KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Sunday, July 1, 2018

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 01 JUNI 2018



IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 01 JUNI 2018

KITAB RUT
(Seri: 14)


Subtema: MENJADI KAKI DIAN KARENA SETIA.


Shalom saudaraku.
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua. Oleh karena kemurahan hati Tuhan kita dimungkinkan untuk melangsungkan Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci.
Kita juga berterima kasih kepada Tuhan karena kita mendapat kunjungan. Di tengah-tengah ibadah ini, bersama dengan kita Bapa Pendeta A. Siregar yang datang dari Sumatera.
Juga saya tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, hamba Tuhan dalam negeri atau pun di luar negeri yang sedang mengikuti live streaming video internet, kiranya Tuhan memberkati kita.

Segera saja kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab dari kitab Rut pasal yang pertama.
Sebelum kita memperhatikan pembahasan Rut 1 : 14, namun saya juga ingin kembali menyampaikan bahwa Naomi tiga kali berkata: “Pulanglah” kepada kedua menantunya Orpa dan Rut, yaitu:
1.      Rut 1: 8
2.      Rut 1: 11
3.      Rut 1: 12

Sebelum kita membaca ayat 14, kita awali dengan membaca ayat 13.
Rut 1: 13
(1:13) masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?"
Di sini kita melihat Naomi berkata: “bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu
Naomi mengatakan itu karena ia telah kehilangan Elimelekh suaminya, serta kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, inilah yang menjadi alasan sehingga Naomi menghalang-halangi kedua menantunya untuk mengikutinya ke Betlehem dan berada di tengah-tengah bangsanya.
Kerugian yang lain kalau pengalaman pahit yang menjadi tolak ukur di tengah-tengah ibadah pelayanan.

Kembali Naomi berkata: “sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?”, artinya Naomi mempersalahkan Tuhan dengan segala keputusan-keputusan yang Tuhan buat. Seolah-olah Tuhan membuat suatu rancangan kecelakaan kepada Naomi.

Jadi dengan perkataan: “Pulanglah”, menunjukkan bahwa Naomi menghalang-halangi kedua menantunya untuk mengikuti dia pulang ke Betlehem dan berada di tengah-tengah bangsanya.

Kerugian lain selain menghalang-halangi kedua menantunya: mempersalahkan Tuhan, seolah-olah Tuhan membuat suatu rancangan kecelakaan terhadap Naomi atas kehilangan Elimelekh suaminya dan kedua anaknya, Mahlon dan Kilyon.

Sebelum jauh lebih dalam kita memperhatikan tentang kisah Naomi dan kedua menantunya, sejenak kita baca Yeremia 29.
Yeremia 29: 11
(29:11) Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Rancangan Tuhan kepada manusia yaitu: rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan, itu harus kita ketahui dengan benar.”
Tujuan dari rancangan Tuhan adalah untuk memberi masa depan yang penuh harapan. Kadangkala kita mempersalahkan Tuhan ketika terjadi sesuatu yang tidak enak bagi diri kita, seolah-olah itu adalah suatu rancangan kecelakaan, sebetulnya Tuhan sedang mendidik kita. Itu bukan rancangan kecelakaan, itu adalah rancangan damai sejahtera dan masa depan penuh dengan harapan.

Oleh sebab itu jangan bersungut-sungut apalagi di dalam mengerjakan suatu pekerjaan, kemudian apabila tidak sesuai dengan keinginan dihati, jangan cepat-cepat berkata: “Sialan.

Yeremia 29: 12-14
(29:12) Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;
(29:13) apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
(29:14) Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu. --

Dalam kesusahan, apalagi dalam pengalaman pahit seperti yang dialami oleh Naomi, sebetulnya tidak perlu menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti Tuhan, kemudian jangan menyesali keputusan Tuhan dan segala rancangan-Nya.

Yang terpenting bagi kita adalah segera membuktikan diri dengan tiga hal, yaitu:
Yang pertama: Berseru dan datang untuk berdoa kepada-Nya.
Pertanyaannya: Mengapa harus bertindak seperti itu? sebab Ia akan mendengarkan seruan-seruan kita.
Tuhan tidak jauh dari kita, jarak Tuhan dengan kita sejauh doa. Tuhan dengar seruan-seruan kita. Jangan lantas segera mengutuki Tuhan apalagi berkata: “sial” Jangan lantas bersungut-sungut, yang terpenting membuktikan diri dengan tiga hal, yang pertama; berseru dan datang untuk berdoa kepada-Nya.
Yang Kedua: Mencari Dia.
Pertanyaannya: Mengapa harus bertindak seperti itu? Jawabnya: sebab Ia akan ditemukan.
Banyak orang Kristen berusaha untuk mencari Tuhan tetapi tidak menemukannya. Sebetulnya bukan Tuhan tidak dapat ditemukan tetapi cara untuk mencari tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan.
Seringkali kita mencari Tuhan dengan cara-cara manusia duniawi, tidak akan pernah menemukan Tuhan.
Yang Ketiga: Menanyakan Dia dengan segenap hati.
Pertanyaannya: Mengapa harus bertindak seperti itu? Jawabnya: sebab Ia akan ditemukan atau Ia akan menjawab segala sesuatu yang kita tanyakan.
Detik ini, saat ini, saya jadi teringat dengan Saul; ketika Saul menanyakan Tuhan tetapi Tuhan tidak menjawabnya, lalu dia segera pergi untuk bertanya kepada roh-roh tenung. Ini kesalahan besar. Saul tidak bertanya kepada Tuhan dengan segenap hati, Tuhan tidak menjawab dia, karena hatinya jauh dari Tuhan, DIA ADALAH PRIBADI YANG TIDAK DENGAR-DENGARAN.
-        Yang pertama; ketika menghadapi Filistin, dia mendahului Samuel untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, itu bukan pekerjaan seorang raja, itu pekerjaan seorang imam, itu tanda tidak dengar-dengaran.
-        Yang kedua; dia membiarkan Agag, raja Amalek, hidup, kemudian mengambil kambing domba, jarahan yang tambun-tambun, tetapi yang kurus bangunnya ditumpas, dibinasakan, dia tidak dengar-dengaran.
Tuhan tidak menjawab Saul. Sebetulnya apabila kita menanyakan dengan segenap hati, maka Ia akan ditemukan dan Ia akan menjawab segala sesuatu yang kita tanyakan.
Dengar-dengaran adalah modal yang baik, dasar kita untuk bertanya kepada Tuhan. kalau tidak dengar-dengaran, sampai kapanpun, sampai langit runtuh, tidak akan pernah mendapat jawaban (solusi) dari persoalan yang kita hadapi. Intinya, dengar-negaran saja, maka segala doa dan permohonan akan didengar.

