KAMI MENANTIKAN KESAKSIAN SAUDARA YANG MENIKMATI FIRMAN TUHAN

Terjemahan

Monday, March 4, 2024

KEBAKTIAN PERSEKUTUAN PENGAJARAN PEMBANGUNAN TABERNAKEL (PPT) MANDUAMAS, 28-29 FEBRUARI 2024

KEBAKTIAN PERSEKUTUAN PENGAJARAN PEMBANGUNAN TABERNAKEL (PPT)

MANDUAMAS, 28-29 FEBRUARI 2024

Tema:   MENJADI ANAK SULUNG
            Rabu 28 Februari 2024 (SERI 1)

Shalom, selamat malam, salam sejahtera dalam kasihnya TUHAN Yesus Kristus kepala pembela tubuh yang sudah melayakkan kita untuk menyelenggarakan kebaktian Persekutuan Pengajaran Pembangunan Tabernakel (PPT) yang jika TUHAN kehendaki akan berlangsung selama dua hari, tiga kali ibadah pemberitaan firman. Kiranya TUHAN senantiasa menyertai dan memberkati rangkaian-rangkaian ibadah yang akan kita kerjakan selama dua hari ini.

Segala kemuliaan hormat hanya bagi Dia, yang oleh karena kemurahan TUHAN kita diizinkan dalam satu wadah untuk berada dalam rencana TUHAN demi terbentuknya pembangunan tubuh Kristus yang sempurna.

Terimakasih juga kepada panitia yang sudah berjerih lelah, sehingga terwujudnya acara kebaktian persekutuan Pengajaran Pembangunan Tabernakel (PPT) yang malam ini adalah malam pertama. Terima Kasih kepada bapak pendeta Tigor Butar-butar, bersama dengan ibu yang sudah menjamu kami di kediamanya (di Pastoral). Terimakasih juga kepada para hamba TUHAN yang datang dari berbagai-bagai tempat yang tidak bisa saya sebut satu persatu; pemimpin pujian, pemain musik, semuanya hamba-hamba TUHAN yang hadir, imam-imam sampai kepada seluruh sidang jemaat yang hadir, terimakasih buat perhatian saudara, TUHAN membalaskan berlipat kali ganda. Saya tau ada yang datang dari Pakkat, ada yang datang dari Sibolga, dari Balige, dari siantar, tobasa, Siborong-borong, Medan, TUHAN lah yang membalaskan perhatian saudara. Kiranya TUHAN menyatakan kelimpahan kasih karunianya lewat pribadiNya firman Allah yang akan dinyatakan sebentar.

Kami rombongan dari Serang dan Cilegon, Banten, bersama dengan istri, anak kami yang bungsu, Naomi bendahara umum PPT, dan satu pemuda jemaat yang biasa supir kami kemana-mana bila ada kunjungan.

Trimakasih kepada bapak pendeta Philip, bapak pendeta Hatigoran, semua calon pengurus Pengajaran Pembangunan Tabernakel Sumatera Utara dan Tapanuli Tengah, juga ada sahabat kami bapak pendeta Gultom datang dari Bagan Batu Riau jauh-jauh selalu menopang pelayanan kami, TUHAN yang membalaskan berlipat kali ganda. Saya tidak bisa sebut satu persatu, TUHAN memberkati kita semua. Biarlah kita tetap satu karena diikat kasih Mempelai.

Setelah kita menaikan puji-pujian kepada TUHAN, tiba saatnya bagi kita mendengarkan firman TUHAN. Marilah kita buka hati kita lebar-lebar untuk diisi penuh oleh firman ALLAH, supaya kita semua para hamba-hamba TUHAN, gembala sidang nanti melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN dalam tahbisan yang suci dan benar di hadapan TUHAN.

Terima kasih juga saya ucapkan kepada tuan rumah daripada Gereja Bethel Indonesia di Tapanuli Tengah, khususnya di Manduamas di tempat ini. Saya belum kenal secara pribadi, tetapi TUHAN memberkati penggembalaan ini, TUHAN memberkati seisi pastori, TUHAN memberkati sidang jemaat yang dilayani, TUHANlah yang membalaskan berlipat kali ganda.

Mari, segera kita akan mendengar firman TUHAN dari tema yang ada yaitu “MENJADI ANAK SULUNG”. Mari kita dalam Roh berdoa kepada TUHAN supaya firman yang dibukakan itu meneguhkan setiap hati kita masing-masing.

Saya tidak lupa menyapa anak TUHAN, umat ketebusan TUHAN yang senantiasa tekun digembalakan oleh GPT “Betania” yang selalu mengikuti lewat live streaming baik di dalam negeri, maupun di luar negeri dimanapun anda berada, TUHAN memberkati kita sekaliannya.

Mari kita awali tema “MENJADI ANAK SULUNG” dari Maleakhi 2:4
Maleakhi 2:4
(2:4) Maka kamu akan sadar, bahwa Kukirimkan perintah ini kepadamu, supaya perjanjian-Ku dengan Lewi tetap dipegang, firman TUHAN semesta alam.

Perjanjian TUHAN dengan Lewi harus menjadi pegangan dari seorang imam , harus menjadi pegangan dari seorang hamba TUHAN di dalam hal melayani TUHAN dan melayani pekerjaan TUHAN.

