percayakan.
Tetapi Uza tidak demikian, ia hanya sebatas pendamping saja.

1 Petrus 2: 19-20
(2:19) Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
(2:20) Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung, itu adalah kasih karunia.
Berarti, memikul tanggung jawab yang Tuhan percayakan adalah kasih karunia, sebab syarat untuk mengikuti/melayani Tuhan: harus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.
Adalah kesalahan yang besar, jika seseorang melayani tetapi tidak mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.

1 Petrus 4: 15-16
(4:15) Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.
(4:16) Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.

Kalau pun harus menderita sebagai seorang pengikut/pelayan Kristus, tidaklah perlu malu.
Kalau waktu kita lebih banyak beribadah dan melayani Tuhan, bagi orang dunia itu adalah suatu kebodohan, sebab bagi mereka, waktu yang digunakan untuk beribadah dan melayani Tuhan adalah kesia-siaan, tetapi sesungguhnya tidak.
Dan kalaupun kita harus menanggung penderitaan karena melakukan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan, kita tidak perlu malu, dan itu bukan suatu kebodohan.

1 Petrus 4: 14
(4:14) Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
Ketika kita mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, justru Roh kemuliaan itu menjadi bahagian yang tidak bisa dilepaskan dari hidup kita.

-       Ahyo berjalan di depan tabut.
Artinya; mendahului apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Kalau kita bandingkan dengan imam-imam atau orang-orang Lewi yang memikul tabut perjanjian, justru mereka berada pada barisan yang paling depan.
Kemudian, jarak antara umat Israel dengan tabut itu ada 2000 hasta, dan pandangan mereka harus terus terarah pada tabut perjanjian, sebab jalan yang mereka tempuh belum pernah dilalui, sehingga mereka tidak tersesat di padang gurun (Yosua 3:2-4).
Tetapi kalau seorang imam yang mendahului kehendak Allah, di dalam dirinya terjadi banyak penyimpangan-penyimpangan, sehingga tersesatlah ia dalam pengikutannya kepada Tuhan.

Pada malam hari ini Tuhan berbicara pada kita dengan kasih yang sempurna, supaya kita semua menjadi imam-imam yang benar, karena kita berada dalam tahbisan yang benar.
Kalau kita berada dalam tahbisan yang benar, maka kita tidak pernah mendahului apa yang menjadi kehendak Allah, dengan demikian kita tidak tersesat dalam pengikutan kita kepada Tuhan di tengah-tengah ibadah pelayanan kepada Tuhan.

Dampak negatif tidak memikul tabut perjanjian.
2 Samuel 6: 6
(6:6) Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.

Akhirnya, lembu-lembu yang menarik kereta tersebut tergelincir.
Di sinilah kita dapat melihat bahwa; kalau melayani dengan cara-cara manusia duniawi/buatan tangan manusia, sekalipun terlihat modern, pada akhirnya akan tergelincir juga. Tidak ada pelayanan di atas muka bumi ini yang akan bertahan lama, jika menggunakan cara-cara manusia, yang kelihatannya modern.
Saya banyak melihat pelayanan dengan cara manusiawi, namun akhirnya cara-cara itu tidak bertahan lama, misalnya;
-       Pelayanan tertawa di dalam roh,  ajaran ini juga tidak bertahan.
Saya pernah melihat ajaran seperti ini  di dalam suatu gereja, di Jawa Timur, ketika saya melihat mereka tertawa di dalam roh, saya terkejut dan bagi saya itu adalah sesuatu yang aneh, karena berdoa sambil tertawa dengan cekikikan.
-       Pelayanan dengan muntah-muntah, ajaran ini juga tidak bertahan lama, dan sekarang tidak terlihat lagi.
-       Pelayanan dengan rubuh-rubuh maksudnya setiap orang yang didoakan terjatuh / tumbang.
-       Pelayanan dengan menggunakan mediasi seperti minyak supaya ditengah-tengah ibadah dan pelayanan itu ada urapan Roh Kudus, namun ajaran ini hampir-hampir tidak terlihat lagi.
Kalau kita menggunakan mediasi di tengah-tengah ibadah pelayanan kepada Tuhan, menunjukkan betapa jauhnya jarak antara seorang imam/pelayan dengan Tuhan, seolah-olah tidak ada pengurapan di dalam diri seorang imam/pelayan Tuhan.