Hasil dari tiga tindakan di atas:
1.      Ia akan memulihkan keadaan umat-Nya. Ketika umat-Nya dipulihkan, menunjukkan bahwa Dia adalah tabib yang ajaib.
2.      Yang tercerai-berai akan dikumpulkan kembali, menunjukkan bahwa Ia adalah gembala yang baik. Gembala yang baik akan menyerahkan hidupnya. Beda dengan gembala upahan; ketika serigala datang, ia lari, karena ia adalah seorang upahan, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan kawanan domba.
Pekerjaan dari roh jahat (serigala) adalah untuk mencerai-beraikan kawanan domba dalam satu kandang penggembalaan. Tetapi di sini kita perhatikan; yang tercerai-berai akan dikumpulkan kembali, menunjukkan bahwa Dia adalah gembala yang baik. Gembala yang baik menyerahkan nyawanya di atas kayu salib, menyerahkan segenap hidupnya untuk kawanan domba. Beda dengan gembala upahan; tidak bertanggung jawab terhadap kawanan domba yang dipercayakan oleh Tuhan.
Kita bersyukur, karena kita mempunyai seorang Gembala Agung yang baik, sehingga kalau kita melihat pengalaman Daud ketika digembalakan oleh gembala Agung, pengalamannya diinventarisir dengan baik dalam Mazmur 23, Daud berkata: “Yesus adalah gembala yang baik” , selanjutnya Daud berkata: “takkan kekurangan akusecara lahiriah tidak kekurangan, tercukupkan, dalam hal yang rohani tidak terlihat kekurangan, aib dan cacat cela, kalau kita tergembala dengan baik. Beda dengan orang yang tidak tergembala (liar), tercerai-berai dari kawanan domba mengambil jalannya masing-masing.
3.      Akan dikembalikan dari pembuangan, menunjukkan bahwa Allah itu kasih dengan kasih yang sempurna. Jadi bukan kasih eros, bukan kasih fileo, tetapi kasih yang sempurna.
Lebih rinci tentang kasih yang sempurna dalam Yeremia 29.
Yeremia 29: 10
(29:10) Sebab beginilah firman TUHAN: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.

Setelah genap tujuh puluh tahun, orang-orang buangan, yaitu orang-orang Israel dan Yehuda yang dibuang ke Babel akan kembali ke Yerusalem.
Jadi, ketika orang-orang Israel dan orang-orang Yehuda dibuang ke Babel, sebetulnya itu bukan rancangan kecelakaan, tetapi rancangan yang indah, masa depan yang indah dan penuh harapan, itu bukan rancangan kecelakaan, sebab Tuhan mau mendidik Israel dan Yehuda. Itu sebabnya di muka tadi saya katakan; kalau ada sesuatu yang tidak enak terhadap daging ini atau pengalaman pahit yang terjadi seperti yang dialami Naomi, bukan berarti kita harus segera mengutuuki Tuhan dan mempersalahkan Tuhan dengan segala keputusan-Nya.

Tuhan mau mendidik bangsa Israel dan Yehuda ketika mereka dibuang ke Babel, tetapi nanti setelah genap tujuh puluh tahun, mereka akan kembali ke Yerusalem, itu janji Firman.
Terkadang kita diijinkan untuk mengalami sesuatu yang tidak enak, tetapi itu merupakan didikan, tidak perlu anggap enteng didikan, jangan juga putus asa saat mengalami didikan yang pahit.

Saya kira kita di tengah-tengah Ibadah Pendalaman Alkitab disertai perjamuan suci hari ini bukan suatu kebetulan. Tuhan mau pulihkan keadaan Sion, keadaan kita semua, termasuk anak-anak Tuhan, hamba Tuhan yang sedang menyaksikan pemberitaan firman lewat live streaming video internet di manapun anda berada.

Kita lihat lebih jauh lagi ...
Matius 18: 21-22
(18:21) Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
(18:22) Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali

“tujuh puluh kali tujuh kali” -> kasih Allah yang sempurna.
Tuhan ampuni, seperti Allah mengampuni bangsa Israel dan Yehuda, mereka dikembalikan ke Yerusalem.
Ada juga beberapa di antara kita yang sempat mengundurkan diri lalu kembali lagi berada dalam kandang penggembalaan ini, itu adalah kasih Allah dengan kasih yang sempurna.

