KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Sunday, November 25, 2018

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 27 SEPTEMBER 2018


IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 27 SEPTEMBER 2018

KITAB RUT
(Seri:27)

Subtema: MUSIM MENUAI JELAI GANDUM’" 

Shalom saudaraku..

Selamat malam, salam sejahtera, salam di dalam kasih-Nya Tuhan kita Yesus Kristus, biarlah bahagia dari sorga turun atas kehidupan kita, melawat kehidupan kita lewat pembukaan rahasia firman Tuhan. Kita berdoa mohonkan kemurahan hati Tuhan supaya nyata uluran tangan-Nya sebagai tanda belas kasih-Nya bahkan membawa kita dekat kepada Dia.
Saya juga tidak lupa menyapa umat Tuhan, anak-anak Tuhan bahkan hamba-hamba Tuhan, yang sedang mengikuti pemberitaan firman Tuhan lewat live streaming, video internet, youtube, facebook, di dalam maupun di luar negeri, dimanapun anda berada kiranya kita bersama-sama diberkati, dilawat, dipulihkan lewat firman Allah yang sebentar akan kita terima.

Segera saja kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci dari  Rut 2:1.
Rut 2:1

Kemurahan Tuhan yang dialami oleh Rut dengan tanpa disadari;
1.   Masuk ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.
2.   Naomi mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas.
Inilah kemurahan dari Tuhan yang tanpa disadari oleh Rut bahwa ternyata Naomi mempunyai sanak dari kaum Elimelekh, seorang yang kaya raya, namanya Boas.
Namun kemurahan yang tidak disadari yang pertama adalah Naomi dan Rut masuk ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.
Saya kembali menyampaikan perkara ini sampai nanti kita betul-betul menikmati apa yang telah Tuhan nyatakan pada minggu lalu, sehingga betul-betul pengalaman Rut ini menjadi pengalaman kita dihari-hari terakhir ini, di hari-hari menjelang kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi.

Marilah kita memperhatikan;
YANG PERTAMA: MASUK KE BETLEHEM PADA PERMULAAN MUSIM MENUAI JELAI.
Yesaya 9:2-3
(9:2) Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.
(9:3) Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.

Di waktu panen (musim menuai) itu berbicara tentang:
1.  Sorak-sorak/sukacita yang besar.
2.  Kelimpahan.
3.  Pemulihan, kemenangan, serta kelepasan.

Yohanes 4:34-35
(4:34) Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
(4:35) Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

Perhatikan pendapat murid-murid; “Empat bukan lagi tibalah musim menuai.” Tetapi Yesus berkata kepada murid-murid; “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.”
Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid akan menuai tanpa menabur.
Menuai tanpa menabur, ini adalah kemurahan yang dialami oleh Rut dan Naomi. Biasanya menabur dulu baru menuai, tetapi di sini kita lihat Rut dan Naomi menuai tanpa menabur. Mereka masuk ke Betlehem tepatnya  permulaan musim menuai jelai. Jadi bukan pada pertengahan/akhir musim menuai jelai, tetapi permulaan musim menuai jelai.
Inilah kemurahan yang besar yang dialami oleh Rut dan Naomi.

Menuai tanpa menabur, hal ini terkait dengan makanan Yesus.
Ada dua makanan Yesus:
1. Melakukan kehendak Allah.
2. Menyelesaikan pekerjaan Allah.

Sekarang kita akan memperhatikan arti rohani dari kedua hal di atas.
Tentang: MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH.
Yohanes 6:38
(6:38) Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.

Yesus diutus ke bumi untuk melakukan kehendak Allah, bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri.
Sebagaimana halnya kehidupan kelurga besar “Gpt BETANIASerang dan Cilegon” diutus ke bumi provinsi Banten untuk melakukan kehendak Allah Bapa, bukan untuk melakukan kehendak sendiri. Teramat lebih imam-imam berada di dalam kegiatan Roh, berada di tengah-tengah ibadah dan pelayanan yang dipercayakan oleh Tuhan, kita mengerjakan ini semua oleh kehendak Allah Bapa, bukan kehendak sendiri. Itu harus kita pahami dengan baik.
Kalau ada kehendak sendiri dalam melayani Tuhan pasti di situ ada hal-hal yang tak suci.

