KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Monday, November 26, 2018

IBADAH RAYA MINGGU, 30 SEPTEMBER 2018



IBADAH RAYA MINGGU, 30 SEPTEMBER 2018

KITAB WAHYU
(Seri: 71)

Subtema: “MUKANYA SAMA SEPERTI MATAHARI”


Shalom saudaraku..    
Selamat sore, salam sejahtera dan bahagia di dalam kasih-Nya Tuhan kita Yesus Kristus, kita berdoa kiranya dua tangan Tuhan diulurkan bagi kita untuk memberikan kekuatan bagi kita yang di dalam keadaan mencemaskan dan mangalami rasa takut yang hebat. Kiranya biarlah dua tangan Tuhan terulur untuk memberikan kekuatan bagi kita manusia yang hina dan tidak berdaya karena dosa ini. Puji Tuhan.
Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak Tuhan, umat Tuhan, hamba-hamba Tuhan yang sedang mengikuti pemberitaan firman Tuhan lewat live streaming, video internet, youtube, facebook, di dalam negeri maupun di luar negeri, dimanapun anda berada kiranya Tuhan memberkati kita.

Segera saja kita memperhatikan firman penggembalaan untuk Ibadah Raya Minggu dari Wahyu 10:1-3.
Wahyu 10:1-3
(10:1) Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api.
(10:2) Dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka. Ia menginjakkan kaki kanannya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi,
(10:3) dan ia berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum. Dan sesudah ia berseru, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya.

Ada tujuh perkara nyata di dalam kehidupan pribadi Anak Domba sebagai hasil dari tujuh kali percikan darah yang dialami oleh Tuhan Yesus Kristus. Memang Dialah Tutup Pendamaian itu yang sudah mengalami tujuh kali percikan darah.
Adapun tujuh perkara yang nyata di dalam diri Tuhan Yesus Kristus antaralain:
1.  Berselubungkan awan.
2.  Pelangi ada di atas kepala-Nya.
3.  Muka-Nya sama seperti matahari.
4.  Kaki-Nya bagaikan tiang api.
5.  Ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka.
6.  Ia menginjakkan kaki kanan-Nya di atas laut dan kaki kiri-Nya di atas bumi.
7.  Ia berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum.

Sekarang kita akan memperhatikan,
Keterangan: MUKA-NYA SAMA SEPERTI MATAHARI. 

Muka-Nya sama seperti matahari ini terkait dengan..
Wahyu 1:16
(1:16) Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

Perhatikan kalimat; “Wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.”
Ini berbicara tentang kemuliaan Yesus Kristus yang tiada taranya.

Wahyu 1:17
(1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,

Di sisi lain Rasul Yohanes tersungkur di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati. Keadaan Rasul Yohanes ini menunjuk suatu keadaan manusia yang hina dan tak berdaya.
Saudaraku, memang orang yang hina pasti tidak berdaya dan mengalami rasa takut yang hebat.

Selanjutnya, oleh karena rasa takut yang dialami oleh Rasul Yohanes, Yesus meletakkan tangan kanan-Nya kepada Rasul Yohanes lalu berkata; “Jangan takut!”
Kesimpulannya; di dalam kemuliaan-Nya Yesus Kristus menyatakan kasih-Nya.

Minggu lalu kita sudah memperhatikan pelangi melingkungi di atas kepala Yesus. Berarti bermahkotakan kemuliaan sesudah mengalami sengsara salib dan penderitaan yang begitu hebat. Di sini dikatakan bahwa di dalam kemuliaan-Nya Yesus menyatakan kasih-Nya.