Tuhan kita tidak jauh, asal kita sungguh-sungguh menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan/penyerahan diri sepenuhnya, dan bertekun di dalamnya, maksudnya; rela menderita di tengah-tengah pelayanan kepada Tuhan.
Pengurapan itu sejauh penyerahan seorang imam. Pengurapan itu sejauh kesucian seorang imam.
Saudaraku, malam hari ini kita datang kepada Tuhan apakah hanya sebatas rutinitas? Kalau hanya sebatas rutinitas, maka pengurapan hanya sebatas itu saja.

Beberapa hari yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang hamba Tuhan dari Sumatera via telepon,  kami sepakat melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, dengan berpegang teguh pada pengajaran mempelai yang benar dan murni tanpa menggunakan cara –cara duniawi, sekalipun terlihat kuno dan ketinggalan zaman.

2 Samuel 6: 6-7
(6:6) Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.
(6:7) Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.

Kemudian, pada saat lembu-lembu itu tergelincir, Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, tetapi pada saat itu juga, Tuhan membunuh Uza.
Artinya; melayani Tuhan tidak boleh dengan campur tangan manusia.
Kedaulatan Allah, takhta Allah/kemuliaan Allah, kesempurnaan Allah, tidak boleh dicampur aduk dengan tangan-tangan manusia yang tidak murni.

Dari awal saja, hati Tuhan telah tersakiti, sebab mereka tidak mau memikul tanggung jawab di atas pundak, melainkan meletakkannya di atas kereta yang baru, sampai pada akhirnya lembu-lembu yang menarik kereta itu tergelincir, dan seketika itu juga Uza mengulurkan tangannya pada tabut Allah, sesungguhnya itu adalah hal yang tidak boleh.
Sekilas kita melihat, apa yang dilakukan Uza ini adalah baik, tetapi malam hari ini Tuhan memberi pengertian, seperti rembang di tengah hari, sampai akhirnya kita disempurnakan, asal kita sungguh-sungguh memikul tabut perjanjian.

Jangan sampai kita mengikuti, melayani Tuhan supaya sepintas terlihat baik, tetapi biarlah kita betul-betul memikul tanggung jawab di atas pundak masing-masing sesuai dengan kepercayaan Tuhan.

2 Samuel 6:7-8
(6:7) Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.
(6:8) Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang.

Kemudian, pada saat itu Daud menjadi marah karena Tuhan telah menyambar Uza demikian hebatnya.
Hal ini sering terjadi menimpa hamba-hamba Tuhan, termasuk saya sendiri; manakala terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seringkali kita menganggap Tuhan yang salah, padahal kitalah yang teledor di hadapan Tuhan.
Tetapi di sini kita melihat; Tuhan tetap berkemurahan, demikian halnya kepada saya dan saudara, dengan bukti; Tuhan memberikan ibadah ini dan mempercayakan tugas pelayanan di tengah-tengah ibadah pelayanan ini, mempercayakan karunia-karunia dan jabatan-jabatan.

Selain itu, pada ayat 8 ini dikatakan; tempat di mana Tuhan membunuh Uza, disebut Peres-Uza.

Mari kita lihat; PERES.
Daniel 5: 28
(5:28) Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia."

Peres, artinya; kerajaan itu dipecah menjadi dua bagian, demikian halnya kepercayaan Tuhan kepada Uza.
Inilah yang disebut Peres-Uza.
Kalaupun Tuhan mempercayakan ibadah dan pelayanan kepada kita semua, sekali lagi saya katakan; hargai, pikul di atas pundak, bertanggung jawab di hadapan Tuhan, kalau tidak, kepercayaan Tuhan bisa pecah dan beralih kepada yang lain. Sama halnya dengan hamba yang ketiga, karena ia tidak menghargai satu talenta yang dipercayakan oleh tuannya, maka talenta itu diambil dari padanya, dan diberikan kepada hamba yang lain / hamba yang menerima sepuluh tanlenta (Matius 25:28).

