KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Saturday, March 9, 2024

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 07 MARET 2024

IBADAH PENDALAMAN ALKITAB, 07 MARET 2024

KITAB MALEAKHI PASAL 2

Maleakhi 2:6 (Seri:6)


Subtema: DIUTUS UNTUK MEMBAWA DAMAI SEJAHTERA


Pertama-tama saya mengucapkan puji syukur kepada TUHAN, oleh karena rahmat-Nya yang telah menghimpunkan kita di atas gunung TUHAN yang kudus, beribadah lewat Ibadah Pendalaman Alkitab disertai dengan perjamuan suci di malam ini. 


Saya juga tidak lupa menyapa anak-anak TUHAN yang sedang bergabung dengan penggembalaan GPT “Betania” Serang & Cilegon lewat live steraming; Youtube, Facebook baik saudara di dalam negeri maupun di luar negeri, dimanapun berada. Kita boleh menikmati Sabda Allah dalam suasana hadirat TUHAN, damai sejahtera menjadi bahagian kita sekaliannya. 


Selanjutnya kita berdoa, kita mohon kemurahan TUHAN supaya Firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita pribadi lepas pribadi.


Mari kita sambut STUDY MALEKAHI sebagai Firman Penggembalaan untuk Ibadah Pendalaman Alkitab.

Malekhi 2:6B

(2:6) Pengajaran yang benar ada dalam mulutnya dan kecurangan tidak terdapat pada bibirnya. Dalam damai sejahtera dan kejujuran ia mengikuti Aku dan banyak orang dibuatnya berbalik dari pada kesalahan.


Mengikuti TUHAN dalam tahbisan Lewi, ditandai dengan 2 (dua) hal:

  1. Dalam damai sejahtera.

  2. Dalam kejujuran.


Kita akan mengikuti penjelasan tentang dua hal di atas, dimulai dari…

Keterangan: DALAM DAMAI SEJAHTERA

Terkait dengan dalam damai sejahtera, langsung kita hubungkan dengan…


Yohanes 20:19 dengan perikop: “Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya”

(20:19) Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"


Dalam keadaan takut, murid-murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci. Tetapi, tiba-tiba Yesus tampil dan berdiri di tengah mereka, membawa damai sejahtera.


Doa saya; kiranya kita semua, teristimewa para imam yang dipercaya melayani TUHAN, dimanapun dan dalam keaadaan apapun; duduk, berdiri, harus membawa damai sejahtera. Jangan diberi kesempatan melayani, tetapi wajahnya keriting, seperti rambut keriting. Demikian juga sidang jemaat, disebut juga sebagai pengikut TUHAN, pengikut Kristus, dimanapun berada, senantiasa membawa damai sejahtera. Jangan sampai mau melayani tetapi tidak membawa damai sejahtera = mau enaknya saja. Itu namanya penipuan besar-besaran. Jangan sampai kita disebut sebagai imam tetapi penipu besar-besaran. 


Sekali lagi saya sampaikan: seorang imam di tengah-tengah pengutusannya dalam tahbisan Lewi, ia harus membawa damai sejahtera. Jangan menimbulkan huru-hara.


Yohanes 20:20-21

(20:20) Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. (20:21) Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."


Bukti seorang hamba TUHAN dalam tahbisan Lewi, di tengah pengutusannya membawa damai sejahtera.

Memberi sukacita kepada orang-orang yang mengalami ketakutan, kekuatiran, kesusahan, sengsara dan penderitaan, bahkan memberi seukacita kepada orang yang sedang mengalami jalan buntu, seperti pintu-pintu yang terkunci.


Inilah tahbisan Lewi, sekalipun dia harus menderita, seperti: 

  • Dua tangan Yesus yang terluka.

Hidupnya sudah terluka, namun dua tangan (perbuatan hidup) dari seorang imam selalu membawa damai sejahtera. 

  • Lambung Yesus yang tertusuk. 

Sekalipun hati terluka, tetap membawa damai sejahtera. 

Hamba TUHAN dalam tahbisan Lewi semacam ini, akan memberi sukacita besar kepada orang lain.


Banyak hamba ditemukan TUHAN di tengah pengutusan, bilamana dua tangannya / hidupnya terluka, kemudian hati terluka, maka dia tidak sanggup membawa damai sejatera. Justru dari wajahnya itu terpancar banyak penyesalan, keluhan, penuduhan dan cenderung mempersalahkan orang lain.