Kita akan memasuki Rut 1:14
Rut 1: 14
(1:14) Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.
Sekarang kita memasuki ayat 14, malam ini inti dari pemberitaan firman adalah ayat 14.
Setelah didesak oleh Naomi dengan perkataan: “pulanglah” sebanyak tiga kali, “lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri”, artinya; pengikutan Orpa berhenti dan gugur di tengah jalan.
Rut 1: 7, “Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya” Sebetulnya mereka sudah berjalan dan berangkat untuk kembali ke Betlehem, tetapi karena perkataan: “Pulanglah” sebanyak tiga kali, Orpa merasa terdesak, lalu Orpa mencium mertuanya itu (Naomi), minta diri.
Itu sebabnya kalau kita mengalami sesuatu yang pahit seperti yang dialami Naomi, jangan menjadi batu sandungan, jangan menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti Tuhan dan jangan sekali-kali mempersalahkan Tuhan dengan segala keputusan-Nya dan segala rancangan-Nya, akibatnya fatal sekali.
Hei yang sering menjadi batu sandungan karena pengalaman pahit yang sedang terjadi, malam ini minta ampun kepada Tuhan, menangislah sejadi-jadinya, jangan sampai mengeraskan hati dan tidak mau mengakui kesalahan.

Kembali baca ayat 8 ...
Rut 1: 8
(1:8) berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;

Untuk yang pertama kali Naomi berkata: “Pulanglah” kepada menantunya, tetapi pada ayat 10, Orpa dan Rut berkata: “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu. Pendeknya Orpa dan Rut bertahan.
Puji Tuhan, sampai hari ini kita masih bertahan menjadi suatu kawanan domba Allah dalam kandang penggembalaan dan menjadi keluarga GPT BETANIA semua karena kemurahan Tuhan. Banyak sandungan, banyak desakan tetapi masih bisa bertahan, iitu kemurahan Tuhan.
Orpa juga seperti itu, AWALNYA masih bertahan.

Pengkotbah 7: 8
(7:8) Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.

Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Kolerasinya atau hubungan timbal baliknya; panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.
Artinya; mengakhiri suatu hal itu adalah pekerjaan atau perbuatan dari orang-orang panjang sabar, itu bukan pekerjaan dari orang yang tinggi hati dan sombong.

Tuhan menantikan perjuangan kita sampai pada akhirnya (sampai langkah-langkah terakhir). Tuhan menantikan langkah-langkah atau perjalanan rohani kita pada mil-mil terakhir, Tuhan juga menantikan waktu bahkan detik detik terakhir dari segala perjuangan kita di atas muka bumi ini dalam melayani Tuhan.

Panjang sabar itu pekerjaan dari orang yang rendah hati. Orang yang mau mengakhiri pekerjaannya adalah orang yang panjang sabar, bukan pekerjaan dari orang yang sombong, tinggi hati.

Kita lihat pribadi Rasul Paulus di dalam 2 Timotius.
2 Timotius 4: 7
(4:7) Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Rasul Paulus telah mengakhiri sebuah pertandingan yang baik sebab dia telah mencapai garis akhir.

2 Timotius 4: 6
(4:6) Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.

Kunci keberhasilan dari Rasul Paulus sehingga dia mencapai garis akhir. Dapat dilihat dari pengakuannya:
Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
Berarti, diawali dengan persekutuan di dalam penderitaan-Nya, kemudian diakhiri dalam tanda pengalaman kematian. Tidak ada kematian kalau tidak diawali dengan sengsara salib atau persekutuan dalam penderitaan-Nya. Di sinilah letak keberhasilan sehingga kita bisa mengawali dan mengakhiri pekerjaan yang Tuhan percayakan ini. Ini kunci dan rumus keberhasilan ini tidak boleh diabaikan kalau mau berhasil.

Banyak kali orang Kristen maunya enak-enak melayani Tuhan, itu suatu kekeliruan.
Keberhasilan diawali dengan sengsara salib, darah tercurah, baru nanti diakhiri dengan pengalaman kematian; daging tidak bersuara, berarti mati terhadap dosa. Kalau daging tidak bersuara, otomatis mati terhadap dosa.

Kematian adalah akhir dari sebuah kompetisi atau pertandingan hidup rohani kita dihadapanTuhan.

2 Timotius 4: 5
(4:5) Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

Pertandingan hidup Rasul Paulus adalah menunaikan tugas pelayanan, yaitu pekerjaan pemberita Injil.
Pemberita Injil tidak mesti harus dari mimbar ini tetapi dengan menjadi surat pujian, dengan menjadi surat Kristus di mana firman itu sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus, ditukik di dalam hati, itu adalah pemberita Injil yang luar biasa, itu sama dengan memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.
PERBUATAN YANG BESAR ATAU KARYA ALLAH YANG TERBESAR ADALAH SALIB DI GOLGOTA. KALAU KITA MEMBAWA SALIB DALAM HIDUP INI, ITU SUDAH PERBUATAN BESAR, ITU ADALAH PEMBERITA INJIL.

Namun perlu untuk diketahui, di tengah-tengah menunaikan tugas pelayanan, di tengah-tengah pemberitaan Injil, di dalamnya Rasul Paulus menguasai diri di dalam segala hal, kemudian sabar menderita.

Filipi 1: 21
(1:21) Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Ayat ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a.      Hidup adalah Kristus, artinya; di dalam kegiatan rohani Rasul Paulus banyak menanggung penderitaan.
b.      Mati adalah keuntungan, artinya; Rasul Paulus telah mengakhiri pertandingan hidup dengan baik, dan itu adalah suatu keuntungan. Berarti dia telah mencapai garis akhir, itu suatu keuntungan.

Lihat keuntungan yang dimaksud di sini, kembali kita membaca surat tahbisan 2 Timotius 4.
2 Timotius 4: 8
(4:8) Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Kepada Rasul Paulus tersedia mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadanya oleh Tuhan. Inilah tanda bahwa dia telah mencapai garis akhir (kematian adalah keuntungan). Keuntungannya ialah dimahkotai dengan mahkota kebenaran.