Mari kita lihat perjanjian TUHAN dengan Lewi dalam Bilangan 3:11-13.
Bilangan 3:11-13 Perikop: Orang Lewi
(3:11) TUHAN berfirman kepada Musa: (3:12) "Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara orang Israel ganti semua anak sulung mereka, yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya orang Lewi menjadi kepunyaan-Ku, (3:13) sebab Akulah yang punya semua anak sulung. Pada waktu Aku membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, maka Aku menguduskan bagi-Ku semua anak sulung yang ada pada orang Israel, baik dari manusia maupun dari hewan; semuanya itu kepunyaan-Ku; Akulah TUHAN." 

TUHAN mengambil suku Lewi dari antara orang Israel ganti semua anak sulung orang Israel, dengan demikian suku Lewi diangkat oleh TUHAN menjadi anak sulung, itu berarti suku Lewi adalah milik kepunyaan TUHAN. 

Bilangan 3:14-17

(3:14) TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai: (3:15) "Catatlah bani Lewi menurut puak-puak dan kaum-kaum mereka; semua laki-laki yang berumur satu bulan ke atas harus kaucatat." (3:16) Lalu Musa mencatat mereka sesuai dengan titah TUHAN, seperti yang diperintahkan kepadanya. (3:17) Inilah anak-anak Lewi dengan nama mereka: Gerson, Kehat dan Merari.

Kemudian TUHAN perintahkan supaya Musa mencatat semua anak laki-laki dari semua suku Lewi yang berumur satu bulan ke atas. Namun sebelum melihat jumlah yang dicatat Musa, perlu untuk kita ketahui Lewi itu mempunyai tiga anak laki-laki, yakni;

-       Gerson anak yang pertama
-       Kehat anak yang kedua
-       Merari anak yang ketiga.

Perlu untuk diketahui:
Jumlah anak laki-laki dari suku Lewi dari tiga puak yang berumur satu bulan keatas sesuai dengan catatan Musa:

-          Puak Gerson 7. 500 (tujuh ribu lima ratus orang) orang (Bilangan 3:21-22).
-          Puak Kehat 8. 600 (delapan ribu enam ratus) orang (Bilangan 3:27-28).
-          Puak Merari 6.200 (enam ribu dua ratus) orang. (Bilangan 3:33-34).
Jumlah keseluruhan 22.300 (dua puluh dua ribu tiga ratus). Inilah anak laki-laki dari bani (suku) Lewi yang berumur satu bulan ke atas. 

Tetapi kalau kita telusuri di ayat 39 jumlah orang Lewi yang sesuai dengan titah TUHAN yang dicatat oleh Musa dan Harun – dua saksi sah – ternyata jumlahnya menjadi 22. 000 (dua puluh dua ribu) orang.

Pertanyaannya; yang 300 (tiga ratus) anak laki-laki satu bulan ke atas kemana? Padahal Musa dan Harun tadi mencatat dari tiga puak tersebut seluruhnya 22.300 (dua puluh dua ribu tiga ratus). Namun setelah kita membaca lebih dalam pada ayat 39 ternyata hanya ada 22. 000 (dua puluh dua ribu) orang. Lalu yang 300 (tiga ratus) orang kemana? kenapa tidak masuk dalam hitungan? Konon ada hamba TUHAN berkata itu diduga putera-putera Musa dan Harun. Saya tidak menyalakan guru saya, tetapi disini tidak dikatakan seperti itu.

Lewi diangkat menjadi anak sulung tentu karena Yesus adalah Anak sulung. Kemudian Yesus adalah Mempelai Pria Sorga, sedangkan jemaatNya (GerejaNya) adalah mempelai wanitaNya (jemaat sulung).

Singkat kata, Yesus adalah firman yang menjadi manusia dan kita yang dijadikan sebagai mempelai wanitaNya, sebagai jemaat sulungNya juga oleh karena firman TUHAN; sesuai dengan titah TUHAN, sesuai dengan firman TUHAN, itu berarti kedudukan kita sejajar dengan Dia, satu tingkat dengan Dia, kualitas rohani kita sederajat dengan Dia itu karena firman TUHAN, tidak karena yang lain-lain.

Jadi diangkat menjadi anak sulung (menjadi mempelai perempuan TUHAN, menjadi jemaat sulung) itu karena firman TUHAN, semata-mata bukan karena gagah hebat kuat kita, bukan karena kita pandai, pintar bukan karena kedudukan jabatan tinggi. Menjadi jemaat sulung ditentukan oleh firman TUHAN Allah, tidak yang lain.

Sebagai tambahan saja untuk membuka wawasan, kita kaitkan dengan Kejadian 2:18-20.

Kejadian 2:18-20
(2:18) TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (2:19) Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. (2:20) Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 

Disini dikatakan menurut firman Allah tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Karena tidaklah mungkin Adam dapat mengusahakan dan memelihara taman Eden hanya seorang diri.

Saya berterimakasih kepada TUHAN, saya datang ke tempat ini bertemu dengan sahabat-sahabat, rekan-rekan hamba TUHAN, para gembala, para penginjil tidak dengan seorang diri, tetapi bersama dengan istri saya. Saya sangat bersyukur kepada TUHAN, terimakasih kepada TUHAN, seperti apapun model istri saya, mungkin bagi orang tidak menarik tapi bagi saya rasa syukur, terima kasih kepada TUHAN karena tidak baik seorang diri hamba TUHAN datang dalam kunjungan melayani TUHAN dimana-mana. 