Kembali kita membaca…

Yohanes 20:21-22

(20:21) Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (20:22) Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.


Seorang hamba TUHAN dalam tahbisan Lewi di tengah-tengah pengutusan; ia akan membawa damai sejahtera, sekalipun mengalami penderitaan dan hati terluka, sebab ia telah dihembusi, berarti telah menerima Roh Kudus. 

Jadi, Roh TUHAN dan pengaruh-Nya begitu besar di dalam diri seorang hamba TUHAN di tengah-tengah pengutusannya, sehingga sekalipun ia terluka ia tetap membawa damai sejahtera. Hamba TUHAN seperti ini niscaya memberi sukacita besar. Inilah yang disebut hamba TUHAN dalam tahbisan Lewi di tengah pengutusannya. 


Berjanjilah, sekalipun merasa tersakiti, namun izinkan Roh Allah yang suci itu dengan pengaruh yang besar mempengaruhi dirimu. Jadi, kesusahanmu tidak mempengaruhi dirimu, kesulitanmu tidak mempengaruhi dirimu, sekalipun engkau menderita dan terluka. Itu yang disebut hamba TUHAN dalam tahbisan Lewi.


TUHAN membawa damai sejahtera, Dia meninggalkan murid-murid bukan dalam keadaan susah, bermuram durja, tetapi; TUHAN meninggalkan murid-murid dalam keadaan damai sejahtera dan murid-murid dihembusi oleh nafas Allah; murid-murid menerima Roh El Kudus, selanjutnya mereka diutus oleh TUHAN untuk membawa damai sejahtera.


Jadi saudara, hati-hati, maksudnya; kalau sudah melayani TUHAN, diangkat menjadi imam-imam, menjadi anak sulung, seharusnya ada dalam pengaruh yang besar dari Roh Kudus. Jangan sampai diberi kesempatan melayani, tetapi tidak ada dalam pengaruh dari Roh Allah yang suci. Malu melayani tanpa Roh Allah, tidak membawa damai sejahtera, tidak berdampak.


Ayub 32:8-9

(32:8) Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. (32:9) Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.


Roh yang ada di dalam diri manusia atau hembusan nafas Allah, itulah yang memberi pengertian kepada seorang hamba TUHAN / utusan TUHAN dalam tahbisan Lewi. Sebaliknya, kalau hidupnya lebih besar dipengaruhi oleh daging, kehidupan semacam ini tidak punya pengertian, karena bagi dia pengertian itu dianggap sampah. Maka, kehidupan yang bodoh banyak sekali melakukan kesalahan sebagai perbuatan bodoh. 


Itu sebabnya, sekali lagi saya sampaikan; seorang hamba TUHAN harus menerima hembusan nafas Allah, harus menerima Roh Allah yang suci dan dikuasai oleh Roh Allah yang suci. Itulah yang memberi pengertian kepada seorang hamba TUHAN, seorang utusan TUHAN dalam tahbisan Lewi.


Pendeknya; 

  • Mempunyai hikmat bukan karena lanjut umur.

  • Mengerti keadilan bukan karena umurnya sudah tua.

Jadi, lanjut umur atau umur tua, bukan jadi patokan. Oleh sebab itu, kita semua harus mengalami hembusan nafas Allah, memiliki Roh Allah, dikuasai Roh Allah untuk memberi pengertian, sehingga utusan TUHAN disebutlah sebagai orang yang bijaksana. Kalau hamba TUHAN tidak merasakan hembusan nafas Allah, tidak memiliki Roh Allah, maka ia tidak memiliki pengertian dan tidak bijaksana -- tetap menjadi orang yang bodoh, sekalipun ia pendeta atau orang yang ada di tengah-tengah ibadah dan pelayanan.


Daniel 12:3

(12:3) Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.


Orang yang bijaksana, akan bercahaya seperti bintang-bintang menuntun banyak orang kepada kebenaran.


Jadi, oleh hembusan nafas Allah (Roh Allah), seorang hamba TUHAN mempunyai pengertian, oleh pengertian inilah seorang hamba TUHAN menjadi bijaksana. Sementara, tugas orang yang bijaksana adalah menuntun banyak orang kepada kebenaran. Jangan sampai diangkat sebagai seorang imam, tetapi tidak mau menuntun orang pada kebenaran, inikan salah kaprah, keliru dia ada pada kedudukan itu. Kalau sudah berada pada kedudukan yang tinggi (imamat rajani) kiranya menjadi orang yang bijaksana. Jangan keliru mengartikan kedudukan sebagai imamat rajani.