Banyak orang mengakhiri suatu pertandingan tetapi belum tentu diberi mahkota kebenaran, padahal sudah berjuang setengah mati. Tetapi kalau kita mengikuti cara Rasul Paulus, diawali dengan sengsara salib, darah tercurah, diakhiri dengan pengalaman kematian, baginya tersedia mahkota kebenaran. Cari dahulu Kerajaan Sorga di mana di dalamnya terdapat kebenaran. Jangan diputar balik. Banyak orang Kristen; terlebih dahulu mencari kerjaan, itu salah. Yang benar; cari dahulu Kerajaan Sorga, maka semuanya ditambahkan, sebab di dalamnya ada kebenaran.
Cari dahulu Kerajaan Sorga dan kebenarannya, nanti semuanya ditambahkan yaitu; mahkota kebenaran.
Saya kira di bumi juga kita bisa mendapat mahkota kebenaran, asal betul-betul ada tanda dalam pengalaman kematian itu.

Kita kembali memperhatikan ...
Rut 1: 14
(1:14) Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.
Kembali saya katakan; pengikutan Orpa berhenti di tengah jalan, tetapi di sisi lain Rut tetap berpaut kepada Naomi, mertuanya.
Kita sudah melihat satu sisi, itulah sisi Orpa. KEMUDIAN DI SISI LAIN, RUT TETAP BERPAUT PADA NAOMI.
-        Orpa -> gereja yang hanya sebatas berbuat baik.
-        Rut -> gereja Tuhan yang setia.

Berpautlah kepada Tuhan. jangan berpaut kepada yang lain-lain.
Kalau Tuhan percayakan hal-hal yang lahiriah, puji Tuhan, dipercayakan suatu kedudukan atau posisi yang tinggi di perusahaan atau di tempat saudara bekerja, puji Tuhan, atau saudara menuntut ilmu yang tinggi, puji Tuhan, atau masih ada berkat-berkat yang lain, puji Tuhan. Tetapi jangan berhenti, atau tidak berhenti sampai di situ.

Mari kita berpaut kepada Tuhan. Rut, gambaran dari gereja Tuhan yang setia, tetap berpaut kepada Tuhan. jangan berpaut kepada yang lain-lain.

Amsal 20: 6
(20:6) Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?
Orang baik terlalu banyak, baik hati banyak, tetapi orang yang setia sangat sedikit, bahkan terlalu sedikit.
Saudaraku, orang kaya suka berbuat baik, apalagi kalau ada maunya, suka berbuat baik, dan kalau seorang gembala tidak hati-hati dalam hal ini, lama-lama orang kaya yang menjadi majikan dalam rumah Tuhan. Maka seorang hamba Tuhan yang sudah menerima jabatan gembala, kepadanya, Tuhan curahkan Roh dengan limpah, termasuk Roh hikmat, Roh marifat, pengertian dan akal budi, Tuhan curahkan itu, supaya semuanya terproteksi dengan baik.
Tetapi sebagai seorang gembala saya menghimbau; jangan berbuat baik karena ada sesuatu, atau karena ada kepentingan diri di dalamnya, itu tidak murni melayani Tuhan. Di atas tadi sudah dijelaskan, orang yang mengaku diri baik hati terlalu banyak tetapi orang yang setia sangat sedikit dan sukar untuk ditemukan.
Sebelum zaman Nuh, hanya satu orang yang setia, yaitu; Henokh.sedangkan pada Zaman Nuh hanya delapan orang yang setia.
Menjelang kedatangan Tuhan untuk yang kedua kali, kejadiannya juga persis seperti zaman Nuh; makan minum, itu dosa daging, kawin dan mengawinkan, itu dosa kenajisan.
Nuh itu adalah seorang pemberita kebenaran. Setialah.

Pujian yang sudah kita naikkan tadi mengatakan: “kuberjuang sampai akhirnya, Kau dapati aku tetap setia
Biar kita malam ini diselidiki oleh firman. Biarlah kita semua menjadi pemberita-pemberita firman kebenaran dengan setia, seperti Nuh.
Ketika Nuh membangun bahtera di atas gunung dia diolok-olok, namun dia tidak peduli, dia tetap setia, membangun bahtera itu memang harus di atas gunung. Saya baru mengerti di hari-hari ini. Malam ini bukankah kita berada di atas gunung Tuhan, gunung Sion, sedang membangun hidup kita. Juga Musa menerima suatu perintah untuk membangun Tabernakel pada saat dia berada di atas gunung Sinai, gunung Horeb, gunungnya Tuhan, di situ dia mendapat perintah untuk membangun Tabernakel, (Bait Allah/rumah Tuhan) kediaman Allah, supaya di situ Dia menjadi Raja dan memerintah umat-Nya.

Setialah menjadi pemberita kebenaran apapun yang terjadi, entah itu dicaci maki, diolok-olok, dijelek-jelekkan, tetaplah setia. Bertahan dan terus berada di atas gunung Tuhan, tetaplah setia menjadi pemberita kebenaran sesui dengan 1 Petrus (tentang Nuh).

Berbuat baik itu harus, itu harus kita kerjakan, tetapi tidak berhenti sampai di situ. Harus dilanjutkan sampai SETIA.
Mari kita melihat injil Matius 25.
Matius 25: 14-15
(25:14) "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
(25:15) Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Perlu saya sampaikan malam ini; untuk menjadi hamba kepada seorang tuan, itu adalah perbuatan baik, seperti hamba pertama dipercaya lima talenta, hamba kedua dipercaya dua talenta, hamba ketiga dipercaya satu talenta.
Pendeknya; untuk menjadi hamba bagi tuannya, itu adalah suatu perbuatan baik, dan berbuat baik itu adalah suatu keharusan yang harus kita kerjakan. Memang Tuhan maunya supaya kita menjadi hamba, mengambil rupa sebagai seorang hamba, bukan mengambil rupa sebagai seorang tuan yang bisanya memerintah dan memerintah.
Menjadi hamba, itu adalah suatu perbuatan baik.