Hal senada kita perhatikan di dalam injil Matius..
Matius 17:1-2
(17:1) Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
(17:2) Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

Di sini kita perhatikan Yesus berubah rupa, wajahnya bercahaya seperti matahari Artinya Yesus ada di dalam kemuliaan/Yesus diliputi kemuliaan Allah. Hal ini disaksikan oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes tepatnya ketika mereka ada di atas gunung yang tinggi.
Saudaraku, kalau kita berada di dalam himpunan ini berarti kita sedang berbakti kepada Tuhan dan sebetulnya juga kita sedang menyaksikan kemuliaan-Nya.
Kalau kita berada di atas gunung Sion, beribadah dan berbakti kepada Tuhan di atas gunung sion, sesungguhnya kita sedang memperhatikan kemuliaan yang dinyatakan-Nya lewat berita firman Tuhan. Tidak semua orang melihat kemuliaan yang dinyatakan oleh Allah. Dalam hal ini yang menyaksikan Yesus diliputi oleh kemuliaan Alllah adalah Petrus, Yakobus, dan Yohanes, itu suatu kemurahan.

Matius 17:3-4
(17:3) Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
(17:4) Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."

Di dalam kemuliaan itu Petrus mengakui kebahagiaan yang mereka alami kepada Yesus. Selanjutnya, Petrus menyatakan keinginannya untuk mendirikan tiga kemah, maksudnya satu kemah untuk Yesus, satu kemah untuk Musa, dan satu kemah untuk Elia.
Saudaraku, memang Petrus ini mulutnya meluap sama seperti hati yang meluap sehingga apa yang dia rasakan itu yang dia ucapkan, sehingga saat diliputi kebahagiaan, iapun menyampaikan maksud hatinya untuk mendirikan tiga kemah untuk Yesus, untuk Musa, untuk Elia.
Sebetulnya, keinginan Petrus untuk mendirikan tiga kemah menunjukkan bahwa dia tidak menyadari diri sebagai suatu kehidupan yang hina, suatu kehidupan yang tidak berdaya.
Banyak anak Tuhan mengalami hal seperti ini, tidak berdaya tetapi terlalu banyak bicara dan terlalu banyak keinginan yang tidak sesuai dengan keadaan.

Yesaya 66:1
(66:1) Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?

Allah sendiri berkata; “Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku, rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku?”
Dari pernyataan ini menunjukkan bahwa manusia itu sebetulnya begitu hina, manusia itu tidak berdaya, manusia itu tidak layak dan tidak bisa apa-apa. Namun Petrus tidak menyadari dirinya sebagai manusia yang hina, dan tidak berdaya.

Yesaya 66:2
(66:2) Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku.

Yang terpenting adalah senantiasa meninggikan korban Kristus sekalipun mengalami banyak sengsara karena salib, mengalami banyak aniaya karena firman, karena kepada orang seperti itulah Tuhan memandang, tetapi kepada orang yang hina dan tidak berdaya namun banyak bicara, Tuhan tidak tertarik.

Matius 17:5
(17:5) Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."

Sementara Petrus masih berkata-kata; tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi (meliputi) mereka. Kemudian dari awan itu terdengarlah suara; “Inilah anak-Ku yang Ku kasihi, kepada-Nya lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Dalam hal ini, Allah menyadarkan Petrus bahwa sesungguhnya manusia itu hina, tidak berdaya.

Oleh karena itu jangan terlalu banyak bicara, kita bukan siapa-siapa, yang terpenting adalah tinggikan korban Kristus sekalipun banyak mengalami sengsara karena salib, menanggung banyak penderitaan untuk menunaikan tugas yang Tuhan percayakan di dalam kandang penggembalaan ini. Itu yang terpenting karena kepada orang yang seperti itu Tuhan memandang.

Lebih jelas kita melihat dalam injil..
Lukas 9:33
(9:33) Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.

Dahulu kita sama seperti Petrus tidak mengerti apa-apa. Seringkali memaksakan kehendak dan keinginan sendiri suka mendahului kehendak Tuhan.

Perhatikan kalimat; “Tetapi Petrus tidak tau apa yang dikatakannya itu.” Artinya Petrus tidak menyadari bahwa manusia itu hina, manusia itu tidak berdaya, manusia itu tidak bisa apa-apa, tetapi Petrus selalu mamaksakan keinginannya, memaksakan kehendaknya, sehingga suka mendahului kehendak Tuhan.
Oleh karena itu tidak sedikit anak Tuhan mengalami kesalahan, pelanggaran, kekeliruan hanya karena memaksakan keinginan sendiri, dia tidak tau apa yang dia perbuat.