Kerajaan Babelonia terpecah menjadi 2 bagian, itulah yang disebut kerajaan Media dan Persia. Hal itu terjadi setelah Belsyazar, anak Nebukadnezar menjadi raja, sebab Belsyazar ini tidak menghargai segala kekudusan, kesucian Allah, sebab dia mengambil dan menggunakan peralatan-peralatan, perkakas-perkakas yang ada di dalam rumah Tuhan untuk bersenang-senang dan minum anggur, bersama dengan para pelayannya, para gundiknya, dengan kata lain dia mengecilkan salib Kristus.
Saudaraku, jangan anggap enteng pemberitaan firman ini, hormatilah firman Tuhan!

Kemudian, sebelum penyebutan Peres, ada penyebutan yang lain;
Daniel 5: 25-27
(5:25) Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mené, mené, tekél ufarsin.
(5:26) Dan inilah makna perkataan itu: Mené: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri;
(5:27) Tekél: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan;

-       Mené, artinya; pemerintahan dihitung oleh Allah dan telah diakhiri.
Kalau dihitung lalu akhirnya diperhitungkan, itu adalah kemurahan Tuhan, mendapat upah.
Tetapi kalau dihitung untuk diakhiri, berarti; berakhirlah masa pemerintahan, tidak mendapat apa-apa, tidak mendapat upah.
-       Tekél, artinya; ditimbang dengan neraca, kemudian didapati terlalu ringan.
Kalau kebenaran terlalu ringan, maka dosa kejahatan, dosa kenajisanlah yang lebih berat.
Bagaimana dengan kita di hadapan Tuhan di hari-hari terakhir ini; manakah yang lebih berat?

Oleh pertimbangan inilah, maka akhirnya kerajaan Babelonia terpecah dan terbagi menjadi 2 bagian, itulah yang disebut Media dan persia, yang sekarang disebut negara Iran.
Itulah bagian dari pada Uza di hadapan Tuhan.

Jalan keluarnya.
2 Samuel 6: 9-11
(6:9) Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?"
(6:10) Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.
(6:11) Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.

Akhirnya, Daud dengan rasa ketakutan berupaya untuk membawa tabut perjanjian itu ke dalam rumah Tuhan yang ada di Yerusalem.
Tetapi karena rasa takut itu, akhirnya ia menyimpang dan meletakkan tabut perjanjian itu di rumah Obed-Edom selama 3 bulan lamanya.
Angka 3 à kematian dan kebangkitan Yesus Kristus = kasih karunia / kemruahan Tuhan.
Itulah riwayat, sehingga tabut perjanjian itu berada di rumah Obed-Edom.

Biarlah tabut perjanjian itu kita pikul, sebab di dalam ibadah dan pelayanan ini Tuhan bertakhta, supaya sebagaimana Obed-Edom diberkati, juga berkat Obed-Edom menjadi bagian kita, selama kita mau memikul tabut perjanjian, ibadah pelayanan yang Tuhan percayakan, dengan syarat diawali dengan pengalaman kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, sehingga pada akhirnya tabut perjanjian itu diambil kembali dari rumah Obet-Edom, kemudian apabila pengangkat-pengangkat tabut itu melangkah maju enam langkah, Daud mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan (2 samuel 6:13).
Mengorbankan seekor lembu àkorban Kristus. Sedangkan 6 à manusa/daging.
Kesimpulannya; untuk memikul tabut perjanjian harus disertai pengorbanan/ penyaliban atas daging.

Kemudian, berkat yang paling nyata diterima oleh Obed-Edom oleh karena tabut perjanjian itu dalam 1 Tawarikh 26:4-5, Obed-Edom dan anak-anaknya menjadi pejabat lain diantara orang – orang lewi.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI
Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

No comments:

Post a Comment