Kemudian karena Adam tau tidak baik melayani seorang diri akhirnya, ia mencari istri dari antara binatang, tetapi baginya sendiri tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Dipilih bebek ngomel terus, dipilih kambing suka menanduk, dipilih singa mulutnya akan mengaung, mengerikan, lebih baik kabur dari rumah. Dipilih ular licik, ngelilit, matuk, dan lain sebagainya, tidak mungkin. Tetapi istri saya baik kok, kenapa saya katakan baik, karena saya penuh ucapan syukur, itu saja. Mau seperti apa modelnya, mengucap syukur saja. 

Jadi ketika Adam mencari istri dari antara binatang, dia tidak menjumpai penolong yang sepadan bagi dia.

Tidak sepadan = tidak sejajar = tidak satu tingkat, dengan lain kata kualitas rohaninya tidak sederajat, sebab binatang dibentuk dari tanah.

Tadi sudah saya sampaikan; menjadi mempelai wanita TUHAN, menjadi jemaat sulung berarti kualitas rohaninya sederajat (satu tingkat) dengan Mempelai Laki-laki Sorga; sejajar dengan Mempelai Laki-laki Sorga. Kalau tidak sepadan, berarti tidak satu tingkat (tidak sejajar) kualitasnya, sebab binatang dibentuk dari tanah liat. 

Kejadian 2:21
(2:21) Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. (2:22) Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. (2:23) Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. 

Tidur adalah gambaran dari pengalaman kematian dan kembangkitan. Tidur saja, itu jauh lebih baik, dalam keadaan tidur nyenyak Sang pembedah nanti bisa menyatakan rencana indah dalam kehidupan kita hamba-hamba TUHAN dan sidang jemaat yang kita layani. 

Untuk mendapatkan istri dan penolong yang sepadan bagi Adam, diambil dari salah satu tulang rusuk Adam, dengan lain kata diambil dari dalam diri Adam itu sendiri. Demikian Yesus Kristus, Mempelai Pria sorga, untuk mendapatkan Mempelai wanitaNya, yang disebut anak sulung harus dicari dalam pribadi TUHAN Yesus itu sendiri, karena Yesus adalah firman TUHAN, Yesus adalah firman yang menjadi manusia. 

Yesus adalah firman, berarti di dalam diriNya ada firman TUHAN, dengan demikian Adam mendapatkan penolong yang sepadan, tidak seperti bebek ngomel terus, tidak seperti ular lagi ngelilit, ngelicik saja, stres suaminya, tidak seperti singa lagi mengaung, tetapi sudah menjadi penolong yang sepadan karena diambil dari dalam diri Adam yang pertama dan dari dalam Adam yang kedua itulah firman TUHAN Allah.

Kita berdoa supaya jemaat kita semua jemaat sulung, dimulai dari istri; ibu-ibu gembala.

Tadi diambil dari dalam diri Adam, itulah firman TUHAN Yesus sesuai dengan titah TUHAN, akhirnya kita bandingkan dengan jemaat sulung di Wahyu 21:9-11. 

Wahyu 21:9-11 Perikop: "Yerusalem yang baru."
(21:9) Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." (21:10) Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. (21:11) Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.

Singkat kata mempelai wanita TUHAN itulah jemaat sulung bercahaya kemuliaan Allah, itu berarti kualitas dari mempelai wanita sederajat (satu tingkat) dengan Mempelai Laki-Laki surga.

Bercahaya kemuliaan Allah, seperti permata yang paling indah itulah permata Yaspis jernih seperti Kristal.

Kristal itu berarti transparan (luar dan dalam sama) tidak ada lagi yang disembunyikan sehingga Mempelai perempuan TUHAN yang adalah jemaat sulung bercahaya kemuliaan Allah memancarkan kemuliaan, berarti kualitas rohaninya sederajat (setingkat) dengan kualitas rohani Mempelai Pria Sorga, ini karena kemurahan TUHAN. 

Jadi kualitas rohani dari mempelai wanita TUHAN sebagai jemaat sulung sederajat dengan mempelai laki-laki sorga, berarti sepadan (sejajar, satu tingkat) dengan TUHAN. Inilah bukti mempelai wanita TUHAN telah dibentuk sesuai dengan firman Allah menjadi jemaat sulung. Demikian juga nanti suku Lewi menjadi anak sulung dalam hal melayani TUHAN dan mempersembahkan korban di atas mezbah juga harus sesuai dengan titah TUHAN, harus sesuai dengan firman TUHAN.

Jadi saya dan saudara diangkat oleh TUHAN menjadi anak sulung sesuai dengan titah TUHAN, sesuai dengan firman TUHAN.  Saya pun datang ke tempat ini melayani TUHAN secara khusus melayani pemberitaan firman Allah harus sesuai dengan firman TUHAN, tidak boleh sesuai dengan kemampuan saya, ataupun kepintaran saya. Jangan karena saya punya embel-embel ketua umum, jangan karena saya pembicara malam ini, lalu saya sesuka hati jalan sana, jalan sini, sesuka hati menyampaikan firman comot ayat sana sini, tidak boleh seperti itu, harus sesuai dengan firman TUHAN. Saya kira para imam yang melayani dalam tiga kali kebaktian ini harus sesuai dengan firman TUHAN juga, tidak boleh karena merasa pandai. Pemain musik harus sesuai dengan firman (titah) TUHAN, singer harus sesuai dengan titah TUHAN, tidak boleh sesuka hati melayani pekerjaan TUHAN karena kenapa? Kita dibentuk oleh TUHAN menjadi anak sulung, menjadi jemaat sulung sesuai dengan titah TUHAN.