Pendeknya; ciri-ciri orang yang hina dan orang yang tidak berdaya adalah terlalu banyak bebicara seperti Petrus.
Perlu untuk diketahui memaksakan keinginan hati itu sama dengan suara daging. Itu ciri orang yang hina tidak berdaya.
Sesungguhnya yang terpenting adalah dengar-dengaran.
Dengar-dengaran itu mencerminkan bahwa dia adalah domba yang tergembala bukan kambing yang suka menanduk, dan memberontak kepada gembala.

1 Samuel 15:18-19
(15:18) TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.
(15:19) Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?

Saul membiarkan Agag raja orang Amalek hidup dan membiarkan rakyat (bangsa Israel) mengambil jarahan, yakni; kambing, domba, lembu sapi yang tambun. Pendeknya Saul tidak dengar-dengaran.

Kemudian dalam keadaan yang tidak dengar-dengaran ini kita lihat keadaan Saul..
1 Samuel 15:20-21
(15:20) Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.
(15:21) Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."

Saul membela diri dan merasa diri bahwa dia dengar-dengaran dan mengikuti jalan Tuhan. Dengan pembelaan yaitu dia telah menumpas orang Amalek lalu membiarkan raja orang Amalek hidup, kemudian menumpas segala ternak, tetapi mengambil kambing, domba, lembu, sapi yang tambun, alasannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan di Gilgal.
Dalam keadaan tidak berdaya, dalam keadaan begitu hina, dalam keadaan tidak dengar-dengaran, tetapi merasa diri dengar-dengaran, selalu merasa diri masih mengikuti jalan Tuhan. Apakah itu benar? Sudah salah, sudah tidak dengar-dengaran, tetapi Saul terlalu banyak bicara untuk membela diri di dalam kesalahan, di dalam ketidak- berdayaan.

1 Samuel 15:22
(15:22) Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

Kemudian di sini kita perhatikan, pada ayat 22, Samuel dengan tegas berkata kepada Saul; Mendengar lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan firman Tuhan lebih baik dari pada mempersembahkan lemak domba-domba jantan.” Tuhan tidak inginkan kita menjalankan ibadah ini dalam bentuk ibadah taurat.
Kenapa Saul terlalu banyak bicara? Karena dia merasa ketika dia bertindak dalam kesalahan Samuel tidak melihat, tetapi Tuhan melihat dan Tuhan memberitahukan melalui penglihatan kepada Samuel.
Tuhan tidak suka melihat ibadah taurat, kebenaran yang hanya terlihat di bagian luarnya. Tetapi yang Tuhan mau adalah: Dengar-dengaran karena itu jauh lebih berharga dari pada mempersembahkan korban sembelihan dan memperhatikan firman Tuhan yang disampaikan jauh lebih berharga daripada lemak domba-domba jantan yang dipersembahkan kepada Tuhan.
Hina, tidak berdaya, tetapi tidak tau diri, tidak tau apa yang  dikatakannya sama seperti Petrus.
Banyak anak Tuhan yang tidak tau diri, tidak berdaya, tetapi terlalu banyak bicara, memaksakan keinginannya dan kehendaknya sehingga mengabaikan kehendak Tuhan. Tidak dengar-dengaran dan tidak mau memperhatikan apa maunya Tuhan. Itulah keadaan orang yang hina dan tidak berdaya.
Jadi kesimpulannya dalam kitab Wahyu 1:16 Yesus berada di dalam kemuliaan, muka-Nya sama seperti matahari, berarti kemuliaan tiada tara. Tetapi pada ayat 17; Keadaan Rasul Yohanes tersungkur di depan kaki-Nya, suatu kehidupan yang hina, kehidupan yang tidak berdaya.
Kehidupan yang hina, kehidupan yang tidak berdaya mengalami rasa takut yang hebat, tetapi pada saat itu Yesus mengulurkan tangan kanan-Nya. Berarti di dalam kemuliaan-Nya Tuhan mengulurkan tangan kanan pembelaan kasih-Nya.

Tetapi berbeda dengan raja Saul di dalam kemuliaan Allah telah menyatakan kasih-Nya, tetapi dia tetap mengeraskan hatinya, dia tetap merasa diri dengar-dengaran. Ini suatu kebodohan, jangan dipertahankan.