Orang bijaksana itu bercahaya seperti bintang-bintang. Cahayanya itu menuntun banyak orang kepada kebenaran.


Matius 2:1-2 dengan perikop: “Orang-orang majus di Timur”

(2:1) Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem (2:2) dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."


Orang-orang majus tiba di Yerusalem, karena dituntun oleh bintang timur.

Bintang Timur → Orang yang bijaksana.

Yerusalem →  ibadah dan pelayanan atau disebut juga dengan pusat kerajaan damai sejahtera.

Jadi, orang yang beribadah, kemudian di tengah-tengahnya ia melayani, harus menjadi pusat damai sejahtera. 

Imam-imam juga disebut dengan Yerusalem, jadi, harus membawa damai sejahtera. 


Di atas tadi kita sudah melihat, sekalipun tangan terluka, lambung (hati) terluka, seorang utusan TUHAN dalam tahbisan Lewi tetap membawa damai sejahtera. Ada muka-muka mesem, muka cabe keriting harus disingkirkan dari seorang imam, karena imam harus membawa damai sejahtera. Itulah tahbisan Lewi.


Tujuan orang majus datang ke Yerusalem: 

Untuk menyembah Allah yang menjadi manusia (Yesus yang menjadi manusia lewat proses kelahiran).

Jadi Yesus tidak menjelma, Yesus menjadi manusia lewat proses kelahiran. Kalau menjelma, misalnya; dari kertas menjadi kucing (berubah tanpa proses).


Jadi, puncak ibadah (tingkat ibadah tertinggi) adalah doa penyembahan.

Kita ada di Yerusalem (ibadah dan pelayanan) harus sampai kepada puncak ibadah tertinggi itulah doa penyembahan, itu yang benar, jangan sekedar ibadah.


Ada di tengah Ibadah Pendalaman Alkitab; hanya sekedar. Ada di tengah Ibadah Raya Minggu; hanya sekedar. Ada di tengah Ibadah Doa Penyembahan; hanya sekedar. Ada di tengah Ibadah Kaum Muda Remaja; hanya sekedar. Tidak ada suatu kerinduan supaya berada pada tingkat ibadah yang tertinggi (doa penyembahan) adalah sia-sia. 

Kalau suami melihat isteri seperti itu; doakan, karena itu tanggungjawab suami. Sebaliknya. kalau isteri melihat suami seperti itu; doakan. Begitu juga, kalau orangtua melihat anak-anak seperti; doakan, menangis kepada TUHAN.


Kalau kita ada di tengah ibadah dan pelayanan, harus ada suatu kerinduan yang mendalam untuk berada pada satu kedudukan yang tinggi itulah dosa penyembahan.


Matius 2:3

(2:3) Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.


Pada ayat 1-2; orang-orang majus tiba di Yerusalem, tujuannya adalah; untuk menyembah, berada pada puncak ibadah.


Lalu, pada ayat 3: mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.

Kalau seandainya, orang yang bijaksana menuntun banyak orang kepada kebenaran sampai pada puncak ibadah, apakah saudara harus terkejut? Apalagi sudah tekun dalam tiga macam ibadah pokok.

Orang yang baru bergabung barangkali terkejut. Tetapi kalau sudah mempunyai pengetahuan tentang kebenaran semacam ini, dituntun sampai puncak ibadah; tidak perlu terkejut. Tetapi di sini kita melihat; Herodes dan Yerusalem (orang-orang yang melayani di tengah ibadah); terkejut. Ini kan aneh.


Itu artinya; Herodes tidak suka melihat anak-anak TUHAN beribadah, apalagi berada pada tingkat ibadah yang tertinggi yang disebut juga dengan puncak ibadah itulah doa penyembahan.

Jadi, Herodes adalah gambaran dari setan. Setan tidak suka melihat anak-anak TUHAN berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan. Kalau ada orang tidak suka dituntun sampai puncak ibadah itu adalah titisan dari setan. Inilah yang harus diperjuangkan. Berjuanglah disitu.