Yohanes 6:53
(6:53) Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Yesus menyerahkan tubuh dan darah-Nya, sebab tubuh-Nya adalah benar-benar makanan dan darah-Nya adalah benar-benar minuman.
Proses untuk menikmati tubuh dan darah Yesus adalah lewat sengsara salib.

Yesaya 53:10-11
(53:10) Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.
(53:11) Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.

Sengsara dan kematian yang dialami oleh Yesus di atas kayu salib adalah kehendak Allah. Yesus telah menjadi korban penebus salah, Dia diremukkan di atas kayu salib adalah untuk melakukan kehendak Allah.

Matius 26:42
(26:42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"

Supaya kehendak Allah terlaksana maka Yesus sebagai Anak tunggal Allah harus meminum cawan Allah. Artinya; Yesus harus mananggung penderitaan yang tidak harus Ia tanggung di atas kayu salib, dengan demikian kehendak Allah terlaksana oleh-Nya.
Pendeknya; Yesus menderita dan mati di atas kayu salib maka dengan demikian terlaksanalah kehendak Allah oleh-Nya.

Filipi 2:8
(2:8) dalam keadaan sebagai manusia, Dia telah merendahkan diri-Nya, dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib. Ini adalah pegalaman kematian yang benar.
Kalau kematiannya benar otomatis kebangkitannya benar. Sedangkan kalau kematiannya tidak benar nanti kebangkitannya tidak benar (palsu).
Banyak orang kristen melayani Tuhan dengan kepalsuan, hidup tanpa kesucian oleh karena seteru yang menimbulkan dosa. Itulah hidup dengan kenajisan, hidup dengan hawa nafsu dan keinginan daging, masih dipengaruhi oleh dunia dan arusnya yang menghanyutkan dan menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhannya, itulah kebangkitan yang palsu.

Ini harus diperhatikan sungguh-sungguh, jangan sampai mendengarkan firman Tuhan, tetapi dinggap angin lalu saja, susah sekali menerapkan firman Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita sia-siakan pengorbanan saat mendengarkan firman Tuhan, berjam-jam kita duduk mendengarkan firman Tuhan, tetapi tidak mengerti soal pengalaman kematian dan kebangkitan.
Namun di sini kita melihat Yesus taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib. Inilah pengalaman kematian yang benar.

1 Korintus 15:36-37
(15:36) Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.
(15:37) Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.

Yesus adalah biji gandum yang sudah mati -> benih gandum yang sudah ditaburkan. Sebab itu jangan bodoh.
Siapa yang bodoh? Itulah mereka yang melayani dengan kepalsuan. Kenapa terjadi kepalsuan? Karena kematiannya palsu, tidak benar. Tetapi di sini kita melihat bahwa Yesus adalah benar-benar biji gandum yang sudah mati, menunjukkan bahwa Dia adalah benih yang siap ditaburkan dan yang sudah ditaburkan 2018 tahun yang lalu.  

Yohanes 12:24
(12:24) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan  mati maka ia akan tetap satu biji saja. Tidak ada kebangkitan tanpa pengalaman kematian. Tidak ada pengalaman kebangkitan yang benar tanpa pengalaman kematian yang benar.
Sebaliknya jikalau biji gandum sudah mati dan sudah menjadi benih yang ditaburkan maka ia akan menghasilkan banyak buah = akan menuai, itulah kebangkitan.
Kalau tidak manghasilkan buah, kapan menuai? Kalau tidak menghasilkan buah, apa yang mau dituai?
Itulah sebabnya Yesus berkata kepada murid-murid di dalam Yohanes 4:35 tadi; “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

Yesaya 53:11-12
(53:11) Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
(53:12) Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.