1 Samuel15:23
(15:23) Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."

Perlu untuk diketahui, dosa pemberontakan kepada Tuhan setara dengan dosa bertenung. Dosa bertenung berarti percaya kepada roh-roh peramal.
Pergi kepada dukun atau peramal-peramal untuk mengetahui kehidupan dan masa depannya, itulah dosa bertenung. Jadi dosa pemberontakan setara dengan dosa bertenung saudaraku. Jangan saudara pikir dosa pemberontakan itu dosa biasa, itu dosa besar.
Kemudian kedegilan (kekerasan hati) setara dengan dosa menyembah berhala dan terafim. Berhala artinya segala sesuatu yang melebihi dari Tuhan. Jadi kalau seandainya kesibukan-kesibukan yang di dunia ini yang menjadi nomor satu dari pada Tuhan, pekerjaan nomor satu dari ibadah pelayanan dan kesibukan lain menjadi nomor satu, itulah berhala.
Jadi hati-hati dosa di waktu masa lalu yaitu dosa pemberontakan dan dosa kekerasan hati, jangan dipertahankan, itu tidak baik. Saul adalah orang yang keras hati akhirnya dia ditolak menjadi raja atas Israel, sebab itu jangan sampai kita ditolak oleh Tuhan.
Bukankah tadi kita sudah melihat di dalam Wahyu 1:16-17; di dalam kemuliaan-Nya Tuhan menyatakan kasih-Nya maka jangan ditolak supaya Tuhan jangan menolak kita. Tetapi biarlah Tuhan mangakui kita sebagai imamat rajani, di atas gunung Sion, suatu kedudukan yang sangat tinggi dan istimewa.
Andaikata dunia menolak bagi saya tidak jadi soal, asal jangan Tuhan yang menolak kita.

Sekarang kita akan perhatikan injil..
Lukas 8:117-18
(8:17) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.
(8:18) Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya."

Perhatikan kalimat; “Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak diketahui dan diumumkan.”
Jadi semuanya jelas di mata Tuhan, kita bukan beribadah kepada manusia, tetapi kita beribadah kepada Tuhan.
Ayat 18, perhatikanlah cara kamu mendengar Itu yang terpenting. Perhatikan sungguh-sungguh, dengar sungguh-sungguh, tidak boleh asal-asalan. Jangan dipertahankan kekerasan hati, kedegilan hati, dan pemberontakan jangan dipertahankan, tetapi perhatikanlah cara mendengar, jangan mengabaikan, jangan anggap enteng, perhatikan baik-baik.
Kita menjalankan ibadah ini bukan dengan ibadah taurat, tetapi kita menjalankan ibadah ini kepada Tuhan artinya Tuhan melihat isi hati kita masing-masing. Kalau kita bekerja untuk manusia maka kita bisa akal-akalan, kita bisa main belakang, dan manusia tidak melihat, atasan tidak melihat, namun kita ini berbakti kepada tuhan, dan Tuhan melihat segala sesuatu, lalu untuk apa kita menjalankan ibadah taurat?
Dan sidang jemaat juga tidak beribadah kepada saya, tetapi saya dan sidang jemaat harus beribadah kepada Tuhan, jadi tidak ada artinya kita menjalankan ibadah dengan akal-akalan, terlihat baik di depan manusia, tetapi tidak baik di mata Tuhan. Lebih baik ditolak dunia asal jangan Tuhan yang menolak.
Kedatangan Tuhan sudah tidak lama lagi, tanda-tanda jaman sudah terlihat jelas di mata kita sesuai dengan apa yang tertulis di dalam alkitab, masihkah mempertahankan kekerasan hati? Masihkah memberontak oleh karena roh pendurhakaan?
Saya dengan tegas berkata kalau berani memberontak dan mengeraskan hati, tidak dengar-dengaran, itu  adalah orang yang paling bodoh dan paling malang di atas muka bumi ini. Justru seharusnya kita bersyukur jikalau salib di tegakkan di tengah ibadah ini bagaikan gunung sion di dalam Yesaya 2, tegak berdiri di hulu gunung-gunung, suatu kali nanti gunung lain bergeser, tetapi gunung sion tetap tegak berdiri.
Memang sakit kalau kita dikoreksi, tetapi bersyukur kalau salib ditegakkan bagaikan gunung sion tegak berdiri di hulu gunung-gunung, nanti gunung lain digeser sesuai dengan Wahyu 6:12-14.
Karena itu sungguh-sungguh perhatikalah cara kita mendengar, jangan keras hati dan jangan memberontak lagi.