Memang, setan berjuang juga untuk menghambat hidup rohani dari gereja TUHAN, setan tidak suka melihat anak-anak TUHAN berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan. Apalagi kedatangan TUHAN sudah diambang pintu, itu berarti hari kebinasaan (hari penghukuman) bagi setan sudah dekat, maka ia sedang berjuang untuk menghambat lajunya hidup rohani dari gereja TUHAN, supaya banyak orang binasa bersama-sama dengan dia di dalam neraka. 


Tetapi bagi kita ini adalah berita sukacita, karena kita sedang berjuang untuk lepas dari maut (kebinasaan), hukuman kekal itulah api neraka.


Yohanes 8:44

(8:44) Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.


Ada 3 (tiga) tabiat setan yang paling mendasar:

  1. Pembunuh manusia dari sejak semula = tidak memiliki kasih

Kalau seseorang memiliki kasih pasti tidak membenci sesamanya.

  1. Tidak hidup dalam kebenaran = menolak pribadi Yesus dan salibNya, sebab sumber kebenaran sejati datang dari salib, di luar salib yang ada hanyalah kebenaran diri sendiri, kebenaran dari hukum Taurat, kebenaran dari hukum rimba dan lain sebagainya.

  2. Ia adalah pendusta, bahkan disebut bapa segala dusta; menunjukkan bahwa ia tidak hidup di dalam Roh Allah.


Tetapi yang pasti, tabiat iblis yang pertama adalah PEMBUNUH MANUSIA DARI SEJAK SEMULA.


Matius 2:16 dengan perikop: “Pembunuhan anak-anak di Betlehem”

(2:16) Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

Pada akhirnya, Herodes membunuh semua anak laki-laki di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah.

Inilah sasaran dari iblis setan yaitu; kerohanian kanak-kanak. Itu sebab, tujuan kita berada di tengah ibadah dan pelayanan adalah supaya ibadah kita berada pada tingkat ibadah yang tertinggi, itulah doa penyembahan.


Dari sejak semula, iblis adalah pembunuh dari sejak semula.

  • Pada zaman Musa lahir di Mesir, Firaun membunuh semua anak laki-laki orang Ibrani.

  • Pada zaman Yesus lahir; membunuh semua anak laki-laki yang berumur dua tahun di Betlehem.

  • Pada zaman akhir, naga juga berusaha membunuh anak yang dilahirkan oleh mempelai perempuan TUHAN.

Wahyu 12:4-5 

(12:4) Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.(12:5) Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.


Anak yang dilahirkan oleh mempelai perempuan; dirampas lalu dibawa ke takhta-Nya.

Perlu untuk diketahui; semua perkara apabila dilemparkan ke atas, akan jatuh ke bawah, sekalipun benda itu ringan, baik itu kapas, kertas dan lain sebagainya, karena daya tarik bumi. 

Hanya satu perkara yang lepas dari daya tarik bumi, itulah asap dupa kemenyan, gambaran dari doa penyembahan yang naik ke hadirat Allah menembusi takhta Allah. 


Jadi saudara, Anak laki-laki ini bukan pribadi Yesus, walaupun Anak laki-laki itu diawali dengan huruf “A” besar tetapi, itu bukan pribadi Yesus, itu adalah anak yang dilahirkan oleh mempelai perempuan TUHAN -- hasil dari hubungan intimnya dengan Mempelai Laki-Laki Sorga. Jadi, anak laki-laki ini adalah bersifat manusia ilahi. Inilah yang akan menggembalakan bangsa-bangsa dengan gada besi. 


Jadi saudara, ingat, tujuan orang majus dituntun oleh orang yang bijaksana (orang yang mempunyai pengertian); untuk berada pada tingkat ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan


Dengan kasih saya sampaikan; jangan datang kepada TUHAN (beribadah), supaya suami senang, isteri senang, pendeta senang, jangan seperti itu. Tetapi harus memiliki kerinduan yang mendalam yaitu; supaya berada pada puncak ibadah, karena setan tidak suka melihat anak-anak TUHAN berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan. Sekarang ini, Setan sedang berusaha untuk menyeret dan membinaskan anak-anak TUHAN. Oleh sebab itu, kita juga harus berjuang untuk sampai kepada kedudukan yang tinggi, itulah doa penyembahan. 


Kita kembali memperhatikan…

Matius 2:4-8

(2:4) Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. (2:5) Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: (2:6) Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." (2:7) Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. (2:8) Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia."