Segera kita memperhatikan ayat 16-18
Matius 25: 16-18
(25:16) Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
(25:17) Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
(25:18) Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Sekarang kita akan melihat tiga hamba yang dipercayakan oleh tuannya;
-        Hamba yang pertama dipercaya lima talenta dan mengusahakannya lalu ia beroleh laba lima talenta.
-        Hamba yang kedua dipercaya dua talenta dan mengusahakannya lalu ia beroleh laba dua talenta pula.
-        Hamba yang ketiga dipercaya satu talenta, tetapi ia pergi dan mengubur talenta itu. Pendeknya; hamba yang ketiga ini dia hanya seorang hamba yang baik, tetapi tidak setia. Banyak orang mengaku dirinya baik hati, tetapi siapa yang menemukan orang yang setia? Terlalu sedikit.

Matius 25: 19-23
(25:19) Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
(25:20) Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
(25:21) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
(25:22) Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
(25:23) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Di sini kita melihat, pada saat mengadakan perhitungan, tuan dari hamba-hamba itu berkata kepada hamba yang pertama dan kedua sebagai hamba yang baik dan setia. Jadi seorang hamba tidak cukup hanya berbuat baik, tetapi juga harus setia.
Pada saat tuan dari hamba-hamba itu mengadakan perhitungan kepada hamba-hambanya, hamba yang pertama dan hamba yang kedua berkata: “Lihat, aku telah beroleh laba,
Perkataan “Lihat”, artinya; mereka dapat membuktikan diri bahwa hamba yang pertama dan hamba yang kedua tidak hanya berbuat baik tetapi setia kepada tuannya.

Mari kita semua membuktikan diri bahwa kita setia, bukan kepada manusia, tetapi kepada Yesus Kristus, Tuan dari hamba-hamba Tuhan. Seringkali kita hanya berbuat baik pada saat di lihat orang. Banyak juga di antara kita seperti menulis dengan tulus tetapi dia hanya membuktikan diri kepada manusia, bukan kepada Tuhan, yang melihat hati.

Mengapa Tuhan memilih Daud? Karena Daud setia, Saul tidak setia. Pada saat upacara pentahbisan, mengurapi seorang raja di Betlehem, ketika melihat anak yang pertama dari pada Isai, Samuel berkata: “Oh ini dia yang diurapi oleh Tuhan” sampai kepada anak yang ketiga, karena memang gagah perkasa, selalu mengikuti Saul ke mana saja dalam peperangan, sedangkan Daud tidak, dia selalu pulang untuk menggembalakan kambing domba ayahnya yang tiga ekor itu.
Pada saat mengurapi anak-anak Isai yang gagah perkasa itu, Tuhan berkata: “hei, Samuel, bukan yang dilihat manusia yang dilihat Tuhan. Manusia hanya melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat segenap hati, batin manusia, manusia dalam.” Itu sebabnya di atas tadi saya katakan; tidak perlu kita membuktikan diri baik di hadapan manusia, buktikan saja kepada Tuhan. Kalau hanya berbuat baik kepada manusia, orang semacam ini tidak pernah setia.
Akhirnya, setelah Daud tampil di muka Samuel, Tuhan berkata: “ini dia yang Aku pilih”, selanjutnya Samuel mengurapi Daud dengan minyak urapan yang dari tabung tanduk. Sedangkan Saul diurapi dengan minyak dari buli-buli tanah liat. Buli-buli tanah liat -> daging dengan segala tabiatnya.

Bukankah tadi tuan dari hamba-hamba ini berperkara kepada tiga hamba? Hamba yang pertama dan kedua mereka setia, dan membuktikan diri kepada tuannya dengan setia. Mari kita buktikan kesetiaan itu kepada Yesus Kristus, Tuan dari hamba-hamba Tuhan. Kita semua hamba.

Kiranya julukan atau predikat sebagai hamba yang baik dan setia, melekat di dalam hidup kita masing-masing, seperti hamba yang pertama dan yang kedua tadi.

Matius 25: 24-26
(25:24) Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
(25:25) Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
(25:26) Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

Jadi hamba yang ketiga ini kotras atau berbanding terbalik dengan hamba yang pertama dan kedua. Julukan yang diberikan kepada hamba yang ketiga ini adalah hamba yang jahat dan malas.
Kalau seseorang jahat pasti malas. Sebaliknya, orang malas pasti jahat. Tidak ada orang yang malas; disebut orang yang baik. Malas bekerja untuk Tuhan, malas berkorban itu bukan disebut orang baik, tetapi jahat. Sebaliknya, jahat itu malas.
Saya pastikan sekali lagi, orang malas pasti jahat perbuatannya. Tidak ada orang malas perbuatannya baik. Itu sebabnya tadi, saya tandaskan; kiranya predikat sebagai seorang hamba yang baik dan setia ditujukan atau melekat pada diri kita masing-maisng. Tidak perlu kita dipuji manusia, biarlah predikat itu langsung datangnya dari sorga.

Sekarang kita lihat;
Praktek jahat dan malas.
Yang pertama: Hamba yang ketiga itu mempersalahkan tuannya dan berkata: tuan adalah manusia yang kejam.
Kalau ada orang yang berkata: “Terkutuklah Yesus”, berarti dia bukanlah hamba yang diurapi Roh Kudus. Kalau hamba diurapi Roh Kudus, maka dia tidak akan pernah berkata: “Terkutuklah Yesus” atau “Yesus bukan Tuhan”

Saya jadi teringat, sedikit kesaksian, dulu, kurang lebih empat belas tahun yang lalu, kami hamba-hamba yang masih muda-muda membuka perintisan di Jabodetabek ini seringkali berfellowship tiga empat orang, ini kejadiannya di Cinere, hamba Tuhan yang ada di sana mengajak kami untuk mendoakan jemaat yang sedang depresi. Kami doa, doa, bergandengan tangan, mendoakan jemaat tersebut. Pendek cerita selesai doa, kami bertiga pulang. Pada saat kami pulang, orang yang kami doakan itu berkata sambil bernyanyi: “Tuhan, saya sudah mengalahkan Setan-Setan itu. Setan-Setan itu sudah pergi” Kami berdoa untuk mengusir Setan sebaliknya kami dikatakan Setan. Kami hanya bisa tersenyum saja.