Perhatikan kalimat; “Membenarkan banyak orang oleh hikmat-Nya.” Inilah buah yang dihasilkan atau yang disebut tuaian  di akhir zaman. Adapaun tuaian tersebut antara lain;
-     Orang-orang besar sebagai rampasan.
      Kita  butuh orang-orang besar yaitu orang yang berjiwa besar dalam hal melayani Tuhan, tidak berjiwa kerdil, tidak berpikir pendek, tetapi berpikir panjang. Kalau berpikir pendek mudah sekali dipengaruhi hal-hal yang tak suci, mudah diombang-ambingkan angin-angin pengajaran palsu sampai jatuh dalam berbagai-bagai macam dosa. Tetapi orang yang berjiwa besar adalah orang yang melayani Tuhan dengan kelapangan hati, tidak mudah jatuh ke dalam hal-hal yang tak suci, inilah orang yang berjiwa besar dan ini yang mau dipakai oleh Tuhan untuk menuai jiwa, ini yang akan dituai di hari-hari terakhir ini. Boleh tubuh pendek dan kecil, tetapi jiwa harus besar dalam melayani Tuhan, tidak boleh berjiwa kerdil.
-     Orang-orang kuat sebagai jarahan.
      Orang-orang kuat -> orang-orang yang senantiasa menyangkal dirinya dan memikul salibnya.
      Menyangkal dirinya, berarti; tidak mengakui/tidak bermegah dengan segala kelebihan-kelebihan di dalam dirinya, sekalipun mempunyai kelebihan yang banyak, mempunyai potensi dalam banyak perkara. Kemudian sekalipun berkorban banyak, tidak ia tidak bermegah.
      Memikul salibnya, berarti; memikul tanggung jawab yang Tuhan percayakan. Jangan bersungut-sungut, jangan pakai takaran sendiri, jangan sampai ada dua efa di dalam rumah tangga, jangan sampai ada dua batu timbangan di dalam pundi-pundi, jangan sampai kita tidak mau rugi, harus berlapang dada, berjiwa besar.
      Itulah orang-orang yang kuat, senantiasa menyangkal dirinya dan memikul salibnya.
      Kiranya hati, pikiran, dan perasaan diluruskan oleh firman Allah supaya kita mengikuti Tuhan dan melayani Tuhan bukan lagi menggunakan pikiran dan perasaan manusia daging.

Yohanes 6:39-40
(6:39) Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
(6:40) Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Yesus telah melakukan kehendak Allah. Tujuannya; supaya jangan ada yang terhilang, melainkan dibangkitkan pada akhir zaman, yaitu memperoleh hidup yang kekal. Inilah tuaian.
Bukankah Tuhan itu baik? Walaupun saat firman disampaikan, ada nasihat, ada didikan, memang sakit bagi daging, tetapi supaya kita nantinya memperoleh tuaian.
Jadi Yesus telah melakukan kehendak Allah Bapa, tujuannya adalah supaya jangan ada yang terhilang satupun dari antara kita keluarga Gpt BETANIA secara khusus. Melainkan supaya kita dibangkitkan pada akhir zaman, memperoleh hidup kekal, inilah tuaian besar.
Tuaian itu bukan saat menabur, tetapi tuaian itu di akhir zaman.

Syarat  untuk menuai dan hal penting yang tidak boleh dilupakan agar terjadi tuaian, kita lihat di dalam injil..
Yohanes 6:41
(6:41) Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."

Syarat untuk menuai dan hal penting yang tidak boleh dilupakan agar terjadi penuaian adalah jangan bersungut-sungut saat makan daging Yesus dan minum darah Yesus. Artinya; jangan bersungut-sungut saat menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Tadi menyangkal diri, berarti; tidak bermegah sekalipun banyak pengorbanan, kemudian memikul salib, berarti; memikul tanggung jawab yang Tuhan percayakan, bersama-sama, bergandengan tangan. Jangan bersungut-sungut sebab itu hal yang penting supaya terjadi penuaian di akhir zaman nanti. Kalau sekarang saja bersungut-sungut, kapan menuai?
Maka dari itu jangan bersungut-sungut supaya kita bisa sampai kepada penuaian.

Yohanes 6:42
(6:42) Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"

Kita melihat di sini bahwa orang-orang Yahudi terlalu banyak bersungut-sungut, banyak berkomentar, banyak protes. Penyebabnya ada dua, yaitu:
1.   Berpikir secara manusia duniawi.
      Itu bisa dilihat dari perkataan mereka; “...Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf...” Artinya tukang kayu.
2.   Masih memiliki pandangan lahiriah.
      Pandangannya senantiasa ditujukan kepada perkara lahirah, perkara di bawah. Kalau pandangan senantiasa di arahkan kepada perkara di bawah, maka hal yang rohani (perkara yang di atas) menjadi kecil. Tetapi kalau kerohanian kita semakin tinggi, maka segala perkara yang di bawah, perkara lahiriah menjadi kecil.
       