Sebetulnya penghitungan semula 22.300 (dua puluh dua ribu tiga ratus) saksinya Musa dan Harun, dua saksi sah, tetapi yang sesuai dengan titah TUHAN ternyata hanya 22. 000 (dua puluh dua ribu) orang, berarti kalau kita sudah diangkat oleh TUHAN  menjadi anak sulung, di dalam hal melayani TUHAN juga harus sesuai dengan titah TUHAN, tidak boleh ngomel walau tidak sesuai dengan kehendak hati. Jadi di dalam melayani TUHAN, termasuk mempersembahkan korban di atas mezbah harus sesuai dengan titah TUHAN, harus sesuai dengan firman Allah.

Mari kita belajar dari bapa Abraham, bapa orang beriman.
Yakobus 2:21
(2:21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

Disini kita melihat Abraham mempersembahkan Ishak anaknya itu di atas mezbah, perbuatan itu dibenarkan oleh firman TUHAN karena sesuai dengan titah TUHAN.

Jadi ukuran pelayanan (korban persembahan) yang kita persembahkan di atas mezbah bukan sesuai dengan ukuran manusia, bukan sesuai dengan ukuran orang lain, bukan sesuai ukuran diri saya sendiri, tapi dibenarkan oleh firman TUHAN.

Saudara, sebenarnya kita tahu bahwa Abraham itu mempunyai banyak anak dari gundik-gundik yang lain bukan? anak-anak dari Ketura – setelah Sara mati – kemudian satu anak dari Hagar itulah Ismail.

Jadi pendeknya sebenarnya Abraham bisa saja mempersembahkan anaknya kepada TUHAN lebih dari satu, tetapi pertanyaanya; apa yang dipersembahkan Abraham kepada TUHAN itu berkenan atau tidak? sesuai dengan titah TUHAN atau tidak? persoalannya itu saja.

Biar kehadiran kita ini sesuai dengan titah TUHAN saja, melayani malam ini sesuai dengan titah TUHAN, itu yang dirindukan TUHAN. Biar satu asal benar berkenan kepada TUHAN. Untuk apa banyak, tetapi tidak berkenan untuk apa? Inilah suratan Yakobus 2:21.

Kalau kita kaitkan dengan pengajaran Tabernakel suratan Yakobus ini  terkena pada tudung Tabernakel.

Jadi Pengajaran Mempelai itu harus diterangi oleh pengajaran Tabernakel, itulah pedang bermata dua; sisi pertama itu pengajaran Mempelai, sisi kedua itu pengajaran Tabernakel, dia bisa menusuk lebih dalam, lebih tajam dari pedang bermata dua mana saja.

Ibadah kita di bumi ini juga harus sesuai dengan bayangan Tabernakel sorgawi, supaya apa nanti yang terikat di bumi terikat di Sorga, supaya hati TUHAN tidak muak sesuai dengan Imamat 26:11 dan Ibrani 8:5

Kalau dikaitkan dengan Tabernakel Yakobus ini terkena pada tudung yang pertama disebut tudung Tabernakel (lenan halus). Kenapa disebut tudung Tabernakel? karena dia langsung kena mengena dengan Tabernakel, kena mengena dengan peralatan-peralatan yang di dalamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita belajar Pengajaran Tabernakel untuk menerangi pengajaran mempelai dalam Keluaran 26:1-4.
Keluaran 26:1-4 Perikop: Mengenai kemah suci
(26:1) "Kemah Suci itu haruslah kaubuat dari sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dan dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi; dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun, haruslah kaubuat semuanya itu. (26:2) Panjang tiap-tiap tenda haruslah dua puluh delapan hasta dan lebar tiap-tiap tenda empat hasta: segala tenda itu harus sama ukurannya. (26:3) Lima dari tenda itu haruslah dirangkap menjadi satu, dan yang lima lagi juga harus dirangkap menjadi satu. (26:4) Pada rangkapan yang pertama, di tepi satu tenda yang di ujung, haruslah engkau membuat sosok-sosok kain ungu tua dan demikian juga di tepi satu tenda yang paling ujung pada rangkapan yang kedua.

Kemah suci dibuat dari sepuluh tenda dibagi menjadi dua rangkap, itu berarti setiap satu rangkap masing-masing lima helai tenda. Adapun lebar dari tiap-tiap tenda ialah 4 (empat) hasta.

Jadi lima helai tenda pada rangkap pertama dikali empat hasta lebar dari tiap-tiap helai tenda sama dengan 20 hasta. Jadi 20 hasta itu adalah panjang Ruangan Suci, inilah rangkap pertama. Demikian juga rangkap kedua seluruhnya 20 hasta menutupi Ruangan Maha Suci, sampai menutupi dinding belakang sebelah Barat, jadi sama 20 hasta juga. 

Keluaran 26:5-6
(26:5) Lima puluh sosok harus kaubuat pada tenda yang satu dan lima puluh sosok pada tenda yang di ujung pada rangkapan yang kedua, sehingga sosok-sosok itu tepat berhadapan satu sama lain. (26:6) Dan haruslah engkau membuat lima puluh kaitan emas dan menyambung tenda-tenda Kemah Suci yang satu dengan yang lain dengan memakai kaitan itu, sehingga menjadi satu.