Intinya, setelah Herodes selesai menyelidiki tentang kelahiran Sang Mesias dari ahli-ahli Taurat, selanjutnya dia menyuruh orang-orang majus pergi ke Betlehem. Kemudian, berkatalah Herodes kepada orang-orang majus: “segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.”


Sebetulnya, apa yang disampaikan oleh Herodes; “kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.”

Itu adalah penyembahan palsu dari Herodes. Sebab, tiadalah mungkin iblis/setan mempunyai kerinduan untuk menyembah Allah Abraham, Ishak dan Yakub. 


Terlebih dahulu saya sampaikan; 

Matius 2 berbicara tentang kelahiran Yesus dan orang majus. 


Matius 3 adalah kisah tentang Yohanes pembaptis secara keseluruhan, karena Yesus harus terlebih dahulu dibaptis sebelum Yesus memulai pelayananNya. 

Jadi, sebelum memulai pelayanan -- sebelum melayani di Ruangan Suci -- melayani TUHAN dan perabotan-perabotan yang ada di dalamnya (menunjuk kepada ketekunan tiga macam ibadah pokok), terlebih dahulu Yesus dibaptis oleh Yohanes pembaptis. 


Barulah kita masuk pada Matius 4:1-11, itu terkait dengan pencobaan yang dihadapi oleh Yesus di padang gurun. 

Adapun pencobaan itu sebanyak 3 (tiga) kali, yaitu:

YANG PERTAMA (Matius 4:3-4): batu menjadi roti, terhubung langsung dengan daging 

YANG KEDUA (Matius 4:5-7): iblis berusaha menjatuhkan Yesus dari tempat tinggi, terhubung langsung dengan keangkuhan hidup.


YANG KETIGA

Matius 4:8-10

(4:8) Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, (4:9) dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." (4:10) Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"


Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, hal ini terhubung langsung dengan keinginan mata.


Jadi, singkat kata; gunung tertinggi atau penyembahan tertinggi dari setan tritunggal adalah kerajaan dunia dengan kemegahannya yakni; kemuliaan dunia, itulah harta, kekayaan, uang yang banyak termasuk kedudukan, jabatan dan pangkat yang tinggi. Itulah penyembahan tertinggi dari setan tritunggal. Kalau ini menjadi penyembahan tertinggi, maka inilah yang disebut dengan penyembahan palsu.


Tidak salah diberkati, mempunyai harta, kekayaan, uang yang banyak. Tidak salah mempunyai kedudukan, jabatan pangkat yang tinggi. Tetapi, kalau itu yang menjadi orientasi dari ibadah, itu yang menjadi tujuan ibadah, inilah yang disebut penyembahan palsu. Setan sangat suka sekali disembah dan ia akan memberikan segala sesuatu tetapi itu adalah penyembahan palsu. Itu sebabnya, kalau kita perhatikan di sini, iblis berkata kepada Yesus: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"


Jangan sampai kita melepaskan diri dari kebaktian (ibadah) hanya karena kerajaan dunia dan kemegahannya, termasuk kedudukan, jabatan dan pangkat, yang semuanya itu ada dalam pekerjaan (aktivitas) di dunia ini; itu penyembahan palsu. Jangan terkecoh dengan penyembahan palsu. Jangan biasakan sakit sedikit, dikambing hitamkan untuk jauh dari ibadah, nanti dijadikan setan sakit-sakita terus. Setan itu kan memanipulasi; apa saja yang kita minta pasti dipenuhi itu, asal jangan berbakti (beribadah) kepada TUHAN. 

Saya seringkali mengalami sakit perut, dan merasa tidak mungkin untuk beribadah karena saya tahu kondisi saya. Tetapi saya imani saja. Kalau sedikit sakit saja tidak ibadah, nanti setan buat sakit beneran. Jangan turuti maunya setan, jangan berbuat bodoh. 


Itu sebabnya dalam Maleakhi 2:6 tadi; melayani dalam tahbisan Lewi membawa damai sejahtera. Maka hamba TUHAN setelah menerima hembusan nafas Allah; menerima Roh Allah, maka Roh itu yang memberi pengertian sehingga hamba TUHAN di tengah pengutusan menjadi orang bijaksana menuntun banyak orang kepada kebenaran sampai pada puncak ibadah (doa penyembahan). Pengertian itu yang menjadikan kita bijaksana. Kalau tidak punya pengertian; bodoh dan hanya orang bodoh yang bisa dibodoh-bodohi setan. 