      Tetapi yang pasti orang-orang Yahudi ini masih memiliki padangan lahiriah.
      Saudaraku hal-hal semacam ini sebetulnya kita sudah dengar berulang-ulang kali. Sebab itu sangat disayangkan ketika melayani Tuhan banyak komentar, banyak protes, banyak bersungut-sungut padahal sudah mengerti firman, sudah mengenal kasih karunia, yaitu kesempatan, kemauan, dan kesehatan.

Yohanes 6:43-44
(6:43) Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut.
(6:44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.

Jangan bersungut-sungut sebab tidak mungkin terjadi penuaian yaitu kebangkitan tanpa pengalaman kematian. Itulah sengsara salib.
Kebangkitan-> hidup kekal, ada tuaian di akhir zaman.
Itulah tentang melakukan kehendak Allah.

Tentang: MENYELESAIKAN PEKERJAAN ALLAH.
Lukas 13:31-32
(13:31) Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: "Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau."
(13:32) Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.

Orang-orang Farisi berkata kepada Yesus; “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Kemudian jawab Yesus kepada orang-orang Farisi; "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.
Kesimpulannya;Yesus tidak akan mati tanpa menyelesaikan pekerjaan-Nya, Yesus tidak mau mati konyol, Yesus tidak mau mati dengan sia-sia.

Lukas 13:33
(13:33) Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.

Perhatikan kalimat; “Sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.”
Saat ini, lewat ibadah dan pelayanan yang Tuhan percayakan ini, Tuhan sedang menunggangi kehidupan kita untuk selanjutnya dibawa masuk ke dalam Yerusalem supaya kita bisa menikmati penuaian dan merasakan damai sejahtera yang kekal di dalam kerajaan yang kekal.
Tetapi saya tidak pungkiri, saat kita ditunggangi oleh Tuhan lewat ibadah dan pelayanan ini, memang sakit bagi daging, tetapi itu harus kita alami. Ibadah dan pelayanan ini harus jalan terus, dan segala perkara harus kita pikul, sampai benar-benar berada di Yerusalem. Itu jauh lebih baik daripada kita ditunggangi oleh perempuan kekejian.
Sebab itu tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. Itu sudah dikatakan sebelumnya sebanyak empat kali kepada murid-murid di dalam Injil Matius 16:21.

Lukas 13:34
(13:34) (13:34) Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Perhatikan kalimat; Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!” Dari kalimat ini kita bisa membagi menjadi dua bagian:
-      Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi”
       Siapa Yerusalem? Itulah imam-imam kepala, tua-tua dan ahli-ahli taurat. Mereka adalah itu ahli-ahli bangunan. Kita ini adalah gereja Tuhan yang disebut juga rumah Tuhan. Jadi Yerusalem itu adalah orang-orang yang melayani di rumah Tuhan, namun justru mereka itu yang membunuh Yesus.
-      “Melempari dengan batu orang-orang yang diutus”
       Menunjukkan bahwa ahli-ahli bangunan ini melayani dengan sistem taurat. Kelemahan dari hukum taurat adalah mata ganti mata, gigi ganti gigi. Artinya; kejahatan dibalas dengan kejahatan. Prakteknya dalam kehidupan sehari-hari adalah mengasihi sesama, tetapi musuh dibenci, tidak sempurna dalam kasih. Kemudian menjalankan ibadah juga secara taurat; mulutnya memuji Tuhan, tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Setiap firman yang disampaikan ditolak, dia tidak mau dibentuk = mempersembahkan tubuh jasmani, tetapi manusia batiniahnya tidak dipersembahkan kepada Tuhan. Itu yang dimaksud melempari dengan batu orang-orang yang diutus yaitu melayani dengan sistem hukum taurat.

Sebetulnya kalau kita perhatikan pada ayat 34 ini. Yesus berusaha mengumpulkan mereka seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya dibawah sayapnya, tetapi mereka tidak mau. Berarti; mereka telah diterkam oleh si serigala. Sebab itu tadi Yesus berkata kepada orang Farisi; “...Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu...”
Apa pekerjaan dari si serigala? Menerkam dan mencerai-beraikan kawanan domba. Itulah sebabnya Yesus berusaha mengumpulkan mereka seperti induk ayam mengumpulkan mereka di bawah sayapnya, tetapi mereka tidak mau, mereka menolak. Tanda mereka sudah diterkam oleh si serigala.
Jadi sangat disayangkan kehidupan yang semacam ini tubuhnya tergembala, tetapi rohaninya tidak tergembala.
Itu menunjukkan bahwa dia sedang diterkam oleh si serigala.