Rangkap pertama dan rangkap kedua dihubungkan dengan menggunakan lima puluh kaitan emas. Lalu dibawah kaitan emas tersebut disitulah digantungkan pintu yang disebut  tirai. Arti rohani rangkap pertama dan rangkap kedua ialah iman dan perbuatan (tindakan) iman.

Yakobus terkena pada tudung pertama yang berbicara iman. Rangkap pertama Ruangan Suci itu iman, rangkap yang kedua Ruangan Maha Suci; itulah tindakan iman. Inilah teladan dari pada Abraham yang harus kita teladani. Kita sudah dibentuk dan dijadikan sebagai anak sulung, maka di dalam melayani pekerjaan TUHAN, harus juga sesuai dengan firman TUHAN; Abraham dibenarkan oleh perbuatannya.

 Yakobus 2:20-22
(2:20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (2:21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (2:22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong. Jadi iman itu satu paket dengan perbuatan-perbuatan, mengapa? supaya iman itu menjadi sempurna. Sempurna itu menunjuk kepada Ruangan Maha Suci.

Jadi saudaraku ketika Abraham mempersembahkan Ishak, yang lahir dari rahim Sarah, jelas itu sesuai dengan titah TUHAN. Biar satu asal berkenan, biar satu asal benar, itu yang TUHAN mau. Jangan kelihatan hebat-hebat, jumlah banyak nampaknya tapi tidak sesuai firman TUHAN, tidak perlu. Walaupun satu yang penting benar dan berkenan supaya iman menjadi sempurna; Ruangan Maha Suci.

Supaya semakin rinci,  semakin lengkap dan sempurna, kita dibenarkan oleh TUHAN, kita akan melihat peristiwa tersebut “SATU” tetapi sesuai titah TUHAN dalam Kejadian 22. 

Kejadian 22:1-2 Perikop: Kepercayaan Abraham diuji
Jadi inti dari Kejadian 22 ini ialah iman percaya Abraham itu diuji. Jadi jangan heran di tengah-tengah ibadah dan pelayanan ada ujian. Tidak mungkin tidak ada ujian, harus ada ujian, supaya kita dibenarkan karena tindakan iman, bahkan iman itu sampai sempurna.

Saya bersyukur sekali, terlalu banyak ujian. Setiap kali kami mengadakan acara semacam ini selalu ada ujian, justru datang dari orang yang terdekat. Saya tidak maksud untuk menjelekan orang lain. Dan ketika ada ujian (batu sandungan) harus dilewati dengan segala kerendahan hati (legowo) dan harus bisa menerima kekurangan. Kalau kita hanya bisa menerima kelebihan, tidak usah ibadah semua orang pun bisa.

Sampai kesini pun kami tidak menyangka jalannya naik turun, belok kiri, belok kanan, saya bilang kepada istri supaya tidak melihat jurang kiri kanan. Tapi saya bersyukur, saya berterimakasih kepada TUHAN saya bisa bertemu dengan sahabat (rekan-rekan hamba TUHAN) di tempat ini. Untung ada ujian, untung ada cobaan, saya bersyukur. Biarlah rasa syukur kita diukur sesuai titah TUHAN.

Kejadian 22:1-2
(22:1) Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." (22:2) Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

TUHAN memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran pada TUHAN.

Perlu untuk diketahui:

-          Ishak adalah anak tunggal Abraham yang lahir dari rahim Sarah. 
-          Abraham sangat mengasihi anak tunggal ini.

Pendek kata Ishak adalah anak tunggal dan sangat dikasihi. Anak tunggal dan dikasihi kalau dalam bahasa sehari-hari menjadi harta kesayangan, sebagaimana dengan motto orang batak “Anakkon hi hamoraon di au” (anakku adalah kekayaanku). Bayangkan harta kesayangan dipersembahkan kepada TUHAN, pilu hati ini.  Akan tetapi terhadap firman Allah yang didengar Abraham, Abraham menyahut “Ya TUHAN

“Anakkon hi hamoraon di au”  (Anakku adalah kekayaanku) tetapi dijadikan korban bakaran kepada TUHAN, untuk itu Abraham berkata “Ya TUHAN”

Lanjut kita baca ayat 3-4
Kejadian 22:3-4
(22:3) Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. (22:4) Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.

 Dari ayat-ayat ini kita dapat mengetahui bahwa:

-          Tempatnya ditentukan oleh titah TUHAN, yakni tanah Moria.
-          Korban bakarannya ditentukan oleh TUHAN itulah Ishak, segala sesuatu  ditentukan oleh TUHAN.
-          Kitapun mengadakan kebaktian di malam ini ditentukan oleh titah TUHAN.