Matius 17:6
(17:6) Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.

Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyadari diri bahwa manusia itu hina, menyadari diri bahwa manusia itu tidak berdaya, manusia itu tidak bisa apa-apa kalau bukan karena kemurahan Tuhan.
Sementara tadi pada saat Petrus berkata-kata memaksakan keinginannya untuk mendirikan tiga kemah, tiba-tiba turunlah awan. Nah begitulah cara Tuhan untuk menyadarkan tiga murid ini yaitu Petrus,  Yakobus, dan Yohanes. Setelah disadarkan barulah mereka tersungkur dan mengalami rasa takut yang hebat.
Jadi peristiwa Wahyu 1:16-17 sama dengan peristiwa Matius 17 ketika Yesus diliputi dalam kemuliaan.

Matius 17:7
(17:7) Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"

Dalam keadaan takut  mereka tersungkur, kemudian Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka berarti di dalam kemuliaan itu Yesus menyatakan kasih-Nya kepada orang yang hina dan kepada orang yang tidak berdaya. Pada saat Yesus mengulurkan tangan kanan-Nya, Yesus berkata; “Berdirilah jangan takut.
Kalau saat ini kita berdiri di hadapan takhta kasih karunia semata-mata oleh karena tangan kanan Tuhan terulur bagi kita sekaliannya.
Kesimpulannya; di dalam kemuliaan-Nya Tuhan Yesus Kristus menyatakan kasih dan kemurahan-Nya serta berkata; “Berdirilah, jangan takut. Dengan demikian Petrus, Yakobus, dan Yohanes diyakinkan.

Wahyu 1:17
(1:17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,

Di dalam kemuliaan-Nya Yesus menyatakan kasih-Nya. Sebagai bukti; kalau tadi kepada Yakobus, Petrus, dan Yohanes, Yesus berkata; “Berdirilah, jangan takut!”         Di sini juga kita melihat kepada Rasul Yohanes di pulau patmos Yesus  berkata; “Jangan takut, Aku adalah yang awal dan yang akhir.”
Jadi pernyataan Yesus kepada Rasul Yohanes ini sama pengertiannya dengan apa yang sudah disampaikan Yesus kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes.

Lebih rinci kita melihat
Wahyu 1 :18
(1:18) dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

Selanjutnya Yesus berkata; Yang hidup, aku telah mati, namun lihatlah aku hidup.”
Saudaraku, Yesus mengawali dengan pegakuan diri-Nya sebagai alfa dan omega/yang awal dan yang akhir, kemudian dilanjutkan dengan perkataan “Yang hidup, Aku telah mati, namun lihatlah Aku hidup.”
Berarti dari alfa (awal) untuk sampai kepada omega (akhir), Yesus telah mati di atas kayu salib, dengan demikian Dia telah menyatakan kasih-Nya supaya kita bisa berdiri menghadap tahkta kasih karunia, tidak perlu takut menghadapi situasi, kondisi, dan keadaan yang ada.
Di dalam kemuliaan-Nya Dia telah menyatakan kasih-Nya, berdirilah berarti menghadap takhta kasih karunia, layanilah Tuhan dengan sungguh-sungguh, lalu jangan takut terhadap situasi, kondisi, dan keadaan apapun yang terjadi.
Jadi apa yang telah disampaikan Yesus di atas gunung yang tinggi yaitu kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes, dan kepada Rasul Yohanes di pulau Patmos itu sama. Tuhan itu adil, tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain.
Tuhan tidak memandang orang kaya, orang besar, besar kecil, tua muda sama saja, itu semua hasil ciptaan Tuhan. Sesungguhnya manusia itu sendiri yang sering membeda-bedakan, tidak adil, orang kaya dihormati, orang miskin tidak. Manusia itu tidak adil dan itu yang membuat manusia itu hina, tidak berdaya. Tetapi di dalam kemuliaan Tuhan telah menyatakan kasih-Nya sebab Dia alfa, omega, awal dan akhir, dia hidup, mati, dan hidup, dia telah menyatakan kasih-Nya lewat kematian-Nya di atas kayu salib, tujuannya supaya kita berdiri berarti menghadap takhta kasih karunia, di tengah ibadah dan pelayanan, tekun di dalam kegiatan-kegiatan yang Tuhan percayakan dalam setiap kebaktian, kemudian jangan takut untuk menhadapi situasi, kondisi, keadaan apapun yang terjadi.