Matius 16:21
(16:21) Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Yerusalem -> orang-orang yang melayani Tuhan, yaitu: tua-tua. imam-imam kepala, dan ahli-ahli taurat, mereka itulah yang membunuh Yesus, lalu dibangkitkan pada hari ke tiga.

Matius 16:22-23
(16:22) Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
(16:23) Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Namun ketika Yesus menyampaikan rencana Allah yang besar itulah rencana penyelamatan, Simon Petrus menarik Yesus kesamping dan berkata; “Tuhan kiranya Allah menjauh hal itu! hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Perkataan Petrus ini menunjukkan bahwa Petrus ini adalah manusia daging dan berpikir secara manusia duniawi, menolak salib, dia tidak memikirkan rencana Allah, dia tidak memikirkan rencana penyelamatan yang dikerjakan Yesus di kayu salib. Itulah sebabnya Yesus berkata; “Enyahlah iblis.”
Memang manusia daging yang berpikir secara duniawi, jauh sekali dari rencana Allah, tidak akan pernah mengenal sengsara salib, tidak akan pernah mengenal pikul salib. Dalam hal ini Simon Petrus pikirannya sedang dirasuki oleh setan. Itu sebabnya Yesus berkata; “Enyahlah iblis.” Simon Petrus bukan setan, tetapi pemikiran dan pemahamannya sedang dirasuki oleh setan. Kalau berpikir secara manusia duniawi menjadi penghalang dalam rencana penyelamatan, menjadi batu sandungan.

Kita kembali membaca..
Lukas 13:32
(13:32) Jawab Yesus kepada mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.

Di sini Yesus berkata kepda orang-orang Farisi; “...Pada hari yang ke tiga Aku akan selesai.
Pendeknya; ada tiga hari Yesus bekerja dan menyelesaikan segala pekerjaan-Nya.
Ketika Yesus menghardik setan yang menguasai Simon Petrus menunjukkan bahwa Yesus harus menyelesaikan pekerjaan-Nya, Yesus tidak mau mati konyol, tidak mau mati dengan sia-sia. Namun Dia harus mati untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Kemudian dalam Perjanjian Baru ada tiga kali Yesus berkata hal yang senada dengan SUDAH SELESAI.

Yohanes 19:30
(19:30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

YANG PERTAMA: Sesudah minum anggur asam, Yesus berkata; “SUDAH SELESAI” saat Yesus ada di kayu salib.
Sudah selesai arti rohaninya  adalah:
-     Jangan mengulangi dosa lagi. Dosa apa saja, dosa masa lalu jangan diulangi lagi.
      Anggur asam -> Dosa masa lalu.
      Semua manusia punya pengalaman masa lalu. Maka dosa masa lalu jangan diulangi lagi. Orang yang berhenti berbuat dosa adalah orang yang bertobat, orang yang menghargai darah Yesus. Sedangkan orang yang terus-menerus mengulangi dosa yang sama adalah orang yang tidak mau bertobat, orang yang tidak menghargai darah salib Kristus.
      2018 tahun lalu Yesus mengatakan itu di atas kayu salib sesudah minum anggur asam, dan suara itu kembali dipantulkan dari langit, dari sorga, malam ini. Maukah saudara mendengarkan suara itu? Berarti tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan.
-     Jangan mengungkit-ungkit dosa orang lain dan jangan menimbulkan dosa bagi orang lain.
      Jangan menggoda dan jangan memberi diri digoda.

Wahyu 16:17
(16:17) Dan malaikat yang ketujuh menumpahkan cawannya ke angkasa. Dan dari dalam Bait Suci kedengaranlah suara yang nyaring dari takhta itu, katanya: "Sudah terlaksana."

YANG KEDUA: Saat murka Allah yang terakhir dijatuhkan, Tuhan berkata; “SUDAH TERLAKSANA.”

Tanda-tanda sudah terlaksana..
Wahyu 16:18-19
(16:18) Maka memancarlah kilat dan menderulah bunyi guruh, dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu.
(16:19) Lalu terbelahlah kota besar itu menjadi tiga bagian dan runtuhlah kota-kota bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Maka teringatlah Allah akan Babel yang besar itu untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya.