Tadi, praktek jahat dan malas yang pertama, mempersalahkan tuannya dan berkata: “tuan adalah manusia yang kejam”
Tuduhan kejam yang dimaksud di sini adalah:
-        Yang menuai dimana tuan tidak menabur
-        Yang memungut di mana tuan tidak menanam
Oleh sebab itu dia berkata: “tuan adalah manusia yang kejam

Sekarang kita lihat dulu perjanjian mereka dari awal.
Matius 25: 14-15
(25:14) "Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
(25:15) Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Hamba yang ketiga lupa bahwa tuan dari hamba-hamba itu mempercayakan talenta-talenta kepada hamba-hambanya menurut kesanggupan masing-masing. Kalau tidak sanggup, tidak mungkin tuan dari hamba-hamba itu mempercayakan, talenta-talenta itu.
Lalu setelah dia gagal, setelah dia tidak sanggup, dia persalahkan dan menuduh bahwa Tuhan kejam. Banyak seperti itu terjadi. Lupa dengan perjanjian semula. Tuan itu mempercayakan talenta kepada hambanya tentu sesuai kesanggupan, kalau tidak sanggup, tidak mungkin dipercayakan.
Hamba pertama dipercaya lima talenta, dia sanggup. Hamba kedua dipercaya dua talenta, dia sanggup. Hamba ketiga hanya satu talenta, tetapi dia gagal, tetapi dia persalahkan Tuhan, dan hamba ketiga itu mengatakan bahwa Tuhan itu kejam, ini sesuatu yang mustahil. Sesuai dengan pujian Psallo, setelah gagal dan tidak mampu lagi, persalahkan Tuhan, tuding Tuhan, persalahkan ibadah, persalahkan pelayanan, persalahkan orang-orang di sekitar.

Praktek jahat dan malas.
Yang Kedua: Suka mencari alasan, sesuai dengan perkataan hamba yang ketiga itu kepada tuannya: “Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah” ini kan suatu alasan, suka mencari alasan, padahal sebetulnya kalimat selanjutnya: “Ini, terimalah kepunyaan tuan!
Jadi karena dia tidak sanggup lagi, dia terpaksa mencari alasan.
Sebetulnya tidak ada kata-kata tidak mampu, tinggal menyerah saja, seperti bangsa Israel dalam perjalanan mereka selama empat puluh tahun di padang gurun, diluar kemampuan daging, tinggal menyerah saja, supaya Tuhan yang memberi kemampuan.

Kesimpulannya; takut dan pergi menyembunyikan talenta dalam tanah = menolak memikul tanggung jawab yang dipercayakan oleh tuannya. Dan perlu untuk diketahui, menyembunyikan talenta dalam tanah, (mengubur talenta) berarti; binasa sebelum Tuhan datang.

Hamba yang ketiga dipercaya oleh tuannya satu talenta, dikaitkan dengan PELITA EMAS.
Keluaran 25: 39
(25:39) Dari satu talenta emas murni haruslah dibuat kandil itu dengan segala perkakasnya itu.

Kandil atau pelita emas terbuat dari satu talenta emas murni.
Pelita emas -> pribadi dari Allah Roh Kudus.

Wahyu 4: 5
(4:5) Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah.

Tujuh obor yang menyala-nyala di atas kandil di hadapan takhta itu, itulah ketujuh Roh Allah, sedangkan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, itu suatu kesaksian yang dahsyat yang luar biasa dari orang-orang yang diurapi oleh Roh Kudus.
Berarti kalau kita kaitkan kembali dengan hamba yang ketiga yang dipercayakan satu talenta, seharusnya kesaksiannya dahsyat dan luar biasa.

Waktu zaman Nuh; lima bulan lamanya air itu berkuasa di atas muka bumi, semua dihabisi, kecuali pohon zaitun. Ini kesaksian yang dahsyat, terlepas dari dosa kenajisan (air bah), itu kesaksian yang dahsyat dari orang-orang yang diurapi, yaitu mereka yang berdiri di hadapan takhta kasih karunia. Seharusnya itulah yang menjadi kesaksian dari hamba yang ketiga, tetapi kenyatannya tidak.  

Wahyu 5: 6
(5:6) Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.

Hamba-hamba Tuhan yang diurapi oleh Roh Kudus adalah orang-orang yang diutus ke seluruh bumi.
Kita ini diutus ke provinsi Banten untuk menjadi tujuh pelita yang menyala di atas kandil emas, menjadi kesaksian yang dahsyat dan luar biasa.

Kita lihat injil Matius 5, untuk memperlengkapi Wahyu 4 dan 5
Matius 5: 14
(5:14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Diurapi menjadi terang, gambarannya seperti kota yang terletak di atas bukit, gunung, tidak ada yang tersembunyi, tidak ada yang ditutup-tutupi, semua terlihat dengan jelas dari berbagai penjuru, hidupnya terlihat dengan jelas, tidak ada yang disembunyikan.

Matius 5: 15
(5:15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Pelita yang menyala bukan untuk diletakkan di bawah gantang.
Gantang -> Mengukur segala sesuatu menurut kebenaran diri sendiri. Dan pelita yang menyala tidak ditaruh di bawah gantang, artinya: melayani bukan menurut ukuran kebenaran diri sendiri.
Melayani Tuhan, untuk menjadi pelita, harus dengan ukurannya Tuhan, berarti pelita menyala harus di atas kandil.