Ayo tangan kanan Tuhan terulur bagi keluarga sidang jemaat GPT BETANIA, tangan kanan Tuhan terulur bagi kita,  berdirilah layanilah Tuhan dengan sungguh-sungguh, jangan takut, jangan kuatir dengan situasi, kondisi yag ada, soal makan, minum, pakaian, masa depan, jangan kuatir, jangan takut sebab tangan kanan Tuhan dan kasih Tuhan diulurkan bagi kita.

Lukas 9:31
(9:31) Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.

Saat Yesus diliputi kemuliaan, Musa dan Elia berbincang-bincang dengan Yesus. Tadi kita sudah perhatikan di dalam injil Matius 17, tetapi apa yang diperbincangkannya di situ tidak ditulis, namun di dalam injil Lukas 9:31 ini kita sudah lihat apa yang diperbincangkannya, yaitu terkhusus berbicara tentang tujuan kepergian Yesus yang akan digenapi di Yerusalem.

Matius 16:21
(16:21) Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Yesus harus pergi ke Yerusalem untuk menggenapi rencana Allah sebab itu Dia akan menanggung banyak penderitaan dari pihak imam-imam kepala, tua-tua dan ahli-ahli taurat lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ke tiga.
Jadi dengan demikian Dia telah menyatakan kasih-Nya.

Saudaraku, kita ini ada di kota Yerusalem, ada di tengah-tengah ibadah dan pelayanan, kiranya kasih Allah tergenapi di dalam kehidupan kita, menanggung penderitaan yang tidak harus Ia tanggung itulah sengsara salib dan aniaya karena firman Allah.
Pendeknya; Yesus telah menyatakan kasih-Nya, Dia telah menggenapi kehendak Allah di Yerusalem.

1 Yohanes 4:9-10
(4:9) Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
(4:10) Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Allah telah menyatakan kasih-Nya diantara manusia sebab Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia supaya oleh kasih-Nya itu kita hidup, supaya oleh karena kasih-Nya itu orang yang tidak berdaya, orang yang hina, orang yang sudah mengalami ketakutan yang mencekam, berdiri, jangan takut.

Allah telah mengasihi kita sebab Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk memperdamaikan dosa manusia di atas kayu salib. Yesus menanggung penderitaan di atas kayu salib, lalu terbunuh, hari ke tiga dibangkitkan. Dialah alfa yang telah menyatakan kasih-Nya di atas kayu salib untuk sampai kepada omega.
Itu sebabnya saudaraku kita saat ini berdiri menghadap takhta kasih karunia, itu sebabnya kita tidak takut tidak goyah terhadap situasi, kondisi, sekalipun tanda-tanda zaman sudah begitu mencekam, mengguncang dunia. Tetapi kita tidak takut sebab tangan kanan Tuhan yang menjadi pembela bagi kita semuanya. Siapa seperti Allah kita? Haleluya…