Saudaraku, cawan murka Allah yang ketujuh menimpa kota Allah yang besar itulah Babel yang besar. Di dalamnya penuh dengan kekejian, yaitu dosa kenajisan. Dosa yang paling dibenci oleh Tuhan adalah dosa kenajisan...Wahyu 18:2. Sehingga ketika sudah terlaksana, Tuhan menghancurkan kota besar itulah kota Babel. Ketika kota Babel dihancurkan maka kota itu terbelah menjadi tiga bagian. Berarti antara naga, antikris, dan nabi-nabi palsu sudah tidak lagi menyatu. Kalau tiga oknum setan ini tidak menyatu maka terpisah-pisahlah kekuatan mereka. Pendeknya; tidak ada lagi kekuatan untuk mengalahkan anak-anak Tuhan ke dalam berbagai-bagai dosa, orang-orang kudus Tuhan.

Inilah pekerjaan Tuhan Yesus Kristus; mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan pada hari yang ketiga selesai.
Jadi jangan heran kalau saat ini mulai terlihat pulau-pulau dan gunung-gunung mulai dihancurkan, supaya tergenapi Wahyu 16:17, dan itu harus terlaksana. Tetapi kita yang sudah mengerti belajar untuk menghargai kasih karunia, hidup oleh karena kasih karunia, hidup oleh karena kemurahan Tuhan saja, sekuat apapun, sekaya apapun, sehebat apapun manusia tidak akan bisa melepaskan diri dari perkara yang kedua yaitu sudah terlaksana. Seharusnya kita bersyukur karena kemurahan dan kasih karunia limpah dalam kehidupan kita supaya kita diselamatkan oleh kasih karunia. Jangan merasa sayang kepada keinginan daging, dosa karena kejahatan, dan dosa karena kenajisan, dosa karena dunia dan arusnya. Ayoo, pandanglah jauh ke depan, Tuhan sedang bekerja, dan pada hari yang ke tiga sudah selesai yaitu “sudah terlaksana”.

Wahyu 16:20-21
(16:20) Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung.
(16:21) Dan hujan es besar, seberat seratus pon, jatuh dari langit menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.

Pulau-pulau hilang lenyap dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung, sedangkan gunung sion akan tegak berdiri di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit. Tetapi gunuhng-gunung lain dan pulau-pulau (daratan) juga akan hilang lenyap.
Dan hujan es besar seberat seratus pon (50 kilogram) jatuh dari langit menimpa manusia. Siapa yang bisa menahan hujan es seberat seratus pon?
Ayoo mulai saat ini belajar yang benar, belajar bijaksana, jangan berpikir pendek lagi kalau sayang terhadap nyawa saudara. Biarlah firman Tuhan tergenapi dalam kehidupan kita masing-masing, kita diselamatkan.
Biarpun gunung-gunung dan pulau-pulau hilang lenyap tidak jadi soal karena firman Tuhan harus digenapi, tetapi kita selamat.
Kita patut bersyukur sebab Yesus telah bekerja, hari pertama; menyembuhkan, hari kedua; mengusir setan, hari ketiga; selesai.

Wahyu 21:6
(21:6) Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

YANG KETIGA: Saat Yerusalem Baru ditampilkan, pada saat itu Tuhan berkata; “SEMUANYA TELAH TERJADI.”

Pertanyaannya; APA YANG TELAH TERJADI?
Wahyu 21:4-5
(21:4) Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
(21:5) Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."

Pertanyaannya; apa yang telah terjadi? Jawabnya: Allah telah menjadikan segala sesuatu baru.
Berarti Tuhan sudah menghapuskan air mata, sebab Tuhan sudah menjadikan segala sesuatu baru. 

Wahyu 21:1-2
(21:1) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.
(21:2) Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

Tampillah Yerusalem Baru itulah pengantin perempuan Mempelai Anak Domba sesudah langit yang pertama dan bumi yang pertama berlalu. Inilah yang senada dengan kata sudah selesai; “semuanya telah terjadi.”
Tanda Yerusalem yang baru ditampilkan adalah:
1.  Tuhan menghapuskan air mata.
2.   Maut tidak ada lagi.
3.  Perkabungan tidak ada lagi.
4.  Ratap tangis tidak ada lagi.
5.  Dukacita tidak ada lagi.
6.  Segala sesuatu yang lama telah berlalu.