Jangan sampai kita melakukan sesuatu ditentukan situasi dan kondisi. Lagi enak dengan si A kita kerjakan, lagi tidak enak kita berhenti, itu tidak sesuai dengan titah TUHAN. Tapi lihatlah apa yang dikerjakan Abraham tempatnya ditentukan titah TUHAN, korban bakaran yang harus dipersembahkan di atas mezbah harus Ishak sesuai titah TUHAN, tidak boleh enam anak dari Keturah atau satu anak dari Hagar. Kiranya kita ikuti teladan yang ditinggalkan Abraham bapa iman ini, tidak usah ragu soal pemeliharaan, TUHAN bagi hamba TUHAN itu pasti. Persoalanya sekarang ambil komitmen, ayo kembali sesuai titah TUHAN, itu doa saya. Hati saya terharu sekali mengatakan ini, bukan supaya saudara melihat saya seperti lebih rohani, tetapi saya berharap kepada TUHAN, mulai sekarang apa yang kita kerjakan biarlah sesuai dengan titah TUHAN. Mungkin dulu kita sempat tinggalkan TUHAN, sekarang kembalilah. Ambil sebuah komitmen, soal jiwa nanti TUHAN pasti kirim lagi. Mari kembalilah pada titah TUHAN, jangan lagi sesuka hati melayani TUHAN dan mempersembahkan korban di atas mezbah, nanti TUHAN yang memelihara kita percaya kepada firman. Kami pun bukan Gereja mewah dan besar, hanya Gereja sederhana dan kecil, hanya kerinduan (iman)dan tindakan iman itu saja.

Sejak 2011 terbentuk penggembalaan GPT “BETANIA” Serang & Cilegon Banten-Indonesia, mungkin ada yang mengikuti melalui Youtube ataupun Facebook ataupun instagram. Kami sederhana, kami sewa gedung itu setiap bulan jika ditotal lebih dari 24 juta setahun. Lalu kami bongkar pasang musik dalam tiga macam ibadah pokok. Saya berdoa; TUHAN mixer dan alat-alat musik lainnya, jangan rusak karena dicabut pasang, tapi TUHAN tolong sampai hari ini, asal kita melayani TUHAN dan mempersembahkan korban sesuai dengan titah TUHAN, itu terpenting. Segala sesuatu TUHAN yang tentukan, jangan kita yang tentukan.

Kita sudah melihat baik tempat untuk mempersembahkan korban, baik korban bakaran yang harus dipersembahkan yakni Ishak TUHAN yang tentukan, dan kita kerjakan sesuai dengan apa yang kita dengar dari TUHAN, berarti sesuai dengan titah TUHAN, inilah yang disebut dengan iman yang disertai dengan perbuatan iman. Apa yang diperbuat Abraham sesuai dengan apa yang ia lihat, dengan demikian sempurnalah dia, inilah rangkap kedua yang menudungi Ruangan Maha Suci.

Kemudian waktu mereka berangkat ke gunung Moria ternyata Abraham juga telah mempersiapkan kayu untuk korban bakaran. Kayu sudah dibelah dan sudah diangkat. Kayu untuk korban bakaran itu menunjuk salib di Golgota, salib kasar salib Kristus yang memang sudah dipikul. Jadi dari sini kita melihat bahwa Abraham tidak lagi menggunakan pikiran, tidak lagi menggunakan perasaan manusia daging, dampaknya nanti…

Kejadian 22:4
(22:4) Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. (22:5) Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."

Kalau kita melayani TUHAN sesuai dengan titah TUHAN, tidak lagi menggunakan pikiran dan perasaan manusia daging, lihatlah; ibadah dan pelayanan kita akan berada pada tingkat ibadah yang tertinggi dengan lain kata akan berada pada puncak ibadah yang tertinggi itulah doa penyembahan, yakni; sembahyang disana. 

Gunung tertinggi puncak ibadah, kita ini ada di atas gunung TUHAN yang kudus. Saya rindu sampai tiga kali ibadah kedepan TUHAN benar-benar tampil sebagai Imam Besar Agung memimpin tiga kali pemberitaan Firman sampai pada tingkat ibadah yang tertinggi (puncak ibadah) yaitu Doa Penyembahan = penyerahan diri sepenuhnya untuk taat hanya kepada kehendak Allah saja, tidak lagi kepada kehendak daging ini.

Dari pembukaan firman inilah baru kami menemukan yel-yel untuk PPT yakni:

-          Kekalan = Penyembahan.
-          Kekalan = Penyerahan diri. 

Jadi bukan hanya untuk sok-sokan kelihatan hebat-hebat dan menarik, tidak, tetapi ini Pembukaan firman Allah. Itu sebabnya setiap kita melayani di tempat ini harus sesuai dengan titah firman TUHAN, tidak boleh sesuka hati, pokoknya saya sudah sampaikan, supaya jangan disentil TUHAN kita.

Jadi yel-yel itu ada bukan supaya kelihatan PPT hebat-hebat, tapi ini pembukaan rahasia firman. Maka kalau kita sudah lepas dari pikiran dan perasaan manusia daging pasti ibadah kita berada pada tingkat ibadah yang tertinggi, puncak gunung itulah doa penyembahan. Biar penyembahan kita nanti didorong oleh titah Firman yang diurapi.

Kita sudah melihat dari sisi Abraham, dia lakukan sesuai dengan titah TUHAN. Sekarang apakah korban bakaran itu sesuai dengan titah TUHAN juga? mari kita lihat dari sisi Ishak yang akan dipersembahkan sebagai korban bakaran.