1 Yohanes 4:11
(4:11) Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.

Kalau Allah begitu rupa mengasihi kita, maka mari kita saling mengasihi satu dengan yang lain, jangan tersandung dan jangan menjadi batu sandungan dalam hal kejahatan dan kenajisan.
Ayo kita berbakti kepada Tuhan bukan kepada manusia, jangan terlihat baik di luar, tetapi hatinya memberontak, mendurhaka, degil. Ingat tangan kanan Tuhan menjadi pembela bagi kita semuanya, dalam kemuliaan, kasih-Nya dinyatakan bagi kita sekaliannya. Itu sebabnya kita bisa berdiri menghadap takhta kasih karunia dan kita tidak ada rasa takut, tidak kuatir soal makan, minum, pakaian, soal masa depan, dengan situasi yang menggelora,  tidak takut, sebab tangan kanan Tuhan sebagai pembela, sampai masa tua rambut putih Tuhan bela, yang tidak berdaya Tuhan bela, yang hina Tuhan bela.
Mari saling mengasihi kalau Tuhan begitu rupa mengasihi kita, tangan kanan-Nya sudah menjadi pembela bagi kita. Suami mengasihi istri, istri menghormati suami, saling menghargai dan menghormati nikah sendiri. Kalau kita menghormati nikah sendiri itu sama artinya dengan menghormati nikah orang lain. Ayo kita bebakti kepada Tuhan berarti hati, pikiran, dan perasaan kita persembahkan kepada Tuhan, bukan kepada manusia.


1 Yohanes 4:17
(4:17) Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

Tanda bahwa kasih Allah telah sempurna di dalam kehidupan kita adalah mempunyai keberanian pada hari penghakiman. Sebab kita mengetahui pada saat Yesus menyatakan kemuliaan-Nya, Dia akan mengumpulkan semua bangsa dihadapan-Nya sesuai dengan injil Matius 25, di situlah akan tejadi pemisahan antara domba dan kambing, kehidupan yang dengar-dengaran dipisahkan dari kehidupan yang tidak dengar-dengaran seperti kambing yang suka menanduk. Jadi tanda kalau kasih itu sempurna adalah mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, tetap berdiri, jangan takut.

Matius 25:31
(25:31) "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
(25:32) Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
(25:33) Dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

Pada saat Yesus menyatakan kemuliaan-Nya, Dia mengumpulkan semua bangsa dihadapan-Nya untuk mengadakan pemisahan, memisahkan antara domba dengan kambing, domba ditempatkan di sebelah kanan dan kambing ditempatkan disebelah kiri, orang yang mengasihi Tuhan berdiri, jangan takut, itulah kehidupan yang dengar-dengaran, tidak memberontak, tidak keras hati, sedangkan di sebelah kiri adalah kambing, kehidupan yang liar tidak tergembala, memberontak, melawan, degil.
Jadi dari situ kita bisa mengetahui tanda bahwa kasih Allah sempurna di dalam kehidupan kita yaitu berani dan berdiri sampai pada hari penghakiman. Berdiri jangan takut sampai pada hari penghakiman.
Itulah yang membuat Simon Petrus berdiri tidak takut pada akhirnya, dan memang kalau kita perhatikan dalam injil Yohanes 21:15-17; Yesus berkata sebanyak tiga kali kepada Simon Petrus, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Yohanes 21:18
(21:18) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
(21:19) Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Saudaraku, Yesus mengatakan gembalakanlah domba-domba-Ku sebanyak tiga kali, sebetulnya hal itu dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Jadi tanda kasih itu sempurna di dalam diri seseorang adalah berdiri, jangan takut sampai pada hari penghakiman. Begitu jugalah keberadaan Simon Petrus, Tuhan tau keberadan manusia begitu hina, Tuhan tau keadaan manusia begitu tidak sempurna, tidak berdaya, sebab itu sampai pada hari ini tangan kanan-Nya terulur bagi kita sekaliannya supaya kita berdiri jangan takut.

1 Yohanes 4:18
(4:18) Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Tangan kanan Tuhan Yesus sudah terulur maka tidak ada ketakutan, kasih yang sempurna telah melenyapkan ketakutan itu.

Bilangan 6:24-26
(6:24) TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
(6:25) TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
(6:26) TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Wajah-Nya seperti matahari berarti Dia menyatakan kasih karunia-Nya dan memberkati dengan damai sejahtera sampai pada hari penghakiman, kita berdiri, tidak takut. Amin. 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

Pemberita Firman:
Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang



No comments:

Post a Comment