Sekarang ...
Praktek baik dan setia.
Matius 25: 21-23
(25:21) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
(25:22) Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
(25:23) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Praktek baik dan setia: setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil.
Sekarang kita akan melihat, HAMBA PERTAMA DIPERCAYA LIMA TALENTA.
Lima talenta dikaitkan dengan lima gadis bijaksana.
Tadi hamba ketiga dengan satu talenta dikaitkan dengan PELITA EMAS. Hal ini juga dikaitkan dengan pelita emas, yaitu lima gadis bijaksana.

Kita lihat ...
Matius 25: 1-3
(25:1) "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.
(25:2) Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.
(25:3) Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,

Di sini kita melihat; Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis mengambil pelitanya dan menyongsong Mempelai Laki-laki Sorga.
Sasaran dari ibadah pelayanan kita di atas muka bumi ini adalah pesta nikah Anak Domba. Yang menjadi mempelai Laki-Laki Sorga adalah Yesus Kristus dan mempelai perempuan-Nya itulah gereja Tuhan, itulah sasaran dari ibadah dan pelayanan kita di atas muka bumi ini. Sama seperti sepuluh gadis; mengambil pelita untuk menyongsong Mempelai Laki-Laki Sorga, itu sasaran ibadah dan pelayanan kita di atas muka bumi ini; pesta nikah Anak Domba, tidak lain tidak bukan, bukan mujizat, bukan perkara lahiriah, bukan berkat-berkat.

Matius 25: 4
(25:4) sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.
Sepuluh gadis; lima di antara bodoh dan lima di antaranya bijaksana.
Lima gadis bodoh membawa pelita tetapi tidak membawa minyak sebagai persediaan, itu adalah perbuatan bodoh.
Kemudian lima gadis bijaksana; membawa pelita, juga membawa minyak dalam buli-buli sebagai persediaan, itu menunjukkan bahwa mereka bijaksana.

Membawa pelita serta minyak persediaan dalam buli-buli itu memang merepotkan. Beribadah dan melayani disertai sangkal diri dan pikul salib, itu memang merepotkan, padahal kita tahu dengan pasti; pengurapan itu datang dari salib. Pengurapan itu bukan berasal dari minyak goreng yang digunakan seorang ibu yang sedang memasak di dapur.
Ibadah disertai sangkal diri pikul salib, repot, tetapi jangan salah, itu sumbernya pengurapan. Kalau ibadah tanpa salib, tidak ada pengurapan.
Saya sudah jelaskan tadi; pengurapan Daud dengan pengurapan Saul. Pengurapan Daud dari tabung tanduk, itu menunjuk korban Kristus. pengurapan Saul; dari buli-buli tanah liat, itu menunjuk daging.
Jadi salib, sumbernya pengurapan. Untuk menghasilkan minyak urapan juga harus menumbuk pohon zaitun lalu diperas. Kalau pun kita mengalami penumbukan yaitu sangkal diri, pikul salib, seperti Yesus mengalami penumbukan di atas kayu salib, itu menghasilkan minyak. Pendeknya, Ibadah disertai dengan sangkal diri, berarti membawa minyak persediaan dalam buli-buli.

Matius 25: 5
(25:5) Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.
Karena Mempelai Laki-Laki lama tidak datang-datang juga, mengantuklah lima gadis yang bodoh, juga lima gadis yang bijaksana, artinya adalah bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang baik, satu pun tidak ada. Hanya Dia yang baik.
Rasul Paulus juga setuju di dalam suratan Roma. Tidak ada yang sempurna.

Matius 25: 6
(25:6) Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
Pengajaran mempelai ini akan membawa kita sampai kepada pesta nikah Anak Domba, tetapi tidak mungkin kita sampai kepada pesta nikah Anak Domba kalau tidak membawa minyak dalam buli-buli.

Jadi baik hamba yang ketiga tetap kaitannya dengan pelita, baik hamba yang pertama dipercaya lima talenta tetap kaitannya dengan pelita. Memang kalau menjadi hamba, melayani, harus menjadi pelita, itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi (Wahyu 5:6).

Sekarang, HAMBA KEDUA DIPERCAYA DUA TALENTA.
Dikaitkan dengan dua pohon zaitun.

Zakharia 4: 2-4
(4:2) Maka berkatalah ia kepadaku: "Apa yang engkau lihat?" Jawabku: "Aku melihat: tampak sebuah kandil, dari emas seluruhnya, dan tempat minyaknya di bagian atasnya; kandil itu ada tujuh pelitanya dan ada tujuh corot pada masing-masing pelita yang ada di bagian atasnya itu.
(4:3) Dan pohon zaitun ada terukir padanya, satu di sebelah kanan tempat minyak itu dan satu di sebelah kirinya."
(4:4) Lalu berbicaralah aku, kataku kepada malaikat yang berbicara dengan aku itu: "Apakah arti semuanya ini, tuanku?"

Dua pohon zaitun terukir pada kandil sebelah kiri dan kanan tempat minyak. Pada kandil itu terukir dua pohon zaitun.

Mari kita lihat artinya.
Zakharia 4: 12-14
(4:12) Untuk kedua kalinya berbicaralah aku kepadanya: "Apakah arti kedua dahan pohon zaitun yang di samping kedua pipa emas yang menyalurkan cairan emas dari atasnya itu?"
(4:13) Ia menjawab aku: "Tidakkah engkau tahu, apa arti semuanya ini?" Jawabku: "Tidak, tuanku!"
(4:14) Lalu ia berkata: "Inilah kedua orang yang diurapi yang berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi!"

Dua pohon zaitun yang terukir pada tempat minyak kandil sebelah kiri dan sebelah kanan -> Musa dan Elia, yang menjadi kesaksian, menjadi terang di tengah dunia ini, mereka adalah orang yang diurapi berdiri di dekat Tuhan seluruh bumi.
Kita diutus di bumi provinsi Banten, ada juga dua pohon zaitun yang lain diutus di bumi provinsi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, bahkan seluruh bumi, dan sebelum Yesus datang pada kali yang kedua terlebih dahulu Musa dan Elia turun dan dunia akan memperhatikan kesaksian mereka, tetapi kita tidak sampai pada penjelasan itu Wahyu 11.