Kesimpulannya;sudah selesai” Artinya: Tuhan Yesus Kristus bekerja menyelesaikan tiga perkara, yaitu:
1.  Menebus orang berdosa dengan darah yang mahal.
2.  Suatu kehidupan yang baru.
3.  Menjadi mempelai perempuan Tuhan.

Wahyu 21:7
(21:7) Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.

Kita perhatikan kalimat pada ayat ini:
-     “Barangsiapa menang.”
      Ini berbicara tentang musim menuai jelai (gandum). Berarti dibangkitkan pada akhir zaman, memperoleh hidup kekal.
-     “Ia akan memperoleh semuanya ini.”
      Saudaraku, kalau kita perhatikan di dalam Wahyu 22:18, di situ ada pohon kehidupan, berbuah dua belas kali tiap-tiap bulan sekali. Dalam satu tahun ada dua belas bulan, berarti; bulan ini ada buah kehidupan, bulan depan ada kehidupan, tiap bulan menikmati buah kehidupan dalam satu tahun. Itulah Yerusalem Baru. 

Sekarang kita bandingkan dengan orang-orang yang tidak menabur dan tidak menuai..
Wahyu 21:8
(21:8) Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Orang-orang yang tidak menabur dan tidak menuai, antara lain:
1.   Orang-orang penakut -> orang-orang yang tidak memiliki kasih.
      Kalau seseorang memiliki kasih yang sempurna, dia akan berani berdiri menghadap takhta kasih karunia.
2.   Orang-orang yang tidak percaya -> orang -orang yang tidak memiliki iman.
3.   Orang-orang keji -> orang-orang yang tidak memiliki pengharapan kepada Tuhan.
      Prakteknya; jauh dari firman dan jauh dari ibadah dan pelayanan.
4.   Orang-orang pembunuh -> praktek tanpa kasih.
5.   Orang-orang sundal -> praktek tanpa harap.
6.   Tukang-tukang sihir -> praktek tanpa iman.
      Kita ini dibenarkan karena iman. Kebenaran karena iman, berarti; kebenaran oleh darah salib. Sebab itu jangan sampai ada sihir di tengah ibadah dan palayanan ini. Sihir, berarti; terjadinya suatu keubahan, tetapi tanpa proses salib.
7.   Penyembah-penyembah berhala -> orang yang keras hati dan terikat kepada perkara-perkara lahiriah.
8.   Pendusta -> orang yang tidak mau bertobat.
      Lihat orang yang mengulangi dosa, sudah berjanji, tetapi dilanggar. Karena dia sudah mengulangi dosa, melanggar, terpaksa dia berdusta. Inilah orang yang tidak mau bertobat. Sebaliknya, kalau orang yang tidak berdusta maka orang ini sudah pasti bertobat. Bertobatlah setiap hari.
      Mereka yang digolongkan dalam delapan perkara tadi akan mendapat bagian di dalam perapian yang menyala-nyala, oleh api dan belerang, itulah yang disebut kematian yang kedua.
           
Yohanes 4:36
(4:36) Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.

Penuai dan penabur bersama-sama bersukacita di dalam kehidupan yang kekal. Penabur itulah pribadi Yesus Kristus, Dialah gandum yang sudah mati, benih yang ditaburkan. Sedangkan penuai itulah kehidupan yang akan dibangkitkan pada akhir zaman yaitu menuai untuk hidup yang kekal.
Saudaraku, kita ada di tengah ibadah, itu tuaian. Tetapi harus setia memikul salib sampai nanti mengalami penuaian di akhir zaman, seperti Rut dan Naomi, mereka masuk ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai, sampai nanti musim menuai berakhir, tetapi Rut masih menuai di ladang Boas. Maka harus setia sampai kita memperoleh hidup kekal.
Kita beribadah berarti kita menuai. Ibadah kita ini seharga dengan darah salib Kristus, tanpa ibadah kita tidak mungkin dijadikan anak sulung. Hak kesulungan dari anak sulung adalah ibadah.
Kenapa ada ibadah? Karena Yesus telah mati di atas kayu salib. Jadi kita menuai karena Yesus telah menabur, kita menuai dari apa yang tidak kita tabur.

Yohanes 4:37
(4:37) Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.

Kita sudah menuai sebab Tuhan Yesus Kristus telah menabur. Amin. 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang






No comments:

Post a Comment