Matius 2:9-11

(2:9) Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. (2:10) Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. (2:11) Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.


Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu.

Kenapa rumah? Kenapa tidak kandang domba? Karena Yesus dalam Injil Matius tampil sebagai Raja -- tidak mungkin raja lahir di kandang. Itu sebabnya, dalam Injil Lukas Yesus lahir di kandang yang hina; kandang domba, karena Injil Lukas menampilkan Yesus sebagai manusia dalam sengsara. 


Kita harus memiliki timbangan yang tepat dan benar dalam pundi-pundi perbendaharaan. Kita juga harus memiliki efa yang tepat dan benar, seperti orang majus ini.


Singkat kata, bintang Timur, gambaran dari orang bijaksana, menuntun orang-orang majus sampai tingkat ibadah tertinggi, dengan lain kata sampai puncak ibadah yakni; doa penyembahan. Lalu di tengah-tengah doa penyembahan itu, orang-orang majus mempersembahkan 3 (tiga) hal:

  1. Emas, kaitannya dengan kemurnian 🡪 Firman Allah yang menjadi manusia itulah pribadi Yesus yang menjadi manusia. 

  2. Kemenyan, kaitannya dengan penyembahan 🡪 kasih, sebagai tabiat dari Allah Bapa.

  3. Minyak mur, kaitannya dengan pribadi Kristus yakni; pengurapan dari Roh Allah yang suci itulah kehidupan yang diurapi.

Inilah tanda kalau seseorang sudah berada pada puncak ibadah (doa penyembahan),

Jangan sampai ada di tengah ibadah doa, tetapi tidak mampu mengeluarkan tiga hal ini dari perbendaharaan hidupnya. Jadi, kalau sudah berada pada puncak ibadah itulah doa penyembahan, tiga hal ini harus dipersembahkan kepada TUHAN. 


Matius 2:10 

(2:10) Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.


Seorang hamba TUHAN dalam tahbisan Lewi harus membawa damai sejahtera, tandanya; sanggup memberi sukacita besar.


TUHAN ingin melihat kita berada pada tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah), tandanya; mempersembahkan tiga hal dari perbendaharaan hidupnya dan biarlah itu terjadi. Jangan lagi mempertahankan cara ibadah yang lama. Doa saya kita semua maju terus, hidup rohani kita meningkat dan terus meningkat.


Matius 2:12

(2:12) Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.


Sesudah tadi menyelidiki kelahiran Sang Mesias melalui ahli Taurat dan orang Yahudi, Herodes datang ke orang majus dan menyuruh orang majus pergi ke Betlehem. Kemudian Herodes berkata; "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia." Sebetulnya itu merupakan penyembahan palsu


Karena itu adalah penyembahan palsu, maka di ayat 12 ini orang-orang majus diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes. Mimpi = penglihatan = pembukaan rahasia Firman. Nubuatan terbesar bukan penglihatan atau mimpi, tetapi pembukaan rahasia Firman; ayat dijelaskan dengan ayat, Firman Allah yang disampaikan lewat Ilham Roh Kudus. 

Jangan saudara berpikir, ketika seorang hamba TUHAN bernubuat dan menyampaikan penglihatan-penglihatannya adalah nubuat yang terbesar. sekali lagi saya sampaikan; nubuat terbesar, mimpi terbesar adalah pembukaan rahasia Firman. 


Jadi, lewat pembukaan rahasia Firman ini; orang-orang majus diingatkan supaya jangan kembali lagi kepada Herodes. Jangan kembali lagi pada ibadah yang lama, jangan kembali kepada penyembahan yang keliru/palsu. Akhirnya, pulanglah orang-orang majus ke negerinya dari jalan lain, berati; jalan yang baru, jalan yang belum pernah mereka tempuh itulah jalan salib.


Di dunia ini orang-orang menempuh jalan lama. Tetapi setelah kita hidup baru, hidup dalam Kristus Yesus, kita harus berjalan melalui jalan lain -- jalan baru -- itulah jalan salib. 

Kemudian, kepada orang-orang yang lahir baru Yesus berkata; “Akulah jalan kebenaran dan hidup”


1 Korintus 2:10-12 dengan perikop: “Hikmat yang benar”

(2:10) Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. (2:11) Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. (2:12) Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.


Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh.