Dunia akan melihat kesaksian dua pohon zaitun ini. Mereka berdiri dekat Tuhan seluruh bumi. Jangan berdiri dekat-dekat yang lain, yang jahat, yang najis, yang bodoh, yang malas. Berdirilah dekat Tuhan seluruh bumi di manapun kita diutus, di manapun komunitas kita.

Dua pohon zaitun ini kaitannya pada ayat 6-9, di situ terlihat juga pribadi yang luar biasa.
Zakharia 4: 6
(4:6) Maka berbicaralah ia, katanya: "Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.

Untuk menjadi kesaksian bukan karena gagah hebat, bukan karena keperkasaan, bukan karena kekuatan, namun oleh Roh Tuhan, itulah kehidupan yang diurapi Roh Kudus.

Siapa dia?
Zakharia 4: 7-9
(4:7) Siapakah engkau, gunung yang besar? Di depan Zerubabel engkau menjadi tanah rata. Ia akan mengangkat batu utama, sedang orang bersorak: Bagus! Bagus sekali batu itu!"
(4:8) Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, demikian:
(4:9) "Tangan Zerubabel telah meletakkan dasar Rumah ini, dan tangannya juga akan menyelesaikannya. Maka kamu akan mengetahui, bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku kepadamu.

Pekerjaan Tuhan (pembangunan rumah Tuhan) akan terselesaikan kalau kita menjadi kehidupan yang diurapi Roh Kudus, kalau kita menjadi dua pohon zaitun yang berdiri dekat Tuhan seluruh bumi.
Demikian halnya dengan Zerubabel, pada saat dia kembali dari pembuangan, saya sudah singgung sedikit, dari Babel kembali ke Yerusalem, dia dipercaya untuk membangun rumah Tuhan sampai selesai. Zerubabel meninggikan korban Kristus, yaitu: batu yang mahal, batu penjuru, dasar bangunan. Saat dia meletakkan dasar bangunan, semua turut meninggikan korban Kristus, mereka berkata: “Bagus! Bagus sekali batu itu!” Ayo, semua harus meninggikan korban Kristus.
Bagi Zerubabel, tidak ada persoalan yang besar, gunung tinggi menjadi rata, ini kaitan dengan dua pohon zaitun.
Hamba kedua dipercaya dua talenta, bagaikan dua pohon zaitun, dan kaitannya Zerubabel membangun rumah Tuhan, di Yerusalem setelah kembalinya dari pembungan di Babel.

Ayo, bukan karena gagah hebat untuk menjadi dua pohon zaitun, namun oleh Roh Tuhan. Bukan karena kepintaran, bukan karena uang, bukan karena kekuatan, kekayaan, namun oleh Roh Tuhan.

Dampak positif baik dan setia.
Matius 25: 23
(25:23) Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Dampak positif apabila kita baik dan setia: Masuk dan turut dalam kebahagiaan tuannya.
Yang masuk dan turut dalam kebahagiaan tuannya, antara lain;
1.      Lima gadis bijaksana, pada akhirnya mereka masuk dalam pesta nikah Anak Domba. Sedangkan lima gadis yang bodoh yang tadinya membawa pelita, yang tadinya ada di dalam, namun akhirnya di luar.
2.      Dalam injil Matius 7, nabi-nabi palsu melakukan tiga perkara ajaib, semuanya mereka lakukan demi nama Tuhan, tetapi pada akhirnya Tuhan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!
Kalau melayani Tuhan, berarti sudah ada di dalam, tetapi kita melihat di situ, pada akhirnya, Tuhan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!Awalnya sudah di dalam, akhirnya keluar.
Pada injil Matius 7: 21, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Yesus sebagai Anak melakukan kehendak Allah Bapa. Orang yang melakukan kehendak Allah Bapa; dengar-dengaran, sebab Yesus berkata: " Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Ini yag masuk dalam Kerajaan Sorga; melakukan kehendak Allah Bapa, bukan karena menyebut: “Tuhan, Tuhan”, atau bukan karena melakukan tiga perkara ajaib (hebat) demi nama Tuhan, biarpun tadinya di dalam tetapi keluar pada akhirnya.
3.      Anak bungsu; dulu terhilang tetapi kembali kepada Bapa dan turut merasakan kebahagiaan bapa. Sedangkan anak yang sulung, awalnya sudah di ladang, sudah di dalam, namun begitu bapanya keluar dan menariknya untuk masuk, dia menolak untuk masuk, dia tetap di luar, tidak turut dalam kebahagiaan tuannya, karena iri hati dan dengki.
Mungkin hidup kita sepertinya pernah terhilang, berfoya-foya pada siang hari, berlaku cabul, tetapi kembali kepada bapa, nanti dipercayakan tiga perkara; jubah yang maha indah itulah KASIH ALLAH, cincin meterai itulah METERAI ROH KUDUS, dan kasut itu adalah kerelaan untuk memberitakan injil, FIRMAN ALLAH.

Itulah yang turut masuk dalam kebagaiaan tuannya; lima gadis bijaksana, anak bungsu, kemudian yang melakukan kehendak Allah Bapa. Dengar-dengaran, itu kuncinya. Ayo belajar dengar-dengaran, mulai dari malam ini. Melakukan kehendak Allah Bapa; dengar-dengaran. Dasar kita melayani adalah dengar-dengaran, bukan karena kita pintar, bukan karena kita mampu. Nanti yang turut dan masuk dalam kebahagiaan tuannya, ialah orang-orang yang dengar-dengaran. Amin.

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang





No comments:

Post a Comment