Kejadian 22:6
(22:6) Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. (22:7) Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" (22:8) Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

Disini kita melihat ketika Abraham dan Ishak anaknya itu berjalan bersama-sama sampai ke atas gunung yang tertinggi ada satu pertanyaan dari Ishak yaitu; "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"

Dari sini kita melihat betapa tulusnya hati daripada Ishak ini, dia tidak putus asa dalam perjalan sampai ke atas gunung yang tinggi. Biasanya jangankan antara sahabat dengan sahabat, suami istri saja dalam suatu perjalanan tidak sesuai dengan pemahaman, ada yang merajuk, ada yang ngambek, ada yang emosi dan lain sebagainya. Tetapi disini kita melihat betapa tulusnya hati daripada Ishak yang akan dijadikan sebagai korban bakaran. Seharusnya dia marah kepada Abraham bapaknya, harusnya dia curiga kepada bapaknya, sebab tidak ada binatang yang harus dijadikan korban bakaran. Tetapi disini kita melihat dia tetap melangkah, langkah demi langkah. Sebetulnya naik ke atas gunung itu sulit, begitu terjal, tetapi bukan hanya kaki Abraham TUHAN berkati, akan tetapi TUHAN berkati kaki Ishak menjadi kaki rusa yang mampu berjejak untuk sampai kepada Doa penyembahan, tulus hatinya.

Dari sini kita dapat melihat inilah korban bakaran yang layak, yang sesuai dengan titah TUHAN, tidak berhenti di tengah jalan oleh karena curiga, tidak berhenti di tengah jalan karena marah-marah, tetapi lanjut terus. Kita juga malam ini dengar firman sudah satu jam berlalu, Maria berkata; terus, dengar firman tidak ngomel, sesuai titah TUHAN, tulus hati, sampai pada puncak ibadah doa penyembahan. Biar sudah satu jam mari berkata: terus.

Pendeknya Ishak ada dalam ketulusan hati walaupun ada kecurigaan.

Sekarang kita lihat benar tidak korban bakaran ini sesuai dengan titah TUHAN …
Kejadian 22:9
(22:9) Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. (22:10) Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

Setelah sampai di tujuan yakni gunung Moria, Abraham mendirikan mezbah disitu, sesudah itu:

-          disusunlah kayu,
-          diikatnya Ishak,
-          lalu diikat Ishak di mezbah di atas kayu api.

Dari tahap pertama, tahap kedua, tahap ketiga, lihatlah Ishak yang akan dipersembahkan sebagai korban bakaran tidak ngomel, tidak bersungut-sungut, tidak menggerutu, tidak marah kepada Abraham sang ayah, dan tidak berkata tolol (bodoh) kepada bapaknya, akan  tetapi mulutnya kelu, dia tidak mau mempersalahkan bapaknya.

Sekarang ini hak asasi terlalu kuat, termasuk emansipasi jadi kebablasan, akhirnya anak pun bisa sembarangan berbicara kepada orang tua, tidak ada rasa hormat. Tetapi lihatlah Ishak tidak ngomel. Dia diikat,  disusun kayu, kaki diikat, sesudah itu diangkat (diletakan) di atas mezbah di atas kayu api, mulutnya keluh, diam seribu bahasa. Kalau saya kaitkan ini dengan Yesaya 53:7.

Yesaya 53:7
(53:7) Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. 

Ishak tidak ngomel, tidak bersungut-sungut, tidak menggerutu, tidak mempersalahkan orang tuanya. Coba kalau dia ngomel, kalau kita kaitkan dengan Yesaya 53:7, tidak mungkin kita menikmati potongan daging domba sembelihan yang telah dibantai, kita tidak mungkin ada disini untuk menikmati pembukaan rahasia firman, roti yang dipecah-pecahkan.

Tidak mungkin ada bulu domba (kain) itulah kasih Allah menutupi dosa kita. Tapi karena Ishak yang akan dijadikan sebagai korban bakaran, selain tulus hatinya tidak ngomel, tidak mempersalahkan ayahnya tadi, juga mulutnya keluh tidak terbuka, ia tunduk dan pasrah kepada bapanya, akhirnya malam ini kita menikmati potongan daging domba yang dibantai; pembukaan Firman (roti yang dipecahkan), kita menikmati kasih yang berkuasa menutupi banyak sekali dosa, entah itu dosa orang tua, entah itu dosa anak, dosa menantu, dosa suami, dosa istri, dosa siapa saja, termasuk kesalahan jemaat semuanya tertutupi. Untung Ishak mulutnya tertutup; gambaran Yesus Anak tunggal Bapa.

Maka dapatlah kita mengetahui bahwa ternyata Ishak layak untuk dijadikan sebagai korban bakaran. Jadi bukan karena pintar layak jadi korban bakaran, bukan karena hebat kedudukannya, jabatannya di bumi layak jadi korban bakaran, tetapi harus sesuai titah TUHAN; tempatnya TUHAN yang menentukan, korban bakarannya, yakni Ishak TUHAN yang menentukan, padahal masih ada enam anak dari ketura, satu anak dari Hagar.

Singkat kata, Abraham yang sedang melayani pekerjaan TUHAN dan mempersembahkan korban sesuai titah TUHAN, yang akan dijadikan korban bakaran untuk dipersembahkan di atas mezbah juga sesuai dengan titah TUHAN. Kita bersyukur kepada TUHAN. 

Pendeknya; korban persembahan yang dipersembahkan kepada TUHAN itulah Ishak walaupun hanya satu, tapi benar dan berkenan kepada TUHAN, sebab Ishak adalah orang yang tulus hatinya, kemudian Ishak mulutnya keluh, tunduk dan pasrah = setia. 