Setelah ada hembusan nafas, murid-murid menerima Roh Allah (memiliki Roh Allah), supaya mereka diutus dalam tahbisan Lewi. Oleh Roh kita tahu isi hati TUHAN, oleh Roh kita tahu keadaan jemaat. 


Jadi jelas sekali, seorang hamba TUHAN atau seorang utusan TUHAN dalam tahbisan Lewi; tidak akan menerima roh dunia, dia menolak roh jual beli, roh antikris, roh penyembahan palsu, tetapi dia akan menerima Roh Allah yang hidup, sehingga:

  • Tahu apa yang ada di dalam hati TUHAN.

  • Tahu rencana Allah.

  • Tahu apa yang TUHAN mau karuniakan kepada kita.

Kita butuh orang bijaksana semacam ini, karena dia tahu segala sesuatu sehingga dia layak menuntun banyak orang sampai kepada kebenaran.


Jangan cari hamba TUHAN yang pandai guyon, tetapi tidak dipakai TUHAN untuk menuntun jiwa sampai kepada doa penyembahan. Jangan cari hamba TUHAN yang pandai teori kemakmuran (teologi kemakmuran), orientasi pelayanannya hanya sebatas kegerakan-kegerakan rohani. Carilah hamba TUHAN yang bijaksana, dipenuhkan Roh dan oleh Roh itu dia mempunyai pengertian untuk menuntun kehidupan kita sampai kepada doa penyembahan. Bersyukurlah kepada TUHAN buat kasih setia-Nya kepada kita.


1 Korintus 2:13-14

(2:13) Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. (2:14) Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.


Orang bijaksana mengajar orang-orang rohani, mengajar anak-anak TUHAN dengan Roh Allah sampai dibawa kepada doa penyembahan. Tetapi, manusia duniawi, hidup secara daging; tidak dapat memahaminya, dia menolak ajaran semacam ini, karena ajaran semacam ini hanya dapat dinilai secara rohani (manusia rohani).


Jadi, hanya manusia rohani yang mengerti rencana TUHAN, hanya manusia rohani yang senang dituntun orang bijaksana. Manusia duniawi tidak senang dituntun oleh hamba TUHAN yang bijaksana. Siapa yang senang dituntun oleh akal budi dan kebijaksanaan? Ayo wajah harus berseri, pancarkan kemuliaan Allah. 


Dengan pengertian ini kita harus bersukacita, karena tujuan TUHAN; membawa kita masuk Sorga. Itu sebabnya,  ibadah ini dipimpin sampai pada puncak ibadah itulah doa penyembahan. Tetapi, manusia duniawi tidak mengerti rencana TUHAN sebagaimana pada ayat 14: Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan.

Kalau tidak punya Roh Allah, kalau dia manusia duniawi hidup menurut daging; bodoh terus dan tidak memahami rencana TUHAN sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.


Hamba TUHAN dalam tahbisan Lewi, dalam pengutusannya dipenuhkan oleh Roh Kudus, sehingga dia mempunyai pengertian. Dan oleh pengertian yang melekat pada akal budinya, disebutlah ia dengan hamba TUHAN yang bijaksana; menuntun banyak orang kepada kebenaran, sehingga anak TUHAN nanti:

  • Tahu apa yang ada di dalam hati TUHAN.

  • Tahu rencana Allah.

  • Tahu apa yang TUHAN mau karuniakan kepada kita.

Tetapi manusia duniawi tidak mengerti, dia tetap dalam kebodohannya. 


Bagaimana saudara, kita sekarang ada dalam golongan yang mana? Manusia duniawi atau manusia rohani?


1 Korintus 2:15

(2:15) Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.


Segala sesuatu dapat dinilai oleh manusia rohani, tetapi manusia daging (manusia duniawi) tidak bisa menilai dia. 


Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16).

Pikiran Kristus → manusia rohani, menyambut rencana TUHAN dalam dirinya.


Inilah hamba TUHAN yang diutus dalam tahbisan Lewi; senantiasa membawa damai sejahtera. TUHAN memberi damai sejahtera kepada murid-murid, selanjutnya, TUHAN hembusi mereka dan mereka pun menerima Roh Allah, dan di tengah-tengah pengutusan akhirnya membawa damai sejahtera, sekalipun terluka dan tersakiti tidak mempengaruhi, dia tetap membawa damai sejahtera dan orang lain mengalami sukacita besar. Amin.


TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI


Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang


No comments:

Post a Comment