Kejadian 22:10
(22:10) Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. (22:11) Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." (22:12) Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."

 Akhirnya TUHAN tahu bahwasanya Abraham adalah hamba TUHAN yang takut akan TUHAN, berarti benci kejahatan. 

Kejadian 22:13
(22:13) Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. 

Setelah TUHAN melihat hati ketulusan hati Abraham, dia melakukan segala sesuatu sesuai dengan titah TUHAN, akhirnya TUHAN gantikan korban yang akan dipersembahkan yakni Ishak sebagai korban bakaran itu dengan seekor domba jantan, itulah gambaran dari pribadi Yesus Kristus.

Kemudian yang tidak kalah penting yang harus kita lihat dari ayat ini dua tanduk tersangkut pada belukar. Kuasa TUHAN untuk menebus dan memperdamaikan dosa manusia itu tersangkut dengan dosa manusia. Jadi kuasa ilahi tersangkut paut dengan dosa manusia, sehingga Yesus Anak Allah layak untuk mengerjakan pekerjaan penebusan dan pendamaian atas dosa dunia.

Jadi kalau kita berkata aku hamba TUHAN, tetapi tidak mau sangkut menyangkut dengan kesusahan jemaat, saya kira ini perlu dipertanyakan. Malam ini mari kita melayani TUHAN sesuai dengan titah TUHAN, mari kita membawa korban dan persembahan, entah itu korban sembelihan ataupun korban bakaran kita persembahkan di atas mezbah harus sesuai dengan titah TUHAN.

Inilah yang dimaksud dengan “MENJADI ANAK SULUNG” tercatat sesuai dengan titah TUHAN, kemudian melayani TUHAN sesuai titah TUHAN, dan korban persembahan yang dipersembahkan di atas mezbah juga sesuai dengan titah TUHAN.

Jangan kita berkata saya diangkat TUHAN menjadi anak sulung, tetapi pelayanannya tidak sesuai dengan titah TUHAN, korban persembahan yang dipersembahkan di atas mezbah tidak sesuai dengan titah TUHAN, itu namanya omong kosong. Iman tanpa perbuatan nol, tapi biarlah iman itu menjadi sempurna karena perbuatan kita, itulah rangkap kedua dari tudung tenda Tabernakel.

 Kejadian 22:14
(22:14) Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Di atas gunung TUHAN yang kudus, di rumah TUHAN kita beribadah baik dalam kebaktian persekutuan Pengajaran Pembangunan Tabernakel semuanya disediakan oleh TUHAN, sehingga dengan demikian TUHAN Yesus Kristus Allah Trinitas layak disebut sebagai Yehova Jireh.

Kami sebelum ada ditempat ini, barangkali beberapa kali berbincang-bincang dengan bapak butar-butar; beliau berkata; bukan karena kami punya uang pak ketua, tapi karena kerinduan saja.

Lalu tadi ibu butar-butar bercerita pernah bermimpi – sebelum jadi ibu gembala – banyak sekali orang untuk menyeberang kesana, jembatannya harus Tabernakel, harus sebut yel-yel Tabernakel. Lalu saya katakan kelanjutan dari pengajaran mempelai dalam terangnya Tabernakel  hanya ada dua.

Dua klimaks yang ditunggu oleh TUHAN dan dihormati oleh TUHAN dari ibadah di bumi, yaitu:

1.      Nikah suci; hubungan intim = gunung sion.
2.      Ibadah tertinggi di bumi itulah doa penyembahan.

Sebagaimana dengan Wahyu 14:1-3:
-          Ayat 1 tampilnya gunung Sion.
-          Ayat 2-3 doa penyembahan disertai dengan bahasa asing.Jadi wujud dari gunung Sion adalah doa penyembahan.

Jadi jangan berkata saya ini mempelai TUHAN, tetapi wujudnya tidak ada. Wujudnya mana? penyembahan, dengan lain kata penyerahan diri sepenuhnya untuk taat kepada kehendak Allah, inilah yel-yel yang kita pakai sampai sekarang.

 Ada satu yel-yel lagi wujud gunug Sion:
Gunung Sion = pembawa kabar baik.
Gunung Sion = Roh mempelai. 

Wujud dari mempelai TUHAN adalah doa penyembahannya, penaklukan dirinya kepada Mempelai laki-laki sorga.

Jadi ibadah orientasinya bukan soal mukjizat. Kalau ibadah hanya sampai berkat keberkatan dan berhasil keberhasilan, Daniel berkata; itu ibadah fasik antikris. Tapi ibadah ini harus sampai kepada dua klimaks, yaitu: Gunung Sion dan wujud gunung Sion doa penyembahan. Hubungan intim nikah suci dan penaklukan diri kepada Mempelai laki-laki Sorga, itu puncak ibadah, bukan sebatas kegerakan rohani, tanda heran dan mukjizat, tetapi itu perlu.

Itulah yel-yel Tabernakel ditingkatkan Gunung Sion dan wujudnya. Inilah yang dikerjakan oleh Abraham sesuai titah TUHAN, amin. 

TUHAN YESUS KRISTUS KEPALA GEREJA, MEMPELAI PRIA SORGA MEMBERKATI

 

Pemberita Firman:

Gembala Sidang; Pdt. Daniel U. Sitohang

 

 

No comments:

Post a Comment